Thursday, February 10, 2011

a. Di Ufuk Fajar Sebuah Pesantren

Sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, tepatnya di tahun dua ribu dua sebuah perjalanan hidup dan kisah yang biasa kembali harus berjalan. Secara sepintas Dai melihat tahun ini tak ada yang menarik, kecuali dia memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lingkungan yang baru yang dirasakannya. Sebelumnya Dai pernah mengecap pendidikan di sebuah podok pesantren yang ternama di Sulawesi. Namun sayang, Dai lebih sering membuat guru dan pembinanya kewalahan mendidiknya, bahkan ketika menjelang ujian akhir kelas tiga Tsanawiyah, Dai sempat dideportasi dari sekolahnya.

Dai begitu bebal dan bandel, mungkin karena kebutuhan eksistensialnya yang membuatnya bertingkah demikian. Sebab kebutuhan manusia mampu digambarkan dengan sebuah piramida, di dasar lapisan bawah terdapat keinginan materil, di lapis kedua terdapat keinginan psikologis, dan dilapisan teratas terdapat kebutuhan yang paling diimpikan yaitu kebutuhan eksistensial. Kebutuhan tertinggi ini merupakan sebuah representasi kebutuhan untuk dikenal dan dirasakan kehadirannya oleh orang lain, yaitu sebuah kebanggaan ketika orang lain mampu merasakan dan menghormati keberadaan manusia tersebut.


Faktor inilah barangkali yang membuat Dai ingin dikenal, Dai ingin dirasakan kehadirannya oleh orang lain. Sehingga untuk person yang baru mengalami puberitas, salah satu jalan untuk mengungkapkan eksistensinya dengan bertingkah aneh, merusak peraturan, dan melanggar tata tertib. Atau mungkin ini adalah sebuah pengaruh dari kultur budaya yang ada di Sulawesi, yang begitu kental dengan kehormatan dan kebanggaan diri yang dominan. Kehormatan dan kejantanan seseorang terkhusus kepada kaum pria merupakan hal yang paling vital dalam masyarakat Sulawesi, yang dikenal sebagai budaya siri dan pacce. Nilai etik dan estetik dari budaya siri-pacce, kadang tak mampu dirasakan kehadirannya, tapi sangat mengakar di kalangan masyarakat Sulawesi.

Karena ulah dan tingkahnya yang membuat para pembinanya merasa jengkel, akhirnya Waka Kesiswaan mengambil keputusan untuk memecat Dai, walaupun waktu itu ujian akhir tinggal tiga atau dua bulan lagi. Meskipun sempat menangis terisak-isak seperti Raju yang ada di film 3idiots, namun ternyata ini tak membuat Dai jera, malahan Dai sempat bermain kucing-kucingan dengan Bapaknya, yang berusaha menangkap dan membawa Dai kembali ke pesantrennya.

Wajarlah tindakan seorang Bapak yang berprofesi seorang pendidik yang ingin melihat anaknya sukses di bidang akademik, dan satu lagi, anaknya ini cuman satu-satunya yang menempuh pendidikan pesantren yang konvensional di kalangan keluarganya, sehingga betapa kecewa sang Bapak ini, jika di saat-saat terakhir anaknya harus dipecat. Tak terbayang betapa pengorbanan seorang Bapak, yang rela bermandi hujan dalam perjalanan Makassar-Barru, hanya untuk menjenguk dan membawa bekal untuk keperluan anaknya. Tak terbayang betapa sedihnya seorang Bapak, yang rela melepas anak lelaki satu-satunya, isak tangisnya tak dia perlihatkan di depan si anak, Bapak hanya menangis ketika anaknya membelakanginya. Dalam sedih yang terbungkam itu, sang Bapak dengan terbata berkata, “Nak nuntut ilmu tuh seperti itu, suatu saat derita ini, tangis dan isakmu akan terbayar dengan kebahagiaan..!”. Kekecewaan itu begitu besar ketika kebanggaan dan sumber ekspektasi keluarganya harus berakhir dengan kekecewaan ketika anaknya dipecat, hanya gara-gara penyakit puberitas anaknya yang terlalu kelewatan.

Dengan tabah, sang Bapak mengantar anaknya kembali ke pesantren. Meski Bapak harus mengemis dan memohon kepada pembina pesantren agar supaya anaknya dapat diterima dan mondok kembali di pesanren itu, bukan masalah, yang penting anaknya mampu melanjutkan pendidikan pesantren. Syukurlah si anak lumayan cerdas, walaupun tak seberapa, akhirnya Dai mampu lulus ujian serta mendapat ijazah mondok dan berhak untuk lanjut ke jenjang selanjutnya.

Sebenarnya, Dai sudah lelah untuk melanjutkan ke pondok lagi, Dai ingin lanjut di SMA Telkom Makassar, sebab Dai menilai sudah cukuplah ilmu agama yang diperolehnya, alasan ini yang diutarakan di depan Bapaknya. Padahal Dai hanya ingin bedalih dan ingin bebas dari kungkungan kehidupan pondok yang begitu mendera namun mendidik, beralih ke instansi pendidikan umum yang lebih bebas. Tentunya juga sebagai lelaki yang mengalami gejolak puberitas yang menggelora, Dai ingin mendapatkan kenalan atau bahkan pacar, untuk dapat dipertontonkan di hadapan teman-teman sebayanya.

Tapi sang Bapak kurang setuju, bahkan mengingatkan cita-cita awal anaknya yang ingin berangkat ke Mesir untuk menimba ilmu agama. Keinginan ini berawal, ketika mendengar pengarahan opening ceremonial pimpinan pondok yang begitu mengagumkan, sehingga sejak saat itu Dai berharap untuk dapat mengecap pendidikan di Mesir. Pertimbangan inilah yang membuat keinginan anaknya tertolak, sebab Bapak tahu, kalau anaknya punya potensi untuk melanjutkan kuliah di negeri Kinanah sana. Akhirnya dengan berat hati Dai menerima keputusan itu, dan Dai pun mendaftar untuk ikut tes seleksi masuk ke Madrasah Aliyah, yang ternama di Makassar. Dai pun diterima untuk mondok di pesantren tersebut, dan waktu untuk kembali lagi ke penjara yang mengungkung gejolak puberitasnya pun telah tiba.

Setelah melewati seminggu ospek yang begitu memalukan, Dai bersama teman-temannya akhirnya bisa bernafas lega, kengerian dan kesangaran senior mulai terkurangi. Tak ada lagi jalan bebek menuju kelas, yang harus melewati barisan para gadis, yang membuat malu, tak ada lagi perintah untuk hormat ke tiang listrik di tengah kumpulan siswi yang bertetanggaan dengan pondok mereka. Sebab sekolah mereka tidak lagi berada di gunung atau tempat terpencil lagi, sekolah mereka sekarang berbagi lokasi dengan beberapa instansi pendidikan lainnya, ada perguruan tinggi, ada Aliyah umum dan terakhir Tsanawiyah umum. Dan ospek yang memalukan itu telah berakhir. Sekarang saatnya untuk memulai materi dan proses belajar mengajar.

Di hari pertama, Dai dan teman-temannya pertama kali terkumpul dalam kelas. Dan Dai baru tahu, kalau ternyata Dai memiliki teman sekelas perempuan. Ada yang berbeda dari aura ruangan kelas yang Dai rasakan. Wajar selama tiga tahun mondok di pesantren hanya satu jenis saja teman sekelasnya, sedangkan untuk melihat yang makhluk yang namanya perempuan, harus melewati prosedur admisi yang ketat dan hanya di hari tertentu saja, yaitu hari pasar, Jumat. Maklum sebuah pondok yang berada di pelosok kabupaten Barru.

Dai memiliki teman sekelas empat orang perempuan, dan dua puluh delapan putra. Sungguh merupakan statistik yang betul-betul tak adil dan bahkan tak berprikemanusiaan. Ironisnya lagi, Dai yang begitu menggebu-gebu untuk pamer diri, harus rela, sebab para wanita yang menjadi teman sekelasnya begitu tertutup dan bahkan memilih tempat duduk tersendiri.

Dai pusing. Sembari berpikir bagaimana caranya untuk dekat dengan salah satu dari mereka, terutama gadis yang bernama Rafiqah. Rafiqah adalah anak dari salah satu pendidik yang ada di pesantren itu. Tapi bukan karena Rafiqah adalah anak guru yang membuat Dai tertarik kepadanya. Terlalu dini untuk seorang anak Aliyah mengenal bagaimana sistem nepotisme. Dai tak tahu apa, yang jelas aura Rafiqah begitu menghujam dalam hatinya. Seperti bintang kejora yang berpijar di tengah pekatnya malam, pijar cahaya yang dipancarkan Rafiqah memikat seluruh penduduk kelas yang ada di ruangan itu. Tak terkecuali Dai. Saya tidak ingat apakah Dai merupakan orang yang pertama di antara para pria yang ada di kelasnya yang berani berkenalan dengan Rafiqah, ataukah sudah ada yang lain. Yang jelas perkenalannya sangat simpel dan sederhana. Rafiqah merupakan bintang yang sinarnya begitu istemewa.

“Sekolah asalmu dari mana”, ucap Dai, yang sok kenal dan sok akrab. Rafiqah dengan halus dan nada yang sangat sopan menjawab, “dari Tsanawiyah yang di depan”.

“Owhh…”, jawab Dai singkat, seolah perkenalan itu tak berbekas dan hanya sepintas lalu saja. Pandai dia menyimpan perasaannya dalam hati yang sebenarnya sudah sangat gembira, karena telah berhasil ngobrol dengan Rafiqah. Padahal waktu itu, pengumuman seleksi masuk untuk tes pondok itu sedang diumumkan oleh seorang pembina. Dai begitu mengawan dan melangit, karena Dai telah berhasil berkenalan dengan Rafiqah. Tanpa sadar pengumuman untuk juara pertama disebutkan, ternyata nilai tertinggi untuk seleksi masuk itu jatuh ketangan Dai. Dengan kata lain, Dai menjadi peringkat satu selama satu semester mendatang. Dia tak sadar.

“Untuk peringkat pertama, dari nilai seleksi masuk Ponpes MA… Bla… bla… jatuh kepada, Dai..”, kata seorang Ustadz yang begitu bersemangat. Tapi Dai, masih asyik menikmati perkenalan pertamanya dengan Rafiqah. Untunglah saat itu separuh jiwanya masih memijak bumi, dia sadar kalau dia sekarang telah meraih sebuah kebanggaan. Bahkan dia mendapat ucapan selamat dari Rafiqah, yang duduk bersebelahan dengan Dai. Sungguh sebuah kenikmatan jika sebuah prestasi mampu diapresiasi oleh orang lain, apalagi dari seorang Rafiqah.

Dengan bangga, Dai berjalan kedepan kelas untuk menerima penghargaan itu. Rafiqah hanya tersenyum. Tak ada gelagat lain yang diperlihatkan apalagi sebuah kekaguman. Namun dalam hati Dai sudah senang dan gembira. “Jalan masuk untuk ke pintu hati Rafiqah sudah sudah mulai terbuka satu pintu, sekarang tinggal melewati beberapa pintu lagi yang masih kokoh dan rapat terkunci…”, tuturnya dalam hati. Entah dapat teori dari mana si Dai, yang begitu pede kalau pintu hati Rafiqah telah terbuka satu pintu untuknya.

Dai kembali ke tempat duduknya, yang ada di sebelah Rafiqah, setelah menerima penghargaan itu. Kali ini aura kesombongan sudah mulai menyerbak dari sosok Dai. Awalnya, Dai yang duluan menyapa dan memulai pembicaraan tadi. Tapi sekarang dengan angkuh dan congkak, Dai kembali ke tempat duduknya tanpa pernah memalingkan pandangannya ke arah Rafiqah. Dia pun sok mengikuti dengan serius arahan dan nasehat yang diberikan oleh Ustadz yang membacakan inaugurasi tadi. Tapi ujung matanya ternyata sekali-kali menatap ke arah Rafiqah. Sebuah lirikan yang munafik.

Tepat jam Sembilan, pengumuman seleksi tes dan arahan tadi berakhir. Waktu istirahat tiba. Dai masih tetap memantulkan pancaran aura kesombongan dan kecongkan-nya. Sebelum keluar pembina yang mengisi jam pertama tadi berpesan kepada para siswa, agar jam istirahat nanti digunakan untuk bersih-bersih ruangan.

Tentu, kalau urusan bersih-bersih yang paling bersih pasti cewek. Mereka begitu perfeksionis. Ketika Dai sedang menghapus papan tulis, tiba-tiba suara Rafiqah yang lembut itu terdengar di kuping Dai. “Dai tolong lawa-lawa yang ada di kolong meja guru sekalian dibersihkan”, pinta Rafikah dengan sopan.

“Hah…! Lawa-lawa yang mana..?”, jawab Dai.

“Yang itu loh sarang laba-laba yang halus itu yang ada di kolong meja guru itu”, kata Rafiqah.

“Owh… Ini namanya lawa-lawa toh..?”, kata Dai, yang berusaha mencari bahan candaan dengan Rafiqah.

Ada bahasa Indonesianya gak..? Jangan pake bahasa Inggris dong..!” sahut Dai sambil tersenyum cengir yang berusaha memancing Rafiqah tertawa.

Rafiqah hanya tersenyum cemberut, sambil menggerutu, “ihh… Sebel deh..!”.

Dai hanya tertawa menikmati kemenangannya. Seolah dia mendapatkan guyuran air segar ketika melihat senyuman Rafiqah tergurat di bibirnya. Apalagi senyuman itu ditujukan untuknya. Dai sudah terhanyut oleh pesona itu yang membawanya ke samudera impian. Tapi bukan Dai namanya, kalau segampang itu dia memperlihatkan perasaannya.

Dai masih tetap tertawa, seolah tawa itu merupakan simbol keangkuhan yang dia tunjukkan. Sedangkan Rafiqah masih tersenyum tersipu, karena ulah Dai. Bahkan Dai pun sudah mulai sok akrab dengan Rafiqah, dia tidak memanggil Rafiqah dengan namanya lagi, tapi dengan lawa-lawa.

Tepat pukul sepuluh kurang seperempat, seorang pembina lain berjalan menuju kelas Dai. Pembina tersebut pengajar Aqidah-Akhlak. Setelah memberi salam, sebagian siswa hening dan menanti dengan sabar, pelajaran yang akan diberikan. Sedangkan yang lainnya masih melongo, membolak-balik buku bacaan yang dijadikan acuan untuk fak yang ada. Mereka heran dan terkejut, melihat tulisan Arab yang tak berbaris, baca yang berbaris saja sebagian siswa masih tersendat-sendat. Apatah lagi jika tak berbaris, terbayang bagai-mana kebingungan mereka tergambar jelas dari raut muka mereka.

Pembina memulai pelajarannya, dengan menantang para siswa yang mampu membaca dan menerjemahkan diktat pelajaran yang ada di hadapan mereka. Tapi sayang, suasana senyap dan sepi, seolah berada ditengah perkuburan yang senyap. Tiba-tiba sebuah suara memecahkan kebuntuan tersebut. Suara tersebut datang di pojok ruangan. Suara si Dai yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan itu. Rafiqah masih mencari dari mana asal suara itu, maklum bangku di sebelah Rafiqah sudah kosong. Dai telah berpindah tempat duduk.

Suara Dai memecahkan keheningan kelas itu, yang sempat terbungkam akibat tantangan pembina tadi unuk membaca dan menerjemahkan diktat yang berbahasa Arab tadi. Suara Dai menggelegar dan membaca dengan fasih tulisan Arab yang ada di depannya dan menerjemahkannya dengan lancar. Maklum waktu dia Tsanawiyah, kitab gundul sudah menjadi sarapan paginya di pondoknya dulu. Sehingga dia tidak canggung lagi untuk bercengkrama denga literatur-literatur Arab.

Sejak saat itu, Dai sudah semakin superior di kelasnya. Dia menjadi rujukan teman-temannya ketika ada pelajaran yang tidak dipahami. Dai begitu menikmati keadaan ini. Apalagi kalau yang bertanya itu Rafiqah, terlihat jelas air muka Dai yang sangat gembira tapi masih tetap egois untuk menyatakan perasaannya kepada Rafiqah. Dai masih belum tahu, bagaimana cara mengungkapkan perasaannya itu kepada Rafiqah.

Dai hanya mampu mengirim ungkapan perasaan itu lewat tatapan atau pandangan yang tertuju kepada Rafiqah di tengah pelajaran atau pengajian sedang berlangsung. Sehingga tugas Dai, yang paling pertama ketika masuk kelas atau masuk mesjid, adalah mencari posisi yang tepat untuk melemparkan pandangan dan tatapannya kepada Rafiqah. Tatapan mata Dai begitu spekulatif, di samping dia menikmati pancaran keindahan yang merekah dari wajah Rafiqah, dia juga berusaha untuk menyampaikan luapan perasaan kagum yang mendidih dalam hatinya.

Dai lebih suka bermain dalam dunia ide dari pada bercengkrama langsung dengan realitas Rafiqah yang sungguh menawan. Dai tak dapat berbuat apa-apa untuk mengusir semerbak wangi keindahan Rafiqah yang telah menderu-deru dalam hatinya. Tapi sekali lagi Dai seorang sangat ulung mengontrol keadaan hatinya di hadapan Rafiqah.

bersambung...

selengkapnya......

Desakralisasi Ayat-ayat Perang

Dalam beberapa minggu terakhir ini kita disuguhi dua berita kekerasan yang kembali mengusik dan bahkan mempertanyakan sejauh mana urgensi toleransi dan pesan kedamaian yang dibawa oleh Islam dalam upayanya untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil. Isu teror dan anarkisme kembali meluluhlantakkan pesan kedamaian dan ajaran kasih sayang yang menjadi identitas agama ini. Umat Islam kembali harus bekerja keras untuk menepis stigma kekerasan, teror, dan barbarian yang mewabah dalam dogma keislaman.

Isu kekerasan, teror, anarkisme, militansi dan barbarian bukanlah isu yang baru, ataukah penyakit yang baru diidap oleh Islam. Tidak. Islam telah lama mengidap penyakit ini, sejak berkobarnya perang Salib sampai peristiwan Nine Eleven yang meledakkan gedung kembar WTC di Amerika Serikat, image teror, militansi dan anarkisme seolah mendapatkan pengejawantahan dalam agama ini. Sayangnya, sampai sekarang belum ada upaya serius yang dilakukan oleh umat Islam untuk melakukan terapi penyembuhan terhadap virus yang menggerogoti nilai estetik yang ada dalam agama ini. Dialog dan konferensi internasional yang diselenggarakan di seantero dunia tidak berbuah apa-apa, sebab umat Islam terlalu ekslusif dan bahkan memagari dogma mereka dengan 'pagar batu' yang menghalangi umat Islam untuk melihat dan memandang kebenaran yang ada di luar Islam. Keluhuran yang dimiliki oleh nurani dan budi seolah dibungkam oleh interpretasi dan penafsiran yang mengatasnamakan Tuhan, dan bahkan penafsi-ran itu sendiri telah menjadi dogma yang tak dapat dikorek atau diganggu gugat. Istilah kafir, murtad, musyrik dan munafik seolah merupakan term final yang tak dapat disentuh dan bahkan jauh berada dalam realitas manusia. Term tersebut akhirnya menjadi argumen dan dalih untuk menyerang golongan lain yang berbeda dengan keyakinan umat Islam.

Ironisnya, pelaku teror dan kekerasan justru mendapat tempat yang terhormat dan membanggakan dalam doktrin kaum fundamental. Pelaku kekerasan dan teror diiming-imingi balasan syurga bagi mereka yang berhasil terbunuh atau membunuh para musuh Islam. Padahal sampai sekarang saya belum jelas siapa musuh Islam, atau barangkali agama ini yang terlalu sering mencari-cari musuh, sehingga tak mampu membedakan antara kepentingan politik dan kepentingan religius.

Berkaitan dengan peristiwa kekerasan yang menimpa bangsa ini beberapa minggu lalu, bisa saja ada anggapan bahwa dibalik peristiwa kerusuhan tersebut terselubung intrik politik yang berusaha mendiskreditkan image umat Islam. Walaupun kita bisa berlega hati dengan hipotesa tersebut, namun perlu saya tekankan, bahwa image teror dan anarkisme selamanya akan menjadi tunggangan politik jika umat Islam tidak mau berbenah diri dan melakukan reformasi total terhadap doktrin dan ajaran propagandis yang ada dalam dogma Islam. Islam selamanya akan menjadi agama teror dan agama anarkis, jika ayat-ayat perang dan masih dipercaya masih relevan dan sakral untuk masa sekarang ini. Selama umat Islam menganggap bahwa, orang Kristen dan Yahudi tak akan pernah ridho kepada umat sampai umat Islam murtad dari agama mereka (QS: 2: 120), maka selama itu pula toleransi antar- umat beragama tak pernah terwujud, dan rasa curiga akan terus tumbuh dalam sanubari umat Islam. Selama umat Islam meyakini, bahwa kewajiban mereka adalah untuk memerangi dan bahkan membunuh orang-orang yang berada di luar agama mereka, atau sampai orang yang memiliki keyakinan berbeda tersebut memeluk Islam atau membayar jizyah (QS: 9: 29), maka selama itu pula perdamaian dan kerukunan antarumat beragama tak akan pernah terwujud.

Ketika berada dalam tataran filosofis, saya melihat bahwa asal dari segala tindakan teror dan anarkisme yang dijadikan sebagai alat justifikasi terhadap perilaku kaum radikal adalah ayat perang yang lebih cenderung berindikasi terhadap upaya propogandis dan provokator. Terlepas dari apakah unsur politik, ekonomi, sosial dan budaya ikut andil dalam membentuk watak para pelaku teror dan anarkisme. Saya tidak menyepelekan masalah tersebut, akan tetapi saya melihat urgensi dogma dan kepercayaan merupakan faktor utama dalam pembentukan watak dan karakter sang pelaku teror. Sekarang sudah saatnya ayat perang dan ayat provokator tersebut didesakralisasikan. Biarlah ayat tersebut menjadi sebatas bukti historis yang menjadi pelajaran bagi generasi kita ini, tanpa harus menjadi bahan dan komposisi utama dalam pembentukan akidah dan watak kaum muslimin. Ayat perang dan ayat provokator tersebut marilah kita jadikan hanya sebatas bacaan ritual yang dibaca dalam salat atau dalam praktek ritual lainnya, tanpa harus berperan dalam membentuk ideologi kaum muslimin.

Mungkin upaya desakralisasi terhadap sebagian ayat-ayat Alquran, dianggap sebagai upaya penistaan dan penghinaan terhadap Alquran. Saya akan menghormati pandangan ini, namun dengarkanlah saya sejenak, simaklah sebentar pemaparan argumen saya. Sudilah kiranya anda bersama saya sekejap untuk menelaah dalil yang saya ajukan. Pertama, upaya desakralisasi Alquran bukanlah merupakan hal yang baru dalam pemikiran Islam. Sebelumnya upaya ini telah diusung oleh Muktazilah dalam konsep khalq Qurannya. Walaupun saya akan berlebihan jika saya mengatakan, bahwa upaya Muktazilah serupa dengan upaya saya ini, namun usaha yang dilakukan Muktazilah adalah untuk meletakkan Alquran berada dalam realitas manusia. Alquran bukanlah sebuah kitab suci yang memiliki dimensi transendental yang jauh dari kehidupan manusia. Alquran merupakan kompilasi pengalaman realitas nabi Muhammad yang mendapatkan panduan dari Tuhan, dan sangat jelas kita ketahui realitas di satu sisi memiliki keterbatasan, namun nilai yang dikandungnya di sisi lain memiliki aspek universal. Terlalu gegabah untuk mengatakan bahwa ajaran Alquran mencakup seluruh realitas manusia yang terlalu kompleks dan multidimensi. Sehingga dapat saya katakan ada ayat yang sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi kita sekarang ini, sebab ayat itu hanya terkhusus kepada pengalaman pribadi Nabi yang tak dapat diaplikasikan dalam kehidupan universal seluruh umat Islam. Kita ambil contoh, peristiwa kawinnya Nabi dengan istri anak angkatnya, Zaid, yang terekam dalam Alquran. Secara etis kita mungkin miris dan dongkol dengan peristiwa ini, dan ini hanya dibolehkan kepada Nabi seorang. Namun, bila kita telaah lagi lebih dalam, dimana letak kesakralan peristiwa tersebut, bukankah ayat yang membahas masalah ini hanyalah sebatas pemaparan pengalaman personal Nabi, yang kini sudah tidak relevan lagi?

Kedua, dalam ilmu ushul fiqh kita mengenal konsep nasikh dan mansukh. Secara sederhana defenisi dari nasikh-mansukh ini adalah penghapusan nilai hukum yang dikandung oleh sebuah ayat dan digantikan dengan hukum atau peraturan baru. Dalam Alquran terdapat ayat yang hanya berupa teks saja, dan tidak memiliki nilai hukum namun masih tetap tertera dan tercantum dalam Alquran. Misalnya, ayat-ayat yang berkaitan tentang pelarangan khamr dan judi. Terdapat tiga jenis ayat dalam Alquran yang bercerita tentang khamr dan judi. Klasifikasi pertama, ayat tersebut secara netral berbicara tentang minuman keras dan bejudi. Ayat tersebut memaparkan manfaat arak dan judi tanpa menyinggung persoalan hukum di dalamnya. Jenis yang kedua, ayat yang melarang kaum muslimin untuk tidak minum arak menjelang salat, tapi ayat ini tidak melarang secara keseluruhan, hanya saja pelarangan yang bersifat temporal, ketika akan melaksanakan salat saja. Jenis ketiga, ayat yang secara tegas melarang meneguk arak di semua waktu atau sudah bersifat mutlak. Walaupun saya kurang setuju terhadap klasifikasi ini, namun jika kita menerima klasifikasi ini, bukankah ini berarti jenis ayat yang pertama dan kedua, sudah tidak memiliki kesakralan dan fungsi hukum lagi? Tidakkah ayat pertama dan kedua tersebut sudah tidak relevan lagi di zaman ini? Apakah saya dapat berdalih ketika saya ingin meneguk minuman keras dengan menggunakan ayat pertama dan kedua? Jika hal ini kita terima, mengapa ayat perang tidak disikapi seperti ini? Mengapa ayat perang masih memiliki kesakralan ditengah upaya yang dilakukan umat Islam untuk menebarkan pesan kedamaian dan keselamatan?

Ketiga, memang di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang sudah lapuk ditelan zaman dan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi yang ada sekarang ini. Beberapa ayat dalam Alquran di masa sekarang ini tak lebih dari sekadar rekaman sejarah yang tidak memiliki nilai hukum atau bahkan sudah tidak sakral lagi di mata umat Islam. Ambillah contoh ayat-ayat yang berbicara tentang perbudakan, secara eksplisit Tuhan tidak menjelaskan bahwa ayat ini sudah tidak berlaku lagi untuk masa tertentu, bahkan Tuhan membiarkan ayat tersebut tercantum dalam Alquran. Namun itu bukan berarti bahwa kita harus memaksa masalah perbudakan harus senantiasa ada dan relevan dalam kehidupan manusia. Tidak. Justru fleksibilitas Alquran diuji di sini, apakah kita mau menerimanya begitu sahaja, atau kita mengklasifikasikan ayat Alquran yang relevan dengan kondisi kita. Jika sepasang suami-istri yang melakukan hubungan seksual ditengah hari bulan Ramadhan, ketika mereka tidak sanggup untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut, apakah mereka harus berkeliling dunia untuk mencari seorang budak lalu memerdekannya? Tentu kita akan memberikan pilihan kepada mereka untuk opsi hukum yang lain yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi, di manakah letak kesakralah ayat perbudakan tersebut? Bukankah ayat tersebut sudah tidak relevan lagi? Bukankah ayat tersebut sekarang ini hanyalah sebatas bacaan dan rekaman historis yang dibaca pada ritual keagamaan? Hal serupa terjadi juga terhadap hukum potong tangan bagi para pencuri dan qishash bagi para pembunuh. Apakah kita ingin ngotot ingin menerapkan hukum tersebut di masa sekarang ini? Apakah kita lebih menganut formalitas dari ayat tersebut ketimbang mengambil substansi dan esensi yang ada dalam ayat tersebut? Di manakah letak kesakralan ayat tersebut? Nilai hukum apakah yang dimiliki oleh ayat tersebut di masa sekarang ini?

Masalah ayat perbudakan, khamr-judi, hukum potong tangan dan qishash yang telah didesakralisasikan, tidaklah seurgen dengan ayat perang seruan propogandis dan provokator pada ayat lain. Bahkan problem anarkisme dan radikalisme yang menimpa umat Islam sekarang ini sudah sangat mendesak dan perlu untuk disikapi lebih lanjut. Biarlah ayat perang dan provokator tersebut kita jadikan hanya sebatas sebagai bacaan dalam ritual keagamaan dan sebagai rekaman sejarah. Biarlah kesakralan dalam ayat tersebut dicabut dan dihilangkan demi membuka jalan Islam dalam upayanya menebarkan pesan kedamaian di seluruh dunia. Marilah kita membangun citra Islam yang lembut, yang halus, yang jauh dari anarkisme. Sudah saatnya ayat perang tersebut disimpan dan disembunyikan dalam mushaf. Marilah kita membangun identitas Islam sebagai umat yang sangat menghargai perbedaan, menghormati pluralitas. Menjunjung tinggi kebebasan berkeyakinan. Islam tidak rugi jika satu atau dua orang dari pemeluknya berpindah agama, bahkan mari kita hormati mereka. Marilah kita membangun citra Islam yang lebih mengedepankan dialog dari pada adu jotos. Biarkan Islam dikenal sebagai agama yang menghormati agama pagan dan ajaran yang berbeda lainnya, sebab dalam Alquran sendiri Tuhan telah menjamin, bahwa orang-orang yang mengakui keberadaan Tuhan, baik itu dari golongan Kristiani, Yahudi, atau dari golongan Shabiin (pagan), mendapatkan jaminan dari Tuhan di hari Akhir nanti. Tuhan kita satu, kita pun pasti mencintai- Nya, namun kita perlu usaha yang berbeda untuk mengekspresikan cinta kita kepada Tuhan kita. Tuhan terlalu terbatas dan terlalu miskin jika hanya milik umat Islam sahaja.

selengkapnya......