Sunday, November 9, 2008

Kesedihan Syi’ah, Ada Apa???

Abu Faraj Isfihany dalam muqaddimah kitabnya Maqatil Thalibin berkata: “Kami menyebutkan dalam buku ini, kisah pembunuhan anak-anak Abu Thalib. Mulai dari masa Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersekokongkol dalam pembunuhannya, baik itu dengan meracuni mereka sehingga mereka wafat. Atau mereka yang takut kepada pemerintah sehingga mengasingkan diri dan wafat dalam persembunyiannya. Atau mereka yang tertangkap oleh penguasa lalu dipenjarakan dan akhirnya meninggal dalam buih”.

Kisah Syi’ah pada mulanya tak lebih dari goncangan jiwa yang dirasakan oleh kaum muslimin. Sebuah keniscayaan yang terjadi ketika anak, cucu dan keturunan dari orang yang sangat kita cintai dibunuh dan dibantai di depan mata kepala kita. Hati siapa yang tidak sakit, yang mendengar Hasan mati diracuni? Padahal sebelumnya dia telah memberikan kekuasaan kepada Mu’awiyah dan berdamai kepadanya! Dia rela mengorbankan kekuasaannya, bahkan dengan jiwa yang dimilikinya. Demi menjaga dan membela darah kaum muslimin, agar tak tertumpah lagi. Hati siapa tak akan miris, melihat kepala Husain diarak menuju Syam, demi menjadi persembahan kepada Yazid bin Mu’awiyah? Bahkan anaknya yang masih kecil pun, Ali Zain Abidin hampir menjadi korban sabetan pedang panglima perang Yazid. Untungnya kala itu, para wanita alu bait memelas dan memohon dengan susah payah agar anak yang mungil ini dibebaskan! Hati siapa yang tak akan terbakar oleh api dendam, melihat jasad Zaid bin Ali -anak Ali Zainal Abidin- ditancapkan di tiang kota Kufah? Seolah dengan membunuhnya merupakan sebuah kebanggan terbesar yang dimilikinya!

Betapa memilukan ketika melihat keturunan Rasulullah diperlakukan dengan semena-mena oleh para penguasa. Ketika semua itu terjadi maka akan bermunculanlah ratapan, hija` dan ritsa yang dilantunkan oleh seluruh umat Islam, kecuali penduduk Syam, markaz dan ibu kota dinasti bani Umayyah. Akibat dari kejadian yang sangat memilukan ini, berupa keberanian untuk menghina dan mencela keturunan Rasulullah yang suci ini. Beberapa akidah liar bermunculan demi menjustifikasi perbuatan para penguasa. Ijbariyah merupakan konsekuensi dan senjata ampuh untuk melegitimasi kezaliman yang merajalela. Sebuah penafsiran yang semena-mena terhadap Alquran, di mata mereka kejahatan dan kezaliman yang mereka lakukan sudah menjadi ketetapan Tuhan di zaman azal. Mendengar hal ini Hasan Bashri sangat geram dengan perlakuan mereka, dan mengatakan bahwa, “mereka adalah musuh Allah yang mendustakan ayat-ayat-Nya”. Selanjutnya dari keberanian para penguasa dalam menyetir dan membelokkan ayat Alquran, maka menjadi salah satu pemantik dan pemicu ajaran-ajaran miring dalam dunia Islam. Bahkan golongan mulhid dalam Islam, salah satu pemicunya adalah keberanian penguasa sebelumnya menghina dan menjelekkan, baik itu Ali ra. ataukah keturunan Rasulullah. Ini satu sisi akibat perlakuan kasar penguasa terhadap kerabat Rasulullah saw. Ini adalah salah satu dimensi kelam akibat kejadian Karbala yang sangat memilukan dan mengobarkan api dendam. Di segi lain juga menimbulkan penyesalan yang berlarut-karut pada masyarakat Kufah.

Dari peristiwa Karbala disana ada beberapa mauqif ,dan akhirnya nanti akan menjadi ladang subur tumbuhnya benih-benih ghulat di tubuh Syi’ah. Mauqif yang pertama, berupa pembalasan dendam terhadap para pembunuh Husain. Pada mulanya ini hanya berjalan normal di tangan Mukhtar bin Abu Ubaid Tsaqafi,-anak sahabat Rasulullah, Abu Ubaid Tsaqafi, dia adalah panglima perang Umar bin Khatthab, dan syahid dalam peristiwa Jisr.- dan di bawah kontrol Muhammad bin Hanafiyah. Namun akibat pengaruh dari kepercayaan kaum Majusi dan beberapa kepercayaan yang masih tersisa di Kufah, menambah keruh keadaan ini. Sehingga bermunculanlah mitos-mitos yang tak pernah ada dalam Islam. Diantaranya Muhammad bin Hanafiyah adalah sang mahdy yang disembunyikan oleh Allah di bukit Radhwa, akibat keteledorannya mengunjungi khalifah Umayyah. Dikanannya ada harimau dan di kirinya ada serigala, dia mendapatkan makanan dari sumber madu dan mata air yang jernih. Dan jika saatnya tiba, dia akan keluar memerangi kejahatan dan memenuhi alam ini dengan keadilan. Selanjutnya kepercayaan ini bernama Kisaniyah. Dan Kisaniyah akan terus tumbuh subur dalam Islam, Abu Ja’far Manshur pendiri dinasti Abbasiyah,-kerajaan terbesar di ashr wushta-berhutang budi pada keyakinan Kisaniyah. Bukan cuman itu, Hamdan bin Asy’at,-pendiri Qaramithah-akhirnya membentuk gerakan separatis yang bertujuan menggulingkan dinasti Abbasiyah. Dan itu berhasil, bahkan Abu Tahir,-pemimpin Qaramithah yang paling disegani- berhasil memasuki masjid Haram dan membantai kaum muslimin yang sedang melakukan haji. Tatkala dia mengambil Hajar Aswad dan membawa ke markasnya. Dia sempat berkata, “sudah berapa lama kau disembah, namun kezaliman terhadap alu bait masih terjadi dan sang mahdy belum muncul juga”. Ironisnya lagi waktu itu, kaum muslimin berhaji selama 23 tahun tanpa mencium Hajar Aswad.

Mauqif yang kedua, akibat kesedihan yang berlarut-larut yang dialami oleh kaum muslimin. Khususnya masyarakat Kufah, yang berjanji membantu Husain ra. membantu beliau untuk menghadapi penguasa yang lalim. Namun mereka ternyata mengingkari janji mereka dan membiarkan Husain dibantai di Karbala. Rasa bersalah ini, membuat dada mereka semakin sesak dengan penyesalan. Akhirnya muncullah sebuah aktifitas yang tak pernah dikenal dalam Islam, yaitu gerakan Tawwwabun. Yang membunuh diri mereka sebagai balasan ketidaksetiaan mereka terhadap janji mereka kepada Husain. Di sisi lain akibat kepedihan yang diderita di Karabala, mulailah bermunculan akidah dan kepercayaan liar yang sebelumnya tak pernah ada. Pada awalnya, ini hanyalah aktifitas ratapan yang sangat sederhana yang dialami oleh masyarakat Kufah. Dan lebih lagi jika hal ini, terjadi di kalangan para wanita Kufah. Maka akan semakin memperkeruh keadaan dan akan menambah buruk citra dinasti Umayyah di kemudian hari. Di Kufah tepatnya ada dua tempat, yang menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih ekstrim dalam tubuh Syi’ah. Yang pertama di rumah Hindun binti Na’ithiyyah dan kedua di rumah Layla binti Qumamah. Kedua rumah ini adalah halaqah untuk membentuk kader dan simpatisan Syi’ah, demi merongrong kedaulatan dinasti Umayyah. Dari kedua halaqah ini, lahirlah Abdullah bin Nauf. Dia adalah orang yang pertama menyerukan fikrah bida` dalam Islam. Sehingga jelas bahwa halaqah dari Hindun dan Layla, adalah medan yang empuk untuk tumbuhnya penafsiran Alquran dengan metode Syi’ah dan tentunya ladang benih pemikiran Gnosis dalam Islam. Dan kemudian akan diperkeruh oleh para zindiq dan orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan Islam.

Selanjutnya setelah peristiwa Karbala yang memilukan itu, bermunculanlah aliran dan sekte yang mengatasnamakan Islam. Pada mulanya adalah keinginan untuk mengkudeta penguasa yang ada. Namun karena sebagian besar gerakan revolusi mereka gagal dan pemimpin mereka tewas di medan perang dengan sangat sadis,-salah satu kebiasaan bani Umayyah, ketika berhasil menghentikan perlawanan dari Sy’ah. Mereka mengarak kepala panglima perang Syi’ah dan di pertontonkan di khalayak ramai.- sehingga membuat mereka putus asa. Kesedihan yang berlarut, ditambah kegagalan yang tertuai di mana-mana, membuat mereka mencari tempat yang pas untuk menumpahkan rasa depresi mereka. Salah satunya fikrah ruj’ah, bahwa yang mati bukanlah pemimpin mereka. Yang mati hanyalah syetan yang diserupakan dengan pemimpin mereka! Jika Allah mampu menyelematkan Isa dari kejaran Yahudi, mengapa tidak Allah mampu menolong pemimpin mereka yang nota bene adalah penolong Rasulullah, kekasih-Nya yang Dia cintai? Dari rasa depresi yang mendalam ini juga, lahirlah fikrah imam muntazhar atau messianik, demi menampik rasa kegagalan yang mereka rasakan. Sehingga imam yang dua belas merupakan cerminan dari sikap ini. Demikian juga gerakan Ismailiyyah lahir dan medapatkan tempat yang pas, ditengah orang-orang yang merasa keterpurukan yang mendalam. Ironisnya, komunitas ibahy atau komunitas permisif yang sebelumnya tak ada dalam Islam. Komunitas yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh syari’at, menghalalkan khamr, komunitas yang menghalalkan berhubungan dengan wanita mana saja, yang membatalkan kewajibat salat, bahkan menghalalkan darah kaum muslimin, muncul ditengah itu semua. Semuanya dengan berdalih atas nama imam. Dengan mengetahui sang imam, maka taklif akan runtuh. Demikian juga hal yang sangat disayangkan, mengapa harus ada penghinaan terhadap para Sahabat, alih-alih Abu Bakar dan Umar. Jikalau kita mau obyektif, memang wajar mereka berbuat anarkis terhadap para penguasa-bani Umayyah-. Namun mengapa harus kepada Abu Bakar dan Umar? Apa salah mereka?

Sekali lagi, dalam menghakimi Syi’ah, satu hal yang perlu kita tekankan. Yaitu kita tidak akan mampu menghakimi mereka dengan pendekatan psikologis. Wallahu a’alam.

0 comments:

Post a Comment