Dalam historisasi bibliografi Socrates kita akan berhadapan dengan sebuah kontradiksi yang cukup membingungkan. Salah satunya, Aristophanus yang menganggap Socrates sebagai perpanjangan dari kaum sophis, yang terlalu berlebihan dalam seni dialektika, dan bermain-main dalam abtraksi pemikiran . Hal serupa juga terjadi pada Nietzche, dia tidak begitu mengidolakan Socrates, bahkan dia menganggap bahwa Socrates adalah penyebab kejumudan akal Eropa pada middle age. Namun pandangan lain terjadi pada Plato, dia menganggap bahwa Socrates merupakan sosok yang dia hormati, dan merupakan gurunya. Pastinya, Socrates merupakan sosok yang berpengaruh pada pemikiran filsafat manusia. Bahkan Socrates dijadikan pemisah oleh sejarawan dalam mengklasifikasikan karakteristik filsafat pemikiran Yunani.
Socrates adalah sosok yang berpengaruh dalam dunia filsafat manusia. Dia adalah sosok yang optimis dalam kehidupannya, walaupun Plato mensifati tampilan Socrates yang buruk rupa, namun ini tak membuat dia putus asa. Bahkan dia bersyukur dengan kemanusiaannya, dengan penciptaannya sebagai pria bukan sebagai wanita, dan sebagai bangsa Athena bukan bangsa Barbar. Socrates juga meyakini bahwa cinta adalah ibadah, namun dia mengingatkan kepada pemuda dimasanya agar tidak berlebihan dalam cinta, dan juga menasehati semasanya untuk menjaga kestabilan dan keharmonisan jiwanya . Demikian juga Socrates mengajak manusia kepada pengetahuan yang bermanfaat dan mampu tercermin di prilaku dan kehidupan sehari-hari. Kebodohan dimata Socrates adalah radzilah dan pengetahuan adalah fadhilah. Sehingga yang tercermin dari filsafatnya adalah pandangannya dalam akhlak dan pembangunan dan karakteristik di masanya. Socrates ingin meluruskan prilaku kaum sophis yang telah menyimpang dari maksud awalnya.
Filsafat yang paling signifikan dalam ajaran Socrates ajaran akhlak yang diusungnya. Dia begitu banter untuk mengajak manusia untuk mengenal dirinya demi sampai kepada pengatahuan yang bermanfaat demi kelangsungan hidup mereka. Dengan bertolak kepada pengetahuan individu terhadap dirinya akan menggiring kepada sebuah intropeksi dan kesucian prilaku. Dengan pengetahuan terhadap jiwa manusia menurut Socrates, akan membawa kepada realisasi nilai-nilai kebajikan dan kebaikan yang abadi. Karena dengan mengetahui jiwa tiap individu akan mengantarkan kepada apa yang pantas, dan tidak pantas dalam jiwanya, sehingga akan mengantarkannya kepada kebenaran yang mutlak . Slogan ‘ketahuilah dirimu’ selanjutnya begitu marak menghiasi literatur dalam dunia tashawwuf Islam. Diantaranya Ghazaly, yang menjadikan barometer pengetahuan manusia terhadap dirinya, adalah kadar pengetahuan individu itu terhadap Tuhannya. Dengan pengetahuan manusia terhadap dirinya, dimata Ghazali adalah kunci dari segala ilmu, pangkal dari makrifat, dan jalan menuju Allah.
Namun sebuah hal yang harus digaris bawahi disini, adalah slogan ‘ketahuilah dirimu’ tak mampu memberikan kita apa-apa untuk memahami filsafat Socrates, slogan itu hanyalah menyingkap kepada kita nilai akhlak yang terkandung di dalamnya.

0 comments:
Post a Comment