Tuesday, November 11, 2008

Islam dan Yunani, antara Bumi Wahyu dan Negara Akal

a. Prolog
Perseteruan antara wahyu dan akal, merupakan sebuah problematika klasik namun terus up to date. Problematika ini terus hangat, seolah api yang membakar tungku perseteruan, kayu bakarnya terus terisi dan tak pernah habis. Demikian juga penafsiran yang mengklaim bahwa mereka adalah perwakilan dari langit terus berdatangan, yang membuat hawa perseteruan ini semakin panas. Sejatinya akan memicu kepada usaha untuk penafsiran atas problematika yang ada. Apakah akal (baca:filsafat) dan wahyu merupakan musuh sejati? Keduanya tak dapat bersatu? Ketika wahyu telah ada, maka akal harus diam dan pasrah? Ataukah keduanya merupakan sahabat yang kompak? Akal menopang nilai absolusitas wahyu? Demikian juga wahyu memberikan ruang untuk akal, untuk mampu mendaki kepada sebuah Absolusitas Mutlak (baca:Tuhan)? Ataukah ada rival lain selain akal, yaitu instuisi-dzuq, wijdan- yang mampu sampai kepada Absolusitas Mutlak?

Pertanyaan itu akan terus ada disetiap agama samawy, baik itu Yahudi, Nasrany, dan Islam. Di kalangan Nasrani misalnya, disana ada Gostin dan Ithnagoras yang berusaha mendamaikan antara wahyu dan akal. Namun disana juga ada Taytan sebagai rival mereka, yang menganggap bahwa filsafat dan wahyu bagai minyak dan air, sehingga mereka tak mampu bersatu . Demikian juga terjadi di dunia Islam, ketika trend transliterasi literatur-lteratur Yunani begitu pesat di masa khilafah Abbasiyah. Maka sebuah keniscayaan akan terjadi reaksi dari beberapa golongan Islam untuk menjawab pertanyaan di atas. Pada abad ke empat, para fuqaha Hanabilah yang paling banter menolak filsafat dalam dunia Islam . Bahkan Qadhy Yusuf Hanafy mengatakan dengan lantang, “Barang siapa yang mencari agama dengan kalam maka dia adalah zindiq, dan siapa yang mencari uang dengan kimia maka dia akan rugi, dan siapa yang berkata dengan hadis gharib maka dia adalah pendusta” . Refleksi kontras dari mauqif ini, tentunya memincu para fans filsafat Yunani khususnya fans Aristoteles, untuk berusaha mensinergikan antara wahyu langit dan akal bumi. Ibnu Rusyd misalnya, mengatakan, “Jikalau sang faqih melakukan ini (qiyas) dalam hukum syariah, alih-alih yang melakukan ini adalah shahib burhan? Sang faqih hanya memiliki qiyas zhanny, sedangkan sang arif (filosof) memiliki qiyas yaqiny. Sudah dipastikan, setiap dalil burhan yang mengimplikasikan adanya pertentangan dengan literalis syariah maka diharuskan untuk menta`wilkannya, sesuai dengan metode ta`wil Arab. Ini adalah premis yang tak seorang muslim pun meragukannya.”. Dari sini, Ibnu Rusyd berusaha untuk mensinergikan antara filsafat dan wahyu, jikalau wahyu mampu dita`wilkan dengan qiyas, mengapa tidak untuk menta`wilkan wahyu dengan filsafat?

Terlalu sulit untuk menghakimi perseteruan diatas, namun yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, beberapa filosof Islam yang berusaha memadukan wahyu dan akal untuk membentuk sebuah komposisi yang menghantarkan kepada kebenaran absolut. Dalam upaya sinkronisasi ini tentunya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban dari luar. Salah satunya adalah dari Yunani, baik itu Yunani yang di bungkus oleh baju Helenistik, kebudayaan kota Charrae , golongan Nusturah dari Nasrani, ataukah metode ta`wil Phylon dari Yahudi. Namun yang paling mewarnai karakteristik para filosof muslim pada waktu itu adalah ruh Yunani pada umumnya dan Aristotelian pada khususnya, yang meliputi banyak pemikiran mereka. Seperti yang terjadi pada Al-Kindy, Farraby, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Di makalah yang sederhana ini kita akan mencoba melihat pengaruh filsafat Yunani dalam pembentukan karakteristik berpikir para filosof muslim. Kita akan mengkhususkannya kepada empat kelompok yaitu; kaum sophis, Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta membatasi pada beberapa dimensi filsafat mereka.

selengkapnya......

b. Kaum Sophis dan Pembumian Filsafat


Sebelumnya metode pemikiran filsofis sebelum kemunculan kaum sophis hanya berputar dan bergelut pada masalah asal-usul dari penciptaan materi, kepercayaan hylotheisme, dan trend occultisme, baik itu tercermin dari maraknya dedukunan dan sihir, ajaran-ajaran rahasia yang di usung oleh Pythagoras dan para pengikutnya, ataukah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenides. Sehingga membatasi masyarakat akar rumput untuk menikmati dan mengecap ajaran filsafat.

Disamping keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat Athena dalam melawan konfrontasi militer dari Persia. Membuat kestabilan politik masyarakat Athena semakin kokoh. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian disini, adalah golongan pedagang, nelayan, dan petani yang ikut membantu peperangan ketika melawan Persia, akhirnya mampu bersuara di parlemen Yunani. Akhirnya dari suara merekalah, sehingga sistem demokrasi terpilih menjadi corak politik Athena . Iklim politik seperti ini meniscayakan sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dulunya hanya di kalangan tertentu sahaja, dan dengan corak yang sangat ekslusif. Filsafat yang dulunya bersifat rahasia, akibat revolusi pengetahuan itu menjadi informasi yang dapat disantap oleh khalayak ramai.

Peranan kaum sophis dalam mengeluarkan filsafat dari kerangkeng ekslusifitas ke medan khalayak ramai tercermin pada pengajaran dan institusi yang mereka dirikan. Kaum tertinggal yang duduk di parlemen, berkat revolusi ini, dipaksa untuk menjadi kaum terdidik. Sehingga mereka harus belajar dengan pengetahuan yang marak waktu itu. Filsafat merupakan ciri keterpelajaran mereka, namun karena filsafat hanya dimiliki oleh golongan tertentu sahaja, dan tak mampu digeluti oleh orang awam. Hal ini sempat membuat nyali mereka ciut, namun kaum sophis mucul dan menepis persepsi itu. Mereka hadir dan mengusung slogan eksistensi manusia, mereka dengan lantang menyerukan akan peranan tiap individu dalam pembentukan sebuah ilmu pengetahuan. Setiap individulah penentu akan kebahagiaan dan kesengsaraan mereka. Kaum sophis adalah kaum yang menyerukan kemampuan manusia. Kaum sophis adalah golongan yang pertama mempertanyakan nilai dari pengetahuaan kemanusiaan. Kaum sophis adalah kalangan pengajar filsafat untuk disantap ke khalayak ramai. Kaum sophislah yang pertama menurunkan filsafat dari langit kebumi, sebagaimana yang dilakukan oleh Socrates. Kaum sophis adalah pencerahan terhadap metode filosofis yang cukup kelam di masa sebelumnya.

Namun karena penyimpangan historis yang dilakukan oleh para murid Socrates –baik itu Plato dan Aristoteles- sehingga membuat citra buruk kaum sophis, khususnya di kalangan muslimin. Kaum muslimin tak mengetahui apa yang dicapai oleh kaum sophis, dan dari penelitian sejarawan moderen. Sehingga yang mereka ketahui hanyalah sebuah keraguan terhadap nilai pengetahuan dan nilai aksiomatis. Mereka tahu hanyalah ajaran ajaran Protogoras, yang menilai kebenaran dari sudut pandang diri manusia sehingga mengantarkan kepada relativitas pengetahuan. Namun tak mampu menjangkau apa yang diingingkan oleh Protogoras, yaitu kemampuan manusia untuk menggali dan mempelajari pengetahuan. Kaum muslimin hanya mengetahui ajaran Georgoras dan Byron yang ragu-syak, scepticism- terhadap nilai. Secara global kaum muslimin meletakkan kaum sophis pada pembahasan penetapan nilai aksiomatik dan nilai absolusitas ilmu, dalam pembahasan kalam mereka.

Perlu mendapatkan penekanan disini, kaum sophis berubah menjadi liar ketika para pengajar melihat bahwa dengan mengajarkan filsafat dan retorika merupakan ladang mengais rezki. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menarik murid sebanyak-banyaknya agar bayaran mereka dan status mereka semakin tinggi. Disamping tak ada pembatasan yang dilakukan kaum sophis dalam pengajaran filsafat, banyaknya para filosof gadungan yang berusaha mengais materi untuk kepentingan perut, membuat hal semakin keruh. Sehingga siapa saja dapat berfilsafat, tanpa melihat kadar intelektual yang mereka miliki. Mungkin ini kembali kepada ajaran pertama Protogoras yang menggusung individu adalah ukuran dan tolok ukur sebuah kebenaran. Hal inilah yang mengeruhkan dan membuat kelam citra kaum sophis kala itu. Faktor ini jugalah yang membuat geram Socrates dan memaksanya untuk menyembuhkan virus relativitas segala sesuatu, dan keraguan terhadap kebenaran, yang ada di masanya.

Namun yang cukup menggelitik di sini adalah tudingan sebagian sarjanawan yang menganggap bahwa metode dilektika yang ada pada Mu’tazilah merupakan pengaruh dari metode dialektis kaum sophis. Sebuah tudingan yang lucu, dan menggelikan. Mungkin mereka menopang pendapat mereka, dari mauqif Mu’tazilah tentang hadis ahad, dan ijma’. Khususnya pada Ibrahim Nazzham, karena menurut historolog muslim, dia banyak bergelut dengan kaum Tsanawiyyah, kaum Samaniyah yang berpendapat bahwa tidak ada argumentasi yang pasti, dan dia juga bergaul dengan kaum atheis dari kalangan filosof. Salah satu pendapat yang cukup mengundang kontraversial di kalangan muslimin, adalah pengingkaran Nazzham terhadap ijma’, dan periwayatan dalam hadis mutawatir berkemungkinan untuk terjadi kesalahan pada para rawinya. Dari pengingkaran ini, baik itu dari ijma maupun dari hadis mutawatir diklaim sebagai pengingkaran terhadap sebuah nilai aksiomatis. Karena menurut para sarjanawan muslim, hadis mutawatir dan ijma setara dengan aksioma dalam pembentukan pengetahuan. Hal ini yang mungkin membuat para sarjanawan –yang menganggap semua yang ada dalam Islam adalah hasil ciplakan- untuk melegetimasi tuduhan mereka. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi di sini, Khayyath dalam Intisharnya telah membantah pendapat tersebut, bahkan dengan lantang mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaan dan kebohongan Ibnu Rawandy , sang atheis yang terkenal.

selengkapnya......

c. Socrates dan Akhlaq


Dalam historisasi bibliografi Socrates kita akan berhadapan dengan sebuah kontradiksi yang cukup membingungkan. Salah satunya, Aristophanus yang menganggap Socrates sebagai perpanjangan dari kaum sophis, yang terlalu berlebihan dalam seni dialektika, dan bermain-main dalam abtraksi pemikiran . Hal serupa juga terjadi pada Nietzche, dia tidak begitu mengidolakan Socrates, bahkan dia menganggap bahwa Socrates adalah penyebab kejumudan akal Eropa pada middle age. Namun pandangan lain terjadi pada Plato, dia menganggap bahwa Socrates merupakan sosok yang dia hormati, dan merupakan gurunya. Pastinya, Socrates merupakan sosok yang berpengaruh pada pemikiran filsafat manusia. Bahkan Socrates dijadikan pemisah oleh sejarawan dalam mengklasifikasikan karakteristik filsafat pemikiran Yunani.

Socrates adalah sosok yang berpengaruh dalam dunia filsafat manusia. Dia adalah sosok yang optimis dalam kehidupannya, walaupun Plato mensifati tampilan Socrates yang buruk rupa, namun ini tak membuat dia putus asa. Bahkan dia bersyukur dengan kemanusiaannya, dengan penciptaannya sebagai pria bukan sebagai wanita, dan sebagai bangsa Athena bukan bangsa Barbar. Socrates juga meyakini bahwa cinta adalah ibadah, namun dia mengingatkan kepada pemuda dimasanya agar tidak berlebihan dalam cinta, dan juga menasehati semasanya untuk menjaga kestabilan dan keharmonisan jiwanya . Demikian juga Socrates mengajak manusia kepada pengetahuan yang bermanfaat dan mampu tercermin di prilaku dan kehidupan sehari-hari. Kebodohan dimata Socrates adalah radzilah dan pengetahuan adalah fadhilah. Sehingga yang tercermin dari filsafatnya adalah pandangannya dalam akhlak dan pembangunan dan karakteristik di masanya. Socrates ingin meluruskan prilaku kaum sophis yang telah menyimpang dari maksud awalnya.

Filsafat yang paling signifikan dalam ajaran Socrates ajaran akhlak yang diusungnya. Dia begitu banter untuk mengajak manusia untuk mengenal dirinya demi sampai kepada pengatahuan yang bermanfaat demi kelangsungan hidup mereka. Dengan bertolak kepada pengetahuan individu terhadap dirinya akan menggiring kepada sebuah intropeksi dan kesucian prilaku. Dengan pengetahuan terhadap jiwa manusia menurut Socrates, akan membawa kepada realisasi nilai-nilai kebajikan dan kebaikan yang abadi. Karena dengan mengetahui jiwa tiap individu akan mengantarkan kepada apa yang pantas, dan tidak pantas dalam jiwanya, sehingga akan mengantarkannya kepada kebenaran yang mutlak . Slogan ‘ketahuilah dirimu’ selanjutnya begitu marak menghiasi literatur dalam dunia tashawwuf Islam. Diantaranya Ghazaly, yang menjadikan barometer pengetahuan manusia terhadap dirinya, adalah kadar pengetahuan individu itu terhadap Tuhannya. Dengan pengetahuan manusia terhadap dirinya, dimata Ghazali adalah kunci dari segala ilmu, pangkal dari makrifat, dan jalan menuju Allah.

Namun sebuah hal yang harus digaris bawahi disini, adalah slogan ‘ketahuilah dirimu’ tak mampu memberikan kita apa-apa untuk memahami filsafat Socrates, slogan itu hanyalah menyingkap kepada kita nilai akhlak yang terkandung di dalamnya.

selengkapnya......

d. Plato dan Negara Ideal


Plato merupakan filosof yang pertama menyusun dan mengklasifikasi masalah dan problematika filsafat. Dia membahas masalah qadhayah filsafat di berbagai dimensinya. Dia adalah pendiri institusi yang sangat popular waktu itu, yaitu Akademi. Akademi terambil dari nama seorang pejuang klasik Athena yang bernama Akadimus . Akademi ini semacam komunitas ilmiyah religius, di Akademi ini, dia mendirikan sinagog, dan proses pengajaran berlangsung di sana . Dari Akademi inilah lahir beberapa filosof besar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia. Di antaranya Aristoteles dan Thimawus.

Plato merupakan seorang petuhan yang pertama dan peletak dasar dan sendi ketuhanan dalam sebuah metodologi filosofis . Tuhan di mata Plato adalah zat abstarak yang berakal, penggerak dan pengatur, indah dan kebaikan, adil dan sempurna. Dia adalah basíith yang tak tersusun, satu tidak plural, tetap dan kekal tak berubah, tak berawal dan tak berakhir . Demikian gambaran singkat gambaran filsafat metafisika Plato, sebuah filsafat yang sangat dalam dan luas, perlu pembahasan lanjut untuk mengupas dan mengurai filsafatnya.Tapi yang akan menjadi pusat perhatian kita disini adalah mujtama’ mitsalynya yang mendapat tempat yang layak di mata filosof Muslim, dan Farraby pada khususnya.

Plato dalam menelorkan gagasan dan buah idenya, dia banyak terpengaruh oleh metode gurunya, Socrates, yaitu sistem dialog. Diantaranya, Fidon, dan Jumhuriyyah- Republic-. Dari yang terakhir inilah Plato menelorkan gagasannya. Dia memasukkan dalam dialognya ini syair dari Odessa untuk membantah atau menguatkan argumennya. Secara global kumpulan syair Odessa ini mencakup problematika alam, pemandangan kosmos, peperangan manusia dengan dewa laut, dan deskripsi para dewa yang menggelikan. Kumpulan puisi ini adalah sebagian besar merupakan mitos kuno masyarakat Yunani. Dari sini Plato ingin merubah kondisi sosial Athena waktu itu, dengan menekenkan pada aspek akhlak sosial demi menanamkan nilai keadilan pada masyarakat Athena. Sehingga filsafat idealisnya sangat terpangaruh pada aspek keadilan dan kebaikan.

Sebuah negara muncul dan berdiri, di mata Plato, dari kebutuhan manusia terhadap pertolongan dari yang lainnya. Negara lahir ketika kebutuhan manusia tak mampu mereka penuhi dengan mengandalkan diri mereka sendiri . Sorang pedagang, untuk melancarkan aktifitas dagangannya, memerlukan transportasi, alat untuk berproduksi, dan orang yang menjaga dan mensuplai dagangannya. Demikian juga seorang petani, dalam bertani, dia memerlukan alat untuk membajak ladangnya, dan tentunya harus beriteraksi dengan tukang besi, dan seterusnya. Ketika manusia tak mampu memenuhi kebutuhan mereka dengan mengandalkan diri mereka sendiri, maka meniscayakan adanya interaksi sosial antara mereka. Tentunya ketika terjadi interaksi sosial, di sana akan terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan distorsi hak dan kewajiban tiap manusia. Sehingga kebutuhan dan keniscayaan ini memerlukan wadah untuk menampung mereka semua, serta memenuhi hak mereka secara adil. Dari premis ini terbangunlah kebutuhan manusia terhadap negara.

Tujuan sebuah negara, adalah menerapkan nilai keadilan di tiap kelas masyarakat dengan cara yang komprehensif. Keadilan ini merupakan aspek asasi dalam dialog Republicnya. Keadilan yang dimaksud Plato di sini, adalah setiap individu, baik itu sahaya atau merdeka, pria atau wanita, pekerja atau pemerintah, untuk konsisten dengan pekerjaan dan profesi masing-masing. Dia sangat melarang kepada golongan-golongan tersebut memasuki atau ikut campur pada medan yang bukan profesinya, karena itu akan mengantarkan kepada sebuah dekontruksi dan dekadensi sosial dan negara.

Plato membagi lapisan sosial kepada tiga kelas yaitu:
• Penguasa, keistemawaan mereka adalah hikmah yang mereka miliki. Hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi, yaitu pengetahuan mengatur sebuah negara, dan mampu membimbing kepada kebajikan yang mutlak. Kelas ini merupakan kelas yang tertinggi. Kelas ini hanya mampu diisi oleh seorang filosof.
• Golongan militer, keutamaan yang mereka miliki, adalah jiwa kesatria yang terpatri dalam jiwa mereka. Mereka memiliki jiwa yang tegar, pengalaman yang luas, pandangan yang panjang, dan kekuatan fisik yang mendukung. Kalangan ini bertugas untuk melindungi negara dan membela serta melawan musuh yang merusak kestabilan sebuah negara.
• Kelas umum, tercermin pada golongan pedagang, petani, dan segala bentuk profesi lainnya. Mereka adalah yang menangani komuditi dan perekonomian sebuah negara, produksi dan ekspor negara. Jiwa mereka terpancar nilai kesucian dan keinginan material.

Plato meyakini bahwa tiap manusia memiliki mawahib dari ketiga golongan diatas. Tiap manusia telah dibekalkan dalam dirinya, dari Tuhan, salah satu dari tiga profesi diatas. Plato juga menyerukan untuk menyatukan misi dan visi dalam menghadapi kondisi krisis yang menimpa sebuah negara, dalam keadaan tertentu. Sehingga gambaran sebuah negara adalah seperti tubuh, jika salah satu bagiannya terkena sakit maka yang lain tentunya akan merasakan sakit yang sama. Bahkan Plato menganggap sebuah negara yang ideal adalah negara yang berkongsi pada wanita, anak-anak, tak ada yang memiliki harta pribadi, dan tempat tinggal pribadi.

Plato juga meyakini, bahwa kesengsaraan manusia tak pernah hilang dan terhapus, kecuali pemimpin yang mengatur negara itu adalah seorang filosof. Dengan kata lain, bahwa pemimpin harus memadukan antara kemampuan politik yang dimilikinya, serta kemampuan berfilsafat yang dia geluti. Seorang pemimpin dimata Plato harus memenuhi kriteria di bawah ini untuk mampu menjadi seorang politisi filosofis:
•Fitrah yang suci dan murni yang berpotensi kepada segala bentuk jenis pengetahuan.
•Kecintaan terhadap Eksistensi yang Absolut, yang tak terhapus oleh zaman, dan tak berubah di masa kritis.
•Kecintaan terhadap kebenaran dengan cinta yang sebenarnya, dan kebencian terhadap kebohongan dan penipuan dengan kebencian yang sesungguhnya.
•Menanggalkan ketamakan material.
•Kesucian dari kerakusan syahwat, dan kepentingan duniawi.
•Menghindari dari memandang remeh sesuatu, karena itu merupakan musuh besar dari orang yang menghiasi jiwanya dengan dimensi transendental.
•Zuhud dari kehidupan dunia, dan tak takut dalam menghadapi kematian, karena jiwa yang besar adalah dan pemikiran yang dipancari oleh sinar-sinar ketuhanan, tak melihat dalam kehidupan dunia ini sesuatu yang mampu menarik dan menawan hatinya.
•Kesuacian hati, interaksi yang lemah lembut, adalah merupakan tanda dari akhlak filsafat.
•Pikiran yang tanggap, kekuatan intelektual yang tinggi, pecinta keindahan, kesucian jiwa, adalah merupakan sifat yang signifikan dalam nilai substansi filsafat.

Inilah negara ideal Plato, selanjutnya akan sangat mempengaruhi Farraby dalam Madinah Fadhilahnya. Farraby merupakan sorang filosof muslim yang sangat menaruh perhatian pada masalah sosial. Sehingga Farraby dalam dunia Islam dikenal sebagai ‘shahib madinah fadilah’. Yang menjadi perhatian kita di sini adalah fikrah Farraby dalam menyikapi sang pemimpin negara idealnya. Dia berusaha menggabungkan antara wahyu langit dan bahasa akal. Sehingga dialah yang pertama menafsirkan problematika kenabian dengan metode filosofis . Selain menyebutkan syarat yang disebutkan Plato, sebagai kriteria pemimpin negara ideal. Farraby menambahkan sebuah syarat yang tak tepikirkan oleh Plato, yaitu seorang pemimpin negara ideal harus menggapai derajat penyatuan terhadap aql fa’alintellect active - dari aql fa’al inilah cipratan wahyu dan ilham akan tercurah kepada pemimpin negara ideal itu. Aql fa’al ini merupakan salah satu dari akal yang sepuluh, yang mengatur komos ini. Kenabian dan kerasulan juga berasal dari penyatuan dirinya dengan aql fa’al ini. Seorang nabi mampu bersatu dengan aql fa’al karena mampu melepaskan jeratan-jeratan nafsu dan syahwat, dan dengan berfikir dan bertafakkur. Sehingga para nabi mampu menuju kederajat dengan aql mustafadintellectual acquirs -, dan akhirnya mampu mendapatkan pancaran berupa wahyu ilahy dalam dirinya. Demikian juga seorang manusia, dapat bersatu, dan merasakan kelezatan spiritual dengan penyatuan dirinya dengan aql fa’al, dengan cara tafakkur, dan nazhar. Maka nantinya akan menggiring kepada fikrah ‘kasbiyyah nubuwwah’ atau kenabian dapat diperoleh dengan mujahadah nafsiyah, bukan dengan anugerah dari Allah. Apa yang dicapai oleh Farraby, merupakan pemikiran yang sangat berbahaya jika jatuh kepada golongan yang tak bertanggung jawab. Sebab dari pemikiran ini akan mengantarkan kita kepada sebuah konsikuensi yang liar, jika tak digunakan sebagaimana sang empu menginginkannya. Dari pemikiran ini, Syi’ah menopang slogan ‘qudasah a`immah’ dan membuka jalur langit yang sebelumnya telah tertutup. Tak heran, ketika golongan Syi’ah yang ekstrim ada yang berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan muncul Imam yang akan menghapus syariat Muhammad dan membawa syariat baru. Demikian juga golongan Bathiniyyah yang mengklaim, bahwa dengan mengetahi bathin dari sesuatu akan meruntuhkan kewajiban, dengan beralasan bahwa itu wahyu yang mereka dapatkan. Lebih ironis lagi, ketika pemikiran Farrabi ini jatuh di tangan orang atheis, yang sengaja ingin menghancurkan Islam, Ibnu Rawandy misalnya, akibat fikrah kasbiyyah nubuwwah maka dengan terang-terangan membantah kenabian. Pengingkaran terhadap kenabian merupakan aksi nyata terhadap penafian tuhan. Sebab atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan jelas menafikan kenabian, jangan tunggu sampai seseorang mengatakan ‘tuhan telah mati’, setelah itu kita mengatakan bahwa itu adalah sebuah ajaran atheis. Akan tetapi atheis tercipta ketika seseorang menafikan nubuwwah .

selengkapnya......

e. Aristoteles dan Mantiq Shury


Setiap dari kita pasti pernah mendengar nama Aristoteles, semua orang yang menggeluti dunia akademis, mungkin pernah berinteraksi dengan nama ini. Kemasyhuran dia miliki cukuplah menjadi argumentasi akan kedudukan dan tempat Aristoteles dalam filsafat manusia. Dialah orang yang paling berpengaruh dalam dunia metodologi manusia, baik yang menolak atau yang mengidolakannya, tak akan mempengaruhi ketenaran Aristoteles. Tentunya untuk menyelami dan menggeluti filsafatnya makalah yang sederhana ini tak akan mampu untuk membahasnya. Sehingga di sini kita akan menekankan pada ilmu logik yang dia kemukakan. Yaitu yang kita kenal sebagai mantiq shury, dan itu telah kita pelajari di Azhar di tingkat satu dan tingkat dua. Jadi saya tak perlu lagi mengupas lebih dalam lagi masalah itu. Namun di sini saya berusaha memaparkan gambaran singkat mantiq Aristo dalam dunia Islam, serta pengaruh yang ada dalam mantiqnya ini.

Organon merupakan karya Aristoteles yang di terjemahkan ke dunia Islam, Organon ini, ketika diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tak lepas dari ta’liq dan syarah dari pengagum Aristoteles, diantaranya Alexander Ifradousi, dan Pourpiyus. Penerjemah yang paling terkenal dalam dunia Islam adalah Hunain bin Ishaq, dan Bassyar bin Mathiyus, dan Yahya bin Ady. Mereka semua dari kalangan Nasrany . Selanjutnya penafsir dari mantiq Aristoteles pertama dari golongan Islam adalah Al-Kindy sehingga dia dikenal sebagai ‘mu’allim tsany'. Namun penafsir terbesar di middle age dan paling berpengaruh pada masa renaissance adalah Ibnu Rusyd.

Kaum muslimin dalam menerjemahkan dan menjelaskan mantiq Aristoteles, tak hanya mengikuti dan membebek begitu saja, akan tetapi dia menambahkan maddah-maddah baru yang tak ada dalam mantiq Aristoteles. Misalnya korelasi bahasa dan makna dalam pembentukan pemahaman, subtansi dari makna sebuah kata, metode penetuan illat, dan lebih jauh lagi kaum muslimin membahas tentang metode dari bentuk qiyas –analogi- Aristoteles . Demikian juga kaum muslimin mampu melancarkan serangan kepada mantiq Aristoteles. Bahkan kaum muslimin ketika menyerang dan membantah mantiq Aristoteles, tak hanya menggunakan satu metode saja. Mereka menggunakan beberapa metode dalam mengeritik mantiq Aristoteles, diantaranya metode isyraqy sebagaimana yang dilakukan oleh Sahruwardy , metode istiqra dan penelitian sebagai mana yang dilakukan oleh para Ushuliy, dan metode Ibnu Taimiyyah yang belum pernah ada . Namun yang perlu diperhatikan di sini, adalah perbedaan mendasar antara metodologi kaum muslimin dengan metode kaum Yunani, Aristoteles pada khususnya. Aristoteles begitu tepengaruh pada bentuk dan format segala sesuatu, sehingga menurutnya, bentuk dan format sesuatu lebih mendahului dari materi yang membentuknya. Sehingga penekanan dalam analoginya adalah bentuk –format- dari premis qiyas itu sendiri. Berbeda dengan metodologi kaum muslimin, dia lebih menekankan pada aspek dari sebuah materi. Sehingga untuk melahirkan sebuah hukum yang kully diperlukan sebuah peneletian yang mencakup semua elemen dari sebuah masalah. Demikian juga diperlukan sebuah metode induktif –istiqra`- terhadap setiap juz`i dari sesuatu. Agar nantinya dapat mengetahui illat dari sebuah hukum. Kaum muslimin dalam menganalisa sebuah kasus, harus memastikan kesamaan illat, barulah mereka memfatwakan sebuah hukum. Sehingga metode mereka lebih menekankan pada percobaan dan metode induktif, dan metode ini merupakan salah satu metode abad moderen. Imam Syafi’i merupakan orang pertama dalam dunia Islam yang menelorkan dan menciptakan ini. Tak heran ketika Samy Nassyar begitu menyanjungnya.

Demikian juga, kaum muslimin mendirikan dan membangun pemikirannya melalui Alquran dan Sunah Nabi, sehingga dasar dari kerangka berfikir mereka terbangun dari kedua dasar ini. Sehingga apa yang ditetapkan oleh Alquran dan Sunnah merupakan sebuah kebenenaran yang pasti dan tak dapat diganggu gugat, selama itu tidak multi tafsir. Ketika nash itu multi tafsir maka mereka mengalihkan kepada makna yang rajih, dengan melihat situasi dan kodisi yang ada. Sehingga dari sini akan lahir mashalih mursalah, istihsan, sadd zara’i, dan syar min qablina. Sehingga metode Islam sangat fleksibel, dan bersinergi dengan zaman yang ada. Inilah perbedaan yang sangat substansial dengan metode Aristoteles, yang terlalu terfokus pada bentuk dan format pada dari sebuah analogi. Namun perlu penggalian lebih dalam lagi untuk memahami metode muslimin dan korelasinya dengan mantiq Aristoteles.

tamat...

selengkapnya......