Tuesday, October 7, 2008

Dimana Tuhanku..?

Seabad yang lau ketika Albert Enstein telah berhasil meggoncangkan dunia dengan teori relativitasnya. Dia dengan lantang menyerukan, “Keberadaan tuhan yang metafisik, sudah tak mendapatkan tempat lagi di kehidupan moderen saat ini”. Bahkan dengan terang-terangan sang ilmuwan yang melegenda ini menganggap bahwa, "tuhan merupakan hantu yang mengendarai jagad raya ini".

Kehidupan beragama saat ini memang telah sampai kepada taraf yang sangat memilukan. Tuhan telah dipinggirkan dalam kehidupan ini, tuhan telah kehilangan nilai sakral dihati orang yang mempercayainya. Dia tak lebih dari sekadar dongeng untuk menemani tidur para anak-anak. Dia tak boleh memasuki relung kehidupan para manusia yang berkebudayaan moderen. Tuhan yang dulunya maha pengasih kini dia tak lebih dari pembawa petaka terhadap kehidupan manusia. Solah tuhan telah melakukan sebuah karya gagal. Kini tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia… ta’alallahu ‘an qaulihim’ uluwwan kabiraa.

Paradigma diatas merupakan sedikit dari sekian banyak cemohan Barat terhadap tuhan. Patut diakui bahwa mereka telah berhasil menaklukkan alam, serta merajai peradaban dunia saat ini, dengan menyingkirkan tuhan dari kehidupan mereka. Mereka berhasil menjadi bangsa yang ‘berperadaban’ setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap gereja. Sekularisme menjadi kunci mereka untuk memasuki gerbang teknologi yang maha dahsyat.

Namun yang cukup disayangkan, ketika wabah ini menjangkit ke dalam tataran keislaman kita. Tuhan dalam tipologi pemikiran keislaman merupakan Zat Yang Agung, dia sangat dekat hamba-Nya. Dia ada ketika hamba-Nya ketika menengadahkan tangan memohon kepadanya. Dialah yang memberi jalan ketika hamba-Nya dirundung sepi yang tak berkesudahan. Dia ada. Dia mendengar. Dia mengabulkan permohonan hambanya.

Seolah dimensi kedekatan kita dengan-Nya telah dikikis oleh sekais materi yang tak berharga. Seakan kemahapemurahan Tuhan tak lagi kokoh dalam sanubari ini. Kita seolah lupa ditiap peluh yang mengalir, ditiap ritihan yang mendesah, ditiap tetes air mata yang tercurah, disana ada Dia yang melihat kita. Malam yang sunyi, merupakan saat yang tepat untuk ‘curhat’ dengan-Nya tak lagi kita pergunakan untuk bedialog dengan Dia. Raungan self confident yang menggema dalam hati, seakan membuat malu untuk meminta pertolongan terhadap-Nya.

Sedari awal, ketika Rasulullah memulai dakwahnya, Allah swt. telah mengajak manusia untuk membaca dan berkenalan dengan Dia. Ketika Nabi hendak beristirahat ketika usai melakukan tahannutsnya, beliau dipanggil oleh Allah untuk tak lelah bercengkrama dengan-Nya. “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk memperingatkan kaummu. Agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu”. Rasulullah pun diperintahkan untuk menghancurkan sendi-sendi persepsi ketuhanan agama samawi, yang telah banyak dirusak oleh para ahli kitab. Tuhan dalam persepsi kaum Yahudi merupakan tuhan yang senang merusak, bengis dan kejam terhadap golongan diluar kaum Israil. Seolah tuhan milik mereka sahaja. Demikian halnya tuhan versi Nasrani, tuhan yang dendam dengan dosa yang dilakukan oleh Adam. Kebaikan yang dilakukan oleh umat manusia takkan bernilai apa-apa disisinya. Pengorbanan sebesar apapun untuk meraih ridho tuhan mereka, tak akan berarti. Tuhan mereka diliputi kemarahan yang membara, akibat dosa bapak manusia. Marah tuhan mereka baru mereda ketika anak tunggal tuhan turun kebumi, menjadi tebusan terhadap dosa umat manusia. Sungguh zalim mereka terhadap Tuhan.

Nilai keislaman hadir untuk menepis persepsi zalim itu semua. Islam memanggil manusia yang dahaga terhadap keindahan dan kepemurahan Tuhan, untuk dapat merasakan sejuknya menengadahkan tangan kepada-Nya, untuk merasakan betapa segarnya melinangkan air mata dihadapan-Nya. Islam menyerukan betapa lezatnya membasahi lidah ini dengan simponi lantunan zikir kepada-Nya. Islam datang kepada para hamba yang telah berkecimpuh dalam kubangan dosa, untuk tak berputus terhadap pengampunan Tuhan. Allah tersenyum kepada mereka, ketika mereka mau datang mengetuk pintu ampunan-Nya. Sehingga kedamaian hati para pendamba Tuhan akan senantiasa subur dalam sanubari mereka.

Ramadan inilah merupakan momen yang tepat untuk kembali menghangatkan dimensi spiritual yang mulai membatu. Semoga hati dulunya usang akibat koyakan materialistik mampu tertata rapi kembali dengan sentuhan lembut dari kepemurahan Tuhan. Ya Rabb…


0 comments:

Post a Comment