Akidah tauhid telah mengajarkan kepada umat Islam, bahwa pusat ontologi tertinggi adalah Tuhan. Keagungan, kemuliaan dan kebesaran adalah merupakan representasi dari wujud Tuhan yang Mutlak. Keagungan, kemuliaan dan kebesaran yang paling tertinggi hanyalah dimiliki oleh Tuhan. Di tangan Tuhan pulalah sumber segala keagungan dan kemuliaan, Dialah satu-satunya berhak memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendakinya (Ridho, vol III, 1947: 270). Ketika seorang muslim bersama dengan Tuhannya, maka keagungan dan kemuliaan ada dalam genggaman mereka, namun jika mereka menjauh dari Tuhannya maka kehinaan akan meliputi kehidupan mereka. Dengan menyandarkan diri kepada Tuhan berarti meletakkan harga diri dalam sebuah kemuliaan dan keagungan yang tanpa batas, dan sebaliknya jika dengan mejauh atau menyandarkan ego pada nafsu manusia maka orang telah melilitkan kehinaan di lehernya.
Dengan kata lain, konsep tauhid mengajarkan bahwa eksistensi tertinggi manusia akan tercapai ketika manusia mampu melebur kesombongan egoismenya dalam keagungan dan kemuliaan Tuhan. Namun perlu ditekankan bahwa peleburan yang dimaksud disini bukanlah peleburan yang bersifat panteistik, akan tetapi yang peleburan yang dimaksud di sini adalah peleburan egoisme dan nafsu dan menempatkan ruh kemuliaan dan keagungan Tuhan dalam dirinya (Iqbal, 2007: 105-106). Sehingga identitas manusia yang tertinggi adalah ketika dia mampu mengejawantahkan sifat Tuhan yang Agung dalam kehidupannya. Sikap penyerahan diri dengan segala bentuk atributnya selanjutnya akan menjadi ciri dan karakter khas yang dimiliki oleh seorang muslim. Sebuah identitas yang menyandarkan kemuliaan dan keagungannya kepada Tuhan.
Dampak positif dari konsep identitas yang diajarkan oleh ajaran tauhid adalah mampu menumbuhkan kepercayaan diri kepada setiap muslim. Kepercayaan diri ini sangat penting untuk membangun peradaban yang masih baru tumbuh. Apalagi Islam waktu itu hadir ketika beberapa persaingan peradaban betul-betul alot. Di satu pihak, imperium Bizantium berperang dengan Persia dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Di pihak lain, para penduduk daerah taklukan Islam yang masih menganut agama dan kepercayaan lamanya, berusaha untuk merebut kembali kebebasan mereka yang terenggut. Keadaan ini menuntut agar Islam memiliki identitas tersendiri untuk dapat hidup dan berjuang dalam kancah perebutan hegemoni tersebut. Konsep identitas yang diajarkan oleh tauhid mampu menjawab tantangan ini. Konsep identitas ini mampu menumbuhkan sikap percaya diri untuk hidup dan bertahan ditengah serangan ideologi yang ada.
Dengan berpegang teguh pada akidah tauhid kepercayaan diri yang terbangun dari kemuliaan Tuhan yang Absolut akhirnya membentuk individu yang kreatif dan inovatif. Ajaran tauhid yang mengajarkan bahwa kebenaran tertinggi ada pada Tuhan dan otoritas Tuhan absolut di segala lini kehidupan, menghendaki bahwa umat Islam harus berbangga dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, yaitu Alquran dan hadis. Kepercayaan diri yang tinggi dan kebanggaan besar terhadap Alquran dan Hadis mampu mempertahankan eksistensi mereka dalam kancah peradaban dunia. Kebanggan itu juga melahirkan semangat kreatif dan produktif untuk melahirkan karya yang mampu memberikan kontribusi penting terhadap peradaban Islam. Semangat kreatif tersebut mendorong mereka untuk mengeksplorasi lebih jauh sumber kebenaran yang mereka yakini yaitu Alquran dan Hadis. Sebab Alquran dan Hadis merupakan anugerah terbesar Tuhan kepada manusia. Slogan yang ada pada waktu adalah “nahnu qaumun a’azzanallahu bil Islam, inibtagahaina ghairahu adzallanallah”, kami adalah umat yang dimuliakan dengan dan karena Islam, jika kami mencari agama selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami.
Semangat kreatif tersebut selanjutkan melahirkan produk budaya yang brilian dan patut untuk mendapat apresiasi yang tinggi atas karya mereka. Hal tersebut dapat terlihat bagaimana Islam mampu melakukan inovasi pada segala ranah kebudayaan. Pada bidang pemerintahan, Islam akhirnya mampu mengembangkan konsep khilafah. Terlepas dari sisi kelam sistem khilafah tersebut, namun konsep pemerintahan Islam ini memiliki ciri yang tidak dimiliki oleh konsep pemerintahan dunia waktu itu. Dalam konsep khilafah mengindikasikan adanya upaya untuk menyatukan suku Arab di bawah satu pucuk kepemimpinan. Pada awalnya khilafah merupakan sebuah konsep yang positif dalam upaya membentuk sebuah imperium yang kokoh di bawah kepemimpinan yang satu dan mengayomi kelanggengan konsep tauhid dalam kehidupan umat manusia. Konsep khilafah juga mengajarkan bahwa perbedaan ras, suku, agama dan atribut lainnya dilebur dalam sebuah konsep wahdatul ummah, ummat yang satu (Fayyoumy, 1998: 12).
Di bidang keilmuan misalnya, dengan berdasar pada identitas yang berlandaskan asas tauhid, kreatifitas mereka juga mampu memproduksi ilmu-ilmu baru yang sebelumnya terpendam dalam Alquran dan Hadis. Ketika mereka berusaha memahami dan berinteraksi dengan Alquran, maka lahirlah ilmu tafsir, bahkan sebagian ulama menganggap bahwa ilmu tafsir merupakan salah satu ilmu yang mulia, sebab ilmu ini berinteraksi dengan kitab suci, dan berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya (Dzahaby: 11). Tak berlebihan jika dikatakan bahwa tafsir merupakan sebuah pendekatan baru untuk memahami kitab suci. Sedangkan dari interaksi umat Islam dengan Hadis Nabi, melahirkan sebuah cara pendekatan baru dalam mencari dan menerima sebuah berita yang benar. Orang yang mengaku telah mendengar sebuah berita atau pengajaran dari Nabi, maka dia harus membuktikan kebenaran klaim tersebut. Pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan menganalisa prilaku sehari-harinya atau dengan menggali informasi orang yang mengklaim orang tersebut dengan cara kritis. Ilmu ini dalam Islam dikenal sebagai ilmu Jarh wa Ta’dil. Selain ilmu Jarh wa Ta’dil lahir pula ilmu baru yaitu ilmu ushul hadits yang menjelaskan bagaimana menerima dan meneliti sebuah hadis Nabi dengan melakukan pendekatan kritis terhadap para periwayat hadis tersebut.
Ketiga contoh di atas mungkin cukup untuk menggambarkan seperti apa identitas umat Islam yang berlandaskan konsep tauhid. Walaupun karakter identitas tersebut mengarah kepada bentuk eksklusivisme, namun eksklusivisme tersebut mampu menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan memicu kreatifitas mereka. Perlu diakui juga, bahwa pada masa itu memang menuntut sikap ekslusif dari umat Islam, apalagi usia peradaban Islam yang masih muda. Namun ketika usia peradaban Islam yang telah tua dan telah matang apakah itu berarti umat Islam sudah tidak perlu lagi memperlihatkan atribut keislamannya? Selama kebanggaan itu mampu mengarah kepada hal yang positif, kebanggaan itu perlu dan bahkan harus dimiliki oleh tiap-tiap muslim.
Sayangnya kebanggaan tersebut juga berbuah negatif. Seiring berlalunya waktu umat Islam masih terus bergelut dan terlena akan konsep identitas mereka. Sehingga mereka seolah tak mau membuka diri kepada dunia luar, dan terus berbangga dengan apa yang ada pada mereka. Kebenaran seolah telah disegel untuk mereka saja, sehingga ketika ada kebenaran yang ditemukan di luar kalangan mereka, mereka cepat-cepat mengatakan bahwa itu hanya ulangan atau kebenaran itu telah disampaikan sebelumnya baik oleh Alquran maupun hadis. Contoh yang paling konkrit terlihat bagaimana ilmu-ilmu keagamaan, baik itu tafsir, hadis, fiqh dan tasawwuf begitu mendominasi dalam dunia Islam sampai sekarang ini. Padahal apa yang dikaji dalam ilmu tersebut hanyalah merupakan ulangan dari bahasan para ulama terdahulu. Kajian mereka hanya sebatas memanaskan kembali sup yang telah dingin, mereka tidak mampu mengembangkan metode yang lebih kritis atau mengembangkan ilmu tersebut kearah yang lebih inovatif. Tak heran ketika kita melihat bahwa salah satu problematika yang dihadapi oleh umat Islam sekarang ini adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan turats yang merepresentasikan produk budaya dan sekaligus cerminan identitas umat Islam. Lebih ironis lagi ketika mereka berpuas diri dengan apa yang dihasilkan oleh para ulama yang terdahulu tanpa mau mengambil pelajaran dari umat dan bangsa lain. Melihat urgensi masalah ini, maka pada poin selanjutnya akan dibahas permasalahan tauhid dan ilmu pengetahuan.

0 comments:
Post a Comment