Ada yang lain dari malam itu. Rembulan seakan semakin cantik dengan bundarnya yang pipih. Para bintang bintang pun tak mau kalah, mereka meramaikan riasan langit dengan kerlipan cahayanya. Langit malam yang bermandi cahaya seolah bersolek untuk menyambut kalam Tuhan, yang diturunkan dari Lauh Mahfudz. Para malaikat besiap untuk mengkawal turunnya mu’jizat yang terbesar ini. Lantunan zikir yang dilantunkan oleh seluruh penduduk langit semakin mempesonakan gempita semesta.
Jauh di bumi sana. Muhammad berjalan melewati bebatuan terjal untuk mendaki ke gua Hira. Dia kembali melakukan aktivitas takhannuts yang baru dia geluti beberapa waktu lalu. Semua itu berawal ketika dia bermimpi, secercah cahaya yang mendatanginya seakan fajar Subuh terbit di sanubarinya. Takhannuts yang dia lakukan semakin menghauskan dahaga ketuhanannya. Dia semakin gerah dengan kebodohan umat di sekelilingnya, yang semakin hanyut dalam kubang kebodohan. Hatinya yang lembut, risih dengan prilaku orang di sekelilingnya. Jiwanya yang bening, terpanggil untuk membersihkan mutiara ketuhanan yang telah ternodai. Dia terpanggil untuk mengokokohkan kembali panji ketuhanan yang telah lapuk.
Dalam perjalanannya menuju gua Hira, dia heran dengan keadaan di sekelilingnya. Bebatuan yang dia pijak seakan lunak untuk memudahkan perjalanannya. Lambaian angin yang menghembus kepadanya, bertiup sepoi kepadanya. Pohon yang kokoh di sekelilingnya berayun seakan irama lantunan doa kepadanya. Batu, hewan, pohon dan gunung mengucapkan salam kepadanya. Ketika dia menoleh kanan-kiri dia tak menemukan siapa-siapa. Dia heran dengan penyambutan bumi yang hangat kepadanya. Pertanda apa yang akan terjadi kepadanya? Dia tak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.
Setelah sampai di gua Hira, dia kembali melakukan aktivitas takhannuts seperti biasanya. Namun rasa takut yang menghinggapinya membuat konsentrasinya agak sedikit buyar. Dia terbayang dengan keanehan yang dia lalui disekitarnya. Sehingga membuatnya untuk bekerja keras memusatkan pikirannya. Ketika itu sesosok menghampirinya. Dia berkata, “bacalah”. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat yang dahsyat saat itu. Dia tak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Dia merasa takut dengan sosok yang mendatanginya tadi. Beberapa lama sosok itu kembali menghapiri dirinya, bahkan dia merangkul tubuhnya yang gemetaran. “Bacalah,” kata sosok yang dilihatnya dengan mata kepalanya. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya lagi.
Dia tak sedang bermimpi, entah apa nama makhluk yang mendatanginya. Sebab baru pertama kali dia datangi dengan wujud yang belum pernah dilihatnya. Dia terus dipaksa untuk membaca, sehingga dia pun kelelahan.
Barulah ketika rangkulan sosok itu terlepas, dia merasa lega. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya”. Mendengar itu semua dia merasa ketakutan, dia merasa dirinya telah diganggu oleh jin. Sehingga dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang pucat pasi, dia masuk kerumahnya. “Selimuti aku,” katanya yang terbatah sembari menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Betapa tidak dia baru saja diberikan sebuah kalam, gunung pun akan luluh dan tertunduk jika itu diturunkan kepadanya. Betapa besar dan agung kalam yang diberikan kepadanya.
Muhammad tak tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia tak tahu jikalau langit tersenyum dengan turunnya kalam yang baru saja membuatnya ketakutan. Dia tak tahu ternyata bumi sangat mendambakan lantunan simponi ketuhanan dicurahkan kepadanya. Muhammad tak tahu betapa dahaganya para makhluk hidup dengan curahan ayat Yang Maha Indah. Dia tak tahu fajar kehidupan telah menyingsing, dan akan memulai sinarnya di pundaknya. Dia tak tahu itu. Karena dia tak pernah menduga jikalau kenabian akan diletakkan di bahunya. Dia tak pernah mengharapkan kenabian itu. Dia hanya ingin mengikuti ajaran Hanafiyah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim.
14 abad telah berlalu. Langit tetap tersenyum ketika memperingati malam itu dan Allah telah menghadiahkan malam yang indah itu kepada umat Muhammad. Malam itu akan menjadi saksi betapa megahnya Alquran dan betapa tersayangnya umat ini. Malam itu akan menjadi malam terindah dalam kehidupan seorang hamba ketika mendapatkannya. Dia lebih indah dari seribu bulan yang dihabiskan oleh manusia yang tak mendapatkannya. Malam itu, hamba akan mendapatkan jamuan yang istimewa dari Sang Penciptanya. Doanya akan dikabulkan, amalannya akan dilipatkan gandakan sebanyak-banyaknya, dosanya akan di leburkan. Malam itu semesta diliputi oleh rahmat Tuhan yang tak terbatas. Para malaikat turun ke bumi dengan membawa lantunan doa dan permohonan ampun, kepada hamba yang di berikan anugerah untuk merasakan belaian lembut dari Allah Yang Maha Lembut.
Sehingga kehidupan yang dulu kelam diselimuti dosa, pada malam itu akan berakhir dengan menyongsongnya fajar kehidupan. Fajar yang akan menerengi tiap relung kehidupan sang hamba. Fajar yang mengusir bingar dosa yang mengaung. Lembaran amalan yang dulunya tipis kini menjadi tebal dengan kepemurahan Allah yang tak bertepi.
Ingin rasanya ku kecap indahnya malam itu, dan itu ku awali dengan mendoakan saudaraku yang seiman agar lebih dulu merasakannya. Semoga.

0 comments:
Post a Comment