Sunday, June 14, 2009

b. Farraby dan Madinah Fadhilah

Dia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharakhan. Farraby merupakan nisbah dari wilayah di Turki yaitu ‘Farrab’ . Sebahagian besar para historolog sepakat bahwa Farraby berasal dari Turki, kecuali Ibn Abi Ashibia’ah dalam kitabnya ‘Thabaqat Athibba`’ berpendapat bahwa, ”bapak Farraby berasal dari Persia, selanjutnya menikahi seorang wanita Turki dan menjadi panglima perang di Turki”.

Farraby berumur delapan puluh tahun dan tak diketahui tahun kelahirannya, namun dia wafat pada tahun 335 H. bertepatan pada bulan Desember tahun 950 M. Sehingga kita mampu memperkirakan bahwa beliau lahir pada tahun 260 H atau tahun 870 M. Sebagian besar dari kehidupan masa kecil Farraby tak direkam oleh sejarah. Namun yang pasti dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan, sebab ayahnya adalah seorang panglima perang di Turki. Dia pernah menjadi seorang qadhi ketika darah mudanya masih deras mengalir di dalam tubuhnya. Tapi semuanya itu akhirnya dia tinggalkan demi mencari kesenangan dan kenikmatan yang lebih kekal dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi.

Ketika mendekati umurnya yang keempat puluh, Farraby memulai menjalani kehidupan sufi. Dia memilih untuk meninggalkan kenikmatan syahwani dalam kehidupan dunia ini, dan memilih untuk bercengkrama dengan keindahan tafakkur dan ta`ammul. Akhirnya dia menjadi raja di dunia tafakkur, meskipun dalam tataran dunia materil dia terbuang. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dia mendapat nafkah dari khalifah Saif Daulah, hanya sebesar empat Dirham perak tiap hari. Dia adalah sosok yang tak mengacuhkan penampilan luarnya baik itu pakaian dan tempat tinggalnya. Ketika malam hari dia keluar menuju posko keamanan negara untuk menumpang lampu yang ada di posko itu, di tempat itulah Farraby belajar, menelaah dan mencermati buku-buku filsafat.

Para sejarawan sepakat, bahwa Farraby berguru pada seorang Kristiani yang bernama Yohanes bin Hailan, yang semasa dengan Ibrahim Maruzy. Ibrahim ini memiliki murid yang bernama Abu Basyar Matius yang semasa dengan Farraby. Mereka berdualah yang aktif menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani, baik itu buku Aristoteles, Parmenedes, ataukah buku lainnya. Dari sini kita akan mendapati seorang Farraby yang menguasai beberapa bahasa asing. Bahkan Qadhi Sha’id mengatakan bahwa dia menguasai seluruh bahasa di dunia ini . Namun pastinya dia menguasai beberapa bahasa asing, diantaranya; bahasa Arab, Turki, Persia , dan tentunya dapat disimpulkan juga dia menguasai bahasa Yunani dan Suryani. Sehingga kemampuan berbahasa inilah membuat Farraby mampu menerjemahkan beberapa kitab filsafat Yunani, akhirnya dia digelar sebagai ‘mu’allim tsani’. Bahkan Ibnu Sina sendiri mengakui bahwa dia tak mampu memahami buku Aristoteles ‘Ma ba’da thabi’ah’, yang memaksa Ibnu Sina untuk mengulangi membaca buku sampai empat puluh kali. Tapi dia tak paham jua, hal ini sempat membuat Ibnu Sina berputus asa, sampai akhirnya dia tak sengaja menemukan buku Farraby Aghradh ma ba’da thabi’ah’. Ketika itu Ibnu Sina tercengang dengan buku Farraby. Dia takjub. Dengan buku itu, akhirnya dia mampu memahami buku Aristoteles yang samar. Namun Athif ‘Iraqy menambahkan bahwa, “Ungkapan Ibnu Sina ini, tak lebih dari sekadar mujamalah dan ungkapan hormat Ibnu Sina terhadap Farraby. Sebab tak mungkin seorang Ibnu Sina yang memiliki kejeniusan yang tinggi tak mampu memahami buku Aristoteles.” . Tapi ini tak mengurangi kehormatan Farraby di dunia filsafat Islam, sebab banyak legenda yang lebih mengarah kepada mitos fiktif yang bercerita kepada kemampuan dan kejeniusan Farraby yang menguasai seluruh jenis ilmu. Mulai dari bidang kedokteran, filsafat, musik, matematika, biologi, astronomi dan bahasa. Ihsha` ‘ulumnya Farraby merupakan bukti kemampuannya yang melebihi ulama lainnya. Bahkan Sha’id mengatakan bahwa, “seorang penuntut ilmu diharuskan untuk membaca buku itu sebelum berkecimpuh dalam bidang pengetahuan”.

Di makalah ini kita akan menekankan pada karya Farraby yaitu, Araa Ahl Madinah Fadhilah. Buku ini merupakan buku yang paling akhir dikarang dan diteliti oleh Farraby. Ibn Ashibi’ah berkata; “ Farraby memulai menulis buku, Madinah Fadhilah, Madinah Jahilah, Madinah Fasiqah dan Madinah Dhaallah di Baghdad. Dia membawa karyanya ke Syam pada tahun 330 H. dan menyempurnakannya di Damaskus pada tahun 333 H. Kemudian meneliti naskahnya setelah di terbitkan. Saat itu sebagian orang memintanya untuk mengklasifikasi bab dan sub bab dalam buku tersebut. Selanjutnya Farraby mengklasifikasi bab pada buku itu di Mesir pada tahun 337 H.” . Kita ketahui bersama, bahwa Farraby wafat pada tahun 339 H. dengan kata lain bahwa Farraby menyempurnakan buku ini dua tahun sebelum wafat.

0 comments:

Post a Comment