Abu Faraj Isfihany dalam muqaddimah kitabnya Maqatil Thalibin berkata: “Kami menyebutkan dalam buku ini, kisah pembunuhan anak-anak Abu Thalib. Mulai dari masa Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersekokongkol dalam pembunuhannya, baik itu dengan meracuni mereka sehingga mereka wafat. Atau mereka yang takut kepada pemerintah sehingga mengasingkan diri dan wafat dalam persembunyiannya. Atau mereka yang tertangkap oleh penguasa lalu dipenjarakan dan akhirnya meninggal dalam buih”.
Kisah Syi’ah pada mulanya tak lebih dari goncangan jiwa yang dirasakan oleh kaum muslimin. Sebuah keniscayaan yang terjadi ketika anak, cucu dan keturunan dari orang yang sangat kita cintai dibunuh dan dibantai di depan mata kepala kita. Hati siapa yang tidak sakit, yang mendengar Hasan mati diracuni? Padahal sebelumnya dia telah memberikan kekuasaan kepada Mu’awiyah dan berdamai kepadanya! Dia rela mengorbankan kekuasaannya, bahkan dengan jiwa yang dimilikinya. Demi menjaga dan membela darah kaum muslimin, agar tak tertumpah lagi. Hati siapa tak akan miris, melihat kepala Husain diarak menuju Syam, demi menjadi persembahan kepada Yazid bin Mu’awiyah? Bahkan anaknya yang masih kecil pun, Ali Zain Abidin hampir menjadi korban sabetan pedang panglima perang Yazid. Untungnya kala itu, para wanita alu bait memelas dan memohon dengan susah payah agar anak yang mungil ini dibebaskan! Hati siapa yang tak akan terbakar oleh api dendam, melihat jasad Zaid bin Ali -anak Ali Zainal Abidin- ditancapkan di tiang kota Kufah? Seolah dengan membunuhnya merupakan sebuah kebanggan terbesar yang dimilikinya!
Betapa memilukan ketika melihat keturunan Rasulullah diperlakukan dengan semena-mena oleh para penguasa. Ketika semua itu terjadi maka akan bermunculanlah ratapan, hija` dan ritsa yang dilantunkan oleh seluruh umat Islam, kecuali penduduk Syam, markaz dan ibu kota dinasti bani Umayyah. Akibat dari kejadian yang sangat memilukan ini, berupa keberanian untuk menghina dan mencela keturunan Rasulullah yang suci ini. Beberapa akidah liar bermunculan demi menjustifikasi perbuatan para penguasa. Ijbariyah merupakan konsekuensi dan senjata ampuh untuk melegitimasi kezaliman yang merajalela. Sebuah penafsiran yang semena-mena terhadap Alquran, di mata mereka kejahatan dan kezaliman yang mereka lakukan sudah menjadi ketetapan Tuhan di zaman azal. Mendengar hal ini Hasan Bashri sangat geram dengan perlakuan mereka, dan mengatakan bahwa, “mereka adalah musuh Allah yang mendustakan ayat-ayat-Nya”. Selanjutnya dari keberanian para penguasa dalam menyetir dan membelokkan ayat Alquran, maka menjadi salah satu pemantik dan pemicu ajaran-ajaran miring dalam dunia Islam. Bahkan golongan mulhid dalam Islam, salah satu pemicunya adalah keberanian penguasa sebelumnya menghina dan menjelekkan, baik itu Ali ra. ataukah keturunan Rasulullah. Ini satu sisi akibat perlakuan kasar penguasa terhadap kerabat Rasulullah saw. Ini adalah salah satu dimensi kelam akibat kejadian Karbala yang sangat memilukan dan mengobarkan api dendam. Di segi lain juga menimbulkan penyesalan yang berlarut-karut pada masyarakat Kufah.
Dari peristiwa Karbala disana ada beberapa mauqif ,dan akhirnya nanti akan menjadi ladang subur tumbuhnya benih-benih ghulat di tubuh Syi’ah. Mauqif yang pertama, berupa pembalasan dendam terhadap para pembunuh Husain. Pada mulanya ini hanya berjalan normal di tangan Mukhtar bin Abu Ubaid Tsaqafi,-anak sahabat Rasulullah, Abu Ubaid Tsaqafi, dia adalah panglima perang Umar bin Khatthab, dan syahid dalam peristiwa Jisr.- dan di bawah kontrol Muhammad bin Hanafiyah. Namun akibat pengaruh dari kepercayaan kaum Majusi dan beberapa kepercayaan yang masih tersisa di Kufah, menambah keruh keadaan ini. Sehingga bermunculanlah mitos-mitos yang tak pernah ada dalam Islam. Diantaranya Muhammad bin Hanafiyah adalah sang mahdy yang disembunyikan oleh Allah di bukit Radhwa, akibat keteledorannya mengunjungi khalifah Umayyah. Dikanannya ada harimau dan di kirinya ada serigala, dia mendapatkan makanan dari sumber madu dan mata air yang jernih. Dan jika saatnya tiba, dia akan keluar memerangi kejahatan dan memenuhi alam ini dengan keadilan. Selanjutnya kepercayaan ini bernama Kisaniyah. Dan Kisaniyah akan terus tumbuh subur dalam Islam, Abu Ja’far Manshur pendiri dinasti Abbasiyah,-kerajaan terbesar di ashr wushta-berhutang budi pada keyakinan Kisaniyah. Bukan cuman itu, Hamdan bin Asy’at,-pendiri Qaramithah-akhirnya membentuk gerakan separatis yang bertujuan menggulingkan dinasti Abbasiyah. Dan itu berhasil, bahkan Abu Tahir,-pemimpin Qaramithah yang paling disegani- berhasil memasuki masjid Haram dan membantai kaum muslimin yang sedang melakukan haji. Tatkala dia mengambil Hajar Aswad dan membawa ke markasnya. Dia sempat berkata, “sudah berapa lama kau disembah, namun kezaliman terhadap alu bait masih terjadi dan sang mahdy belum muncul juga”. Ironisnya lagi waktu itu, kaum muslimin berhaji selama 23 tahun tanpa mencium Hajar Aswad.
Mauqif yang kedua, akibat kesedihan yang berlarut-larut yang dialami oleh kaum muslimin. Khususnya masyarakat Kufah, yang berjanji membantu Husain ra. membantu beliau untuk menghadapi penguasa yang lalim. Namun mereka ternyata mengingkari janji mereka dan membiarkan Husain dibantai di Karbala. Rasa bersalah ini, membuat dada mereka semakin sesak dengan penyesalan. Akhirnya muncullah sebuah aktifitas yang tak pernah dikenal dalam Islam, yaitu gerakan Tawwwabun. Yang membunuh diri mereka sebagai balasan ketidaksetiaan mereka terhadap janji mereka kepada Husain. Di sisi lain akibat kepedihan yang diderita di Karabala, mulailah bermunculan akidah dan kepercayaan liar yang sebelumnya tak pernah ada. Pada awalnya, ini hanyalah aktifitas ratapan yang sangat sederhana yang dialami oleh masyarakat Kufah. Dan lebih lagi jika hal ini, terjadi di kalangan para wanita Kufah. Maka akan semakin memperkeruh keadaan dan akan menambah buruk citra dinasti Umayyah di kemudian hari. Di Kufah tepatnya ada dua tempat, yang menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih ekstrim dalam tubuh Syi’ah. Yang pertama di rumah Hindun binti Na’ithiyyah dan kedua di rumah Layla binti Qumamah. Kedua rumah ini adalah halaqah untuk membentuk kader dan simpatisan Syi’ah, demi merongrong kedaulatan dinasti Umayyah. Dari kedua halaqah ini, lahirlah Abdullah bin Nauf. Dia adalah orang yang pertama menyerukan fikrah bida` dalam Islam. Sehingga jelas bahwa halaqah dari Hindun dan Layla, adalah medan yang empuk untuk tumbuhnya penafsiran Alquran dengan metode Syi’ah dan tentunya ladang benih pemikiran Gnosis dalam Islam. Dan kemudian akan diperkeruh oleh para zindiq dan orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan Islam.
Selanjutnya setelah peristiwa Karbala yang memilukan itu, bermunculanlah aliran dan sekte yang mengatasnamakan Islam. Pada mulanya adalah keinginan untuk mengkudeta penguasa yang ada. Namun karena sebagian besar gerakan revolusi mereka gagal dan pemimpin mereka tewas di medan perang dengan sangat sadis,-salah satu kebiasaan bani Umayyah, ketika berhasil menghentikan perlawanan dari Sy’ah. Mereka mengarak kepala panglima perang Syi’ah dan di pertontonkan di khalayak ramai.- sehingga membuat mereka putus asa. Kesedihan yang berlarut, ditambah kegagalan yang tertuai di mana-mana, membuat mereka mencari tempat yang pas untuk menumpahkan rasa depresi mereka. Salah satunya fikrah ruj’ah, bahwa yang mati bukanlah pemimpin mereka. Yang mati hanyalah syetan yang diserupakan dengan pemimpin mereka! Jika Allah mampu menyelematkan Isa dari kejaran Yahudi, mengapa tidak Allah mampu menolong pemimpin mereka yang nota bene adalah penolong Rasulullah, kekasih-Nya yang Dia cintai? Dari rasa depresi yang mendalam ini juga, lahirlah fikrah imam muntazhar atau messianik, demi menampik rasa kegagalan yang mereka rasakan. Sehingga imam yang dua belas merupakan cerminan dari sikap ini. Demikian juga gerakan Ismailiyyah lahir dan medapatkan tempat yang pas, ditengah orang-orang yang merasa keterpurukan yang mendalam. Ironisnya, komunitas ibahy atau komunitas permisif yang sebelumnya tak ada dalam Islam. Komunitas yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh syari’at, menghalalkan khamr, komunitas yang menghalalkan berhubungan dengan wanita mana saja, yang membatalkan kewajibat salat, bahkan menghalalkan darah kaum muslimin, muncul ditengah itu semua. Semuanya dengan berdalih atas nama imam. Dengan mengetahui sang imam, maka taklif akan runtuh. Demikian juga hal yang sangat disayangkan, mengapa harus ada penghinaan terhadap para Sahabat, alih-alih Abu Bakar dan Umar. Jikalau kita mau obyektif, memang wajar mereka berbuat anarkis terhadap para penguasa-bani Umayyah-. Namun mengapa harus kepada Abu Bakar dan Umar? Apa salah mereka?
Sekali lagi, dalam menghakimi Syi’ah, satu hal yang perlu kita tekankan. Yaitu kita tidak akan mampu menghakimi mereka dengan pendekatan psikologis. Wallahu a’alam.
Sunday, November 9, 2008
Kesedihan Syi’ah, Ada Apa???
Atomisme dan Manifestasi Kekuasaan Tuhan
Abu Huzail ‘Allaf adalah filosof Mu’tazilah yang pertama dalam dunia keilmuan Islam yang menelorkan qadhayah ini. Bahkan Abu Huzaillah, filosof pertama yang berusaha mengadopsi problematika filsafat dan membungkusnya dengan cover Islam. Sehinggga tak heran ketika Samy Nassyar mengatakan bahwa, “dialah filosof Islam yang pertama”. Bukan tak beralasan, Abu Huzail mampu menunjukkan identitas muslimnya, ditengah pergolakan pemikiran yang terjadi di dunia Islam kala itu.
Sebelumnya, problematika metafisika begitu marak membahana di dunia Islam. Sehingga memancing Abu Huzail untuk turut menyelami samudra metafisik. Dia berusaha membentuk sebuah korelasi antara alam ‘ulya dan sufla. Salah satunya, relasi antara qudrah dan iradah Tuhan dengan alam ini. Alam dalam kacamata Abu Huzail adalah berubah dan tidak tetap. Sehingga terapi untuk problematika ketidaktetapan alam ini, ditawarkanlah sebuah solusi atomik. Selanjutnya di dunia Islam disebut juz`u la yatajazza` atau sering diistilahkan dengan jauhar fard.
Hal yang cukup menarik disini, disana tidak ada kontra dari musuh Abu Huzail tentang problematika jauhar fard. Khususnya dari kalangan Asya’irah, bahkan pemikir Asya’irah sendiri mengadopsi pemikiran ini. Dengan kata lain, musuh Abu Huzail telah rela dan ridho dengan pemikirannya. Walaupun yang nantinya membantah dan menolak pemikirannya ini, adalah Ibrahim Nazzham, -murid Abu Huzail sendiri- dan Ibnu Hazm.
Jauhar fard, didefinisikan oleh Abu Huzail sebagai, “partikel atomik yang terjauh, sehingga tak mempunyai sisi dan volume, serta tak dapat disatukan atau di pisahkan”. Demikian yang disebutkan oleh Asy’ari dalam Maqalatnya. Defenisi ini terus dimodifikasi oleh para teolog Asya’irah dan terkulminasi pada definesi yang berikan oleh Jurjani dalam Ta’rifatnya yaitu, “ parikel yang tak mampu lagi dipisahkan secara mutlak baik dari secara real (kharijy) maupun secara hipotesis (furudh)”. Menurut Abu Huzail, segala sesuatu terbentuk dari jauhar fard, segala sesuatu dapat terpecah menjadi partikel-partikel yang sederhana ini. Ketika partikel-partikel ini menyatu maka terciptalah sebuah materi, sama halnya ketika mereka terpisah yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran materi itu. Sehingga jelas, bahwa alam maupun makluk hidup tercipta dari penyatuan partikel ini. Begitu juga kehancurannya, terjadi akibat dari benturan dan ketidakberatuan dari partikel itu. Bahkan Abdurrahman Badawy menambahkan bahwa, “karekteriktis tiap meteri tersusun dan terbentuk dari susunan jauhar fard”.
Menilik interpretasi ‘Allaf tentang atomisme, sedikit terbetik adalah keserupaan pandangan ‘Allaf dengan para filosof Yunani. Baik itu pencetus pertama pemikiran ini yaitu Leucippus, yang kemudian diperhalus dengan sentuhan Democritus. Namun mereka bukanlah pemilik pemikiran ini, di kalangan pemeluk Hindu juga terdapat pemikiran seperti ini. Dari sinilah ‘Allaf menunjukkan identitasnya sebagai filosof muslim yang tak hanya membebek dengan apa yang datang sebelumnya. Baik itu dari peradaban Yunani, Helenistik, ataukah dari peradaban Hindu, yang semuanya sama mewarnai corak dunia Islam waktu itu. Bahkan tak jarang konfrontasi akal dan perdebatan terjadi di antara dua kubu, serupa dengan natural selection, yang benarlah yang menang. ‘Allaf mampu terlepas dari momok hylotheisme-paradigma yang menjadikan materi sebagai tuhan-, yang kelam menyelimuti Yunani di masa para filsosof mereka. Maka tak heran ketika Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya, belum mampu menerima paradigma creatio ex-nihilo atau khalqu min ‘adam. Sebagai mana yang dikatakan oleh Muhammad Bahiy. Dari keengganan menerima creatio ex-nihilo inilah, yang akan melahirkan pemikiran ‘alam qadim ataukah maddah azaliyah dalam pemikiran filosof Yunani dan selanjutnya dianut oleh Ibnu Sina, Farrabi, Ibnu Rusyd dan lainnya.
Pada awalnya atomisme ditangan Democritus, Leukippus dan di kalangan Epicureanis tak lebih dari sekadar paradigma mekanik yang liar. Alam dan seluruh isinya dalam pandangan mereka tercipta dari partikel-partikel atomik ini. Demikian juga, partikel-partikel ini bergerak secara otomatis, dari gerakan otomatis inilah semesta tercipta. Bahkan mereka menganggap partikel-partikel ini azali dan kekal. Akhirnya bermuara pada penafian Tuhan dalam penciptaan ini dan menumbuh-suburkan benih–benih hylotheisme, yang telah tumbuh dengan liar di kalangan masyarakat Yunani pada masa itu, dan ‘Allaf mampu terlepas dari itu semua.
Dalam kuliah yang disampaikan Oleh DR. Husaini Ghazali di universitas Al-Azhar menjelaskan bahwa, di sana ada tiga perbedaan mendasar atomisme yang dianut oleh muslimin dan ‘Allaf khususnya, yang sangat bersebrangan dengan para penganut mazhab dzurry Yunani dan Hindu. Pertama, atom dimata ‘Allaf adalah hadis-baharu-, berbeda dengan yang dianut oleh pendahulunya. Menurut mereka partikel-parikel ini azali dan qadim. Kedua, partikel atomik ini tak mempunyai kemampuan untuk bergerak, diam, ataukah menciptakan sesuatu dengan secara otomatis. Akan tetapi seluruh aktifitas dari partikel atomik ini diatur dan dibentuk oleh qudrah, iradah, dan ilmu Tuhan. Sedangkan yang dianut oleh pendahulunya yaitu kemampuan otomatik yang dimiliki oleh partikel atomik ini. Ujungnya nanti berakhir kepada penafian Tuhan dalam aktifitas penciptaan dan kreasi semesta ini. Ketiga, atom ‘Allaf tak kekal dan fana, yang nantinya penafian terhadap reinkarnasi dan kekekalan alam ini. Berbeda yang dipercayai oleh golongan Hindu yang adanya reikarnasi dari kehidupan ini. Hal ini di amini oleh Samy Nassyar dan Abdurrahman Badawy.
Berdasar dari asumsi ini, Abu Ridah membantah pendapat Benis, seorang orientalis yang menganggap pemikiran dzurry ‘Allaf hanyalah menjiplak pendapat Democritus sebelumnya. Bahkan dengan tegas Abu Ridah menganggap bahwa keserupaan di antara keduanya hanyalah sebatas nama saja. Disamping adanya perbedaan yang sangat substansial antara pemikiran ‘Allaf dengan pemikir penduhulunya baik itu Demucritos, Leukippus atau dari Hindu. Juga tidak ada nash yang pasti mengatakan bahwa ‘Allaf menjiplak pemikiran mereka. Lagi-lagi hal ini mengisyaratkan kepada kita, betapa luas dan betapa dalam wawasan ‘Allaf terhadap pemikiran yang beredar di dunia Islam waktu itu. Demkian juga menunjukkan bahwa filsafat Yunani tak mampu menghegemoni para pemikir dan filosof muslim.
Mungkin ada pertanyaan yang cukup mengganjal di benak kita. Apa tujuan ‘Allaf mengadopsi pemikiran seperti ini? Demikian juga, mengapa Asyairah mengambil dan mengikuti pendapat ‘Allaf? Apa kontribusi paradigma ini dalam menyikapi problematika metafisika yang mewarnai dunia Islam selanjutnya? Imam Asy’ary mamaparkan nash berikut dalam Maqalat Islamiyyinnya, yang mengisyaratkan tujuan diadopsinya pemikiran ini oleh ‘Allaf:
<...قال أبوالهزيل: إن الجسم يجوز أن يفرقه الله سبحانه و يبطل فيه من الإجتماع حتي يصير جزءا لا يتجزء...>
Nash ini menggiring kepada kita kepada sebuah natijah yang hendak dicapai oleh ‘Allaf. Yaitu penetapan akan qudrah, iradah dan ilmu Allah swt. Selanjutnya untuk membantah akan kekelan zaman atau waktu. Karena menurut para filosof klasik, bahwa zaman merupakan sebuah rangkaian yang tak terbatas, dan tak terhingga. Jikalau segala sesuatu dapat dipecah menjadi jauhar fard, maka akan mudah untuk sampai kepada singularitas waktu. Tentunya akan menggiring kepada teori penciptaan yang hadis dan baharu- baca creatio ex nihilo-. Demikian juga, kaum muslimin seluruhnya berkeyakinan bahwa kekuasaan Allah tak terbatas. Salah satu dari manifestasi penjabaran kekuasaanNya yaitu, Allah mampu memecahkan dan membelah sesuatu materi menjadi partikel atom yang paling terkecil. Sehingga tak ada lagi hipotesa yang mampu menjadikannya terbelah atau tebagi dua. Ini mungkin yang mungkin kurang dipahami oleh Ibnu Hazm ketika membantah ‘Allaf. Jauhar fard di mata ‘Allaf adalah atom yang yang tak dapat lagi dipecah maupun dibelah kesisi yang terjauh, walaupun itu menggunakan hipotesa akal. Sedangkan menurut Ibnu Hazm dan Nazzham, bahwa selama sesuatu itu mempunyai bentuk-shurah- maka hipotesa akal mampu memecahnya dan membelahnya.
Walaupun Ibnu Hazm dan Nazzham berselisih pendapat dengan ‘Allaf dan mutakallimin umumnya. Disana ada sebuah benang merah yang menyatukan mereka, yaitu kemampuan Tuhan yang tak terbatas. Ketika Ibnu Hazm dan Nazzham berpendapat bahwa sesuatu tak mampu dipecahkan menjadi partikel yang terkecil. Disana ada rahasia di balik ini. Yaitu qudrah-kemampuan- Allah yang tak terbatas. Mereka meyakini ketika para mutakallimin mengatakan bahwa Allah dengan qudrahNya mampu memecah dan membagi sesuatu menjadi yang paling terkecil. Maka, mereka membalik hipotesa ini. "Jikalau Allah mampu membaginya kesesuatu yang terkecil dengan qudrahNya. Mengapa tidak, Allah mampu memecahnya dan membaginya sampai kesesuatu yang tak terhingga dengan menggunakan qudrah yang sama???". Demikian bantahan Ibnu Hazm dalam Fishalnya.
Disisi lain, ketika ‘Allaf menelorkan paradigma atomiknya, maka di sana juga ada sebuah natijah yang ingin ditujunya. Dia ingin sampai kepada sebuah penetapan kompleksitas qudrah Allah yang sempurna. Selain itu, dia ingin mencapai kepada seuatu yang lebih jauh lagi. Yaitu ¬komperehensitas dan kesyumulan ilmu Allah. Karena ketika sesuatu terbatas, maka dengan mudah untuk menetapkan, bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Demikian juga dengan menggunakan metode atomik ini Allaf mampu menetapkan iradah Allah Yang Mutlak. Dengan pemecahan partikel keatom yang terkecil mengisyaratkan bahwa, segala sesuatu itu mudah bagi Allah. Selama Allah menginginkannya. Sehingga tak ada susah maupun mudah di sisi Allah, karena Dialah Yang Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari sini penulis melihat bahwa, ‘Allaf mengakui adanya tapal batas yang tak mampu dilampui oleh manusia. Walaupun itu hanyalah sebuah hipotesa dan furudh semata.
Dari sini, kita melihat bagaimana kebrilianan ‘Allaf mampu mensinergikan semua potensi yang ada, demi memebentuk corak dan karakterstik kaum muslimin. Demikian terlihat jelas bagaimana ‘Allaf memfilter setiap kebudayaan yang ada. Tanpa harus membuangnya ataukah menolaknya. Akan tetapi dengan memanfaatkannya dengan jalan yang bijak. Subhanaka laa ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka Antas Sami’ul ‘Aliim.
