Tuesday, November 11, 2008

Islam dan Yunani, antara Bumi Wahyu dan Negara Akal

a. Prolog
Perseteruan antara wahyu dan akal, merupakan sebuah problematika klasik namun terus up to date. Problematika ini terus hangat, seolah api yang membakar tungku perseteruan, kayu bakarnya terus terisi dan tak pernah habis. Demikian juga penafsiran yang mengklaim bahwa mereka adalah perwakilan dari langit terus berdatangan, yang membuat hawa perseteruan ini semakin panas. Sejatinya akan memicu kepada usaha untuk penafsiran atas problematika yang ada. Apakah akal (baca:filsafat) dan wahyu merupakan musuh sejati? Keduanya tak dapat bersatu? Ketika wahyu telah ada, maka akal harus diam dan pasrah? Ataukah keduanya merupakan sahabat yang kompak? Akal menopang nilai absolusitas wahyu? Demikian juga wahyu memberikan ruang untuk akal, untuk mampu mendaki kepada sebuah Absolusitas Mutlak (baca:Tuhan)? Ataukah ada rival lain selain akal, yaitu instuisi-dzuq, wijdan- yang mampu sampai kepada Absolusitas Mutlak?

Pertanyaan itu akan terus ada disetiap agama samawy, baik itu Yahudi, Nasrany, dan Islam. Di kalangan Nasrani misalnya, disana ada Gostin dan Ithnagoras yang berusaha mendamaikan antara wahyu dan akal. Namun disana juga ada Taytan sebagai rival mereka, yang menganggap bahwa filsafat dan wahyu bagai minyak dan air, sehingga mereka tak mampu bersatu . Demikian juga terjadi di dunia Islam, ketika trend transliterasi literatur-lteratur Yunani begitu pesat di masa khilafah Abbasiyah. Maka sebuah keniscayaan akan terjadi reaksi dari beberapa golongan Islam untuk menjawab pertanyaan di atas. Pada abad ke empat, para fuqaha Hanabilah yang paling banter menolak filsafat dalam dunia Islam . Bahkan Qadhy Yusuf Hanafy mengatakan dengan lantang, “Barang siapa yang mencari agama dengan kalam maka dia adalah zindiq, dan siapa yang mencari uang dengan kimia maka dia akan rugi, dan siapa yang berkata dengan hadis gharib maka dia adalah pendusta” . Refleksi kontras dari mauqif ini, tentunya memincu para fans filsafat Yunani khususnya fans Aristoteles, untuk berusaha mensinergikan antara wahyu langit dan akal bumi. Ibnu Rusyd misalnya, mengatakan, “Jikalau sang faqih melakukan ini (qiyas) dalam hukum syariah, alih-alih yang melakukan ini adalah shahib burhan? Sang faqih hanya memiliki qiyas zhanny, sedangkan sang arif (filosof) memiliki qiyas yaqiny. Sudah dipastikan, setiap dalil burhan yang mengimplikasikan adanya pertentangan dengan literalis syariah maka diharuskan untuk menta`wilkannya, sesuai dengan metode ta`wil Arab. Ini adalah premis yang tak seorang muslim pun meragukannya.”. Dari sini, Ibnu Rusyd berusaha untuk mensinergikan antara filsafat dan wahyu, jikalau wahyu mampu dita`wilkan dengan qiyas, mengapa tidak untuk menta`wilkan wahyu dengan filsafat?

Terlalu sulit untuk menghakimi perseteruan diatas, namun yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, beberapa filosof Islam yang berusaha memadukan wahyu dan akal untuk membentuk sebuah komposisi yang menghantarkan kepada kebenaran absolut. Dalam upaya sinkronisasi ini tentunya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban dari luar. Salah satunya adalah dari Yunani, baik itu Yunani yang di bungkus oleh baju Helenistik, kebudayaan kota Charrae , golongan Nusturah dari Nasrani, ataukah metode ta`wil Phylon dari Yahudi. Namun yang paling mewarnai karakteristik para filosof muslim pada waktu itu adalah ruh Yunani pada umumnya dan Aristotelian pada khususnya, yang meliputi banyak pemikiran mereka. Seperti yang terjadi pada Al-Kindy, Farraby, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Di makalah yang sederhana ini kita akan mencoba melihat pengaruh filsafat Yunani dalam pembentukan karakteristik berpikir para filosof muslim. Kita akan mengkhususkannya kepada empat kelompok yaitu; kaum sophis, Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta membatasi pada beberapa dimensi filsafat mereka.

0 comments:

Post a Comment