Showing posts with label Refleksi Ramadan. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Ramadan. Show all posts

Tuesday, October 7, 2008

Kado Lebaran dari Refleksi Ramadan

Memoar indah yang kita ukir di bulan Ramadan, kini tak terasa harus tergeser oleh putaran roda sang waktu. Lantunan kalam Ilahy yang indah bergema ditelinga, tak terasa harus senyap ditelan oleh suara mesin. Damai dan gelak tawa yang riuh di Maidatur Rahman, kini harus berakhir dengan berakhirnya Ramadan.

Ramadan harus menepi, digeser fajar syawal yang telah terbit. Rasa rindu dan sesal ikut mengiringi kepergian Ramadan. Rindu akan selalu terngiang di hati para pendamba kelezatan spiritual. Sesal akan selalu mengahantui jiwa yang acuh terhadap kepergian Ramadan. Namun semuanya itu telah pergi, dan telah terekam dalam catatan para malaikat penjaga kita.

Akihirnya sebulan sudah, menempa diri di madrasah Ramadan. Menghambat jalan syetan dalam diri dengan menyempitkan pembuluh darah, melalui rasa lapar dan dahaga. Menghangatkan kembali nilai harmonis dengan Sang Pencipta, dengan menambah kualitas ibadah. Memintal rajutan silaturahim yang dulunya renggang, dengan berasimiliasi dengan kaum dhu’afa. Semuanya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup untuk sebelas bulan kedepan.

Ramadan telah pergi dan meninggalkan kado kepada kita semua. Baik itu berupa rasa rindu yang terpatri dalam jiwa, ataukah rasa sesal yang menyemat kalbu. Semuanya akan menjadi butiran refleksi dalam hati untuk memperbaiki kualitas keimanan yang tertancap dalam hati.

Kini fajar Syawal telah terbit, saatnya untuk mengimplementasikan kado dan hadiah yang dapat kita tuai di bulan Ramadan yang telah berlalu. Baik itu berupa konsistensi untuk tetap merapatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ataukah senantiasa untuk mengharmonisasikan link horizontal kita dengan sesama makhluk. Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya untuk menjalani liku hidup yang begitu terjal.

Sudah menjadi tradisi yang mengiringi kedatangan ‘idul fitri, tradisi saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau yang kita lakukan terhadap orang lain. Tradisi ini begitu familiar di telinga kita, yaitu halal bi halal. Seolah lebaran tak akan sempurna tanpa perayaan even ini dan itu telah menjadi darah daging dalam tradisi keagamaan kita. Walaupun sederhana tapi halal bi halal ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, dalam mengupayakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Jalinan persaudaraan yang dulunya renggang, dengan adanya lebaran dan halal bi halal sebuah rekonsiliasi akan kembali terlaksana. Kita akan kembali menggenggam tangan saudara kita yang dulunya sempat terlepas. Kita kembali dapat melemparkan senyum kepada musuh kita, yang dulunya sempat terbungkam. Sehingga kesucian dan keseimbangan jiwa akan kembali kita raih dengan datangnya ‘idul fitri, serta kestabilan sosial akan menjadi kado di lebaran nan ftri ini.

Di hari yang fitri ini, kita sama berharap semoga kedamaian, persahabatan dan keramahan akan menjadi atmosfer yang meliputi kehidupan Masisir dan kehidupan yang lebih universal. Kita juga berharap semoga hati kita menjadi seputih dan sebersih hati bayi baru dilahirkan. Semoga ini kado lebaran yang di hadiahkan Ramadan kepada kita. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi orang yang beruntung disisi Allah swt. Amin.


selengkapnya......

Dan… Langit pun Tersenyum

Ada yang lain dari malam itu. Rembulan seakan semakin cantik dengan bundarnya yang pipih. Para bintang bintang pun tak mau kalah, mereka meramaikan riasan langit dengan kerlipan cahayanya. Langit malam yang bermandi cahaya seolah bersolek untuk menyambut kalam Tuhan, yang diturunkan dari Lauh Mahfudz. Para malaikat besiap untuk mengkawal turunnya mu’jizat yang terbesar ini. Lantunan zikir yang dilantunkan oleh seluruh penduduk langit semakin mempesonakan gempita semesta.

Jauh di bumi sana. Muhammad berjalan melewati bebatuan terjal untuk mendaki ke gua Hira. Dia kembali melakukan aktivitas takhannuts yang baru dia geluti beberapa waktu lalu. Semua itu berawal ketika dia bermimpi, secercah cahaya yang mendatanginya seakan fajar Subuh terbit di sanubarinya. Takhannuts yang dia lakukan semakin menghauskan dahaga ketuhanannya. Dia semakin gerah dengan kebodohan umat di sekelilingnya, yang semakin hanyut dalam kubang kebodohan. Hatinya yang lembut, risih dengan prilaku orang di sekelilingnya. Jiwanya yang bening, terpanggil untuk membersihkan mutiara ketuhanan yang telah ternodai. Dia terpanggil untuk mengokokohkan kembali panji ketuhanan yang telah lapuk.

Dalam perjalanannya menuju gua Hira, dia heran dengan keadaan di sekelilingnya. Bebatuan yang dia pijak seakan lunak untuk memudahkan perjalanannya. Lambaian angin yang menghembus kepadanya, bertiup sepoi kepadanya. Pohon yang kokoh di sekelilingnya berayun seakan irama lantunan doa kepadanya. Batu, hewan, pohon dan gunung mengucapkan salam kepadanya. Ketika dia menoleh kanan-kiri dia tak menemukan siapa-siapa. Dia heran dengan penyambutan bumi yang hangat kepadanya. Pertanda apa yang akan terjadi kepadanya? Dia tak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.

Setelah sampai di gua Hira, dia kembali melakukan aktivitas takhannuts seperti biasanya. Namun rasa takut yang menghinggapinya membuat konsentrasinya agak sedikit buyar. Dia terbayang dengan keanehan yang dia lalui disekitarnya. Sehingga membuatnya untuk bekerja keras memusatkan pikirannya. Ketika itu sesosok menghampirinya. Dia berkata, “bacalah”. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat yang dahsyat saat itu. Dia tak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Dia merasa takut dengan sosok yang mendatanginya tadi. Beberapa lama sosok itu kembali menghapiri dirinya, bahkan dia merangkul tubuhnya yang gemetaran. “Bacalah,” kata sosok yang dilihatnya dengan mata kepalanya. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya lagi.
Dia tak sedang bermimpi, entah apa nama makhluk yang mendatanginya. Sebab baru pertama kali dia datangi dengan wujud yang belum pernah dilihatnya. Dia terus dipaksa untuk membaca, sehingga dia pun kelelahan.

Barulah ketika rangkulan sosok itu terlepas, dia merasa lega. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya”.
Mendengar itu semua dia merasa ketakutan, dia merasa dirinya telah diganggu oleh jin. Sehingga dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang pucat pasi, dia masuk kerumahnya. “Selimuti aku,” katanya yang terbatah sembari menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Betapa tidak dia baru saja diberikan sebuah kalam, gunung pun akan luluh dan tertunduk jika itu diturunkan kepadanya. Betapa besar dan agung kalam yang diberikan kepadanya.

Muhammad tak tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia tak tahu jikalau langit tersenyum dengan turunnya kalam yang baru saja membuatnya ketakutan. Dia tak tahu ternyata bumi sangat mendambakan lantunan simponi ketuhanan dicurahkan kepadanya. Muhammad tak tahu betapa dahaganya para makhluk hidup dengan curahan ayat Yang Maha Indah. Dia tak tahu fajar kehidupan telah menyingsing, dan akan memulai sinarnya di pundaknya. Dia tak tahu itu. Karena dia tak pernah menduga jikalau kenabian akan diletakkan di bahunya. Dia tak pernah mengharapkan kenabian itu. Dia hanya ingin mengikuti ajaran Hanafiyah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim.

14 abad telah berlalu. Langit tetap tersenyum ketika memperingati malam itu dan Allah telah menghadiahkan malam yang indah itu kepada umat Muhammad. Malam itu akan menjadi saksi betapa megahnya Alquran dan betapa tersayangnya umat ini. Malam itu akan menjadi malam terindah dalam kehidupan seorang hamba ketika mendapatkannya. Dia lebih indah dari seribu bulan yang dihabiskan oleh manusia yang tak mendapatkannya. Malam itu, hamba akan mendapatkan jamuan yang istimewa dari Sang Penciptanya. Doanya akan dikabulkan, amalannya akan dilipatkan gandakan sebanyak-banyaknya, dosanya akan di leburkan. Malam itu semesta diliputi oleh rahmat Tuhan yang tak terbatas. Para malaikat turun ke bumi dengan membawa lantunan doa dan permohonan ampun, kepada hamba yang di berikan anugerah untuk merasakan belaian lembut dari Allah Yang Maha Lembut.
Sehingga kehidupan yang dulu kelam diselimuti dosa, pada malam itu akan berakhir dengan menyongsongnya fajar kehidupan. Fajar yang akan menerengi tiap relung kehidupan sang hamba. Fajar yang mengusir bingar dosa yang mengaung. Lembaran amalan yang dulunya tipis kini menjadi tebal dengan kepemurahan Allah yang tak bertepi.

Ingin rasanya ku kecap indahnya malam itu, dan itu ku awali dengan mendoakan saudaraku yang seiman agar lebih dulu merasakannya. Semoga.


selengkapnya......

Dimana Tuhanku..?

Seabad yang lau ketika Albert Enstein telah berhasil meggoncangkan dunia dengan teori relativitasnya. Dia dengan lantang menyerukan, “Keberadaan tuhan yang metafisik, sudah tak mendapatkan tempat lagi di kehidupan moderen saat ini”. Bahkan dengan terang-terangan sang ilmuwan yang melegenda ini menganggap bahwa, "tuhan merupakan hantu yang mengendarai jagad raya ini".

Kehidupan beragama saat ini memang telah sampai kepada taraf yang sangat memilukan. Tuhan telah dipinggirkan dalam kehidupan ini, tuhan telah kehilangan nilai sakral dihati orang yang mempercayainya. Dia tak lebih dari sekadar dongeng untuk menemani tidur para anak-anak. Dia tak boleh memasuki relung kehidupan para manusia yang berkebudayaan moderen. Tuhan yang dulunya maha pengasih kini dia tak lebih dari pembawa petaka terhadap kehidupan manusia. Solah tuhan telah melakukan sebuah karya gagal. Kini tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia… ta’alallahu ‘an qaulihim’ uluwwan kabiraa.

Paradigma diatas merupakan sedikit dari sekian banyak cemohan Barat terhadap tuhan. Patut diakui bahwa mereka telah berhasil menaklukkan alam, serta merajai peradaban dunia saat ini, dengan menyingkirkan tuhan dari kehidupan mereka. Mereka berhasil menjadi bangsa yang ‘berperadaban’ setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap gereja. Sekularisme menjadi kunci mereka untuk memasuki gerbang teknologi yang maha dahsyat.

Namun yang cukup disayangkan, ketika wabah ini menjangkit ke dalam tataran keislaman kita. Tuhan dalam tipologi pemikiran keislaman merupakan Zat Yang Agung, dia sangat dekat hamba-Nya. Dia ada ketika hamba-Nya ketika menengadahkan tangan memohon kepadanya. Dialah yang memberi jalan ketika hamba-Nya dirundung sepi yang tak berkesudahan. Dia ada. Dia mendengar. Dia mengabulkan permohonan hambanya.

Seolah dimensi kedekatan kita dengan-Nya telah dikikis oleh sekais materi yang tak berharga. Seakan kemahapemurahan Tuhan tak lagi kokoh dalam sanubari ini. Kita seolah lupa ditiap peluh yang mengalir, ditiap ritihan yang mendesah, ditiap tetes air mata yang tercurah, disana ada Dia yang melihat kita. Malam yang sunyi, merupakan saat yang tepat untuk ‘curhat’ dengan-Nya tak lagi kita pergunakan untuk bedialog dengan Dia. Raungan self confident yang menggema dalam hati, seakan membuat malu untuk meminta pertolongan terhadap-Nya.

Sedari awal, ketika Rasulullah memulai dakwahnya, Allah swt. telah mengajak manusia untuk membaca dan berkenalan dengan Dia. Ketika Nabi hendak beristirahat ketika usai melakukan tahannutsnya, beliau dipanggil oleh Allah untuk tak lelah bercengkrama dengan-Nya. “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk memperingatkan kaummu. Agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu”. Rasulullah pun diperintahkan untuk menghancurkan sendi-sendi persepsi ketuhanan agama samawi, yang telah banyak dirusak oleh para ahli kitab. Tuhan dalam persepsi kaum Yahudi merupakan tuhan yang senang merusak, bengis dan kejam terhadap golongan diluar kaum Israil. Seolah tuhan milik mereka sahaja. Demikian halnya tuhan versi Nasrani, tuhan yang dendam dengan dosa yang dilakukan oleh Adam. Kebaikan yang dilakukan oleh umat manusia takkan bernilai apa-apa disisinya. Pengorbanan sebesar apapun untuk meraih ridho tuhan mereka, tak akan berarti. Tuhan mereka diliputi kemarahan yang membara, akibat dosa bapak manusia. Marah tuhan mereka baru mereda ketika anak tunggal tuhan turun kebumi, menjadi tebusan terhadap dosa umat manusia. Sungguh zalim mereka terhadap Tuhan.

Nilai keislaman hadir untuk menepis persepsi zalim itu semua. Islam memanggil manusia yang dahaga terhadap keindahan dan kepemurahan Tuhan, untuk dapat merasakan sejuknya menengadahkan tangan kepada-Nya, untuk merasakan betapa segarnya melinangkan air mata dihadapan-Nya. Islam menyerukan betapa lezatnya membasahi lidah ini dengan simponi lantunan zikir kepada-Nya. Islam datang kepada para hamba yang telah berkecimpuh dalam kubangan dosa, untuk tak berputus terhadap pengampunan Tuhan. Allah tersenyum kepada mereka, ketika mereka mau datang mengetuk pintu ampunan-Nya. Sehingga kedamaian hati para pendamba Tuhan akan senantiasa subur dalam sanubari mereka.

Ramadan inilah merupakan momen yang tepat untuk kembali menghangatkan dimensi spiritual yang mulai membatu. Semoga hati dulunya usang akibat koyakan materialistik mampu tertata rapi kembali dengan sentuhan lembut dari kepemurahan Tuhan. Ya Rabb…


selengkapnya......

Tafakkur dan Aktifitas Filosofis

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang yang mempunyai hati. Yaitu orang mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, (mereka berkata) wahai Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari azab neraka. Qs:03:190-191.

“Ketika kita berusaha untuk membungkam suara akal, maka sebuah konsekuensi logis yang harus kita dapati adalah mengucapkan selamat tinggal kepada filsafat”. Demikian ungkapan yang dilantunkan oleh seorang pakar filsafat Mesir, DR. Athif Iraqy. Akal merupakan sebuah anatomi metafisik yang menyemburkan benih perdebatan dikalangan pemikir umat manusia. Akal dan aktifitasnya merupakan ladang subur untuk tumbuhnya benih perdebatan dalam kubu suatu masyarakat madani, dan Islam pada khususnya.


Kubu yang diwakili oleh golongan sufi, berusaha menafikan peran akal dalam upaya merelungi samudra hikmah Ilahi. Akal hanya mampu sampai kepada nilai formalitas sesuatu tapi tak mampu sampai kepada nilai substansialnya. Akal dalam paradigma kaum sufi hanya mampu sampai kepada tanda akan adanya sang Khaliq, namun untuk berusaha untuk mengenalnya, akal tak mampu menembus dinding ini. Ketika Sufyan Atsauri ditanyai tentang dalil keberadaan Tuhan, dia menjawab, “Allah”. Kemudian dia ditanya balik akan peranan akal, dia menjawab, “bahwa akal lemah, dan yang lemah tak mampu mengetahui kecuali yang lemah juga”. Dengan jelas bahwa Sufyan Atsauri berusaha mendistorsi peranan akal dalam upaya merelungi dimensi ilahiyah.


Berbeda dengan kaum rasionalis yang mengusung panji kebesaran akal. Mereka adalah golongan yang meyakini akan kemutlakan akal. Kubu ini diwakili oleh para kaum filosof dan para teolog. Dalam pandangan para filosof akal mampu menembus tapal yang tidak mampu ditembus oleh para kaum sufi. Mereka meyakini dengan akal mereka mampu sampai kepada sebuah kulminasi yang membawa kepada pelabuhan ma’rifatullah. “Akal merupakan bias dari cahaya ilahi.” demikian tutur Ghazali dalam kitab Misykat Anwarnya. “Ataukah akal merupakan wakil tuhan dalam jiwa manusia.” dalam paparan Al-Jahizh. Sehingga segala konspirasi yang ingin menafikan peran akal dalam upaya untuk menapaki relung-relung ketuhanan dianggap sebuah upaya pelumpuhan untuk menggapai hikmah ilahi. Mereka berpijak kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, “mereka mempunyai hati tapi tidak berpikir, mereka mempunyai mata tapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tapi tidak mendengar, mereka seperti hewan bahkan lebih sesat”. Dari premis inilah mereka beranggapan bahwa menghilangkan peran akal dalam kehidupan ini seperti menghilangkan nikmat penciptaan panca indera. Bahkan penafian fungsi akal dianggap sebuah dosa yang dicela dalam Al-Qur’an. Ketika para penghuni neraka menyesali kebebalan mereka, mereka berkata, “jikalau kami mendengar dan bepikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir”.

Dibalik alotnya perdebatan antara kubu kaum sufi dan kubu pengusung panji kemuliaan akal yang diwakili oleh oleh filosof dan teolog. Ada sebuah korelasi diantara keduanya, kaum sufi ketika berbicara tentang fungsi akal, mereka membatasi tapi tidak menafikan peranan akal itu. Mereka mengakui akan kemampuan akal yang mampu sampai kepada taraf pembacaan ayat-ayat kauniyah. Mereka tak sampai membuang akal dalam kehidupan ini. Disana ada hadits Nabi yang mengatakan akan pentingnya bertafakkur.

“Bertafakkur sesaat lebih mulia dibanding ibadah semalaman.” demikian ungkapan Nabi. Beliau menyadari dengan aktifitas tafakkur sebuah generasi yang menguasai peradaban akan lahir. Tafakkur mampu menghancurkan nilai egois dalam jiwa tiap individu. Dengan tafakkur seorang hamba mampu menghilangkan dimensi ananiyah dalam dirinya, dia mampu menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendirian dalam jagad raya ini. Dia hidup dibawah pengawasan Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga nantinya akan melahirkan sikap muraqabah. Disamping itu juga seorang hamba menyadari bahwa dirinya senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Penciptanya dan segala jeritan dan rintihan oleh masalah yang dialami pasti diketahui oleh Tuhannya. Dia tak sendiri dalam kehidupan ini.

Ayat diatas dengan kekuatan maknanya menceritakan akan kemuliaan tafakkur. Beranjak dari hikmah penciptaan langit dan bumi, Allah SWT memanggil para hambanya untuk merelungi dan memikirkan gejala dari alam ini baik yang makro dan mikro. Allah telah menaburkan mutiara-mutiara hikmah di tiap celah dari alam ini. Seorang hamba yang mampu memetik dan menuai mutiara hikmah itu tanpa tersadar akan terheran dan takjub akan kebesaran Allah. Dia dengan spontannya akan mengucapkan, “Maha Suci engkau ya Allah, tidak sia-sia engkau menciptakan alam ini”. Ketika dia menyadari akan kebesaran penciptanya, maka secara otoamatis dia akan berusaha memenuhi tiap panggilan dan seruan ilahi. Dia menyadari akan kekurangan dan kekerdilan dirinya ditengah megahnya jagad raya ini. Sehingga ini akan mengatarkan kepada ketergantungan dirinya dengan penciptanya. Dia butuh penciptanya untuk segala aktifitasnya, dia butuh penciptanya di tiap relung kehidupannya, dia butuh pertolongan penciptanya untuk sampai kepada kebahagiaan yang paripurna. Dia butuh itu semua. Dan lebih lagi dia sangat takut kepada siksaan yang akan menunggunya nanti ketika dia mengabaikan perintah Tuhannya. Dia sangat takut dengan hal itu tanpa tersadar lagi dia berucap, “maka hindarkanlah kami dari siksaan api neraka”.

Tafakkur memang mempunyai peranan yang sangat urgen di dalan Islam. Islam dari awal telah mencela budaya taklid buta kepada nenek moyang, serta mitos yang diterima dari pendahulu tanpa adanya budaya kritik terhadap kesahihan berita itu. Demikian juga Islam berupaya memerangi beberapa praktik perdukunan yang dianggap sebagai sebuah upaya yang menghilangkan peranan akal dalam kehidupan ini. Lihatlah ketika Ibrahim anak Nabi meninggal yang disertai dengan gerhana bulan, sehingga orang-orang waktu itu menilai bahwa gerhana terjadi disebabkan wafatnya anak Nabi, ketika mendengar hal ini Nabi langsung menyangkal dan dengan lantang berkata, “sesungguhnya bulan dan matahari merupakan dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana disebabkan oleh matinya seseorang”. Sehingga dengan jelas bahwa setiap akidah dan ajaran Islam tak ada yang bertentangan dengan hukum akal, walaupun ada sebagian yang tak mampu dicerna oleh akal tapi itu tak mengindikasikan akan kejumudan Islam, tapi itu lebih kepada upaya pemaksimalan penyerahan diri sang hamba kepada Tuhannya.

Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali menghangatkan semangat tafakkur kita yang telah membeku sekian lama. Dengan spirit yang terkandung dalam Ramadan ini semoga mampu mengoptimalkan semangat tafakkur dalam diri kita. Sehingga iman yang dulunya yang sedikit goyah, akarnya mampu menghujam kembali dalam hati kita dengan kokoh. Ghazali dalam Mi’raj Salikinnya mengatakan, ”wahai saudaraku ketahuilah ketika engkau hendak mengetahuai kebenaran dengan berpedoman dengan seseorang tanpa mengfungsikan akal dan hatimu maka telah sesat jalanmu. Karena sesungguhnya sorang ‘alim hanyalah laksana lampu yang memberikan sinar. Kemudian tangkaplah sinar itu dengan matamu, ketika engkau buta, maka tak ada gunanya lentera dan lampu bagimu. Barang siapa yang bersandar kepada taklid buta maka dia tela binasa…”.


selengkapnya......

Kelam Fanatisme

Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berkabilah dan bersuku-suku supaya kalian dapat saling mengenal... salah satu ayat Al-Qur’an yang berimplikasi menafikan primordialisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Pesan ini telah disampaikan oleh baginda Rasul beberapa abad silam, dan telah dihafal dan difahami oleh masyarakat Islam diseantero dunia. Sebuah pesan ilahy yang menghendaki adanya sinkronisasi dan kebersamaan dalam setiap lapisan masyarakat. Ayat tuhan yang mengajarkan kita tentang kemutlakan akan adanya perbedaan namun perbedaan itu tak harus menjadi racun yang mengoyak tatanan dan kekokohan sebuah masyarakat.

Islam tidak mengenal fanatisme. Apatah lagi fanatisme yang akan merongrong dan sebuah komunitas sosial. Sejak awal Islam telah menekan laju fanatisme dan berusaha untuk menghapuskan slogan ta’asshub. Sebab, jika fanatisme golongan jika dibiarkan subur akan membawa masyarakat keseuatu chaos yang tak bertepi.

Namun sejarah telah menorehkan, kelam fanatisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah, fanatisme telah menghancurkan sebuah quwwah imaniyah yang telah dibangun oleh baginda Rasul, fanatisme juga merupakan pemantik dari penafsiran-penafsiran liar tehadap nash syar’i, baik dari Al-Qur’an ataupun dari hadis. Ironisnya, perkataan yang tidak benar, bahkan sangat tidak layak intuk disandarkan kepada Rasulullah harus disandarkan kepada beliau, hadist-hadist palsu ini kita kenal dalam dunia akademis kita sebagi hadist maudhu’.

Syi’ah dalam term awalnya, baik itu dari golongan Ali ra. ataupun dari golongan Mu’awiyah adalah perintis dalam memalsukan hadist Rasulullah. Alotnya perdebatan diantara kedua golongan itu sehingga tidak menemukan titik kesamaan, memaksa kedua golongan ini memalsukan hadist-hadist dari Rasulullah Saw. demikian juga konflik yang terjadi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, disatu sisi klan Umayyah mengkalim bahwa dari merekalah lahir pemimpin Islam, mereka telah diciptakan dengan fitrah riyasah dalam diri mereka, mereka adalah pemimpin baik itu pra maupun paska kedatangan Islam. Mereka adalah qiyadul ‘Arab.

Demikian juga yang terjadi terhadap Abbasiyyun sebagai salah satu oposisi dari dinasti Umayyah telah terlena akan primordialisme klasik sehingga mereka juga tak mau kalah dengan fanatisme dinasti Umayyah. Sehingga untuk membangkitkan self-confidence dipalsukan sejumlah hadist yang disandarkan kepada Rasulullah.

Hal yang serupa juga akan kita dapati ketika membicarakan Syi’ah. Sebagian besar doktrinitas dalam firqah Syi’ah adalah cerminan kelam fanatisme. Isu yang mengatakan bahwa adanya tahrif dalam Al-Qur’an, disebabkan kebencian mereka terhadap Abu Bakar ra, dan Usman bin Affan ra. Mereka tak mau mengakui akan jasa keduanya dalam dunia Islam, disamping itu untuk melegitimasi kepercayaan mereka terhadap tanshish a`immah, Ayatullah Khomaini saja ketika memaparkan dalil terhadap penyebab tidak dilampirkannya ayat dalam Al-Qur’an akan kepemimpinan imam mereka yang dua belas menyebutkan kemungkinan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh musuh ahlu bayt.

Demikian juga penghinanaan terhadap tiga sahabat besar Rasulullah Saw. hatta menganggap mereka sebagi perampok kekuasaan yang merampok kekuasaan Ali adalah merupakan gelembung-gelembung ta’asshubiyah yang tak berdasar. Sayyidina Ali bari’un minhum. Ironis memang…

Dalam skala politik Islam internasional, kelam fanatisme tak kalah hebatnya jika dibandingkan bagaiman atsar fanatisme dalam skala religius. Pada mulanya sisitem perpolitikan Islam tak mengenal adanya waratsatul riyasah yang dapat mengunci kretifitas dan kebebasan berpikir, yang ujungnya nanti, akan menghambat lajunya ilmu pengetahuan. Akibat bisikan fanatisme corak politik Islam berganti ke monarchi absolut. Pemimpin tak lagi dipilih langsung oleh Ahlul Hilli wal Aqdi akan tetapi ditunjuk langsung oleh sang raja. Istilah ahlul hilli wal aqdy hanyalah merupakan term fuqaha yang tak mampu menemukan eksistesinya dalam dunia ril.

Disamping dikotomi yang terjadi dalam pemerintahan Islam akan sangat menonjolkan sebuah fanatisme golongan. Dinasti Abbasiyah dalam sejarah kepemimpinannya, mempunyai berapa corak pemimpin yang mencerminkan golongan dan ras sang khalifah. Baik itu dari Persia ataupun dari Turki. Perbedaan karakter pemimpin bukanlah sebuah masalah, akan tetapi masalah yang terbesar ketika kebijakan politik yang diambil lebih menguntungkan satu pihak sahaja atau berat sebelah. Dinasti Saljuk ketika dia menaiki takhta khilafah, untuk menekan laju separatisme yang bergolak dan untuk melanggengkan kekuasaanya, salah satu kebijakan politiknya adalah melarang mempelajari mazhab fiqhi dan akidah selain mazhab Imam Ahmad Ibnu hanbal, sehingga dengan keputusan ini serangan dan fitnah dan kebohongan senantiasa beredar dimasyarkat dan mendapat backing dari pemerintah, tak heranlah ketika itu Imam Syafi’i di hina, Imam Asy’ary pendiri Asya’irah dikatakn sesat dalam akidahnya. Kondisi ini juga yang memaksa Imam Juwayni untuk meninggalkan Khurasan dan menjalani hidup yan nomaden antara Mekah dan Madinah selama 17 tahun, sehingga dia digelar sebagai Imam haramain.

Begitu juga yang terjadi dibelahan bumi Islam dibagian Barat, Andalusia tepatnya. Kota yang sebelumnya jembatan peradaban Barat untuk memasuki era keemasan seperti sekarang ini. Kehancuran dianasti Umayyah di Spanyol yang sebelumnya telah membentakngkan sayapanya mulai dari Barcelona, Sevilla, Granada,Valencia dan beberapa kota lainnya yang berada di Spanyol harus luluh ketika fanatisme mewabah dalam masyarakat Andalusia. Megah kejayaan yang dihasilkan Abdurrahman Ad-Dakhil, Hakam bin Hisyam, dan berapa pemimpin dari dinasti Umayyah yang mengopayakan proyek penyatuan ummat, harus hangus sia-sia ditelan oleh kelam fanatisme yang kejam. Ini terjadi ketika orang Arab yang belum mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan, ketika belum mampu berasimiliasi dengan masyarakat lokal, ketika mereka belum sanggup melepas seragam keagungan dimasa jahiliyah. Sehingga Andalusia harus kelam dalam perpecahan, perang saudara, kerajaan-kerajaan kecil selam 70 tahun. Ibnu hazm adalah merupakan saksi betapa fanatisme telah menghitamkan negeri beliau. Beliau hidup dimana kerjaan Andalusi yang dulunya kokoh, kini kerdil dengan perpecahan yang yang terjadi.

Betapa kelam, konsekuensi dari fanatisme ini…. Semoga dibulan Ramdhan fanatisme dapat dikikis, dan menumbuhkan sikap ekslusivisme ber-Islam, Nahnu qaumun a’azzana Allahu bil Islam wa iza ibtaghaina gairal Islami diinan azallana Allah! Semoga…


selengkapnya......