Tuesday, October 7, 2008

Ibnu Thufail Pendamai antara Agama dan Filsafat

Dia adalah seorang filosof Andalusy yang hidup setelah Ibnu Bajah dan Gazhali. Dia hadir ketika hawa panas perdebatan filsafat, masih membahana di dunia Islam waktu itu. Takfir yang dilakukan Al-Gazaly masih menjadi momok bagi para sarjanawan muslim untuk menyentuh dan bergelut dengan literatur filsafat. Hal ini terlihat jelas dengan warna dan corak yang ditinggalkan Ghazali terhadap karya-karya yang mendominasi waktu itu. Misalnya banyak terjadi di pemikir Asya’irah yang berusaha menyembunyikan ajaran filsafat dilembaran karya kalamiyah. Namun beberapa Ulama berusaha mengeluarkan filsafat dari kerangkeng dan jeratan Al-Gazaly dan berusaha mendamaikan kedua kubu ini, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail.

Kedua filosof agung ini yang nantinya akan melancarkan jalan Ibnu Rusyd untuk mebangun puing-puing filsafat yang telah diporak-porandakan oleh Ghazali. Namun sebuah poin khusus untuk Ibnu Thufayl adalah ketika merekontruksi bangunan filsafat, dia berusaha mendekati Ghazali dengan pendekatan pisikologis. Hal ini tercermin jelas dalam kisah fiktifnya yang terkenal yaitu; Hayyu bin Yaqazhan. Gazaly oleh sebagian orang adalah orang yang pengecut, dia adalah tokoh yang setelah menghujam filasafat hatta hampir membunuhnya, justru melarikan diri dari sengitnya perdebatan, melalui tejun keduni tasawwuf. Poin terakhir ini yang menjadi nilai minus buat sang Imam kita.

Ketika dunia fiilsafat Islam yang begitu kelam, muncullah sang filosof yang sangat mumtaz ini. Dia datang mencoba mendamaikan antara kubu Al-Gazaly yang disini mewakili rayah diniyah danIbnu Sina, Farraby dan Al-Kindy yang membawa rayah falsafiyah. Dia mencoba mempersandingkan mereka ditempat yang satu dengan yang lainnya sejajar. Satu tempat ketika agama memandang falsafat tak perlu dengan tatapan sinis. Begitu juga ketika filsafat dan agama berpapasan, sang filosof tak perlu ketakutan dengan ancaman takfirnya. Ibnu Tufayl mendamaikan mereka dibawah tangan Hayyu bin Yaqazhan. Sebuah kisah fiktif yang dibuat oleh Ibnu Thufail untuk mendamaikan mereka yang nota bene mendamaikan antara agama dan filsafat.

Hayyu bin Yaqazhan dikisahkan sebagai seorang yang terbuang disebuah pulau sejak dia masih bayi. Tak ada yang menemaninya disana dia menyusu dari seekor rusa, dia menjalani kehidupannya sendiri, dia belajar untuk masak, makan, minum, berpakaian serta menjadi seorang manusia yang sempurna dengan sendiri. Hayyu bin Yaqazhan berusaha menyingkap tabir kehidupan serta, alam setelah kematian, dengan sendiri. Dia berusaha memikirkan penciptaan langit dengan sendiri. Namun, dia sadar bahwa dia tidak mampu memikirkan keluasan dan ketakterhinggaan langit itu.

Ketika dia mengetahui keterbatasannya itu, dia mengetahui bahwa disana ada Tuhan yang menciptakan dirinya, serta semesta ini. Dia tahu bahwa Tuhan yang menciptkan ini harus disifati dengan sifat dengan sifat yang betul-betul berbeda dengan makhluknya. Serta Sang Pencipta harus betul maha segala-galanya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah alam ini telah senantiasa ada bersama Tuhan (qadim), ataukah alam ini baru (hadits). Sebab ketika dia meyakini akan kejadian alam yang senatiasa tunduk pada hukum kausalitas pada ujungnya nati dia akan berpendapat bahwa alam ini senantiasa qadim. Namun ketika dia menemukan bahwa kadang ada sebuah perkara yang selamanya tidak mesti tunduk kepada hukum kausalitas, maka dia berpendapat bahwa alam ini hadist. Dia pusing, dia tak dapat menjawabnya, sebagaimana dia tak mampu untuk memastikan bahwa dari mana alam ini diciptakan bahwa alam ini diciptakan dari kekosongan yang mutlak (creatio ex nihilo) atau ada sebuah madah yang senantiasa ada bersama Tuhan? Dia menyerahkan ini pada penciptanya.

Kini dia beranjak kepada dirinya sendiri, ketika dia merasa tak mampu untuk menjawab hal-hal yang melangit. Dia kembali kebumi. Kini dia berusaha menjawab pertanyaan apa yang terjadi ketika dirinya telah meninggal. Dia terilhami ketika rusa yang menyusuinya selama ini mati. Dia pun menyelidiki penyebab kematian rusanya itu. Dia tak mendapati apa-apa. Kini dia berpendapat bahwa rusa yang meninggal itu sama seperti kejadian alam yang lain. Seperti siklus kehidupan ada yang datang ada pula yang pergi. Saat itu dia mulai berpikir apakah ketika dia meninggal? Akankah berakhir kehidupan ini? Ataukah disana ada kehidupan yang lain yang akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan siksaan kepada orang yang berbuat jahat? Dia berkesimpulan bahwa disana ada kehidupan setelah kehidupan ini.!!

Dia berpikir dan merenung untuk berapa waktu ... Dia merasa bahwa dirinya telah matang untuk meninggalkan pulau itu serta dia bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran yang diperolehnya itu kepada orang lain. Agar yang lain dapat menikmati dan mencicipi sebuah kebenaran yang hadir dari fitrah manusia yang tulus dan ikhlas untuk mencari sebuah kebenaran. Dia bertekad untuk meninggalkan pulau itu.

Setelah lama menunggu kapal yang melintasi pulaunya akhirnya diapun menemukan sebuah kapal yang akan mengantarkan dirinya kepulau seberang. Dia tiba di pulau yang ingin ditujunya. Di pulau itu dia mendengar tentang ajaran seorang Nabi, dia mencari tahu tentang ajaran sang nabi itu. Dia berkenalan dengan dua orang teman barunya, yang kebetulan mereka memeluk ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi tadi. Mereka menyampaikan isi ajaran Nabi mereka kepada Hayyu bin Yaqazhan. Dia terkejut. Dia melihat bahwa ajaran Nabi itu serupa dengan apa yang selama ini didapatkannya. Dia lalu beriman dan meyakini ajaran Nabi tersebut.

Setelah ketiganya akrab. Hayyu bin Yaqazhan menceritakan pengalamannya selama ini. Salah satu dari kedua temannya, adalah seorang ahli syariat yang tekstual. Dia bernama Salaman, temannya yang satu ini pun marah kepadanya dan menganggap bahwa akal tak mampu menemukan hakikat pencipta kecuali dengan wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Salaman pun mengusirnya. Tapi dia masih memiliki seorang teman yang masih setia bersama dia, yang bernama Absal. Absal adalah seorang ahli sufi. Setelah lama berdiskusi dengan Absal, Hayyu bin Yaqazhan pun berniat kembali bersama Absal kepulaunya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Dia memang harmonis bersama dan cocok bersama Salman. Niat mereka untuk kembali kepulaunya telah bulat. Ketika hendak meninggalkan pulau itu dia pamitan dengan Absal, serta memohon maaf kepadanya beserta ulama yang ada di pulau itu. Dia akhirnya meninggalkan pulau itu bersama Salman, menuju pulau yang yang ditinggalinya selama ini. Dia bersama Salman hendak menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan.

Demikian sekelumit kisah Hayyu bin Yaqazhan yang lebih sebuah metode simbolis yang di gunakan oleh Ibnu Tufail, untuk menyatukan antara agama dan filsafat. Tentunya masih perlu sebuah interpretasi yang lebih mendalam, untuk menguraikan makna dan penjabaran lebih lanjut tentang metafora yang ada dalam kisah ini. Lain kali kita lanjut.

selengkapnya......

Kado Lebaran dari Refleksi Ramadan

Memoar indah yang kita ukir di bulan Ramadan, kini tak terasa harus tergeser oleh putaran roda sang waktu. Lantunan kalam Ilahy yang indah bergema ditelinga, tak terasa harus senyap ditelan oleh suara mesin. Damai dan gelak tawa yang riuh di Maidatur Rahman, kini harus berakhir dengan berakhirnya Ramadan.

Ramadan harus menepi, digeser fajar syawal yang telah terbit. Rasa rindu dan sesal ikut mengiringi kepergian Ramadan. Rindu akan selalu terngiang di hati para pendamba kelezatan spiritual. Sesal akan selalu mengahantui jiwa yang acuh terhadap kepergian Ramadan. Namun semuanya itu telah pergi, dan telah terekam dalam catatan para malaikat penjaga kita.

Akihirnya sebulan sudah, menempa diri di madrasah Ramadan. Menghambat jalan syetan dalam diri dengan menyempitkan pembuluh darah, melalui rasa lapar dan dahaga. Menghangatkan kembali nilai harmonis dengan Sang Pencipta, dengan menambah kualitas ibadah. Memintal rajutan silaturahim yang dulunya renggang, dengan berasimiliasi dengan kaum dhu’afa. Semuanya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup untuk sebelas bulan kedepan.

Ramadan telah pergi dan meninggalkan kado kepada kita semua. Baik itu berupa rasa rindu yang terpatri dalam jiwa, ataukah rasa sesal yang menyemat kalbu. Semuanya akan menjadi butiran refleksi dalam hati untuk memperbaiki kualitas keimanan yang tertancap dalam hati.

Kini fajar Syawal telah terbit, saatnya untuk mengimplementasikan kado dan hadiah yang dapat kita tuai di bulan Ramadan yang telah berlalu. Baik itu berupa konsistensi untuk tetap merapatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ataukah senantiasa untuk mengharmonisasikan link horizontal kita dengan sesama makhluk. Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya untuk menjalani liku hidup yang begitu terjal.

Sudah menjadi tradisi yang mengiringi kedatangan ‘idul fitri, tradisi saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau yang kita lakukan terhadap orang lain. Tradisi ini begitu familiar di telinga kita, yaitu halal bi halal. Seolah lebaran tak akan sempurna tanpa perayaan even ini dan itu telah menjadi darah daging dalam tradisi keagamaan kita. Walaupun sederhana tapi halal bi halal ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, dalam mengupayakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Jalinan persaudaraan yang dulunya renggang, dengan adanya lebaran dan halal bi halal sebuah rekonsiliasi akan kembali terlaksana. Kita akan kembali menggenggam tangan saudara kita yang dulunya sempat terlepas. Kita kembali dapat melemparkan senyum kepada musuh kita, yang dulunya sempat terbungkam. Sehingga kesucian dan keseimbangan jiwa akan kembali kita raih dengan datangnya ‘idul fitri, serta kestabilan sosial akan menjadi kado di lebaran nan ftri ini.

Di hari yang fitri ini, kita sama berharap semoga kedamaian, persahabatan dan keramahan akan menjadi atmosfer yang meliputi kehidupan Masisir dan kehidupan yang lebih universal. Kita juga berharap semoga hati kita menjadi seputih dan sebersih hati bayi baru dilahirkan. Semoga ini kado lebaran yang di hadiahkan Ramadan kepada kita. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi orang yang beruntung disisi Allah swt. Amin.


selengkapnya......

Dan… Langit pun Tersenyum

Ada yang lain dari malam itu. Rembulan seakan semakin cantik dengan bundarnya yang pipih. Para bintang bintang pun tak mau kalah, mereka meramaikan riasan langit dengan kerlipan cahayanya. Langit malam yang bermandi cahaya seolah bersolek untuk menyambut kalam Tuhan, yang diturunkan dari Lauh Mahfudz. Para malaikat besiap untuk mengkawal turunnya mu’jizat yang terbesar ini. Lantunan zikir yang dilantunkan oleh seluruh penduduk langit semakin mempesonakan gempita semesta.

Jauh di bumi sana. Muhammad berjalan melewati bebatuan terjal untuk mendaki ke gua Hira. Dia kembali melakukan aktivitas takhannuts yang baru dia geluti beberapa waktu lalu. Semua itu berawal ketika dia bermimpi, secercah cahaya yang mendatanginya seakan fajar Subuh terbit di sanubarinya. Takhannuts yang dia lakukan semakin menghauskan dahaga ketuhanannya. Dia semakin gerah dengan kebodohan umat di sekelilingnya, yang semakin hanyut dalam kubang kebodohan. Hatinya yang lembut, risih dengan prilaku orang di sekelilingnya. Jiwanya yang bening, terpanggil untuk membersihkan mutiara ketuhanan yang telah ternodai. Dia terpanggil untuk mengokokohkan kembali panji ketuhanan yang telah lapuk.

Dalam perjalanannya menuju gua Hira, dia heran dengan keadaan di sekelilingnya. Bebatuan yang dia pijak seakan lunak untuk memudahkan perjalanannya. Lambaian angin yang menghembus kepadanya, bertiup sepoi kepadanya. Pohon yang kokoh di sekelilingnya berayun seakan irama lantunan doa kepadanya. Batu, hewan, pohon dan gunung mengucapkan salam kepadanya. Ketika dia menoleh kanan-kiri dia tak menemukan siapa-siapa. Dia heran dengan penyambutan bumi yang hangat kepadanya. Pertanda apa yang akan terjadi kepadanya? Dia tak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.

Setelah sampai di gua Hira, dia kembali melakukan aktivitas takhannuts seperti biasanya. Namun rasa takut yang menghinggapinya membuat konsentrasinya agak sedikit buyar. Dia terbayang dengan keanehan yang dia lalui disekitarnya. Sehingga membuatnya untuk bekerja keras memusatkan pikirannya. Ketika itu sesosok menghampirinya. Dia berkata, “bacalah”. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat yang dahsyat saat itu. Dia tak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Dia merasa takut dengan sosok yang mendatanginya tadi. Beberapa lama sosok itu kembali menghapiri dirinya, bahkan dia merangkul tubuhnya yang gemetaran. “Bacalah,” kata sosok yang dilihatnya dengan mata kepalanya. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya lagi.
Dia tak sedang bermimpi, entah apa nama makhluk yang mendatanginya. Sebab baru pertama kali dia datangi dengan wujud yang belum pernah dilihatnya. Dia terus dipaksa untuk membaca, sehingga dia pun kelelahan.

Barulah ketika rangkulan sosok itu terlepas, dia merasa lega. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya”.
Mendengar itu semua dia merasa ketakutan, dia merasa dirinya telah diganggu oleh jin. Sehingga dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang pucat pasi, dia masuk kerumahnya. “Selimuti aku,” katanya yang terbatah sembari menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Betapa tidak dia baru saja diberikan sebuah kalam, gunung pun akan luluh dan tertunduk jika itu diturunkan kepadanya. Betapa besar dan agung kalam yang diberikan kepadanya.

Muhammad tak tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia tak tahu jikalau langit tersenyum dengan turunnya kalam yang baru saja membuatnya ketakutan. Dia tak tahu ternyata bumi sangat mendambakan lantunan simponi ketuhanan dicurahkan kepadanya. Muhammad tak tahu betapa dahaganya para makhluk hidup dengan curahan ayat Yang Maha Indah. Dia tak tahu fajar kehidupan telah menyingsing, dan akan memulai sinarnya di pundaknya. Dia tak tahu itu. Karena dia tak pernah menduga jikalau kenabian akan diletakkan di bahunya. Dia tak pernah mengharapkan kenabian itu. Dia hanya ingin mengikuti ajaran Hanafiyah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim.

14 abad telah berlalu. Langit tetap tersenyum ketika memperingati malam itu dan Allah telah menghadiahkan malam yang indah itu kepada umat Muhammad. Malam itu akan menjadi saksi betapa megahnya Alquran dan betapa tersayangnya umat ini. Malam itu akan menjadi malam terindah dalam kehidupan seorang hamba ketika mendapatkannya. Dia lebih indah dari seribu bulan yang dihabiskan oleh manusia yang tak mendapatkannya. Malam itu, hamba akan mendapatkan jamuan yang istimewa dari Sang Penciptanya. Doanya akan dikabulkan, amalannya akan dilipatkan gandakan sebanyak-banyaknya, dosanya akan di leburkan. Malam itu semesta diliputi oleh rahmat Tuhan yang tak terbatas. Para malaikat turun ke bumi dengan membawa lantunan doa dan permohonan ampun, kepada hamba yang di berikan anugerah untuk merasakan belaian lembut dari Allah Yang Maha Lembut.
Sehingga kehidupan yang dulu kelam diselimuti dosa, pada malam itu akan berakhir dengan menyongsongnya fajar kehidupan. Fajar yang akan menerengi tiap relung kehidupan sang hamba. Fajar yang mengusir bingar dosa yang mengaung. Lembaran amalan yang dulunya tipis kini menjadi tebal dengan kepemurahan Allah yang tak bertepi.

Ingin rasanya ku kecap indahnya malam itu, dan itu ku awali dengan mendoakan saudaraku yang seiman agar lebih dulu merasakannya. Semoga.


selengkapnya......

Dimana Tuhanku..?

Seabad yang lau ketika Albert Enstein telah berhasil meggoncangkan dunia dengan teori relativitasnya. Dia dengan lantang menyerukan, “Keberadaan tuhan yang metafisik, sudah tak mendapatkan tempat lagi di kehidupan moderen saat ini”. Bahkan dengan terang-terangan sang ilmuwan yang melegenda ini menganggap bahwa, "tuhan merupakan hantu yang mengendarai jagad raya ini".

Kehidupan beragama saat ini memang telah sampai kepada taraf yang sangat memilukan. Tuhan telah dipinggirkan dalam kehidupan ini, tuhan telah kehilangan nilai sakral dihati orang yang mempercayainya. Dia tak lebih dari sekadar dongeng untuk menemani tidur para anak-anak. Dia tak boleh memasuki relung kehidupan para manusia yang berkebudayaan moderen. Tuhan yang dulunya maha pengasih kini dia tak lebih dari pembawa petaka terhadap kehidupan manusia. Solah tuhan telah melakukan sebuah karya gagal. Kini tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia… ta’alallahu ‘an qaulihim’ uluwwan kabiraa.

Paradigma diatas merupakan sedikit dari sekian banyak cemohan Barat terhadap tuhan. Patut diakui bahwa mereka telah berhasil menaklukkan alam, serta merajai peradaban dunia saat ini, dengan menyingkirkan tuhan dari kehidupan mereka. Mereka berhasil menjadi bangsa yang ‘berperadaban’ setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap gereja. Sekularisme menjadi kunci mereka untuk memasuki gerbang teknologi yang maha dahsyat.

Namun yang cukup disayangkan, ketika wabah ini menjangkit ke dalam tataran keislaman kita. Tuhan dalam tipologi pemikiran keislaman merupakan Zat Yang Agung, dia sangat dekat hamba-Nya. Dia ada ketika hamba-Nya ketika menengadahkan tangan memohon kepadanya. Dialah yang memberi jalan ketika hamba-Nya dirundung sepi yang tak berkesudahan. Dia ada. Dia mendengar. Dia mengabulkan permohonan hambanya.

Seolah dimensi kedekatan kita dengan-Nya telah dikikis oleh sekais materi yang tak berharga. Seakan kemahapemurahan Tuhan tak lagi kokoh dalam sanubari ini. Kita seolah lupa ditiap peluh yang mengalir, ditiap ritihan yang mendesah, ditiap tetes air mata yang tercurah, disana ada Dia yang melihat kita. Malam yang sunyi, merupakan saat yang tepat untuk ‘curhat’ dengan-Nya tak lagi kita pergunakan untuk bedialog dengan Dia. Raungan self confident yang menggema dalam hati, seakan membuat malu untuk meminta pertolongan terhadap-Nya.

Sedari awal, ketika Rasulullah memulai dakwahnya, Allah swt. telah mengajak manusia untuk membaca dan berkenalan dengan Dia. Ketika Nabi hendak beristirahat ketika usai melakukan tahannutsnya, beliau dipanggil oleh Allah untuk tak lelah bercengkrama dengan-Nya. “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk memperingatkan kaummu. Agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu”. Rasulullah pun diperintahkan untuk menghancurkan sendi-sendi persepsi ketuhanan agama samawi, yang telah banyak dirusak oleh para ahli kitab. Tuhan dalam persepsi kaum Yahudi merupakan tuhan yang senang merusak, bengis dan kejam terhadap golongan diluar kaum Israil. Seolah tuhan milik mereka sahaja. Demikian halnya tuhan versi Nasrani, tuhan yang dendam dengan dosa yang dilakukan oleh Adam. Kebaikan yang dilakukan oleh umat manusia takkan bernilai apa-apa disisinya. Pengorbanan sebesar apapun untuk meraih ridho tuhan mereka, tak akan berarti. Tuhan mereka diliputi kemarahan yang membara, akibat dosa bapak manusia. Marah tuhan mereka baru mereda ketika anak tunggal tuhan turun kebumi, menjadi tebusan terhadap dosa umat manusia. Sungguh zalim mereka terhadap Tuhan.

Nilai keislaman hadir untuk menepis persepsi zalim itu semua. Islam memanggil manusia yang dahaga terhadap keindahan dan kepemurahan Tuhan, untuk dapat merasakan sejuknya menengadahkan tangan kepada-Nya, untuk merasakan betapa segarnya melinangkan air mata dihadapan-Nya. Islam menyerukan betapa lezatnya membasahi lidah ini dengan simponi lantunan zikir kepada-Nya. Islam datang kepada para hamba yang telah berkecimpuh dalam kubangan dosa, untuk tak berputus terhadap pengampunan Tuhan. Allah tersenyum kepada mereka, ketika mereka mau datang mengetuk pintu ampunan-Nya. Sehingga kedamaian hati para pendamba Tuhan akan senantiasa subur dalam sanubari mereka.

Ramadan inilah merupakan momen yang tepat untuk kembali menghangatkan dimensi spiritual yang mulai membatu. Semoga hati dulunya usang akibat koyakan materialistik mampu tertata rapi kembali dengan sentuhan lembut dari kepemurahan Tuhan. Ya Rabb…


selengkapnya......

Tafakkur dan Aktifitas Filosofis

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang yang mempunyai hati. Yaitu orang mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, (mereka berkata) wahai Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari azab neraka. Qs:03:190-191.

“Ketika kita berusaha untuk membungkam suara akal, maka sebuah konsekuensi logis yang harus kita dapati adalah mengucapkan selamat tinggal kepada filsafat”. Demikian ungkapan yang dilantunkan oleh seorang pakar filsafat Mesir, DR. Athif Iraqy. Akal merupakan sebuah anatomi metafisik yang menyemburkan benih perdebatan dikalangan pemikir umat manusia. Akal dan aktifitasnya merupakan ladang subur untuk tumbuhnya benih perdebatan dalam kubu suatu masyarakat madani, dan Islam pada khususnya.


Kubu yang diwakili oleh golongan sufi, berusaha menafikan peran akal dalam upaya merelungi samudra hikmah Ilahi. Akal hanya mampu sampai kepada nilai formalitas sesuatu tapi tak mampu sampai kepada nilai substansialnya. Akal dalam paradigma kaum sufi hanya mampu sampai kepada tanda akan adanya sang Khaliq, namun untuk berusaha untuk mengenalnya, akal tak mampu menembus dinding ini. Ketika Sufyan Atsauri ditanyai tentang dalil keberadaan Tuhan, dia menjawab, “Allah”. Kemudian dia ditanya balik akan peranan akal, dia menjawab, “bahwa akal lemah, dan yang lemah tak mampu mengetahui kecuali yang lemah juga”. Dengan jelas bahwa Sufyan Atsauri berusaha mendistorsi peranan akal dalam upaya merelungi dimensi ilahiyah.


Berbeda dengan kaum rasionalis yang mengusung panji kebesaran akal. Mereka adalah golongan yang meyakini akan kemutlakan akal. Kubu ini diwakili oleh para kaum filosof dan para teolog. Dalam pandangan para filosof akal mampu menembus tapal yang tidak mampu ditembus oleh para kaum sufi. Mereka meyakini dengan akal mereka mampu sampai kepada sebuah kulminasi yang membawa kepada pelabuhan ma’rifatullah. “Akal merupakan bias dari cahaya ilahi.” demikian tutur Ghazali dalam kitab Misykat Anwarnya. “Ataukah akal merupakan wakil tuhan dalam jiwa manusia.” dalam paparan Al-Jahizh. Sehingga segala konspirasi yang ingin menafikan peran akal dalam upaya untuk menapaki relung-relung ketuhanan dianggap sebuah upaya pelumpuhan untuk menggapai hikmah ilahi. Mereka berpijak kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, “mereka mempunyai hati tapi tidak berpikir, mereka mempunyai mata tapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tapi tidak mendengar, mereka seperti hewan bahkan lebih sesat”. Dari premis inilah mereka beranggapan bahwa menghilangkan peran akal dalam kehidupan ini seperti menghilangkan nikmat penciptaan panca indera. Bahkan penafian fungsi akal dianggap sebuah dosa yang dicela dalam Al-Qur’an. Ketika para penghuni neraka menyesali kebebalan mereka, mereka berkata, “jikalau kami mendengar dan bepikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir”.

Dibalik alotnya perdebatan antara kubu kaum sufi dan kubu pengusung panji kemuliaan akal yang diwakili oleh oleh filosof dan teolog. Ada sebuah korelasi diantara keduanya, kaum sufi ketika berbicara tentang fungsi akal, mereka membatasi tapi tidak menafikan peranan akal itu. Mereka mengakui akan kemampuan akal yang mampu sampai kepada taraf pembacaan ayat-ayat kauniyah. Mereka tak sampai membuang akal dalam kehidupan ini. Disana ada hadits Nabi yang mengatakan akan pentingnya bertafakkur.

“Bertafakkur sesaat lebih mulia dibanding ibadah semalaman.” demikian ungkapan Nabi. Beliau menyadari dengan aktifitas tafakkur sebuah generasi yang menguasai peradaban akan lahir. Tafakkur mampu menghancurkan nilai egois dalam jiwa tiap individu. Dengan tafakkur seorang hamba mampu menghilangkan dimensi ananiyah dalam dirinya, dia mampu menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendirian dalam jagad raya ini. Dia hidup dibawah pengawasan Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga nantinya akan melahirkan sikap muraqabah. Disamping itu juga seorang hamba menyadari bahwa dirinya senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Penciptanya dan segala jeritan dan rintihan oleh masalah yang dialami pasti diketahui oleh Tuhannya. Dia tak sendiri dalam kehidupan ini.

Ayat diatas dengan kekuatan maknanya menceritakan akan kemuliaan tafakkur. Beranjak dari hikmah penciptaan langit dan bumi, Allah SWT memanggil para hambanya untuk merelungi dan memikirkan gejala dari alam ini baik yang makro dan mikro. Allah telah menaburkan mutiara-mutiara hikmah di tiap celah dari alam ini. Seorang hamba yang mampu memetik dan menuai mutiara hikmah itu tanpa tersadar akan terheran dan takjub akan kebesaran Allah. Dia dengan spontannya akan mengucapkan, “Maha Suci engkau ya Allah, tidak sia-sia engkau menciptakan alam ini”. Ketika dia menyadari akan kebesaran penciptanya, maka secara otoamatis dia akan berusaha memenuhi tiap panggilan dan seruan ilahi. Dia menyadari akan kekurangan dan kekerdilan dirinya ditengah megahnya jagad raya ini. Sehingga ini akan mengatarkan kepada ketergantungan dirinya dengan penciptanya. Dia butuh penciptanya untuk segala aktifitasnya, dia butuh penciptanya di tiap relung kehidupannya, dia butuh pertolongan penciptanya untuk sampai kepada kebahagiaan yang paripurna. Dia butuh itu semua. Dan lebih lagi dia sangat takut kepada siksaan yang akan menunggunya nanti ketika dia mengabaikan perintah Tuhannya. Dia sangat takut dengan hal itu tanpa tersadar lagi dia berucap, “maka hindarkanlah kami dari siksaan api neraka”.

Tafakkur memang mempunyai peranan yang sangat urgen di dalan Islam. Islam dari awal telah mencela budaya taklid buta kepada nenek moyang, serta mitos yang diterima dari pendahulu tanpa adanya budaya kritik terhadap kesahihan berita itu. Demikian juga Islam berupaya memerangi beberapa praktik perdukunan yang dianggap sebagai sebuah upaya yang menghilangkan peranan akal dalam kehidupan ini. Lihatlah ketika Ibrahim anak Nabi meninggal yang disertai dengan gerhana bulan, sehingga orang-orang waktu itu menilai bahwa gerhana terjadi disebabkan wafatnya anak Nabi, ketika mendengar hal ini Nabi langsung menyangkal dan dengan lantang berkata, “sesungguhnya bulan dan matahari merupakan dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana disebabkan oleh matinya seseorang”. Sehingga dengan jelas bahwa setiap akidah dan ajaran Islam tak ada yang bertentangan dengan hukum akal, walaupun ada sebagian yang tak mampu dicerna oleh akal tapi itu tak mengindikasikan akan kejumudan Islam, tapi itu lebih kepada upaya pemaksimalan penyerahan diri sang hamba kepada Tuhannya.

Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali menghangatkan semangat tafakkur kita yang telah membeku sekian lama. Dengan spirit yang terkandung dalam Ramadan ini semoga mampu mengoptimalkan semangat tafakkur dalam diri kita. Sehingga iman yang dulunya yang sedikit goyah, akarnya mampu menghujam kembali dalam hati kita dengan kokoh. Ghazali dalam Mi’raj Salikinnya mengatakan, ”wahai saudaraku ketahuilah ketika engkau hendak mengetahuai kebenaran dengan berpedoman dengan seseorang tanpa mengfungsikan akal dan hatimu maka telah sesat jalanmu. Karena sesungguhnya sorang ‘alim hanyalah laksana lampu yang memberikan sinar. Kemudian tangkaplah sinar itu dengan matamu, ketika engkau buta, maka tak ada gunanya lentera dan lampu bagimu. Barang siapa yang bersandar kepada taklid buta maka dia tela binasa…”.


selengkapnya......

Kelam Fanatisme

Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berkabilah dan bersuku-suku supaya kalian dapat saling mengenal... salah satu ayat Al-Qur’an yang berimplikasi menafikan primordialisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Pesan ini telah disampaikan oleh baginda Rasul beberapa abad silam, dan telah dihafal dan difahami oleh masyarakat Islam diseantero dunia. Sebuah pesan ilahy yang menghendaki adanya sinkronisasi dan kebersamaan dalam setiap lapisan masyarakat. Ayat tuhan yang mengajarkan kita tentang kemutlakan akan adanya perbedaan namun perbedaan itu tak harus menjadi racun yang mengoyak tatanan dan kekokohan sebuah masyarakat.

Islam tidak mengenal fanatisme. Apatah lagi fanatisme yang akan merongrong dan sebuah komunitas sosial. Sejak awal Islam telah menekan laju fanatisme dan berusaha untuk menghapuskan slogan ta’asshub. Sebab, jika fanatisme golongan jika dibiarkan subur akan membawa masyarakat keseuatu chaos yang tak bertepi.

Namun sejarah telah menorehkan, kelam fanatisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah, fanatisme telah menghancurkan sebuah quwwah imaniyah yang telah dibangun oleh baginda Rasul, fanatisme juga merupakan pemantik dari penafsiran-penafsiran liar tehadap nash syar’i, baik dari Al-Qur’an ataupun dari hadis. Ironisnya, perkataan yang tidak benar, bahkan sangat tidak layak intuk disandarkan kepada Rasulullah harus disandarkan kepada beliau, hadist-hadist palsu ini kita kenal dalam dunia akademis kita sebagi hadist maudhu’.

Syi’ah dalam term awalnya, baik itu dari golongan Ali ra. ataupun dari golongan Mu’awiyah adalah perintis dalam memalsukan hadist Rasulullah. Alotnya perdebatan diantara kedua golongan itu sehingga tidak menemukan titik kesamaan, memaksa kedua golongan ini memalsukan hadist-hadist dari Rasulullah Saw. demikian juga konflik yang terjadi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, disatu sisi klan Umayyah mengkalim bahwa dari merekalah lahir pemimpin Islam, mereka telah diciptakan dengan fitrah riyasah dalam diri mereka, mereka adalah pemimpin baik itu pra maupun paska kedatangan Islam. Mereka adalah qiyadul ‘Arab.

Demikian juga yang terjadi terhadap Abbasiyyun sebagai salah satu oposisi dari dinasti Umayyah telah terlena akan primordialisme klasik sehingga mereka juga tak mau kalah dengan fanatisme dinasti Umayyah. Sehingga untuk membangkitkan self-confidence dipalsukan sejumlah hadist yang disandarkan kepada Rasulullah.

Hal yang serupa juga akan kita dapati ketika membicarakan Syi’ah. Sebagian besar doktrinitas dalam firqah Syi’ah adalah cerminan kelam fanatisme. Isu yang mengatakan bahwa adanya tahrif dalam Al-Qur’an, disebabkan kebencian mereka terhadap Abu Bakar ra, dan Usman bin Affan ra. Mereka tak mau mengakui akan jasa keduanya dalam dunia Islam, disamping itu untuk melegitimasi kepercayaan mereka terhadap tanshish a`immah, Ayatullah Khomaini saja ketika memaparkan dalil terhadap penyebab tidak dilampirkannya ayat dalam Al-Qur’an akan kepemimpinan imam mereka yang dua belas menyebutkan kemungkinan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh musuh ahlu bayt.

Demikian juga penghinanaan terhadap tiga sahabat besar Rasulullah Saw. hatta menganggap mereka sebagi perampok kekuasaan yang merampok kekuasaan Ali adalah merupakan gelembung-gelembung ta’asshubiyah yang tak berdasar. Sayyidina Ali bari’un minhum. Ironis memang…

Dalam skala politik Islam internasional, kelam fanatisme tak kalah hebatnya jika dibandingkan bagaiman atsar fanatisme dalam skala religius. Pada mulanya sisitem perpolitikan Islam tak mengenal adanya waratsatul riyasah yang dapat mengunci kretifitas dan kebebasan berpikir, yang ujungnya nanti, akan menghambat lajunya ilmu pengetahuan. Akibat bisikan fanatisme corak politik Islam berganti ke monarchi absolut. Pemimpin tak lagi dipilih langsung oleh Ahlul Hilli wal Aqdi akan tetapi ditunjuk langsung oleh sang raja. Istilah ahlul hilli wal aqdy hanyalah merupakan term fuqaha yang tak mampu menemukan eksistesinya dalam dunia ril.

Disamping dikotomi yang terjadi dalam pemerintahan Islam akan sangat menonjolkan sebuah fanatisme golongan. Dinasti Abbasiyah dalam sejarah kepemimpinannya, mempunyai berapa corak pemimpin yang mencerminkan golongan dan ras sang khalifah. Baik itu dari Persia ataupun dari Turki. Perbedaan karakter pemimpin bukanlah sebuah masalah, akan tetapi masalah yang terbesar ketika kebijakan politik yang diambil lebih menguntungkan satu pihak sahaja atau berat sebelah. Dinasti Saljuk ketika dia menaiki takhta khilafah, untuk menekan laju separatisme yang bergolak dan untuk melanggengkan kekuasaanya, salah satu kebijakan politiknya adalah melarang mempelajari mazhab fiqhi dan akidah selain mazhab Imam Ahmad Ibnu hanbal, sehingga dengan keputusan ini serangan dan fitnah dan kebohongan senantiasa beredar dimasyarkat dan mendapat backing dari pemerintah, tak heranlah ketika itu Imam Syafi’i di hina, Imam Asy’ary pendiri Asya’irah dikatakn sesat dalam akidahnya. Kondisi ini juga yang memaksa Imam Juwayni untuk meninggalkan Khurasan dan menjalani hidup yan nomaden antara Mekah dan Madinah selama 17 tahun, sehingga dia digelar sebagai Imam haramain.

Begitu juga yang terjadi dibelahan bumi Islam dibagian Barat, Andalusia tepatnya. Kota yang sebelumnya jembatan peradaban Barat untuk memasuki era keemasan seperti sekarang ini. Kehancuran dianasti Umayyah di Spanyol yang sebelumnya telah membentakngkan sayapanya mulai dari Barcelona, Sevilla, Granada,Valencia dan beberapa kota lainnya yang berada di Spanyol harus luluh ketika fanatisme mewabah dalam masyarakat Andalusia. Megah kejayaan yang dihasilkan Abdurrahman Ad-Dakhil, Hakam bin Hisyam, dan berapa pemimpin dari dinasti Umayyah yang mengopayakan proyek penyatuan ummat, harus hangus sia-sia ditelan oleh kelam fanatisme yang kejam. Ini terjadi ketika orang Arab yang belum mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan, ketika belum mampu berasimiliasi dengan masyarakat lokal, ketika mereka belum sanggup melepas seragam keagungan dimasa jahiliyah. Sehingga Andalusia harus kelam dalam perpecahan, perang saudara, kerajaan-kerajaan kecil selam 70 tahun. Ibnu hazm adalah merupakan saksi betapa fanatisme telah menghitamkan negeri beliau. Beliau hidup dimana kerjaan Andalusi yang dulunya kokoh, kini kerdil dengan perpecahan yang yang terjadi.

Betapa kelam, konsekuensi dari fanatisme ini…. Semoga dibulan Ramdhan fanatisme dapat dikikis, dan menumbuhkan sikap ekslusivisme ber-Islam, Nahnu qaumun a’azzana Allahu bil Islam wa iza ibtaghaina gairal Islami diinan azallana Allah! Semoga…


selengkapnya......

Sisi Transendental dalam Filsafat Parmenedes

Dia adalah salah satu filosof dari Velia, dia adalah termasuk orang yang sangat berpengaruh dalam pemikiran metafisika Plato. Dia adalah orang pertama yang membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan non-indrawi. Tak heran, ketika Plato sangat menghormatinya dan mengaguminya.Kadang Plato menyebut sebagai ‘Parmenedes yang agung’, ‘Parmenedes yang bijak’ dan ‘bapak kita Parmenedes'. Demikian ungkapan salut Plato kepada Parmenedes.

Yang signifikan dalam filsafat Parmenedes, adalah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenedes. Rahasia ini adalah keyword dalam memahami filsafat Parmenedes. Dia adalah salah satu yang berkeyakinan akan keberadaan ‘Wujud Mutlak, yang tetap dan abadi’.

Untuk merelungi nilai subtansial ‘Wujud’ diperlukan sebuah aktifitas khalwat yang ekslusif yang tak mampu diraih oleh orang rendahan. Karena, menurut Parmenedes untuk sampai ketaraf ma’rifat, diperlukukan sebuah meditasi yang tak dapat diselami oleh orang awam. Filsafat Parmenedes serupa dengan filsafat Ghazaly dalam Islam dan ‘intellectual sympathy’ dalam bahasa Henry Bergusson.

Parmenedes terpengaruh dengan mitos ajaran rahasia agama puritan di zaman Yunani. Serupa dengan mauqif Phytagoras yang enggan membeberkan rahasia religus yang berhasil mereka selami. Sebagaiman legenda ‘Hippasus de Metanpontun’, seorang pengikut Phytagoras yang dibuang kelaut karena menyebarkan rahasia akar pangkat dua untuk bilangan dua. Sehingga untuk begabung dalam kubu ini, Plato menyaratkan titel filosof yang terbubuh didepan namanya. Bahkan untuk seorang hamba sahaya tidak dijinkan untuk menggeluti profesi ini.

Parmenedes dalam menginterpretasikan ajarannya, dia menggunakan metode simbolis untuk mendeskripsikan ajarannya. Demikian juga, dia menggunakan syair untuk menelorkan gagasannya. Sehingga Parmendes merupakan filosof yang pertama menggunakan syair untuk menyerukan buah pikirannya.

Parmenedes dalam syairnya mengaku telah disambut oleh Dike (dewa keadilan) yang memegang kunci cahaya untuk dapat menguk air kebenaran. Dia mendapat jamuan hangat dari para dewa. "Selamat datang wahai anak muda, selamat datang di serambi cahaya, serambi para pembimbing yang abadi. Jalan yang membawamu kesini bukanlah jalan yang ditapaki oleh orang awam. Karena yang membimbing mereka adalah Moira yang jahat. Akan tetapi yang membimbingmu adalah Themis (ketetapan yang adil). Harus kau ketahui wahai anak muda, kau harus menggeluti segala jenis pengetuhuan, hatta pengetahuan manusia yang fana, pengetahuan mereka yang temporal. Supaya kau mampu mengetahui segala sesuatu". Begitulah sambutan para dewa kepada Parmenedes yang menziarahi serambi cahaya. Demikian yang tertera dalam prolog syair Parmenedes.

Jelas yang terpaparkan disini adalah pengalaman ritual dia alami, yang lebih dekat dengan pengalaman ritual yang dimiliki oleh para kaum sufi, baik itu dari kalangan Budhisme, Nasrani atau dari kalangan Islam. Haqiqat yang dibahas oleh Parmenedes tak lain merupakan sebuah ilham yang dia dapatkan dari para dewa. Yang mengantarnya berfantasi ke serambi kebenaran, yang tak dapat dikecup oleh manusia awam.

Pandangan Parmenedes diatas mungkin bagi sebagian orang adalah merupakan mitos tolol. Akan tetapi sedikit yang tebenak dalam benak saya, ketika membaca alasan Ghazali mengkafirkan para filosof Islam. Menurut Ghazali filosof Islam telah berani membeberkan rahasia ketuhanan, yang dianggap telah jauh melewati tapal batas kemanusiaan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Dalam paradigma Ghazali ifsya sirr rububiyah kufr. Demikian analisa DR. Sulaiman Dunya sorang pakar yang mendalami hasil karya Ghazali. Klaim Sulaiman Dunya bukannya tidak beralasan, dia menemukan beberapa kesamaan pendapat Ghazali dengan pendapat para filosof yang di kafirkannya (baca; Ibnu Sina). Seperti kebangkitan jasmani yang di inkari oleh Ibnu Sina dan beberapa pendapat yang dianggap oleh sebagian orang sebuah sikap plin-plan Ghazali dalam pemikirannya. Namun yang pasti ‘Ma’arijul Quds’ merupakan karya Ghazali.

Walaupun sebagian orang berusaha menafikannya, seperti yang terjadi oleh Ibnu Sholah.
Demikian juga, Ghazali berpendapat bahwa seorang alim harus mampu mengharmonisasikan dengan zuruf dimana dia berada. Ketika dia berhadapan dengan seorang awam yang tak mampu memahami hal mujarradat, maka sebagai seorang alim yang bijak tak boleh memaksa sami’nya untuk melampaui batas pengetahuannya. Demikian juga ketika berhadapan dengan kaum jadaly (baca; tholog) maka dia harus berusaha untuk memahamkan mereka tanpa harus melewati batas keilmuan yang mereka miliki.

Seolah bahasa merupakan penjara yang mengurung seorang ‘penemu kebenaran’ untuk mengeksplorasikan hasil obeservasi yang mereka cicipi dari ‘arak ilahi’. Ini merupakan problematika yang dihadapi baik itu dari Parmenedes ataupun dari Ghazali. Kembali ke kasus Parmenedes, pengalaman spiritual yang dia dapatkan, mungkin tak mampu dia eksperiskan kepada khalayak ramai. Ini disebabkan oleh, selain dari kungkungan bahasa, jeratan dari agama puritan dari bangsa Yunani merupakan faktor terpenting bungkamnya seorang filosof. Sebab orang yang mengabaikan kepercayaan terhadap ‘tuhan nasional’ bangsa Yunani akan berakhir tragis. Socrates merupakan sebuah argument yang paling kuat akibat tekanan ini.

Namun apakah Parmenedes telah mengenal tuhan dengan sebenarnya? Apakah dia telah mampu mengetahui keesaan tuhan sebagaimana yang kita pahami (baca; Islam)? Apakah observasi Pamenedes telah sejajar dengan kaum sufi? Saya terlalu lemah untuk menghakimi Parmenedes..!


selengkapnya......

Sang Pejuang Kebebasan

Terlepas dari kekontraversialan tokoh ini, namun yang pasti Az-Zahaby dalam Mizaanul I’tidalnya mengatakan: “Dia adalah seorang tabi’in yang terpercaya (shaduq).” Ini adalah semacam lisensi (baca; ta’dil) yang diberikan Zahaby kepada beliau dalam periwayatan hadist. Dia adalah oang yang pertama yang menggusung freewill dalam Islam. Dialah Ma’bad al-Juhainy, dia hadir dimasa Umayyah yang gencar memprogandakan ijbariyah dalam Islam demi melanggengkan kekuasaan dinastinya. Dia meriwayatkan hadist dari Abu Dzar al-Gifari.

Sebagaimana beberapa tokoh yang besar dalam dunia Islam meriwayatkan hadis dari beliau. Seperti; Malik bin Dinar, Yazid bin Hamid dan Ibrahim bin Sa’ad. Sebagaimana yang disebutkan Al-Ka’bi dan qady Abdul Jabbar.

Dia tumbuh di bawah naungan semerbak wangi maqam rasulullah, dan dia belajar dari seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Dzar al-Gifari, seorang sahabat yang kritis terhadap kezaliman yang terjadi. Dia pun sempat mengikuti gurunya yang menghadap Muawiyah ke Syam untuk menginterogasi Muawiyah terhadap ketidakteraturan keuangan yang terjadi di bait mal. Ketika itu Muawiyah mebantah Abu Dzar yang menganggap bahwa bait mal merupakan harta kongsi masyarakat, dari sinilah Muawiyah memulai menghembuskan isu ijbariyah.

DR. Abdul Halim Mahmud memberikan sebuah deskripsi perjalanan karir politik Muawiyah ketika menduduki singgasana khilafah. Ketika itu Muawiyah hendak melegitimasi kebijakan politik yang diambilnya serta meredam amuk massa yang menggejolak. Dia berusaha mengkoarkan slogan politik ijbariyahnya. Segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah, sehingga dia mensinggasanahi khilafah Islam Allah jualah yang menghendakinya. Manusia hanya mengikuti apa ditetapkanNya. Abdul Halim mahmud berargumen terhadap sebuah hadis yang tertera dalam Shahih Bukhari hadist yang diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah yang bercerita tentang Muawiyah meminta hadist yang diriwayatkan Mughirah dari Nabi SAW, maka Mughirah menuliskan wirid yang berbunyi : “Allahumma laa maani’a lima ‘athaita wala mu’thiya lima mana’ta wala yanfa’ dzal jaddi minkal jadd”. Melihat wirid ini mampu mengejewantahkan produk politiknya maka Muawiyah menitahkan untuk menjadikan wirid ini sebagai wirid wajib. Demi menjadikan slogan ijbariyah sebagai alat justifikasi atas kezaliman yang berlaku. Masyarakat dipaksa untuk membebek terhadap kebijakan pemerintah yang ada.

Ketidakstabilan polotik yang ada dimasa itu memaksa Ma’bad untuk tampil memberantas virus yang mewabah dalam masyarakat Islam. Dia berjuang bersama gurunya yaitu Abu Dzar al-Gifary sebagaimana yang diberitakan Samy Nassyar. Demi meluruskan paradigma yang ada. Menurut syeikh Zahid al-Kautsary atsar dari ijbariyah membuat para pelaku kemaksiatan untuk menjustikasi perbuatan mereka. Ma’bad berusaha menepis ajaran yang tentunya melenceng dari maksud yang sebenarnya, sehingga pemikiran Ma’bad mendapat tempat di hati masyarakat Madinah. Bahkan Ma’bad bersama ‘Atha bin Yasar sempat mengunjungi Hasan Bashry yang bermukim di Baghdad kala itu. Mereka menanyakan kepada Hasan Bashri tentang prilaku pemerintah yang diluar batas serta pertumpahan darah yang terjadi dengan dalih bahwa itu semua kehendak tak ketetapan Tuhan. Tak heran ketika itu Hasan Basri melaknat prilaku yang amoral itu. Hal ini direkam oleh Thasy Kubra Zadah dan pengarang kitab Ma’arif. Nampak dari sini Ma’bad kembali berguru ke Hasan Bashri, ataukah minimal mereka pernah bertemu.

Jelaslah bahwa Ma’bad muncul untuk mengcover Islam dari paradigma yang keliru dari dinasti Umayyah yang telah melakukan penafsiran liar terhadap terminology qadha dan qadar sehingga mampu melakukan apapun atas nama ketetapan Tuhan tanpa mendaptkan krtik dari masyarakat waktu itu.

Namun bukan itu saja, Ma’bad juga beusaha membumikan tatanan amar mam’ruf nahi munkar sehingga mampu menemukan eksistensinya dalam taran aplikatif. Sehingga tak heranlah ketika dia ikut berperang bersama Muhammad bin Asy’at dalam revolusi terkenalnya beradu dengan pemerintah bani Umayyah. Namun revolusi ini gagal sehingga dia jatuh di tangan panglima pearang Muawiyah yang sadis yaitu Hajjaj bin Yusf. Ketika hendak dibunuh, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi sempat mengebiri Ma’bad dan menertawakan pendapat Ma’bad. Namun keteguhan hati Ma’bad untuk sabar dan ridha terhadap ketetapan Tuhan terhadap dirinya. Dia meninggal ditangan Hajjaj bin Yusuf. Dia wafat dengan keyakinan yang tegar bahwa keadilan Tuhan bukanlah sebuah kezaliman yang mewabah.

Walaupun bani Umayyah mampu mengamputasi Ma’bad dari tataran masyarakat Islam, namun mereka tak mampu membendung mobilasisi sosial yang ada. Ma’bad telah meninggalkan benih perjuangan, yang nanti diteruskan oleh Ghailan al-Dimasyqy, yang nantinya di adopsi oleh Mu’tazilah, komunitas yang mampu mengadaptasi segala bentuk kebudayaan asing yang masuk ke rangkulan Islam…


selengkapnya......

Gazhali dan Kafir (part 1)

“Ketika disebutkan sederetan nama ulama, maka persepsi yang akan terbetik adalah spesialisasi mereka dalam dunia akademis Islam. Tatkala nama Al-Farraby dan Ibnu Sina disebutkan maka imajinasi akan terbang kedunia filsafat, mereka adalah filosof yang besar dalam Islam. Ketika nama Ibnu Araby disebutkan maka pikiran akan melayang kepada pendapat-pendapatnya yang cukup kontraversial dalam dunia tashawwuf. Demikian juga ketika nama-nama Bukhari, Muslim dan Ahmad disebutkan maka kita kita dibawa kepada, kemampuan mereka dalam menghafal, kejujuran, kepercayaan kita terhadap mereka, ketelitian dan pengetahuan mereka tentang biblografi para perawi hadist. Namun berbeda ketika nama Gazhali diusung, kita mungkin akan sulit untuk mengindentifikasi kepribadian beliau. Dia adalah seorang ushuly yang cerdas, dia juga adalah faqih independen. Gazhali pun seorang teologis serta imam ahlussunnah. Gazhali juga seorang sejarawan yang mengetahui keadaan umat baik yang terselubung ataupun yang nampak. Gazhali sang filosof, ataukah yang mengembalikan rel filsafat kejalannya. Gazhali sang sufi, zahid dan murabby. Namun yang pasti Beliau adalah dairatul ulum pada masanya, seorang alim yang senantiasa dahaga akan kebenaran, ma’rifah dan segala jenis cabang pengetahuan”. Demikian penghormatan Syeikh Mustafa Maraghy terhadap Gazhali.

Gazhali adalah seorang pemikir yang independen dalam gagasannya, dia tidak melihat kuantitas dalam menghakimi sebuah kebenaran. Namun tak juga menganggap minoritas sebagai bukti sebuah kesalahan. Dia menghakimi seseorang dengan kebenaran, tapi tak menghukumi kebenaran dengan seseorang. Dia berusaha menjadi seorang ulama yang seobjektif mungkin sehingga dia pun tak segan-segan mengambil sebuah kebenaran dari mulut orang kafir. Kepribadian inilah yang mampu menjadikan dia sebagai seorang ulama yang disegani pada masanya. Dia meletakkan kembali seluruh firqah Islam kedalam mahkamah kebenaran. Dan menghukuminya seobjektif mungkin, sehingga tak heranlah ketika Gazhali menyingkap keganjalan yang pada golongan bathiniyah serta para filosof Islam. Fadhaih Bathiniyah dan Tahafat Falasifah adalah rekaman kritisisme Gazhali.

Dalam menghukumi sebuah kebenaran dan kesalahan, Gazhali tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Dalam sebuah risalahnya Fashl Tafriqah, yang dianggap oleh Ibnu Rusyd sebagai wujud rekonsiliasi antara dirinya dan Ghazali, seolah Ibnu Rusyd telah memberikan udzur kepada Gazhali -yang mengkafirkan para filosof- setelah mengarang risalahnya ini. Dia memberikan sebuah pencerahan yang cukup signifikan dalam menyikapi fenemona takfirisme, serta sebuah harmonisasi antar penganut mazhab. Sebagaimana fenomena yang terjadi di masanya, orang yang keluar sejengkal dari mazhab Asy’ary sudah dianggap sesat dimata mayoritas muslimin waktu itu.

Hal inilah yang mendorong Gazhali untuk meluruskan paradigma yang mewabah waktu itu. Gazhali sendiri dalam mendefinisikan kekufuran, dia mengakui bahwa dalam menjelaskan hal ini diperlukan sebuah penjelasan yang betul komprehensif serta untuk menyelami keghamidhannya diperlukan sebuah pisau analisa yang steril. Gazhali dalam mendefinisikan kufur beliau hanya menggeneralisasikan terminologi kekufuran itu.

Kufur di mata Gazhali adalah; “pendustaan terhadap Rasulullah SAW atas apa yang disampaikannya”. Yang tersirat dari defenisi ini adalah semua orang yang mengimani Rasulullah SAW adalah mukmin baik itu dari Mu’tazilah, Asyairah, Hanbaly ataukah itu dari golongan filosof yang ditakfirkannya.

Gazhali gerah dengan dengan wabah takfirisme yang mewabah dikalangan muslimin waktu itu. Asya’irah yang mengkafirkan Hanbaly dengan pendapat mereka yang mengindikasikan tasybih kepada Allah SWT. Demikian juga Asya’irah mengkafirkan Muktazilah yang mengingkari ru’yatullah. Sehingga memaksa Gazhali untuk meberikan solusi dalam mengobati virus ini. Dalam terapinya, Gazhali berusaha meluruskan paradigma tashdiq yaitu pembenaran dan pengakuan terhadap apa yang dikatakan oleh Rasullah SAW tentang keberadaannya (wujud). Namun wujud ini pun memiliki lima tingkatan yaitu :

• Dzati, yaitu wujud yang benar-benar ada yang disaksikan oleh panca indra dan akal, serta terealisasikan dalam dunia empirik. Seperti keberadaan langit dan bumi, hewan dan tumbuhan. Wujud dzati ini tidak lagi memerlukan ta’wil seperti apa yang di beritakan oleh Rasul tentang keberadaan Arasy, Kursi, dan langit yang tuhjuh. Hal ini tkak lagi memerlukan ta’wil lagi akan tetapi dia akan dikembalikan kezhahirnya.

• Hissi, yaitu wujud yang tergambar dalam pandangan mata kita namun hal itu tidak ada. Sehingga keberadaan sesuatu itu berada dalam pandangan mata. Seperti apa yang disaksikan oleh orang yang terbuai mimpi yang tak terwujudkan di dunia nyata. Demikian juga ketika setitik api yang diambil kemudian digerakkan dengan gerak vertikal maka akan muncul dimata kita sebuah garis vertikal namun, sebenarnya garis itu tak ada. Dalam tataran aplikasi ta’wilnya Gazhali memaparkan hadist Nabi yang berbunyi ; yu’ti bil maut yaumal qiyamah fi shurati kabsyin amlah fa yuzbah bain jannah wa nar. Orang yang mengetahui bahwa kematian adalah aradh atau bukan aradh maka mengetahui bahwa mengubah aradh ke jism adalah merupakan sesuatu yang mustahil. Sehingga Gazhali mengatakan bahwa para manusia yang menyaksikan hal itu dan meyakini bahwa yang disembelih itu adalah kematian karena hal itu disaksikan oleh pandangan mereka. Sehingga mereka yakin bahwa kematian tidak akan menjemput mereka lagi. Sehingga akan menambah siksaan bagi penduduk neraka, serta menambah kesenangan bagi penghuni surga.

• Khiyali, yaitu bentuk serta karaktersitik sesuatu yang diindra apabila telah lenyap dari panca indra itu. Seperti rumah kita, yang dapat dideskripsikan dimana pun dan kapan pun kita berada. Gazhali memberikan contoh hadist Nabi; kaanni anzhuru ila Yunus bin Mata alaihi ‘abaatani qathwaniyyatani yulabba wa tujibuhul jibal wa Allahu Ta'ala yaqulu lahu labbaika ya Yunus. Secara literalis hadist ini secara jelas mengatakn bahwa Nabi melihat Yunus dengan mata kepala beliau. Namun untuk memalingkan hadist ini dari pemahaman itu, kata kaanni tidak menggambarkan haqiqat melihat akan tetapi serupa dengan melihat. Tujuan dari hadist ini menurut Gazhali adalah untuk memahamkan, karena mustahil musyahadah dengan hal-hal yang fantatis.

• Aqli, yaitu subtansi dan haqiqat dari sesuatu itu. Karena menurut Gazhali- setiap sesuatu itu memiliki subtansi dan formalnya, dalam wujud aqlinya ini yang di tekankan adalah nilai subtansiaisnya bukan formalitasnya. Sebagai contoh Gazhali memaparkan kembali hadist Rasulullah; "inna Alah khammara thinah Adam biyadihi arbaina shabahan". Orang yang mampu memiliki burhan akan kemustahilan tangan Tuhan yang berbetuk jasmani, maka akan memalingkan makna dari tangan itu kepada makna yang lebih substansialis. Yaitu kepada makna kekuasaan dan pengatur. Allah lah yang mengatur serta memberikan bentuk kepada Adam dengan perantara malaikatNya.

• Syubhi, yaitu bukan sesuatu itu, baik format atau substansinya, sesuatu itu tidak real, tidak pula dalam panca indra atau bahkan dalam fantasi, dia juga tidak ada dalam akal. Akan tetapi yang ada itu adalah sesuatu yang lain yang menyerupainya dalam karakteristiknya, serta sifatnya. Seperti murka, rindu, senang, sabar dan lainnya yang disandarkan kepada Allah SWT karena –menurut Gazhali- marah, misalnya adalah sebuah keadaan dimana tekanan darah yang naik akibat hal yang menyakitkan. Ini tentu akan berlawan dengan sifat Allah Yang Agung, sehingga untuk menyeleraskan nash tersebut diperlukan ta’wil yaitu dengan memaknainya dengan keinginan untuk menghukum. Keinginan (menghukum) itu pun belum mampu untuk setara dengan kemarahan dalam nilai substansialnya. Akan tetapi hal itu dapat di komparsikan dengan karakteristik dari marah itu serta dampak yang ditimbulkan dari marah itu yaitu ilam (menyakiti).

Jelas, Gazhali membuat sebuah dikotomi ilmiyah dalam dunia akademis Islam. Karena tak dapat di pungkiri bahwa dalam tatanan sosial, tentunya akan ada golongan yang tekstualis dan logis. Serupa dengan yang dilakukan oleh Ibnu Rusd dalam dikotomi filosofisnya yaitu; awam, yang mewakili masyarakat mayoritas, jadaly yang tercermin pada para teolog, khawash yang ditujukan untuk para nabi dan para filosof.

Primordialisme ini merupakan sebuah gejala masyarakat yang mempunyai sebuah peradaban. Hal inilah yang diamini oleh DR.Bahy dalam Al-Janibul Ilahy min Tafkir Islamy. Sehingga tak perlu adalagi yang di namakan pengaruh Yahudi Aqliyyun, atau Neo-Platonisme dalam pembentukan karaktersitik Mu’tazilah dll. Ini semua refleksi murni dari gejala-gejala sosial yang ada.

Hal inilah yang dilupakan oleh tiap firaq Islam dalam pandangan Gazhali, sehingga ceroboh dalam mengkafiri sesama muslim. Gazhali pun menegaskan bahwa siapa yang mengimani tentang keberadan (wujud) yang lima bentuk ini dari apa yang dikabarkan oleh Rasulullah, maka bukanlah sebagai pendusta secara mutlak. Yang mendustai ajaran Rasulullah adalah yang menafikan segala jenis wujud yang diatas dengan dalih untuk kemaslahatan syariat, ataukah Rasullah berdusta dengan tujuan memberikan pehaman yang mampu dicerna oleh orang awam.

Namun sedikit yang terbetik dalam benak kita, apakah Gazhali sudah benar ketika mengkafirkan para filosof seperti Ibnu Sina yang mengatakan bahwa kebangkitan nanti hanyalah dengan menggunakan rohani saja tanpa jasmani dan apa yang dikatakan Rasulullah hanya merupakan analogi untuk orang awam supaya mereka lebih faham? Bagaimana Gazhali semisal Farraby yang mengatakan bahwa alam qadim? Serta filosof lainnya yang mempunyai pendapat yang cukup bersebrangan dengan Islam? Bukankah mereka juga adalah orang yang mengimani Rasulullah, sehingga mereka tetap mukmin? Nanti kita lanjutkan...

selengkapnya......