Sunday, November 9, 2008

Atomisme dan Manifestasi Kekuasaan Tuhan

Abu Huzail ‘Allaf adalah filosof Mu’tazilah yang pertama dalam dunia keilmuan Islam yang menelorkan qadhayah ini. Bahkan Abu Huzaillah, filosof pertama yang berusaha mengadopsi problematika filsafat dan membungkusnya dengan cover Islam. Sehinggga tak heran ketika Samy Nassyar mengatakan bahwa, “dialah filosof Islam yang pertama”. Bukan tak beralasan, Abu Huzail mampu menunjukkan identitas muslimnya, ditengah pergolakan pemikiran yang terjadi di dunia Islam kala itu.

Sebelumnya, problematika metafisika begitu marak membahana di dunia Islam. Sehingga memancing Abu Huzail untuk turut menyelami samudra metafisik. Dia berusaha membentuk sebuah korelasi antara alam ‘ulya dan sufla. Salah satunya, relasi antara qudrah dan iradah Tuhan dengan alam ini. Alam dalam kacamata Abu Huzail adalah berubah dan tidak tetap. Sehingga terapi untuk problematika ketidaktetapan alam ini, ditawarkanlah sebuah solusi atomik. Selanjutnya di dunia Islam disebut juz`u la yatajazza` atau sering diistilahkan dengan jauhar fard.

Hal yang cukup menarik disini, disana tidak ada kontra dari musuh Abu Huzail tentang problematika jauhar fard. Khususnya dari kalangan Asya’irah, bahkan pemikir Asya’irah sendiri mengadopsi pemikiran ini. Dengan kata lain, musuh Abu Huzail telah rela dan ridho dengan pemikirannya. Walaupun yang nantinya membantah dan menolak pemikirannya ini, adalah Ibrahim Nazzham, -murid Abu Huzail sendiri- dan Ibnu Hazm.

Jauhar fard, didefinisikan oleh Abu Huzail sebagai, “partikel atomik yang terjauh, sehingga tak mempunyai sisi dan volume, serta tak dapat disatukan atau di pisahkan”. Demikian yang disebutkan oleh Asy’ari dalam Maqalatnya. Defenisi ini terus dimodifikasi oleh para teolog Asya’irah dan terkulminasi pada definesi yang berikan oleh Jurjani dalam Ta’rifatnya yaitu, “ parikel yang tak mampu lagi dipisahkan secara mutlak baik dari secara real (kharijy) maupun secara hipotesis (furudh)”. Menurut Abu Huzail, segala sesuatu terbentuk dari jauhar fard, segala sesuatu dapat terpecah menjadi partikel-partikel yang sederhana ini. Ketika partikel-partikel ini menyatu maka terciptalah sebuah materi, sama halnya ketika mereka terpisah yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran materi itu. Sehingga jelas, bahwa alam maupun makluk hidup tercipta dari penyatuan partikel ini. Begitu juga kehancurannya, terjadi akibat dari benturan dan ketidakberatuan dari partikel itu. Bahkan Abdurrahman Badawy menambahkan bahwa, “karekteriktis tiap meteri tersusun dan terbentuk dari susunan jauhar fard”.

Menilik interpretasi ‘Allaf tentang atomisme, sedikit terbetik adalah keserupaan pandangan ‘Allaf dengan para filosof Yunani. Baik itu pencetus pertama pemikiran ini yaitu Leucippus, yang kemudian diperhalus dengan sentuhan Democritus. Namun mereka bukanlah pemilik pemikiran ini, di kalangan pemeluk Hindu juga terdapat pemikiran seperti ini. Dari sinilah ‘Allaf menunjukkan identitasnya sebagai filosof muslim yang tak hanya membebek dengan apa yang datang sebelumnya. Baik itu dari peradaban Yunani, Helenistik, ataukah dari peradaban Hindu, yang semuanya sama mewarnai corak dunia Islam waktu itu. Bahkan tak jarang konfrontasi akal dan perdebatan terjadi di antara dua kubu, serupa dengan natural selection, yang benarlah yang menang. ‘Allaf mampu terlepas dari momok hylotheisme-paradigma yang menjadikan materi sebagai tuhan-, yang kelam menyelimuti Yunani di masa para filsosof mereka. Maka tak heran ketika Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya, belum mampu menerima paradigma creatio ex-nihilo atau khalqu min ‘adam. Sebagai mana yang dikatakan oleh Muhammad Bahiy. Dari keengganan menerima creatio ex-nihilo inilah, yang akan melahirkan pemikiran ‘alam qadim ataukah maddah azaliyah dalam pemikiran filosof Yunani dan selanjutnya dianut oleh Ibnu Sina, Farrabi, Ibnu Rusyd dan lainnya.

Pada awalnya atomisme ditangan Democritus, Leukippus dan di kalangan Epicureanis tak lebih dari sekadar paradigma mekanik yang liar. Alam dan seluruh isinya dalam pandangan mereka tercipta dari partikel-partikel atomik ini. Demikian juga, partikel-partikel ini bergerak secara otomatis, dari gerakan otomatis inilah semesta tercipta. Bahkan mereka menganggap partikel-partikel ini azali dan kekal. Akhirnya bermuara pada penafian Tuhan dalam penciptaan ini dan menumbuh-suburkan benih–benih hylotheisme, yang telah tumbuh dengan liar di kalangan masyarakat Yunani pada masa itu, dan ‘Allaf mampu terlepas dari itu semua.

Dalam kuliah yang disampaikan Oleh DR. Husaini Ghazali di universitas Al-Azhar menjelaskan bahwa, di sana ada tiga perbedaan mendasar atomisme yang dianut oleh muslimin dan ‘Allaf khususnya, yang sangat bersebrangan dengan para penganut mazhab dzurry Yunani dan Hindu. Pertama, atom dimata ‘Allaf adalah hadis-baharu-, berbeda dengan yang dianut oleh pendahulunya. Menurut mereka partikel-parikel ini azali dan qadim. Kedua, partikel atomik ini tak mempunyai kemampuan untuk bergerak, diam, ataukah menciptakan sesuatu dengan secara otomatis. Akan tetapi seluruh aktifitas dari partikel atomik ini diatur dan dibentuk oleh qudrah, iradah, dan ilmu Tuhan. Sedangkan yang dianut oleh pendahulunya yaitu kemampuan otomatik yang dimiliki oleh partikel atomik ini. Ujungnya nanti berakhir kepada penafian Tuhan dalam aktifitas penciptaan dan kreasi semesta ini. Ketiga, atom ‘Allaf tak kekal dan fana, yang nantinya penafian terhadap reinkarnasi dan kekekalan alam ini. Berbeda yang dipercayai oleh golongan Hindu yang adanya reikarnasi dari kehidupan ini. Hal ini di amini oleh Samy Nassyar dan Abdurrahman Badawy.

Berdasar dari asumsi ini, Abu Ridah membantah pendapat Benis, seorang orientalis yang menganggap pemikiran dzurry ‘Allaf hanyalah menjiplak pendapat Democritus sebelumnya. Bahkan dengan tegas Abu Ridah menganggap bahwa keserupaan di antara keduanya hanyalah sebatas nama saja. Disamping adanya perbedaan yang sangat substansial antara pemikiran ‘Allaf dengan pemikir penduhulunya baik itu Demucritos, Leukippus atau dari Hindu. Juga tidak ada nash yang pasti mengatakan bahwa ‘Allaf menjiplak pemikiran mereka. Lagi-lagi hal ini mengisyaratkan kepada kita, betapa luas dan betapa dalam wawasan ‘Allaf terhadap pemikiran yang beredar di dunia Islam waktu itu. Demkian juga menunjukkan bahwa filsafat Yunani tak mampu menghegemoni para pemikir dan filosof muslim.

Mungkin ada pertanyaan yang cukup mengganjal di benak kita. Apa tujuan ‘Allaf mengadopsi pemikiran seperti ini? Demikian juga, mengapa Asyairah mengambil dan mengikuti pendapat ‘Allaf? Apa kontribusi paradigma ini dalam menyikapi problematika metafisika yang mewarnai dunia Islam selanjutnya? Imam Asy’ary mamaparkan nash berikut dalam Maqalat Islamiyyinnya, yang mengisyaratkan tujuan diadopsinya pemikiran ini oleh ‘Allaf:
<...قال أبوالهزيل: إن الجسم يجوز أن يفرقه الله سبحانه و يبطل فيه من الإجتماع حتي يصير جزءا لا يتجزء...>
Nash ini menggiring kepada kita kepada sebuah natijah yang hendak dicapai oleh ‘Allaf. Yaitu penetapan akan qudrah, iradah dan ilmu Allah swt. Selanjutnya untuk membantah akan kekelan zaman atau waktu. Karena menurut para filosof klasik, bahwa zaman merupakan sebuah rangkaian yang tak terbatas, dan tak terhingga. Jikalau segala sesuatu dapat dipecah menjadi jauhar fard, maka akan mudah untuk sampai kepada singularitas waktu. Tentunya akan menggiring kepada teori penciptaan yang hadis dan baharu- baca creatio ex nihilo-. Demikian juga, kaum muslimin seluruhnya berkeyakinan bahwa kekuasaan Allah tak terbatas. Salah satu dari manifestasi penjabaran kekuasaanNya yaitu, Allah mampu memecahkan dan membelah sesuatu materi menjadi partikel atom yang paling terkecil. Sehingga tak ada lagi hipotesa yang mampu menjadikannya terbelah atau tebagi dua. Ini mungkin yang mungkin kurang dipahami oleh Ibnu Hazm ketika membantah ‘Allaf. Jauhar fard di mata ‘Allaf adalah atom yang yang tak dapat lagi dipecah maupun dibelah kesisi yang terjauh, walaupun itu menggunakan hipotesa akal. Sedangkan menurut Ibnu Hazm dan Nazzham, bahwa selama sesuatu itu mempunyai bentuk-shurah- maka hipotesa akal mampu memecahnya dan membelahnya.

Walaupun Ibnu Hazm dan Nazzham berselisih pendapat dengan ‘Allaf dan mutakallimin umumnya. Disana ada sebuah benang merah yang menyatukan mereka, yaitu kemampuan Tuhan yang tak terbatas. Ketika Ibnu Hazm dan Nazzham berpendapat bahwa sesuatu tak mampu dipecahkan menjadi partikel yang terkecil. Disana ada rahasia di balik ini. Yaitu qudrah-kemampuan- Allah yang tak terbatas. Mereka meyakini ketika para mutakallimin mengatakan bahwa Allah dengan qudrahNya mampu memecah dan membagi sesuatu menjadi yang paling terkecil. Maka, mereka membalik hipotesa ini. "Jikalau Allah mampu membaginya kesesuatu yang terkecil dengan qudrahNya. Mengapa tidak, Allah mampu memecahnya dan membaginya sampai kesesuatu yang tak terhingga dengan menggunakan qudrah yang sama???". Demikian bantahan Ibnu Hazm dalam Fishalnya.

Disisi lain, ketika ‘Allaf menelorkan paradigma atomiknya, maka di sana juga ada sebuah natijah yang ingin ditujunya. Dia ingin sampai kepada sebuah penetapan kompleksitas qudrah Allah yang sempurna. Selain itu, dia ingin mencapai kepada seuatu yang lebih jauh lagi. Yaitu ¬komperehensitas dan kesyumulan ilmu Allah. Karena ketika sesuatu terbatas, maka dengan mudah untuk menetapkan, bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Demikian juga dengan menggunakan metode atomik ini Allaf mampu menetapkan iradah Allah Yang Mutlak. Dengan pemecahan partikel keatom yang terkecil mengisyaratkan bahwa, segala sesuatu itu mudah bagi Allah. Selama Allah menginginkannya. Sehingga tak ada susah maupun mudah di sisi Allah, karena Dialah Yang Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari sini penulis melihat bahwa, ‘Allaf mengakui adanya tapal batas yang tak mampu dilampui oleh manusia. Walaupun itu hanyalah sebuah hipotesa dan furudh semata.

Dari sini, kita melihat bagaimana kebrilianan ‘Allaf mampu mensinergikan semua potensi yang ada, demi memebentuk corak dan karakterstik kaum muslimin. Demikian terlihat jelas bagaimana ‘Allaf memfilter setiap kebudayaan yang ada. Tanpa harus membuangnya ataukah menolaknya. Akan tetapi dengan memanfaatkannya dengan jalan yang bijak. Subhanaka laa ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka Antas Sami’ul ‘Aliim.

0 comments:

Post a Comment