Jika anda sekarang sedang bergosip tentang saya misalnya, dan anda berkata kepada teman bicara anda, “si Awal sudah punya pacar belum yah..?”. Atau tiba-tiba saya menulis status, “saya sedang pacaran dengan Yeni”, misalnya. Untuk mengetahui kebenaran dari status saya, maka anda dapat dengan mudah untuk mencari kebenaran statemen yang saya lontarkan dengan menggunakan metode verifikasi terhadap statemen yang saya keluarkan. Jika statemen saya itu benar, dalam arti saya sekarang sedang pacaran dengan Yeni, maka statemen saya adalah benar, namun jika yang terjadi sebaliknya, maka statemen saya salah. Anda dapat mencari kebenaran statemen saya dengan menguaraikan aspek atomik yang ada dalam pernyataan itu. Apakah pernyataan saya merupakan ungkapan dari sebuah refleksi faktual, ataukah hanya merupakan ungkapan kebohongan belaka. Hal inilah yang dinamakan konsep verifikasi positivisme logis yang dikembangkan oleh Vienna Circle, dan dipermatang oleh Alfred Jules Ayer.
Secara umum, konsep verifikasi yang diusung oleh positivisme logis menekankan pada kemampuan sebuah preposisi untuk diverifikasi atau dibuktikan secara empirik. Statemen saya yang mengatakan, bahwa saya saat ini saya sedang berpacaran dengan Yeni, hanya dapat bermakna, jika dalam statemen tersebut terkandung sebuah kemungkinan bahwa pernyataan itu dapat dibuktikan dengan konsep verikasi. Dengan kata lain, sebuah statemen yang benar adalah adanya kesesuaian antara pernyataan atau statemen dengan realitas faktual yang mengada.
Sebuah pernyataan dikatakan bermakna dan benar, jika pernyataan tersebut memenuhi formulasi logis yang dapat dibuktikan secara empirik. Aturan formulasi logis sebuah bahasa, bersandar pada filsafat atomisme logis yang digusung oleh Bertrand Russel. Menurut Russel ada suatu kalimat yang memiliki struktur gramatikal yang sama namun memiliki formulasi logis yang berbeda. Misalnya kalimat, ‘Awal pacaran dengan bidadari dari syurga’ dan ‘Awal pacaran dengan gadis dari Sleman’, secara gramatikal keduanya sama, namun secara formulasi logis kedua pernyataan tersebut memiliki kontruksi yang berbeda. Pada pernyataan yang pertama, bersifat fantatis dan yang kedua bersifat real. Dengan memahami formulasi logis dari suatu ungkapan, maka kita dapat melakukan sebuah differensiasi dari formula logis gramatikal suatu ungkapan dengan bentuk logis semantiknya. Pentingnya memberikan differensiasi antara formulasi gramatikal dan formulasi logis, nantinya akan memberikan kemudahan untuk melakukan sebuah analisis terhadap sebuah pernyataan, preposisi dan bahkan barangkali sebuah dogma. Sebuah preposisi dan pernyataan dapat diverifikasi, apakah pernyataan tersebut bermakna atau tidak. Dari konsep atomisme logis yang diperkenalkan oleh Russel yang akhirnya mengilhami kaum positivisme logis untuk lebih mengembangkan konsep atomisme logis tersebut ke dalam konsep verifikasi.
Saya tidak akan mengindahkan apakah konsep verifikasi tersebut wajar untuk digunakan dalam menakar kebenaran sebuah agama atau tidak. Atau apakah konsep verifikasi tersebut memiliki tak disetujui oleh sebagian kalangan, misalnya karya terakhir dari Wittgenstein yang berjudul Philosophical Investigation. Dalam karya ini, dapat dikatakan Wittgenstein murtad dari pemikirannya terdahulu yaitu ajaran atomisme logis, dan menggusung pemikiran baru, yaitu konsep ordinary language dan language games. Bukannya saya bersikap arogan, akan tetapi saya melihat ada sebuah konsep yang diusung oleh Russel, saya anggap tepat untuk mengklarifikasi kebenaran sebuah agama. Konsep tersebut adalah konsep egocentric. Hal tersebut didasari dari sebuah anggapan, bahwa dalam mengalami pengalaman empirik, terdapat pengalaman-pengalaman yang tidak dapat dibagi secara teoritik dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan sebuah persesuaian antara realitas faktual dunia dan bahasa yang digunakan untuk mengungkap pengalaman tersebut. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa sejauh pengalaman itu bersifat egiosentrik namun, pengalaman tersebut haruslah memiliki rujukan empirik yang mampu dijadikan acuan dalam upaya verifikasi terhadap makna yang dikandung dalam pernyataan tersebut. Misalnya saya ingin membuktikan kepada anda betapa cantik pacar saya sekarang ini, walaupun rasa tersebut merupakan sumber relativitas dari sebuah interpretasi, paling tidak saya memiliki acuan empirik untuk membuktikan pernyataan saya itu. Atau paling tidak, saya harus memiliki rujukan empirik untuk membuktikan bahwa pernyataan saya bermakna. Akan tetapi jika saya mengatakan bahwa, betapa cantik pacar saya, yang saya maksud pacar di sini adalah bidadari yang turun dari langit, maka pernyataan saya itu otomatis tidak memiliki rujukan empirik, dengan kata lain saya sedang membual dengan anda, dan ucapan saya omong belaka.
Sekarang mari kita lihat bagaimana sebuah kebenaran agama dijustifikasi dengan menggunakan konsep verifikasi, tanpa menghilangkan dimensi egosentrik yang dimiliki oleh penganutnya, khususnya Islam. Dogma dan doktrin Islam dibangun sebuah konsep tentang wahyu. Selama berabad-abad, belum ada yang mampu memberikan sebuah interpretasi tentang prosedur wahyu tersebut sampai pada masa Farraby. Usaha Farraby memberikan interpretasi logis terhadap problematika wahyu akhirnya menuahkan hasil yang cukup memuaskan. Wahyu menurut Farraby erat kaitannya dengan aspek psikologis dalam diri manusia. Wahyu merupakan reaksi psikologis terhadap realitas faktual yang dialami oleh seorang manusia. Salah satu dari bentuk reaksi psikologis tersebut adalah dengan melalui mimpi. Kemampuan reflektif dan kontemplatif yang dimiliki oleh seseorang jika mampu menembus taraf maksimalnya, maka akhirnya akan mampu membawa manusia kepada persinggungan dengan alam transenden, yang berada di atas dunia manusia.
Dengan kata lain, proses wahyu adalah endapan-endapan pengalaman empirik yang dialami oleh seseorang yang telah diabstraksi dalam sebuah proses kontemplasi dan perenungan yang mendalam. Wahyu merupakan jawaban reflektif dari fenomena-fenomena empirik yang dialami seorang yang mengklaim dirinya seorang nabi, yang diawali dengan sebuah upaya kontemplatif dan perenungan yang mendalam. Dan hal ini sebelumnya telah dilakukan oleh Muhammad untuk memperoleh wahyu, yang selama dua tahun melakukan tahannuts di gua Hira. Beliau melakukan sebuah aktifitas kontemplatif dan reflektif dalam upayanya untuk memberikan sebuah kontribusi terhadap nilai-nilai religius yang memudar di zamannya. Oleh karena itu, apa yang diterima Muhammad merupakan wahyu yang bersifat manusiawi dan profan, dan tentunya tidak berada di luar dunia manusia. Sehingga wahyu yang ada sekarang ini, Alquran, mempunyai dimensi manusiawi yang multiinterpretatif dan berada dalam tataran historisitas manusia.
Wahyu kontemplatif yang dimiliki oleh Muhammad memiliki dimensi humanis yang sangat kental dan sangat dipengaruhi oleh fenomena empirik yang ada di zamannya. Namun itu tidak berarti bahwa wahyu tersebut akan lekang dimakan oleh zaman, tidak. Yang lekang oleh zaman adalah fenomena yang ada, namun nilai yang ada di dalamnya tetap aktual, tergantung terhadap sikap yang diambil oleh para pemeluknya. Atau ada opsi lain untuk menjaga kelekangan tersebut, yaitu melakukan proses reinterpretasi terhadap penafsiran yang selama ini berkembang. Sebab sekarang ini, yang membuat jauh sebuah kitab suci dari para pemeluknya ketika ada jarak antara kitab suci tersebut dengan pemeluk agama tertentu, khususnya Islam. Tak dapat dipungkiri bahwa, kerenggangan tersebut terjadi ketika jika egoisme historik begitu besar untuk pemeluk sebuah agama. Yang saya maksud egoisme historik, adalah ada kecenderungan mengungkit nilai relevansi kitab suci tersebut dengan zaman sekarang di mana pemeluknya hidup. Persoalan relevansi ini sangat penting, sebab diakui bahwa dalam membaca buku manapun pasti terdapat jarak antara pembaca dengan realitas historis dari objek yang dikajinya, dan tak terkecuali untuk kitab suci.
Upaya verifikasi terhadap kebenaran agama, khususnya Islam dapat dikembalikan dalam dua jalan. Pertama, wahyu merupakan sebuah reaksi psikologis yang dialami Muhammad dalam interaksinya terhadap fenomena-fenomena empirik yang ada di zamannya. Upaya dalam memberikan solusi alternatif terhadap fenomena di zamannya telah membawanya kepada aktifitas kontemplatif yang merupakan salah satu pintu dari wahyu tersebut. jadi, wahyu merupakan sebuah pengalaman empirik yang terabstaksikan. Kedua, kebenaran wahyu bersifat egosentrik yang berarti, bahwa pengalaman yang dimiliki oleh Muhammad tidak dapat dibagi kepada orang lain. Akan tetapi untuk menentukan apakah pernyataan Muhammad yang terekam dalam Alquran itu ‘bermakna’, yang berarti sesuai dengan formulasi logis dan bukan hanya sekedar khayalan fantatis, adalah rasa atau refleksi pengalaman yang memiliki rujukan empirik yaitu berupa fenomena historis yang ada di zaman Muhammad.
Atau mungkin anda mengatakan bahwa realitas wahyu bukan merupakan sebuah pengalaman yang berada tataran dunia material apa lagi empirik. Maka kalau seperti itu, berarti bahwa anda tak dapat memberikan sebuah bukti apapun untuk mendukung pendapat anda. Sebab bukti yang anda paparkan tak akan lepas dari verifikasi empiris dari argumen yang anda paparkan.
Semoga fanatisme semakin berkurang…
