Memoar indah yang kita ukir di bulan Ramadan, kini tak terasa harus tergeser oleh putaran roda sang waktu. Lantunan kalam Ilahy yang indah bergema ditelinga, tak terasa harus senyap ditelan oleh suara mesin. Damai dan gelak tawa yang riuh di Maidatur Rahman, kini harus berakhir dengan berakhirnya Ramadan.
Ramadan harus menepi, digeser fajar syawal yang telah terbit. Rasa rindu dan sesal ikut mengiringi kepergian Ramadan. Rindu akan selalu terngiang di hati para pendamba kelezatan spiritual. Sesal akan selalu mengahantui jiwa yang acuh terhadap kepergian Ramadan. Namun semuanya itu telah pergi, dan telah terekam dalam catatan para malaikat penjaga kita.
Akihirnya sebulan sudah, menempa diri di madrasah Ramadan. Menghambat jalan syetan dalam diri dengan menyempitkan pembuluh darah, melalui rasa lapar dan dahaga. Menghangatkan kembali nilai harmonis dengan Sang Pencipta, dengan menambah kualitas ibadah. Memintal rajutan silaturahim yang dulunya renggang, dengan berasimiliasi dengan kaum dhu’afa. Semuanya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup untuk sebelas bulan kedepan.
Ramadan telah pergi dan meninggalkan kado kepada kita semua. Baik itu berupa rasa rindu yang terpatri dalam jiwa, ataukah rasa sesal yang menyemat kalbu. Semuanya akan menjadi butiran refleksi dalam hati untuk memperbaiki kualitas keimanan yang tertancap dalam hati.
Kini fajar Syawal telah terbit, saatnya untuk mengimplementasikan kado dan hadiah yang dapat kita tuai di bulan Ramadan yang telah berlalu. Baik itu berupa konsistensi untuk tetap merapatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ataukah senantiasa untuk mengharmonisasikan link horizontal kita dengan sesama makhluk. Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya untuk menjalani liku hidup yang begitu terjal.
Sudah menjadi tradisi yang mengiringi kedatangan ‘idul fitri, tradisi saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau yang kita lakukan terhadap orang lain. Tradisi ini begitu familiar di telinga kita, yaitu halal bi halal. Seolah lebaran tak akan sempurna tanpa perayaan even ini dan itu telah menjadi darah daging dalam tradisi keagamaan kita. Walaupun sederhana tapi halal bi halal ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, dalam mengupayakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Jalinan persaudaraan yang dulunya renggang, dengan adanya lebaran dan halal bi halal sebuah rekonsiliasi akan kembali terlaksana. Kita akan kembali menggenggam tangan saudara kita yang dulunya sempat terlepas. Kita kembali dapat melemparkan senyum kepada musuh kita, yang dulunya sempat terbungkam. Sehingga kesucian dan keseimbangan jiwa akan kembali kita raih dengan datangnya ‘idul fitri, serta kestabilan sosial akan menjadi kado di lebaran nan ftri ini.
Di hari yang fitri ini, kita sama berharap semoga kedamaian, persahabatan dan keramahan akan menjadi atmosfer yang meliputi kehidupan Masisir dan kehidupan yang lebih universal. Kita juga berharap semoga hati kita menjadi seputih dan sebersih hati bayi baru dilahirkan. Semoga ini kado lebaran yang di hadiahkan Ramadan kepada kita. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi orang yang beruntung disisi Allah swt. Amin.

0 comments:
Post a Comment