Sebelumnya metode pemikiran filsofis sebelum kemunculan kaum sophis hanya berputar dan bergelut pada masalah asal-usul dari penciptaan materi, kepercayaan hylotheisme, dan trend occultisme, baik itu tercermin dari maraknya dedukunan dan sihir, ajaran-ajaran rahasia yang di usung oleh Pythagoras dan para pengikutnya, ataukah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenides. Sehingga membatasi masyarakat akar rumput untuk menikmati dan mengecap ajaran filsafat.
Disamping keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat Athena dalam melawan konfrontasi militer dari Persia. Membuat kestabilan politik masyarakat Athena semakin kokoh. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian disini, adalah golongan pedagang, nelayan, dan petani yang ikut membantu peperangan ketika melawan Persia, akhirnya mampu bersuara di parlemen Yunani. Akhirnya dari suara merekalah, sehingga sistem demokrasi terpilih menjadi corak politik Athena . Iklim politik seperti ini meniscayakan sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dulunya hanya di kalangan tertentu sahaja, dan dengan corak yang sangat ekslusif. Filsafat yang dulunya bersifat rahasia, akibat revolusi pengetahuan itu menjadi informasi yang dapat disantap oleh khalayak ramai.
Peranan kaum sophis dalam mengeluarkan filsafat dari kerangkeng ekslusifitas ke medan khalayak ramai tercermin pada pengajaran dan institusi yang mereka dirikan. Kaum tertinggal yang duduk di parlemen, berkat revolusi ini, dipaksa untuk menjadi kaum terdidik. Sehingga mereka harus belajar dengan pengetahuan yang marak waktu itu. Filsafat merupakan ciri keterpelajaran mereka, namun karena filsafat hanya dimiliki oleh golongan tertentu sahaja, dan tak mampu digeluti oleh orang awam. Hal ini sempat membuat nyali mereka ciut, namun kaum sophis mucul dan menepis persepsi itu. Mereka hadir dan mengusung slogan eksistensi manusia, mereka dengan lantang menyerukan akan peranan tiap individu dalam pembentukan sebuah ilmu pengetahuan. Setiap individulah penentu akan kebahagiaan dan kesengsaraan mereka. Kaum sophis adalah kaum yang menyerukan kemampuan manusia. Kaum sophis adalah golongan yang pertama mempertanyakan nilai dari pengetahuaan kemanusiaan. Kaum sophis adalah kalangan pengajar filsafat untuk disantap ke khalayak ramai. Kaum sophislah yang pertama menurunkan filsafat dari langit kebumi, sebagaimana yang dilakukan oleh Socrates. Kaum sophis adalah pencerahan terhadap metode filosofis yang cukup kelam di masa sebelumnya.
Namun karena penyimpangan historis yang dilakukan oleh para murid Socrates –baik itu Plato dan Aristoteles- sehingga membuat citra buruk kaum sophis, khususnya di kalangan muslimin. Kaum muslimin tak mengetahui apa yang dicapai oleh kaum sophis, dan dari penelitian sejarawan moderen. Sehingga yang mereka ketahui hanyalah sebuah keraguan terhadap nilai pengetahuan dan nilai aksiomatis. Mereka tahu hanyalah ajaran ajaran Protogoras, yang menilai kebenaran dari sudut pandang diri manusia sehingga mengantarkan kepada relativitas pengetahuan. Namun tak mampu menjangkau apa yang diingingkan oleh Protogoras, yaitu kemampuan manusia untuk menggali dan mempelajari pengetahuan. Kaum muslimin hanya mengetahui ajaran Georgoras dan Byron yang ragu-syak, scepticism- terhadap nilai. Secara global kaum muslimin meletakkan kaum sophis pada pembahasan penetapan nilai aksiomatik dan nilai absolusitas ilmu, dalam pembahasan kalam mereka.
Perlu mendapatkan penekanan disini, kaum sophis berubah menjadi liar ketika para pengajar melihat bahwa dengan mengajarkan filsafat dan retorika merupakan ladang mengais rezki. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menarik murid sebanyak-banyaknya agar bayaran mereka dan status mereka semakin tinggi. Disamping tak ada pembatasan yang dilakukan kaum sophis dalam pengajaran filsafat, banyaknya para filosof gadungan yang berusaha mengais materi untuk kepentingan perut, membuat hal semakin keruh. Sehingga siapa saja dapat berfilsafat, tanpa melihat kadar intelektual yang mereka miliki. Mungkin ini kembali kepada ajaran pertama Protogoras yang menggusung individu adalah ukuran dan tolok ukur sebuah kebenaran. Hal inilah yang mengeruhkan dan membuat kelam citra kaum sophis kala itu. Faktor ini jugalah yang membuat geram Socrates dan memaksanya untuk menyembuhkan virus relativitas segala sesuatu, dan keraguan terhadap kebenaran, yang ada di masanya.
Namun yang cukup menggelitik di sini adalah tudingan sebagian sarjanawan yang menganggap bahwa metode dilektika yang ada pada Mu’tazilah merupakan pengaruh dari metode dialektis kaum sophis. Sebuah tudingan yang lucu, dan menggelikan. Mungkin mereka menopang pendapat mereka, dari mauqif Mu’tazilah tentang hadis ahad, dan ijma’. Khususnya pada Ibrahim Nazzham, karena menurut historolog muslim, dia banyak bergelut dengan kaum Tsanawiyyah, kaum Samaniyah yang berpendapat bahwa tidak ada argumentasi yang pasti, dan dia juga bergaul dengan kaum atheis dari kalangan filosof. Salah satu pendapat yang cukup mengundang kontraversial di kalangan muslimin, adalah pengingkaran Nazzham terhadap ijma’, dan periwayatan dalam hadis mutawatir berkemungkinan untuk terjadi kesalahan pada para rawinya. Dari pengingkaran ini, baik itu dari ijma maupun dari hadis mutawatir diklaim sebagai pengingkaran terhadap sebuah nilai aksiomatis. Karena menurut para sarjanawan muslim, hadis mutawatir dan ijma setara dengan aksioma dalam pembentukan pengetahuan. Hal ini yang mungkin membuat para sarjanawan –yang menganggap semua yang ada dalam Islam adalah hasil ciplakan- untuk melegetimasi tuduhan mereka. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi di sini, Khayyath dalam Intisharnya telah membantah pendapat tersebut, bahkan dengan lantang mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaan dan kebohongan Ibnu Rawandy , sang atheis yang terkenal.

0 comments:
Post a Comment