Sunday, June 14, 2009

c. Nubuwwah di Masa Farraby

Tak ada salahnya ketika kita mengintepretasikan persepsi nubuwwah Farraby dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Walaupun sebagian ilmuwan ada yang tak menerima pendekatan fenomenologi dalam mengintepretasikan sejarah. Namun dengan dengan menggunakan pendekatan ini, akan menguak beberapa kejanggalan-kejanggalan fenomena nubuwwah yang ada di masa Farraby. Paradigma miring mengenai kenabian telah bermetamerfosis dari masa ke masa. Pada awalnya problematika nubuwwah dalam dunia Islam belum terlalu mencolok untuk dibahas dan digali. Namun semenjak bani Umayyah menduduki singgasana khilafah, maka muncullah sederetan masalah yang dulunya tak mendapat tempat di meja diskusi ulama.

Diantaranya masalah qadha dan qadar, sejumlah tokoh yang pro dengan dinasti Umayyah, berusaha membumkam mulut kaum muslimin dengan dalih ‘ketetapan dari Allah’. Kita semua tahu bagaimana polemik politik dan keamanan di masa Umayyah. Bagaimana kaum muslimin dengan berat hati membai’at Mu’awiyah dan Yazid. Sehingga untuk menenangkan hiruk-pikuk massa yang ada waktu itu maka dinasti Umayyah melantangkan jargon sebagai senjata ampuh untuk membunuh kritik yang tertuai kepadanya. Diantaranya ungkapan ini:
(لو لم يرني ربي أهلا لهذا الأمر, ما تركني إياه, لو كره الله تعالي ما نحن فيه لغيره )
Lebih ironis lagi Walid bin Yazid khalifah Umayyah, dengan terang-terangan telah menyebarkan benih atheis dalam dunia Islam. Bisa jadi inilah nantinya yang nantinya mamicu keberanian dalam menghina dan menghancurkan pilar keislaman. Walid bin Yazid telah berani melempar mushaf bahkan telah berani meragukan keberadaan hari kiyamat, dia berkata:
أتوعدني الحساب و لست أدري أحق ما تقول من الحساب
فقل لله يمنعني طعامي وقل لله يمنعني شرابي
Dari kesalahpahaman terhadap penafsiran qadha dan qadar, memaksa para ulama untuk menjawab problematika ini, dan Mu’tazilah merupakan pejuang Islam yang giat menkover Islam dari penafsiran-penafsiran liar dan menyimpang dari ajaran Islam.

Problematika qadha dan qadar merupakan salah satu dari fitnah terbesar dalam Islam. Sehingga Mu’tazilah berusaha menawarkan sebuah solusi yang kita kenal sebagai fikrah shalah wa ashlah. Mereka berusaha menawarkan terapi ini dalam setiap masalah keadilan dan ketentuan Tuhan, termasuk ketika bergelut dengan problematika nubuwwah. Mengutus seorang nabi dan rasul dalam kacamata Mu’tazilah, merupakan kewajiban Allah. Sebab dengan diutusnya seorang rasul adalah sebuah kemaslahatan dan keadilan bagi hambanya . Tak mungkin bagi Allah untuk tak mengutus rasul, sebab itu merupakan sebuah mudharat bagi hambanya. Dan melakukan sesuatu yang mendatangkan mudharat adalah sebuah perbuatan qabih. Tidak sama sekali Allah pernah melakukan perbuatan qabih , sebab Allah tak butuh kepada yang qabih demi mendatangkan sesuatu yang bermanfaat. Dengan kata lain, Mu’tazilah berusaha memberikan intepretasi logis terhadap problematika yang berusaha menggerogoti sendi-sendi Islam. Namun ada yang tak disadari oleh Mu’tazilah, keekstriman mereka dalam menggunakan akal, telah menjadi bumerang dalam kancah pemikiran Islam. Metode rasionalis yang mereka gunakan dalam menjawab segala problematika yang ada, di gunakan oleh lawan-lawan mereka menjadi sebuah pengkultusan akal yang membabi buta. Disamping itu Mu’tazilah telah bermetamerfosis menjadi sebuah corak politik yang dianut oleh negara Islam waktu itu. Sehingga tak jarang musuh-musuhnya menjadikan i’tizal sebagai kedok untuk mencari tempat di hati penguasa.

Suasana semakin keruh dengan munculnya Ibnu Rawandy dan Abu Bakar Razy dalam kancah ilmiah Islam. Ibnu Rawandy dulunya adalah penganut Mu’tazilah dan dia termasuk dalam thabaqat kedelapan, menurut Ibnu Murtadha , namun akhirnya murtad dan menganut ajaran atheis. Salah satu karangannya yang paling menuai kritikan yaitu (الزمرذ), di dalamnya berisakan tentang penghinaan dan kritikan terhadap Nabi Muhammad SAW. Sayangnya buku ini tak sampai kepada kita, namun dapat ditelusuri dalam kitab (المجالس المؤيدية. Karangan Muayyid fi din Hibatullah bin Abi ‘Imran Syirazy Ismaily. Sebagian besar isinya merupakan bantahan kaum Brahma terhadap kaum muslimin dalam menyikapi problematika nubuwwah. Sebab penganut Brahmanisme menganggap bahwa kenabian merupakan sesuatu yang sia-sia dan mereka kontra terhadap masalah kenabian. Diantara isi karangan Ibnu Rawandy adalah:
• Ibnu Rawandy berpendapat bahwa, “Dengan akal manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang baik dan buruk, jika sang nabi datang dengan menegaskan fungsi akal ini, berarti hanyalah sebuah pemborosan. Namun jikalau sang nabi datang dengan sesuatu yang lain dari fungsi akal tersebut. Berarti kenabian bertentangan dengan akal, secara otomatis akan tertolak.” .
• Muhammad SAW. di mata Ibnu Rawandy, telah mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan akal, bahkan akal pun mengingkarinya. Semisal salat, mandi junub, melempar jamrah, dan tawaf di Ka’bah. Apakah perbedaan antara tawaf di Ka’bah dengan tawaf di rumah? Jikalau sang nabi datang dengan ajaran yang agung mengapa ajarannya bertentangan dengan akal???
• Ke mana para malaikat Muhammad yang membantunya ketika perang Uhud? Bukankah mereka yang membantunya ketika perang Badar? Bukankah para malaikat ini lemah? Sebab dalam perang Badar mereka hanya membunuh hanyalah sekitar tujuh puluh orang!!!
• Beri tahukan kepada kami dengan cara apa Nabi kalian mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia? Jika dengan menggunakan ilham, maka manusia juga mampu mengetahui dengan ilham! Jika menggunakan metode tauqif, maka akal tak mengenal metode tauqif.

Selanjutnya pendapat Ibnu Rawandy yang telah meluluh-lantakkan sendi kenabian, diadopsi oleh Abu Bakar Razy dalam bukunya (مخاريق الأنبياء), namun sayangnya buku ini tak sampai kepada kita. Yang ada hanyalah rekaman sebuah munazharah antara Ibnu Zakariya Razy versus Abu Hatim Razy, dalam bukunya (أعلام الآنبياء). Ibnu Zakariya Razy membangun paradigma kenabiannya melalui beberapa dasar yaitu:
• Dengan akal manusia mampu memahami sesuatu yang baik dan jahat, dengan akal juga manusia mampu mengetahui yang bermanfaat dan merusak dalam kehidupan ini. Demikian juga dengan akal, manusia mampu merelungi dimensi yang terselubung rahasia ketuhanan, akal juga mampu membimbing manusia dalam menjaga dan memelihara semesta ini. Maka kebutuhan kepada seorang nabi merupakan sesuatu yang sia-sia .
• Tidak ada perbedaan dalam kemampuan manusia dalam menyelami sebuah pengetahuan, dan juga tak perbedaan dalam fitrah atau kemampuan yang bersifat naluri dan insting. Akan tetapi perbedaan hanyalah terdapat pada pemaksimalan kemampuan daya pikir manusia. Sehingga dengan demikian, pernyataan yang mengatakan bahwa Allah memilih seseorang untuk membimbing seorang manusia merupakan sebuah ungkapan yang tak berarti!
• Kesepakatan diantara para nabi hampir tak mungkin terjadi. Jikalau sumber mereka satu dari Allah, mengapa harus terjadi perbedaan? Selama mereka masih berselisih dan tak mampu menemukan kata sepakat, maka kenabian merupakan sesuatu yang bathil!

Demikian juga menurut Abu Bakar Razy, bahwa agama dan filsafat tak mungkin bersatu. Bahkan dengan terang-terangan dia mengatakan bahwa dengan filsafat sematalah yang mampu memberikan perbaikan dalam tataran individu dan masyarakat .

0 comments:

Post a Comment