Tuesday, November 11, 2008

d. Plato dan Negara Ideal


Plato merupakan filosof yang pertama menyusun dan mengklasifikasi masalah dan problematika filsafat. Dia membahas masalah qadhayah filsafat di berbagai dimensinya. Dia adalah pendiri institusi yang sangat popular waktu itu, yaitu Akademi. Akademi terambil dari nama seorang pejuang klasik Athena yang bernama Akadimus . Akademi ini semacam komunitas ilmiyah religius, di Akademi ini, dia mendirikan sinagog, dan proses pengajaran berlangsung di sana . Dari Akademi inilah lahir beberapa filosof besar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia. Di antaranya Aristoteles dan Thimawus.

Plato merupakan seorang petuhan yang pertama dan peletak dasar dan sendi ketuhanan dalam sebuah metodologi filosofis . Tuhan di mata Plato adalah zat abstarak yang berakal, penggerak dan pengatur, indah dan kebaikan, adil dan sempurna. Dia adalah basíith yang tak tersusun, satu tidak plural, tetap dan kekal tak berubah, tak berawal dan tak berakhir . Demikian gambaran singkat gambaran filsafat metafisika Plato, sebuah filsafat yang sangat dalam dan luas, perlu pembahasan lanjut untuk mengupas dan mengurai filsafatnya.Tapi yang akan menjadi pusat perhatian kita disini adalah mujtama’ mitsalynya yang mendapat tempat yang layak di mata filosof Muslim, dan Farraby pada khususnya.

Plato dalam menelorkan gagasan dan buah idenya, dia banyak terpengaruh oleh metode gurunya, Socrates, yaitu sistem dialog. Diantaranya, Fidon, dan Jumhuriyyah- Republic-. Dari yang terakhir inilah Plato menelorkan gagasannya. Dia memasukkan dalam dialognya ini syair dari Odessa untuk membantah atau menguatkan argumennya. Secara global kumpulan syair Odessa ini mencakup problematika alam, pemandangan kosmos, peperangan manusia dengan dewa laut, dan deskripsi para dewa yang menggelikan. Kumpulan puisi ini adalah sebagian besar merupakan mitos kuno masyarakat Yunani. Dari sini Plato ingin merubah kondisi sosial Athena waktu itu, dengan menekenkan pada aspek akhlak sosial demi menanamkan nilai keadilan pada masyarakat Athena. Sehingga filsafat idealisnya sangat terpangaruh pada aspek keadilan dan kebaikan.

Sebuah negara muncul dan berdiri, di mata Plato, dari kebutuhan manusia terhadap pertolongan dari yang lainnya. Negara lahir ketika kebutuhan manusia tak mampu mereka penuhi dengan mengandalkan diri mereka sendiri . Sorang pedagang, untuk melancarkan aktifitas dagangannya, memerlukan transportasi, alat untuk berproduksi, dan orang yang menjaga dan mensuplai dagangannya. Demikian juga seorang petani, dalam bertani, dia memerlukan alat untuk membajak ladangnya, dan tentunya harus beriteraksi dengan tukang besi, dan seterusnya. Ketika manusia tak mampu memenuhi kebutuhan mereka dengan mengandalkan diri mereka sendiri, maka meniscayakan adanya interaksi sosial antara mereka. Tentunya ketika terjadi interaksi sosial, di sana akan terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan distorsi hak dan kewajiban tiap manusia. Sehingga kebutuhan dan keniscayaan ini memerlukan wadah untuk menampung mereka semua, serta memenuhi hak mereka secara adil. Dari premis ini terbangunlah kebutuhan manusia terhadap negara.

Tujuan sebuah negara, adalah menerapkan nilai keadilan di tiap kelas masyarakat dengan cara yang komprehensif. Keadilan ini merupakan aspek asasi dalam dialog Republicnya. Keadilan yang dimaksud Plato di sini, adalah setiap individu, baik itu sahaya atau merdeka, pria atau wanita, pekerja atau pemerintah, untuk konsisten dengan pekerjaan dan profesi masing-masing. Dia sangat melarang kepada golongan-golongan tersebut memasuki atau ikut campur pada medan yang bukan profesinya, karena itu akan mengantarkan kepada sebuah dekontruksi dan dekadensi sosial dan negara.

Plato membagi lapisan sosial kepada tiga kelas yaitu:
• Penguasa, keistemawaan mereka adalah hikmah yang mereka miliki. Hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi, yaitu pengetahuan mengatur sebuah negara, dan mampu membimbing kepada kebajikan yang mutlak. Kelas ini merupakan kelas yang tertinggi. Kelas ini hanya mampu diisi oleh seorang filosof.
• Golongan militer, keutamaan yang mereka miliki, adalah jiwa kesatria yang terpatri dalam jiwa mereka. Mereka memiliki jiwa yang tegar, pengalaman yang luas, pandangan yang panjang, dan kekuatan fisik yang mendukung. Kalangan ini bertugas untuk melindungi negara dan membela serta melawan musuh yang merusak kestabilan sebuah negara.
• Kelas umum, tercermin pada golongan pedagang, petani, dan segala bentuk profesi lainnya. Mereka adalah yang menangani komuditi dan perekonomian sebuah negara, produksi dan ekspor negara. Jiwa mereka terpancar nilai kesucian dan keinginan material.

Plato meyakini bahwa tiap manusia memiliki mawahib dari ketiga golongan diatas. Tiap manusia telah dibekalkan dalam dirinya, dari Tuhan, salah satu dari tiga profesi diatas. Plato juga menyerukan untuk menyatukan misi dan visi dalam menghadapi kondisi krisis yang menimpa sebuah negara, dalam keadaan tertentu. Sehingga gambaran sebuah negara adalah seperti tubuh, jika salah satu bagiannya terkena sakit maka yang lain tentunya akan merasakan sakit yang sama. Bahkan Plato menganggap sebuah negara yang ideal adalah negara yang berkongsi pada wanita, anak-anak, tak ada yang memiliki harta pribadi, dan tempat tinggal pribadi.

Plato juga meyakini, bahwa kesengsaraan manusia tak pernah hilang dan terhapus, kecuali pemimpin yang mengatur negara itu adalah seorang filosof. Dengan kata lain, bahwa pemimpin harus memadukan antara kemampuan politik yang dimilikinya, serta kemampuan berfilsafat yang dia geluti. Seorang pemimpin dimata Plato harus memenuhi kriteria di bawah ini untuk mampu menjadi seorang politisi filosofis:
•Fitrah yang suci dan murni yang berpotensi kepada segala bentuk jenis pengetahuan.
•Kecintaan terhadap Eksistensi yang Absolut, yang tak terhapus oleh zaman, dan tak berubah di masa kritis.
•Kecintaan terhadap kebenaran dengan cinta yang sebenarnya, dan kebencian terhadap kebohongan dan penipuan dengan kebencian yang sesungguhnya.
•Menanggalkan ketamakan material.
•Kesucian dari kerakusan syahwat, dan kepentingan duniawi.
•Menghindari dari memandang remeh sesuatu, karena itu merupakan musuh besar dari orang yang menghiasi jiwanya dengan dimensi transendental.
•Zuhud dari kehidupan dunia, dan tak takut dalam menghadapi kematian, karena jiwa yang besar adalah dan pemikiran yang dipancari oleh sinar-sinar ketuhanan, tak melihat dalam kehidupan dunia ini sesuatu yang mampu menarik dan menawan hatinya.
•Kesuacian hati, interaksi yang lemah lembut, adalah merupakan tanda dari akhlak filsafat.
•Pikiran yang tanggap, kekuatan intelektual yang tinggi, pecinta keindahan, kesucian jiwa, adalah merupakan sifat yang signifikan dalam nilai substansi filsafat.

Inilah negara ideal Plato, selanjutnya akan sangat mempengaruhi Farraby dalam Madinah Fadhilahnya. Farraby merupakan sorang filosof muslim yang sangat menaruh perhatian pada masalah sosial. Sehingga Farraby dalam dunia Islam dikenal sebagai ‘shahib madinah fadilah’. Yang menjadi perhatian kita di sini adalah fikrah Farraby dalam menyikapi sang pemimpin negara idealnya. Dia berusaha menggabungkan antara wahyu langit dan bahasa akal. Sehingga dialah yang pertama menafsirkan problematika kenabian dengan metode filosofis . Selain menyebutkan syarat yang disebutkan Plato, sebagai kriteria pemimpin negara ideal. Farraby menambahkan sebuah syarat yang tak tepikirkan oleh Plato, yaitu seorang pemimpin negara ideal harus menggapai derajat penyatuan terhadap aql fa’alintellect active - dari aql fa’al inilah cipratan wahyu dan ilham akan tercurah kepada pemimpin negara ideal itu. Aql fa’al ini merupakan salah satu dari akal yang sepuluh, yang mengatur komos ini. Kenabian dan kerasulan juga berasal dari penyatuan dirinya dengan aql fa’al ini. Seorang nabi mampu bersatu dengan aql fa’al karena mampu melepaskan jeratan-jeratan nafsu dan syahwat, dan dengan berfikir dan bertafakkur. Sehingga para nabi mampu menuju kederajat dengan aql mustafadintellectual acquirs -, dan akhirnya mampu mendapatkan pancaran berupa wahyu ilahy dalam dirinya. Demikian juga seorang manusia, dapat bersatu, dan merasakan kelezatan spiritual dengan penyatuan dirinya dengan aql fa’al, dengan cara tafakkur, dan nazhar. Maka nantinya akan menggiring kepada fikrah ‘kasbiyyah nubuwwah’ atau kenabian dapat diperoleh dengan mujahadah nafsiyah, bukan dengan anugerah dari Allah. Apa yang dicapai oleh Farraby, merupakan pemikiran yang sangat berbahaya jika jatuh kepada golongan yang tak bertanggung jawab. Sebab dari pemikiran ini akan mengantarkan kita kepada sebuah konsikuensi yang liar, jika tak digunakan sebagaimana sang empu menginginkannya. Dari pemikiran ini, Syi’ah menopang slogan ‘qudasah a`immah’ dan membuka jalur langit yang sebelumnya telah tertutup. Tak heran, ketika golongan Syi’ah yang ekstrim ada yang berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan muncul Imam yang akan menghapus syariat Muhammad dan membawa syariat baru. Demikian juga golongan Bathiniyyah yang mengklaim, bahwa dengan mengetahi bathin dari sesuatu akan meruntuhkan kewajiban, dengan beralasan bahwa itu wahyu yang mereka dapatkan. Lebih ironis lagi, ketika pemikiran Farrabi ini jatuh di tangan orang atheis, yang sengaja ingin menghancurkan Islam, Ibnu Rawandy misalnya, akibat fikrah kasbiyyah nubuwwah maka dengan terang-terangan membantah kenabian. Pengingkaran terhadap kenabian merupakan aksi nyata terhadap penafian tuhan. Sebab atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan jelas menafikan kenabian, jangan tunggu sampai seseorang mengatakan ‘tuhan telah mati’, setelah itu kita mengatakan bahwa itu adalah sebuah ajaran atheis. Akan tetapi atheis tercipta ketika seseorang menafikan nubuwwah .

0 comments:

Post a Comment