Setiap dari kita pasti pernah mendengar nama Aristoteles, semua orang yang menggeluti dunia akademis, mungkin pernah berinteraksi dengan nama ini. Kemasyhuran dia miliki cukuplah menjadi argumentasi akan kedudukan dan tempat Aristoteles dalam filsafat manusia. Dialah orang yang paling berpengaruh dalam dunia metodologi manusia, baik yang menolak atau yang mengidolakannya, tak akan mempengaruhi ketenaran Aristoteles. Tentunya untuk menyelami dan menggeluti filsafatnya makalah yang sederhana ini tak akan mampu untuk membahasnya. Sehingga di sini kita akan menekankan pada ilmu logik yang dia kemukakan. Yaitu yang kita kenal sebagai mantiq shury, dan itu telah kita pelajari di Azhar di tingkat satu dan tingkat dua. Jadi saya tak perlu lagi mengupas lebih dalam lagi masalah itu. Namun di sini saya berusaha memaparkan gambaran singkat mantiq Aristo dalam dunia Islam, serta pengaruh yang ada dalam mantiqnya ini.
Organon merupakan karya Aristoteles yang di terjemahkan ke dunia Islam, Organon ini, ketika diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tak lepas dari ta’liq dan syarah dari pengagum Aristoteles, diantaranya Alexander Ifradousi, dan Pourpiyus. Penerjemah yang paling terkenal dalam dunia Islam adalah Hunain bin Ishaq, dan Bassyar bin Mathiyus, dan Yahya bin Ady. Mereka semua dari kalangan Nasrany . Selanjutnya penafsir dari mantiq Aristoteles pertama dari golongan Islam adalah Al-Kindy sehingga dia dikenal sebagai ‘mu’allim tsany'. Namun penafsir terbesar di middle age dan paling berpengaruh pada masa renaissance adalah Ibnu Rusyd.
Kaum muslimin dalam menerjemahkan dan menjelaskan mantiq Aristoteles, tak hanya mengikuti dan membebek begitu saja, akan tetapi dia menambahkan maddah-maddah baru yang tak ada dalam mantiq Aristoteles. Misalnya korelasi bahasa dan makna dalam pembentukan pemahaman, subtansi dari makna sebuah kata, metode penetuan illat, dan lebih jauh lagi kaum muslimin membahas tentang metode dari bentuk qiyas –analogi- Aristoteles . Demikian juga kaum muslimin mampu melancarkan serangan kepada mantiq Aristoteles. Bahkan kaum muslimin ketika menyerang dan membantah mantiq Aristoteles, tak hanya menggunakan satu metode saja. Mereka menggunakan beberapa metode dalam mengeritik mantiq Aristoteles, diantaranya metode isyraqy sebagaimana yang dilakukan oleh Sahruwardy , metode istiqra dan penelitian sebagai mana yang dilakukan oleh para Ushuliy, dan metode Ibnu Taimiyyah yang belum pernah ada . Namun yang perlu diperhatikan di sini, adalah perbedaan mendasar antara metodologi kaum muslimin dengan metode kaum Yunani, Aristoteles pada khususnya. Aristoteles begitu tepengaruh pada bentuk dan format segala sesuatu, sehingga menurutnya, bentuk dan format sesuatu lebih mendahului dari materi yang membentuknya. Sehingga penekanan dalam analoginya adalah bentuk –format- dari premis qiyas itu sendiri. Berbeda dengan metodologi kaum muslimin, dia lebih menekankan pada aspek dari sebuah materi. Sehingga untuk melahirkan sebuah hukum yang kully diperlukan sebuah peneletian yang mencakup semua elemen dari sebuah masalah. Demikian juga diperlukan sebuah metode induktif –istiqra`- terhadap setiap juz`i dari sesuatu. Agar nantinya dapat mengetahui illat dari sebuah hukum. Kaum muslimin dalam menganalisa sebuah kasus, harus memastikan kesamaan illat, barulah mereka memfatwakan sebuah hukum. Sehingga metode mereka lebih menekankan pada percobaan dan metode induktif, dan metode ini merupakan salah satu metode abad moderen. Imam Syafi’i merupakan orang pertama dalam dunia Islam yang menelorkan dan menciptakan ini. Tak heran ketika Samy Nassyar begitu menyanjungnya.
Demikian juga, kaum muslimin mendirikan dan membangun pemikirannya melalui Alquran dan Sunah Nabi, sehingga dasar dari kerangka berfikir mereka terbangun dari kedua dasar ini. Sehingga apa yang ditetapkan oleh Alquran dan Sunnah merupakan sebuah kebenenaran yang pasti dan tak dapat diganggu gugat, selama itu tidak multi tafsir. Ketika nash itu multi tafsir maka mereka mengalihkan kepada makna yang rajih, dengan melihat situasi dan kodisi yang ada. Sehingga dari sini akan lahir mashalih mursalah, istihsan, sadd zara’i, dan syar min qablina. Sehingga metode Islam sangat fleksibel, dan bersinergi dengan zaman yang ada. Inilah perbedaan yang sangat substansial dengan metode Aristoteles, yang terlalu terfokus pada bentuk dan format pada dari sebuah analogi. Namun perlu penggalian lebih dalam lagi untuk memahami metode muslimin dan korelasinya dengan mantiq Aristoteles.
tamat...

0 comments:
Post a Comment