Dan Allah menunjuki ke jalan yang lurus siapa saja yang Ia kehendaki..
Sebuah potongan ayat Alquran, jika kita cermati secara tekstual, maka kita akan berkesimpulan bahwa petunjuk adalah milik Allah. Dia mempunyai kekuasaan yang mutlak untuk menggiring hambanya ke dalam petunjuk yang Dia miliki, dan Dia juga memiliki hak preogatif untuk mendepak siapa saja yang tak Dia inginkan untuk keluar dari rel hidayah yang Dia susun. Dengan kata lain kita hidup dalam skenario Tuhan yang telah diaturNya. Para manusia hanyalah boneka-boneka Tuhan yang tak memiliki kemampuan apa-apa untuk menolak sebuah manfaat atau sebuah celaka yang telah diatur olehNya. Seorang kafir dan fasiq mampu berdalih atas kekufuran dan kefasikan yang ada dalam dirinya. Dia memiliki uzur untuk menjadi kafir dan fasiq. Sebab mereka tak memiliki kemampuan apa-apa untuk mengutak-atik skenario Tuhan yang telah ditetapkanNya. Demikian juga seorang mu’min yang taat, dia tak layak mendapatkan pujian apa-apa terhadap ketaatannya. Sebab dia beruntung karena Allah telah memilihnya menjadi seorang yang taat. Dengan bahasa yang sederhana, di tangan Tuhan telah ada list para penduduk neraka dan surga! Para manusia hanyalah berpentas di atas panggung kehidupan, dimana tiap individu telah memiliki karakteristik masing-masing dalam menjalankan peran yang dimilikinya. Jika dia diperankan oleh Tuhan sebagai tokoh yang baik, maka sebuah kesyukuran. Namun jika sang wayang memerankan tokoh yang buruk dan di penghujung ceritanya dia akan menerima kesialan, malu dan sengsara, maka dia tak memiliki kemampuan apa-apa untuk menolak kesaktian dan keperkasaan sang Dalang! Intepretasi ini adalah sebuah penafsiran tekstual terhadap kandungan ayat di atas. Kandungan serupa akan banyak di temukan ditemukan dalam Alquran, jika kita menggunakan kacamata Jabariyah dalam menafsirkan ayat ini. Problematika ini dalam wacana teologi Islam dikenal dengan istilah qadha dan qadar.
Deskripsi yang saya utarakan di atas mungkin sedikit akan menyulut emosi kita. Sebab kita semua tak mau menggambarkan tuhan sebagai perwujudan zat yang arogan, tirani dan diktator. Kemarahan kita tentu akan terkuak ketika mendengar, ternyata Tuhan yang diagungkan oleh umat Islam adalah sosok yang bengis, kejam dan tak berkasih sayang. Padahal deskripsi dan perwujudan tuhan yang seperti ini hanyalah milik para dewa-dewa kuno yang telah lama mati. Paling tidak, tuhan yang mau semena-mena terhadap hambanya telah dibunuh oleh Nietzche, Sarter dan Feurbach.
Dalam Islam, problematika qadha dan qadar merupakan sebuah fenomena yang cukup memanaskan alotnya perdebatan di kalangan teolog Islam. Paham Jabariyah yang memposisikan seorang hamba sebagai boneka mainan Tuhan cukup mendapat kritikan dan bantahan dari sekte-sekte Islam yang lain. Baik itu dari Sunni ataupun Syi’ah. Namun saya akan mengkristalkan pada versi kaum Sunni saja yaitu terfokus pada perdebatan antara Asyairah dan Mu’tazilah. Sebab hanya golongan Asyairah dan Mu’tazilah yang cukup intens dalam memberikan sebuah solusi dan intepretasi terhadap problematika ini. -Walaupun ada beberapa pemikir dan ulama yang tak setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh keduanya diantaranya Ibnu Taymiyah dan muridnya Ibnu Qayyim demikian pula para kaum Sufi.- Hal ini tercermin dari literatur-literatur yang ditemui, hampir keseluruhan literatur Asyairah dan Mu’tazilah menmbahas masalah ini. Namun solusi dan tafsiran yang mereka tawarkan akan sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Berangkat dari Asyairah, mereka berpendapat bahwa seorang hamba dalam bertindak dan berbuat itu berdasar dari kehendak dan telah mendapatkan izin dari Tuhan. Asyairah tak membantah kemampuan manusia dalam berprilaku dan berkehendak, namun kemampuan ini dipersempit ranahnya oleh para teolog Asyairah. Kemampuan ini tak memiliki pengaruh apa-apa dalam menciptakan sebuah aktifitas dan prilaku, dia bergantung dan butuh kepada kemampuan Tuhan. Akhirnya, kemampuan manusia kembali lagi pada kehendak dan keinginan Tuhan. Sehingga, manusia kembali menjadi boneka Tuhan yang tak memiliki kemampuan apa-apa. Dalam bahasa Kalam kemampuan yang terkekang ini dikenal sebagai kasb. Maka tak heran golongan yang kontra dengan Asyairah menjadikan kasb sebagai sasaran empuk untuk menyerang sekte ini, misalnya yang dilakukan oleh Ibnu Taymiyah dan para pemikir Mu’tazilah. Bahkan sebuah ungkapan yang cukup menggelitik berbunyi, ”keajaiban dunia ada beberapa hal, diantaranya thifrnya Ibrahim Nazzham dan kasbnya Asyairah”. Solusi kasb yang ditawarkan oleh Asyairah memiliki beberapa kelemahan diantaranya dari segi bahasa atau terminologis itu tidak sepadan dengan penggunaan istilahnya. Sebab secara terminologis kasb berarti, segala bentuk aktifitas yang yang bertendensi untuk mendatangkan sebuah manfaat atau menolak sebuah bahaya. Sehingga kasb secara terminologis berindikasi akan adanya sebuah kemampuan natural yang dimiiki seseorang untuk merealisasikan keinginannya itu. Namun Asyairah tak menginginkan penjabaran secara terminologis ini, mereka membuat pengertian istilah yang berbeda jauh dengan arti bahasanya. Kasb menurut para teolog Asyairah adalah, ”sebuah kemampuan yang dapat dilakukan oleh pelaku namun pelaku itu tak mampu melakukannya dengan sendirinya”. Dengan kata lain bahwa kasb tak berpengaruh dalam melahirkan sebuah aksi, kemampuan manusia hanyalah membonceng terhadap kemampuan Tuhan. Jika digambarkan, manusia hanyalah kran tempat mengalirnya air, namun yang menggerakkan air itu adalah Allah. Sehingga tak heran ketika Asyairah berpendapat bahwa para penduduk surga dan neraka telah ditetapkan di zaman azal, manusia hidup digiring ke dua tempat yang telah ditentukan Allah, apakah itu di neraka ataukah di surga? Dia tak memiliki hak apa-apa untuk mengkiritik dan bertanya mengapa hal ini terjadi padanya, sebab menurut mereka ayat berbunyi bahwa, ”bahwa Allah tidak ditanyai terhadap apa yang ia perbuat dan Allah akan menanyai apa yang manusia perbuat”. Merupakan justifikasi kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Lebih-lebih Ibrahim Dasuqi berkata: ”Siapa yang melihat manusia dengan mata haqiqat maka mereka akan memberi maaf (uzur) terhadap (dosa) yang mereka perbuat, namun jika memandang dengan kaca mata syariat maka mereka akan membenci atas (dosa) mereka”. Mungkin pendekatan psikologis perlu digunakan untuk memahami lebih dalam mengenai kasb Asyairah ini, sebab kebanyakan dari pemikir Asyairah adalah para kaum Sufi yang bergelut dengan dimensi kejiwaan yang berada jauh dari dunia materi, mereka banyak banyak berkecimpung dalam tataran metafisik. Namun sayangnya kita hidup dalam dunia realitas yang kejam, hanya sedikit yang mau meluangkan waktunya untuk berfantasi kedunia ruhaniyyat.
Solusi inilah yang diberikan oleh Mu’tazilah, mereka memandang manusia dengan menggunakan pendekatan realitas yang membungkus individu dalam tataran sosial kemasyarakatan. Di mana manusia adalah seorang individu yang bertanggung jawab dalam terhadap interaksi yang digelutinya baik itu bersifat vertikal maupun horizontal. Ketika berada di depan Tuhan seorang manusia bertanggung jawab terhadap setiap perilaku yang terlahir darinya, apakah perilaku itu baik yang akan mendapatkan upah pahala dari Tuhan. Demikian juga perilaku yang ia perbuat menyimpang maka harus bersiap untuk mendapatkan konsekuensi dari Tuhan, berupa sangsi atas dosa yang ia perbuat. Tak ada surga ataupun neraka yang telah diboking, penduduk surga dan neraka akan ditentukan pada hari pembalasan nanti. Ketika aktifitas dan perilaku manusia berkaitan dengan interaksi sosial, maka seorang manusia diperhadapakan kapada nilai-nilai yang mapan dalam komunitas sosial itu. Sehingga tak ada dalih untuk manusia tak berlaku baik dari dimensi apapun yang meliputi interaksi seorang individu.
Seorang manusia dalam beraktifitas telah dikaruniai oleh Allah berupa qudrah (kemampuan), sehingga Mu’tazilah tak segan untuk melabelkan manusia sebagai pencipta atas perilaku yang kerjakan. Menamakan manusia sebagai khaliq (pencipta) perbuatan manusia, bukan sebuah upaya untuk mengkerdilkan posisi Tuhan dalam jagad raya ini. Akan tetapi menyucikan Tuhan dari sifat kesemena-menaan, dan kezaliman. Sebab dalam kamus Mu’tazilah, mereka tak mengenal akan sosok Tuhan yang zalim. Tuhan dalam paradigma mereka adalah perwujudan Zat Yang Maha Pengasih, Yang tak pernah melakukan sebuah upaya untuk menistai dan mensia-siakan hambanya. Bahkan Mu’tazilah meyakini bahwa segala bentuk aktifitas yang dilakukan Tuhan tak pernah lepas dari hikmah dan manfaat kepada hambanya. Baik itu bersifat musibah yang secara kasat mata merupakan sebuah mudarat kepada sang hamba, namun jika ditelisik lebih dalam, maka di dalamnya tersimpan sejuta hikmah untuk mendidik hambaNya. Unsur qudrah inilah yang memiliki peran penting dalam mewujudkan perilaku manusia dari tataran ide ke sebuah realitas. Qudrah adalah unsur yang pertama.
Unsur yang kedua yang dibekali Allah kepada seorang hamba untuk berperilaku secara bebas, adalah ilmu. Ganjaran dan sangsi yang akan diberikan oleh Allah kepada seorang hamba, dapat dikatakan adil, ketika sang hamba tahu bagaimana karakteristik perilaku dan aktifitas yang ia perbuat. Perilaku manusia dapat dihukumi jika dia memiliki pengetahuan terhadap apa yang ia kerjakan. Demikian pula terhadap dampak sebuah perbuatan baik itu positif atau negatif dari perilaku itu. Olehnya itu Tuhan telah membekali manusia dengan seperangkat alat untuk mengkonsumsi sebuah pengetahuan, diantaranya sebuah pengetahuan dasar yang bersifat aksiomatis, panca indera yang berfungsi untuk menangkap informasi mentah yang ia peroleh dari problematika yang ada di sekitarnya, dan akal untuk meramu informasi yang diterima untuk dijadikan pedoman dalam beraktifitas dalam kehidupannya. Ketika seorang hamba secara sadar dan mengetahui dampak yang akan dihasilkan oleh perilakunya, maka perilaku itulah yang bisa diberikan putusan. Apakah periku itu baik atau buruk.
Unsur yang ketiga dianugerahkan Allah kepada hambanya untuk beraktifitas di atas bumiNya, adalah, ikhtiar atau iradah (kebebasan untuk memilih bertindak atau tidak). Sebab jika kemampuan, dan pengetahuan terhadap dampak dari perilaku yang tidak dibarengi kebebasan dalam memilih beraksi atau tidak, tak akan bernilai apa-apa, tanpa dibarengi dengan sebuah kebebasan. Sehingga syarat sahnya suatu perbuatan untuk diadili adalah pelaku dalam aktifitasnya itu bebas untuk menentukan apakah ia ingin melakukan perbuatan itu atau tidak. Sehingga seseorang yang dalam keadaan terpaksa tidak akan dikenai sangsi dan ganjaran terhadap apa yang ia perbuat.
Ketiga unsur inilah yaitu, qudrah, iradah dan ilmu adalah merupakan komposisi dasar untuk meramu aktifitas seorang manusia. Perintah dan larangan yang dibebankan Allah kepada para manusia yang ada di bumi ini, baru akan menemui nilai keadilan jika dibarengi oleh ketiga pilar utama tadi. Sebab percuma bagi Allah memberikan sebuah ganjaran terhadap ketaatan seorang hamba yang ketaatan itu merupakan buatan Allah sendiri. Demikian juga akan sangat tidak adil, jika Allah memberikan sangsi kepada seorang individu jika kemaksiatan itu merupakan paksaan dari Allah. Di sinilah kepiawain Mu’tazilah dalam mengkultuskan dan mengagungkan Tuhan. Dengan memberikan kebebasan kepada seorang hamba dalam berperilaku, dengan sendirinya akan menafikan segala bentuk kejahatan Tuhan terhadap seorang hamba. Berbeda dengan Asyirah, mereka mensucikan dan menuhankan Tuhan, dengan memberikan segala bentuk kekuasaan kepada Allah. Baik itu kekuasaan yang bersifat konotatif atau denotatif. Namun celahnya adalah ketika kekuasaan itu berbenturan dengan kemampuan manusia dalam melakukan aktifitasnya, sehingga Asyairah rela menghilangkan sifat manusiawi manusia demi menuhankan Tuhan secara absolut. Hal inilah yang ditengarai oleh Mu’tazilah, dia memberikan sifat dinamis kepada seorang manusia tanpa harus menodai kesucian Tuhan. Sehingga wajar jika pemikiran dan intepretasi Mu’tazilah lebih condong memanusiakan manusia dari pada mengkerdilkan potensi yang dimilikinya. Jadi tak ada lagi tuhan yang bengis dan kejam yang tak ditanyai terhadapa setiap aktifitas yang ia kerjakan. Tuhan dalam paradigma Mu’tazilah adalah perwujudan Zat yang memiliki hikmah yang tak bertepi. Setiap perbuatan yang kerjakan merupakan kulminasi keadilan yang tak ada lagi keadilan setelah itu. Dia tidak ditanyai terhadap apa yang ia kerjakan (sebab yang Ia kerjakan merupakan cerminan titik tertinggi dari sebuah keadilan), akan tetapi Allah lah yang akan mengadili tiap perbuatan manusia (sebab perbuatan mereka mengandung kezaliman dan keadilan). Laa yus`alu amma yaf’alu wa hum yus`aluun... Igfirna yaa Rabb...

0 comments:
Post a Comment