Sunday, June 14, 2009

Problematika Nubuwwah dalam Persepsi Farrabi

a. Prolog
Semenjak manusia pertama diutus ke muka bumi ini, mereka telah berusaha berinteraksi dengan alam raya ini, dengan keindahan, keagungan serta keteraturannya. Namun setiap kali manusia menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang membetik di benak mereka, mereka kembali terjatuh ke dalam jurang pertanyaan yang berbeda. Mereka berusaha menggali interaksi antara Tuhan Yang Maha Mutlaq dengan alam ini yang bersifat relatif dan berubah. Dengan kata lain, manusia berusaha menemukan jawaban antara hubungan Tuhan yang Absolut, Mutlak dan Kekal, dengan alam yang berubah, sementara dan baharu. Beberapa filosof berusaha memberikan jawaban terhadap problematika ini, diantaranya, hubungan kausalitas dengan menempatkan Tuhan sebagai sebab dan alam sebagai akibat. Ataukah dengan menggunakan teori emanasi (faidh) yang berusaha meminimalisir aktifitas Qadim (Tuhan) dalam interaksinya dengan yang hadits (makhluk).

Namun sebagian besar teori di atas mendapatkan bantahan dari lawan mereka. Terutama pada teori emanasi yang diadopsi oleh Farraby dengan menggabungkan ajaran filsafat Aristoteles, teori astronomi Batlimus dan ajaran Neo platonisme . Teori ini mendapatkan bantahan yang sangat tajam dari ulama Islam, bukan hanya dari lawan Farraby, yaitu Mutakallimin, teori ini juga tak diterima di kalangan filosof muslim di antaranya Ibnu Rusyd dan Abu Barakaat Baghdady . Demikian juga menurut Gazaly, bahwa teori emanasi telah mereduksi kemampuan Tuhan dalam berkreasi yang hanya terbatas pada aktifitas berfikir terhadap diriNya sendiri, dan hanya mampu melahirkan aqal pertama. Sehingga konsekuensinya akan berujung kepada kemampuan Tuhan yang terbatas. Sedangkan aqal kedua, ketiga dan seterusnya mampu melebihi kemampuan Tuhan.

Bukan hanya itu, berdasar dari teori ini, Farraby melahirkan karyanya yang cukup mendapatkan perhatian dari kalangan sarjanawan muslim dari masa ke masa, yaitu 'Araa Ahlu Madinah Fadhilah'. Dari sini kita akan berkenalan dengan pemikiran Farraby yang cukup fenomenal yang lebih condong kepada sebuah nilai idealis dan fantatis dari pada hal yang realisitis dan aplikatif . Dari buku ini, Farraby berusaha membentuk sebuah masyarakat yang idealis, masyarakat yang memiliki pemimpin yang mampu berhubungan dengan alam malakut melalui perantara aqal fa’al. Aqal inilah yang menjadi perantara Tuhan yang Qadim dengan alam yang hadis. Aqal ini merupakan aqal yang kesepuluh dalam susunan ‘uqul asyarah pada teori emanasi Farraby. Dalam istilah religius aqal ini dikenal sebagai ruh quds atau ruh amin. Farraby menempatkan pemimpin negaranya sebagai manusia yang memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan problematika yang ada dan mendapatkan bantuan dari langit (baca: aqal fa’al). Berangkat dari teori emanasi yang cukup menggemparkan sampai kepada problematika nubuwwah yang sensasional merupakan sebuah respon terhadap ajaran-ajaran atheis dalam dunia Islam yang ditumbuh suburkan oleh Ibnu Rawandy dan Abu Bakar Razy. Sebab tumbuhnya benih atheisme dalam Islam, tidak lahir dengan keberadaan ungkapan semisal Nieztche, yang lantang mengatakan bahwa, “Tuhan telah mati” atau ungkapan kaum pagan Yunani kuno yang menyerukan bahwa, “para dewa telah mati”. Akan tetapi benih atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan lantang mengatakan bahwa, ”paradigma kenabian telah mati”.

Farraby adalah orang pertama yang menginterpretasikan problematika nubuwwah dalam kerangka filsafat . Dia berusaha menjawab tantangan yang diteriakkan oleh Ibnu Rawandy, Abu Bakar Razy dan golongan zindiq, yang menilai kenabian merupakan sebuah dongeng yang tak masuk akal. Demikian juga, berdasar kepada keinginan untuk membentuk sebuah masyarakat yang ideal, tentunya harus memiliki pemimpin yang bijaksana dalam setiap keputusannya dan cermat dalam menanggapi masalah yang ada. Tentunya kebijaksanaan dan kecermatan itu tak dimiliki oleh tiap manusia, dan hanya dimiliki oleh manusia yang memiliki dua syarat yaitu; (a). fithrah, (b) insting dalam memimpin . Ketika seorang manusia memiliki dua syarat ini, maka dengan mudah untuknya berhubungan dengan alam malakut dengan perantara aqal fa’al. Dengan aqal fa’al inilah sang pemimpin negara ideal, mendapatkan wahyu dari Allah . Sehingga berujung kepada bahwa wahyu serta kenabian bukan hal yang sakral lagi, bahkan kenabian dan wahyu dari Tuhan mampu diperoleh dengan mengoptimalisasikan serta memaksimalkan kemampuan akal manusia.


Dalam makalah ini, kami akan berusaha memaparkan persepsi Farraby dalam menyikapi problematika kenabian. Namun sebelum mengupas lebih lanjut tentang masalah ini ada baiknya jika kita berkenalan lebih dekat dengan filosof kita yang satu ini. Agar tak mudah untuk menghukumi beliau dengan cercaan atau dengan tudingan yang tak pantas kepada beliau. Saran dan kritik merupakan tujuan kami dalam penulisan makalah ini.

0 comments:

Post a Comment