"Engkau berpikir seolah dirimu hanyalah seonggok materi belaka, padahal dalam dirimu tersimpan kekuatan yang tak terbatas". Ali bin Abi Thalib
Sejak awal penciptaan manusia, mereka telah mendapatkan penghormatan yang luar biasa menakjubkan, baik itu dari penduduk langit ataupun dari penghuni bumi. Dia memperoleh sujud penghormatan dari para malaikat yang mendiami langit, dan juga mendapatkan ketundukan yang 'tertunda' dari sang Iblis yang menghuni bumi. Namun karena sang Iblis belum mau tunduk dan belum mau mengakui kesempurnaan manusia, maka diutuslah manusia pertama, yang memiliki misi untuk mempertontonkan kepada seluruh jagad raya bahwa manusia berhak untuk mendapatkan gelar 'khalifatullah fil ardh' (wakil Allah yang ada di bumi). Tugas itulah yang dibebankan Allah kepada Adam, sebab, sejak awal penciptaannya, manusia dianggap akan menjadi produk gagal yang akan menumpahkan darah dan akan menebarkan kezoliman di muka bumi ini. Walaupun terjadi reaksi keras dari para malaikat, namun Allah memberikan kepercayaan kepada manusia dan memberikan mandat kepada mereka di muka bumi ini. Dan, ketika Adam dihidupkan para malaikat pun takjub yang diikuti oleh rasa malu akibat anggapan remeh mereka kepada manusia. Tak sengaja mereka berkata, "Maha suci Engkau Allah, kami tak punya pengetahuan kecuali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami". (QS:2:32). Namun sayang, hanya malaikat yang mau mengakui dan hormat kepada Adam, tapi Iblis enggan. Allah pun bertanya, "Mengapa kau tak bersujud?", Iblis dengan sombongnya menjawab, "Kesempurnaanku masih jauh diatas Adam!" (QS:7:12). Sejak saat itu sang manusia diperintahkan untuk mencari kesempurnaan yang dimilikinya dengan cara membuat sang Iblis tunduk dan bersujud kepada mereka.
Seorang manusia dikatakan sempurna jika mampu menundukkan kedua kekuatan ini yang berada dalam diri manusia, yaitu nafs malakiyyah dan nafs syaithaniyyah atau kemampuan intelegensi dan kemampuan emosional yang akan membawanya kepada kemampuan spiritual untuk menuntun dalam perjalannya menjalani dentuman keras ombak kehidupan. Sebab Rasulullah pernah bersabda bahwa setiap hari, di dalam hati manusia terdapat dua kekuatan yang berusaha mendominasi hati manusia yaitu dorongan nafs malakiyyah dan bisikan nafs syaithaniyyah. Tapi bukan manusia yang sempurna, ketika dalam kehidupannya hanya berusaha beribadah tanpa pernah memikirkan realitas sosial yang ada di sekitarnya, beribadah siang malam tapi tak mengidahkan kebodohan yang melilit lingkungan sekitarnya. Kesempurnaan juga tak diukur oleh berapa banyak materi yang dimilikinya, seberapa tinggi jabatannya, tanpa pernah peduli rasa lapar yang membuat lingkungan sekitarnya menjadi seperti binatang yang tak punya kehormatan.
Namun sepertinya lingkungan kita membelenggu kita dalam dua persepsi ini, dan sayangnya sangat sulit untuk mendapatkan opsi yang ketiga. Kita berada dalam dua penjara paradigma yang mengungkung kesempurnaan manusia kita. Di satu sisi kita diperhadapkan oleh kesalahan intepretasi, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan yang kekal adalah akhirat. Sehingga kita dituntut untuk mempersiapkan diri kita mempersiapkan bekal kita untuk akhirat nanti, tanpa mau peduli berapa banyak orang yang menjual keimanan mereka hanya karena seliter beras, seberapa banyak orang yang menjual idealisme mereka hanya karena tak mampu berjuang melawan kerasnya kehidupan. Dunia ini seolah bukan diciptakan untuk kita, kehidupan kita bukan disini. Kehidupan kita hanyalah ada di dunia utopia yang tak jelas. Seolah khalifatullah fil ardh hanyalah firman suci yang tidak bisa mendapatkan realisasinya di bumi ini. Padahal manusia yang ditugaskan dan ditunjuk menjadi pengganti Allah di muka bumi ini, tugas kita ada di bumi ini dan bukan di akhirat sana. Ada yang salah dari semangat asketisme (zuhud) dalam keagamaan kita. Padahal setelah wahyu terakhir turun Nabi tetap bercita-cita mengislamkan seluruh Jazirah Arab, masih banyak perang kecil yang terjadi setelah Fath Makkah. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah dia tetap menjalankan tugasnya untuk mengembangkan kekuasaan Islam sampai semananjung Khurasan. Umar yang dengan gemilang mampu merebut Bait Maqdis sebagai simbol kota suci untuk tiga agama, serta menaklukkan Alexandria dengan perpustakaan terbesarnya sebagai kiblat ilmu pengetahuan di middle age. Usman pun tak kalah, dia berhasil membentuk negara dengan membangun lembaga administrasi dan birokrasi yang handal yang mampu menjaga ketentraman dan keadilan negara persemakmuran Islam. Walaupun pemberontakan begitu marak terjadi di zaman Ali, Ali tak pernah membunuh cita-citanya untuk memberikan sumbangsih untuk penduduk bumi, dia membuat Alquran lebih gampang dibaca dan dipahami untuk bangsa non-Arab, dialah yang memberikan harakat dan titik pada huruf-huruf Hijaiyyah, di samping itu dialah yang mengembangkan budaya sastra dan seni di dunia Islam. Mereka semua itu adalah para sufi, orang yang mensinergikan intelegensi otak dan kedalaman hati, cinta mereka kepada Tuhan tak memenjarakan mereka dalam belenggu asketisme yang meracuni paradigma keduniaan mereka. Dengan kecintaan yang begitu mendalam kepada Tuhan, mereka realisasikan bentuk cinta itu dalam kehidupan ini. Mereka cinta Tuhan karena kemahaadilanNya, sehingga mereka cinta jika keadilan dapat merekah dalam lingkungan mereka. Mereka cinta kepada kemahapengetahuan Tuhan, sehingga mereka benci jika dalam lingkungan mereka, kebodohan masih menjadi trend. Mereka cinta kepada kemahapemurahan Allah, yang membuat mereka tidak akan mau beristirahat jika kemiskinan belum bisa terberantas. Mereka adalah para sufi metropolis.
Di sisi lain, sebuah anggapan yang lebih berbahaya tengah menghantui kehidupan kita. Kesuksesan adalah seberapa besar materi yang dia miliki, seberapa tinggi kekuasaan yang dia pegang dan seberapa banyak kesenangan yang dia cicipi. Materi menjadi takaran kesuksesan seseorang, dan sayangnya ini lebih banyak merebak dan mewabah dalam masyarakat di sekitar kita. Kebanggaan seseorang terletak pada merek baju yang dia kenakan, seberapa mahal kendaraan yang dia tumpangi dan seberapa besar penghasilan yang dia peroleh. Agama adalah uang, waktu adalah uang, idealisme adalah uang dan tuhan adalah uang. Ironis. Tak heran ketika Frederick Jameson, seorang pakar sosilog post-modernisme berkata, bahwa dunia sekarang adalah dunia yang miskin perasaan dan emosi. Dan fenomena matrealisme konsumtif ini telah membuat resah para agamawan manapun di muka bumi ini. Tak jarang mereka mempertanyakan eksistensi nurani yang ada dalam diri manusia yang makin memudar. Bahkan Robert Stenbert berkata, "Bila intelegensi yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berbuat demikian, berarti kita telah memilih penguasa buruk." Kadang melakukan kejahatan dengan menggunakan logika, akan terlihat rapi, misalnya korupsi, akan terlihat cantik jika dilakukan oleh orang yang memiliki intelegensi yang luar biasa, tapi jika korupsi dilakukan oleh orang yang berhati nurani, bisa jadi mereka mengurungkan niat mereka. Kita perlu bernurani di masa kini, kita butuh seperti sosok sekaliber Ibnu Mubarak, seorang pedagang yang menghasilkan omzet 100 Dinar emas perhari, tapi dia menyumbangkan 99 Dinarnya untuk keperluan orang di sekelilingnya. Kita membutuhkan sosok Abu Bakar, yang rela merogoh koceknya untuk memerdekakan budak yang dianiaya oleh para tuannya. Kita miskin, terhadap orang-orang yang seperti Al-Farraby, seorang dokter dan filosof muslim, yang mau memberikan pengobatan gratis terhadap kaum miskin. Kita belum punya sosok Umar bin Abdul Aziz, seorang presiden yang masa mudanya bergelimang dengan kehidupan glamour, namun ketika dia diangkat menjadi khalifah dia bahkan menyumbangkan seluruh harta bendanya untuk kepentingan negara, sehingga dia menjadi pemimpin yang dicintai oleh para musuhnya, sehingga dia dijuluki sebagai khalifah kelima. Mereka telah berhasil menjadikan dunia berada dalam genggamannya, namun dunia tak mampu menggenggam hati mereka. Mereka adalah kebanggaan Tuhan di majlis para malaikat. Mereka telah membuat Iblis bersujud kepada mereka.
Dekandensi moral ataupun krisis materil yang melanda realitas kita membutuhkan karakter sufi yang cerdas, bukan hanya yang berdiam diri dan berdoa mengharap mukjizat Tuhan tapi, yang berusaha dan berjuang di tengah hedonisme kota. Kita butuh seorang sufi yang mau memasuki kehidupan kota yang kejam. Seorang yang mampu menggabungkan kedua kekuatan terbesar yang dimiliki manusia, kemampuan logis dan intitutif, rasio dan perasaan, otak dan hati, tafakkur dan tadabbur. Jika kedua energi ini dapat disinergikan secara maksimal, dia mampu menembus segala sesuatu yang tak mampu di tembus oleh benda materil manapun. Kemampuan itu mampu melebihi kecepatan cahaya, mampu mengirimkan gelombang signal yang mampu diterima oleh segenap penghuni alam semesta. Sebuah kekuatan yang menurut Don Childre medan yang memiliki listrik yang memiliki area magnetik. Kemampuan inilah yang menurut Tony Bozan, raksasa yang tertidur dalam diri manusia. Dan itu bisa terjadi ketika kemampuan intelegensi dapat digabungkan dengan kemampuan emosional serta spitiual yang membentuk sebuah antena penangkap gelombang signal yang diistilahkan oleh Wolf Singer sebagai God Spot, dan dalam bahasa agama kita dikenal sebagai ilmu ladunni. Sekarang saatnya menjadikan hati lebih dominan dalam segala bentuk aktifitas kita dari pada yang selama ini yang dilakukan oleh otak, sebab kita tahu kemampuan intelegensi manusia hanyalah 12 persen sedangkan 88 persen lainnya itu ada dalam alam bawah sadar manusia atau hati. Tak heran ketika Robert K Cooper berkata, "Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita dalami. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen, hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani. Saatnya para sufi turun gunung, saatnya sufi masuk kota! Sebab inilah bumi kita! Dan sejarah akan selalu memaafkan, memperbaiki, menyempurnakan kesalahan orang yang ikhlas.
