Dia adalah seorang filosof Andalusy yang hidup setelah Ibnu Bajah dan Gazhali. Dia hadir ketika hawa panas perdebatan filsafat, masih membahana di dunia Islam waktu itu. Takfir yang dilakukan Al-Gazaly masih menjadi momok bagi para sarjanawan muslim untuk menyentuh dan bergelut dengan literatur filsafat. Hal ini terlihat jelas dengan warna dan corak yang ditinggalkan Ghazali terhadap karya-karya yang mendominasi waktu itu. Misalnya banyak terjadi di pemikir Asya’irah yang berusaha menyembunyikan ajaran filsafat dilembaran karya kalamiyah. Namun beberapa Ulama berusaha mengeluarkan filsafat dari kerangkeng dan jeratan Al-Gazaly dan berusaha mendamaikan kedua kubu ini, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail.
Kedua filosof agung ini yang nantinya akan melancarkan jalan Ibnu Rusyd untuk mebangun puing-puing filsafat yang telah diporak-porandakan oleh Ghazali. Namun sebuah poin khusus untuk Ibnu Thufayl adalah ketika merekontruksi bangunan filsafat, dia berusaha mendekati Ghazali dengan pendekatan pisikologis. Hal ini tercermin jelas dalam kisah fiktifnya yang terkenal yaitu; Hayyu bin Yaqazhan. Gazaly oleh sebagian orang adalah orang yang pengecut, dia adalah tokoh yang setelah menghujam filasafat hatta hampir membunuhnya, justru melarikan diri dari sengitnya perdebatan, melalui tejun keduni tasawwuf. Poin terakhir ini yang menjadi nilai minus buat sang Imam kita.
Ketika dunia fiilsafat Islam yang begitu kelam, muncullah sang filosof yang sangat mumtaz ini. Dia datang mencoba mendamaikan antara kubu Al-Gazaly yang disini mewakili rayah diniyah danIbnu Sina, Farraby dan Al-Kindy yang membawa rayah falsafiyah. Dia mencoba mempersandingkan mereka ditempat yang satu dengan yang lainnya sejajar. Satu tempat ketika agama memandang falsafat tak perlu dengan tatapan sinis. Begitu juga ketika filsafat dan agama berpapasan, sang filosof tak perlu ketakutan dengan ancaman takfirnya. Ibnu Tufayl mendamaikan mereka dibawah tangan Hayyu bin Yaqazhan. Sebuah kisah fiktif yang dibuat oleh Ibnu Thufail untuk mendamaikan mereka yang nota bene mendamaikan antara agama dan filsafat.
Hayyu bin Yaqazhan dikisahkan sebagai seorang yang terbuang disebuah pulau sejak dia masih bayi. Tak ada yang menemaninya disana dia menyusu dari seekor rusa, dia menjalani kehidupannya sendiri, dia belajar untuk masak, makan, minum, berpakaian serta menjadi seorang manusia yang sempurna dengan sendiri. Hayyu bin Yaqazhan berusaha menyingkap tabir kehidupan serta, alam setelah kematian, dengan sendiri. Dia berusaha memikirkan penciptaan langit dengan sendiri. Namun, dia sadar bahwa dia tidak mampu memikirkan keluasan dan ketakterhinggaan langit itu.
Ketika dia mengetahui keterbatasannya itu, dia mengetahui bahwa disana ada Tuhan yang menciptakan dirinya, serta semesta ini. Dia tahu bahwa Tuhan yang menciptkan ini harus disifati dengan sifat dengan sifat yang betul-betul berbeda dengan makhluknya. Serta Sang Pencipta harus betul maha segala-galanya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah alam ini telah senantiasa ada bersama Tuhan (qadim), ataukah alam ini baru (hadits). Sebab ketika dia meyakini akan kejadian alam yang senatiasa tunduk pada hukum kausalitas pada ujungnya nati dia akan berpendapat bahwa alam ini senantiasa qadim. Namun ketika dia menemukan bahwa kadang ada sebuah perkara yang selamanya tidak mesti tunduk kepada hukum kausalitas, maka dia berpendapat bahwa alam ini hadist. Dia pusing, dia tak dapat menjawabnya, sebagaimana dia tak mampu untuk memastikan bahwa dari mana alam ini diciptakan bahwa alam ini diciptakan dari kekosongan yang mutlak (creatio ex nihilo) atau ada sebuah madah yang senantiasa ada bersama Tuhan? Dia menyerahkan ini pada penciptanya.
Kini dia beranjak kepada dirinya sendiri, ketika dia merasa tak mampu untuk menjawab hal-hal yang melangit. Dia kembali kebumi. Kini dia berusaha menjawab pertanyaan apa yang terjadi ketika dirinya telah meninggal. Dia terilhami ketika rusa yang menyusuinya selama ini mati. Dia pun menyelidiki penyebab kematian rusanya itu. Dia tak mendapati apa-apa. Kini dia berpendapat bahwa rusa yang meninggal itu sama seperti kejadian alam yang lain. Seperti siklus kehidupan ada yang datang ada pula yang pergi. Saat itu dia mulai berpikir apakah ketika dia meninggal? Akankah berakhir kehidupan ini? Ataukah disana ada kehidupan yang lain yang akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan siksaan kepada orang yang berbuat jahat? Dia berkesimpulan bahwa disana ada kehidupan setelah kehidupan ini.!!
Dia berpikir dan merenung untuk berapa waktu ... Dia merasa bahwa dirinya telah matang untuk meninggalkan pulau itu serta dia bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran yang diperolehnya itu kepada orang lain. Agar yang lain dapat menikmati dan mencicipi sebuah kebenaran yang hadir dari fitrah manusia yang tulus dan ikhlas untuk mencari sebuah kebenaran. Dia bertekad untuk meninggalkan pulau itu.
Setelah lama menunggu kapal yang melintasi pulaunya akhirnya diapun menemukan sebuah kapal yang akan mengantarkan dirinya kepulau seberang. Dia tiba di pulau yang ingin ditujunya. Di pulau itu dia mendengar tentang ajaran seorang Nabi, dia mencari tahu tentang ajaran sang nabi itu. Dia berkenalan dengan dua orang teman barunya, yang kebetulan mereka memeluk ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi tadi. Mereka menyampaikan isi ajaran Nabi mereka kepada Hayyu bin Yaqazhan. Dia terkejut. Dia melihat bahwa ajaran Nabi itu serupa dengan apa yang selama ini didapatkannya. Dia lalu beriman dan meyakini ajaran Nabi tersebut.
Setelah ketiganya akrab. Hayyu bin Yaqazhan menceritakan pengalamannya selama ini. Salah satu dari kedua temannya, adalah seorang ahli syariat yang tekstual. Dia bernama Salaman, temannya yang satu ini pun marah kepadanya dan menganggap bahwa akal tak mampu menemukan hakikat pencipta kecuali dengan wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Salaman pun mengusirnya. Tapi dia masih memiliki seorang teman yang masih setia bersama dia, yang bernama Absal. Absal adalah seorang ahli sufi. Setelah lama berdiskusi dengan Absal, Hayyu bin Yaqazhan pun berniat kembali bersama Absal kepulaunya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Dia memang harmonis bersama dan cocok bersama Salman. Niat mereka untuk kembali kepulaunya telah bulat. Ketika hendak meninggalkan pulau itu dia pamitan dengan Absal, serta memohon maaf kepadanya beserta ulama yang ada di pulau itu. Dia akhirnya meninggalkan pulau itu bersama Salman, menuju pulau yang yang ditinggalinya selama ini. Dia bersama Salman hendak menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan.
Demikian sekelumit kisah Hayyu bin Yaqazhan yang lebih sebuah metode simbolis yang di gunakan oleh Ibnu Tufail, untuk menyatukan antara agama dan filsafat. Tentunya masih perlu sebuah interpretasi yang lebih mendalam, untuk menguraikan makna dan penjabaran lebih lanjut tentang metafora yang ada dalam kisah ini. Lain kali kita lanjut.

0 comments:
Post a Comment