Mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa pandangan Farraby mengenai nubuwwah hadir utuk menjawab tantangan di atas. Farraby hadir ketika perdebatan dan pergulatan antara agama dan filsafat berkecamuk. Apakah Farraby dan kedua tokoh atheis di atas sezaman atau tidak , namun mereka telah meninggalkan sebuah bom waktu dalam dunia Islam yang siap meledak jika tak dihentikan. Fenomena yang ada memaksa Farraby untuk mengintepretasikan kenabian dalam kaca mata filsafat.
Sebab Ibnu Rawandy dan Ibnu Zakariya Razy menggunakan filsafat dalam menolak dan menghancurkan sendi kenabian. Maka sesuatu yang wajar, ketika Farraby mengupas problematika kenabian dengan menggunakan pisau analisa filsafat. Demikian juga Farraby turut menerjunkan penanya kedalam kancah perdebatan, dia mengarang buku untuk membantah karangan Ibnu Rawandy mengenai kenabian yaitu, (الرد علي إبن رواندي في أدب الجدل) . Dia juga mengarang buku yang berisikan bantahan terhadap Ibnu Zakariya Razy, namun sayangnya buku ini tak sampai kepada kita.
Disamping itu Farraby berusaha menampik, benih perpecahan antara agama dan filsafat, yang ditiupkan oleh Ibnu Zakariya Razy. Sehingga Farraby sangat menaruh perhatian yang sangat besar untuk upaya sinkronisasi antara agama dan filsafat. Tak heran ketika di Madinah Fadhilahnya, Farraby berupaya mensinergikan antara kemampuan agama dan filsafat dalam membentuk sebuah masyarakat yang ideal. Farraby membangun negaranya atas dua dasar pondasi yang sama penting yaitu agama dan filsafat. Walaupun terapi yang digunakan Farraby bukan merupakan sesuatu yang solutif, namun Farraby berusaha memberikan sebuah alternatif dalam sebuah problematika yang ada.
Ketika kepentingan untuk membangun sebuah persepsi dan paradigma kenabian yang mampu memenuhi kebutuhan logis, merupakan kebutuhan untuk membangun sebuah relevansi antara agama dan akal. Maka Farraby pun tak tersendat disini, dia mengetahui bahwa untuk membentuk sebuah dimensi logis dari sebuah keyakinan merupakan kebutuhan untuk upaya aktualisasi nilai keagamaan. Dari sini, dia berusaha mengintepretasikan segala problematika religius dengan menggunakan pendekatan filosofis. Dan nubuwwah dan tak terlepas dari upaya Farraby, untuk mendekatinya dengan menggunakan analisa psikologis. Demikian juga, Farraby sangat menaruh perhatian terhadap pembentukan sebuah masyarakat yang ideal. Komunitas yang mampu mencapai taraf kesempurnaan dengan menggunakan dua kemampuan yang sama pentingnya yaitu agama dan filsafat. Tak heran, Farraby dalam dunia keilmuan Islam dikenal sebagai ‘Shahib Madinah Fadhilah’. Ini tak lain merupakan perhatian yang mendalam Farraby terhadap isu sosial yang ada waktu itu. Namun tak dapat dipungkiri Farraby dalam membangun ‘negara ideal’nya terpengaruh dengan ajaran Plato. Keserupaan itu terlihat jelas, ketika Farraby mengupas syarat presiden negara ideal Farraby, yang hampir terlihat serupa dengan pandapat Plato

0 comments:
Post a Comment