Sesungguhnya hanya orang yang berimanlah yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebutkan dan kepada Allah mereka bertawakkal… (QS:Al-Anfal:02)
Titik kulminasi spiritual tertinggi seorang hamba adalah ketika dia mampu mengecap kelezatan akan indahnya bermunajat dengan Tuhannya. Ketika seorang pencari Tuhan mampu bercengkrama dengan intim bersama Kekasihnya. Ketika dia mampu melepaskan semua cintanya, dan menghadiahkan seluruh cinta itu kepada Pencipta cinta itu sendiri. Ketika setiap ucapan yang mengalir dari lisannya, seluruh gerak yang tercipta dari tubuhnya, semua nafas yang terhembuskan, semuanya adalah simfoni tasbih untuk memuja kebesaran Tuhannya. Maka saat itu dia akan terhanyut dalam kelezatan spiritual yang hebat. Saat itu dia terbakar oleh api keagungan Tuhan yang menderanya. Kala itu dia akan merasakan kenikmatan yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, tak pernah terlintas dalam pikiran dan tak pernah terbersit di dalam hati.
Kenikmatan ini merupakan sebuah absolusitas yang pasti akan dikecap oleh seorang hamba. ”Ketahuilah dengan mengingat Allah, akan menenangkan hati”, merupakan hal yang telah dijanjikan Allah dalam Alquran. Tuhan telah menyebar undangan pesta zikir kepada seluruh penduduk bumi. Allah telah mengutus sang Jibril dan Muhammad untuk menebar undangan itu. Sebuah jamuan yang dihidangkan kepada setiap hamba yang lapar akan keindahan, yang dahaga terhadap ketenangan. Dia telah mempersiapkan sebuah hidangan zikir yang lezat untuk disantap bagi pecandu Tuhan. Dia telah menata tiap sudut surga untuk menjadi tempat tinggal para kekasihNya, dan kenikmatan yang terbesar yang akan diraih oleh para hambaNya, ketika Sang Tuhan membuka hijab yang menyelimuti keindahannya. Dia bertajalli kepada hambaNya, kala itu merupakan moment yang paling dinanti oleh para pencariNya. Betapa tidak, selama mereka bercinta denganNya, mereka hanya membaca ‘surat-suratNya’, mereka hanya mampu menyebut-nyebut keindahanNya, keaguangan yang Dia miliki selama ini hanyalah tergambar dari balik tirai ciptaanNya, kebesaranNya yang selama ini menggema hanya terdengar dari untaian tasbih yang dilantunkan oleh penduduk semesta. Kini sang hamba itu melihat Sang Kekasih yang lama bersembunyi dengan mata hatinya. Sang hamba tak mampu melukiskan betapa indah dan agung zat Tuhannya itu, sebab, perasaan yang terbatas tak mampu untuk menggambarkan keagunganNya yang tak terbatas. Yang dia tahu, bahwa setiap sel dari tubuhnya semuanya terjerembab larut dalam kelezatan memuja Tuhan yang tak bertepi. Setiap nafas yang berhembus, setiap darah yang mengalir, setiap helai rambut yang bergoyang, semuanya refleks untuk bersujud dihadapan Sang Maha Indah. Dia menyesal kenapa tidak sejak dahulu dia menyerahkan setiap kepingan hidupnya untuk Penciptanya… Inilah jamuan Tuhan yang Dia persiapkan di Kehidupan yang kedua nanti.
Di bumi, Allah tak lelah untuk mengajak hambaNya untuk hidup dalam tatanan keindahan yang telah diaturNya. Dengan perantara Muhammad, Dia memerintahkan kepada pesuruhnya itu untuk tak membatasi para pencari Tuhan yang akan menaiki bahtera yang akan berlayar menuju arasyNya. Dia memberikan tumpangan cuma-cuma kepada setiap hamba yang ingin bertemu denganNya. Dia bahkan tertawa kegirangan ketika ada hamba yang dulunya bergelimang dalam kubangan maksiat dan berusaha untuk membenci Penciptanya, kini dia bertobat kepadaNya dan menaiki bahtera yang mengantarnya nanti kepada Allah Yang Agung. Dia sangat gembira dengan hal itu, bahkan kegembiraan itu mengalahkan kegambiraan sang ibu yang telah kehilangan anaknya bertahun-tahun, hingga akhirnya sang ibu kembali menemukan anaknya yang hilang itu. Kegembiraan Tuhan yang kedatangan hamba yang mau bertobat kepadaNya melebihi kegembiraan sang ibu tadi. Allah saat ini benar-benar memanggil setiap hambaNya untuk beranjak menuju kepadanya, Dia datang mengetuk tiap pintu hati hambanya agar mau mengenal Dia lebih dekat, ketika sang hamba bertanya tentang Dia maka Dia dekat, Dia ada ketika mereka meminta, Dia ada dalam tiap detak jantungnya, Dia ada dalam tiap detik kehidupannya. Dia betul-betul menunggu hambaNya… Namun jamuan Tuhan sepi dengan pengunjung. Sangat sedikit hati yang mau terbetik untuk menyelami keindahanNya. Sangat sedikit mata yang mau berjaga diwaktu malam untuk menangis kepadaNya. Sangat sedikit lisan yang basah dengan mengagungkan kebesaranNya. Sangat sedikit tangan yang mau memberi demi ungkapan atas kepemurahan dan seberkas kasihNya. Sangat sedikit kaki yang mau melangkah mencari setitik keridhoanNya.
Tuhan sepi terhadap hamba yang mau menangis karena takut kepadanya. Tak ada lagi bekas tangis yang menghitam di bawah pelupuk mata, seperti bekas yang ada pada pelupuk mata Umar Bin Khattab akibat menangis karena takut kepada Allah. Tuhan sepi dari hati yang mau terbakar akibat takut terhadap siksa nerakanya. Tak ada lagi muka yang melebam, meringis ketakutan seperti wajah yang diperlihatkan Sofyan Atsaury karena takut akan neraka. Tuhan sepi dari jiwa-jiwa yang mau berusaha untuk mencapai keridhoanNya. Tak ada lagi tubuh yang seperti Abu Muhammad Al-Jariry, yang setahun dia tak pernah tidur malam, tak pernah merebahkan tubuhnya untuk berehat, tak pernah meluruskan kakinya, karena kesibukan beribadah kepada Allah. Tuhan sepi dari hamba yang mau menghargai setiap detik dari kehidupannya untuk bersiap menerima jamuan Tuhan di Hari Esok kelak. Tak ada lagi manusia yang seperti Daud Ath-Thai, yang tak mau meluangkan sedikit waktunya untuk mencukur jenggotnya akibat takut menghabiskan detik waktunya yang berharga. Tuhan sepi dari hamba yang mau mengajaknya bercengkarama di waktu malam, ketika para manusia terlena akan kenikmatan tidur. Tak ada lagi reinkarnasi Rabi’ah Adawiyah, yang mengajak Tuhan bermesraan di waktu malam. Dia berkata kepada Tuhannya, “malam ini setiap manusia bersama dengan tiap kekasihnya, maka Engkau adalah perhiasan cintaku, izinkan bibir ini memujamu, tubuh ini menyembahmu, sebab engkau adalah lentera kasihku”.
Tuhan benar-benar sepi dari hamba yang seperti itu… hamba yang tiap gerak, perkataan dan pikirannya adalah ritme dari lantunan simfoni tasbih yang ia persembahkan kepada Penciptanya. Hamba yang tiap tangis yang membasahi di pelupuk matanya mengalir membasahi arasy Tuhan karena rindu dan takut kepadaNya. Tuhan benar-benar sepi dari hamba yang seperti ini… adakah yang mau berbagi kebersamaan dengan Tuhan..? Adakah yang mau melepaskan dari kekangan syahwat duniawi demi mendapatkan kenikmatan yang maha kekal di Akhirat sana..? Adakah yang mau mengorbankan sepertiga dari waktu tidurnya seraya menemani Tuhan di waktu malam..? Adakah yang ingin membeli ridho Tuhan dengan seonggok harta yang dikaruniakan Tuhan kepadanya..?
Semoga kesepianMu tak berlangsung lama Ya Allah…
Rabbana laa tuakhizna in nasina au akhta`na… Rabbana zhalamna anfusana fa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasiriin...
Ampuni hambamu yang tak pernah memberikan setiap hakMu yang ada padaku, ampuni aku yang tak menyembah dengan sebenar-benarnya…

0 comments:
Post a Comment