Tuesday, October 7, 2008

Tafakkur dan Aktifitas Filosofis

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang yang mempunyai hati. Yaitu orang mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, (mereka berkata) wahai Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari azab neraka. Qs:03:190-191.

“Ketika kita berusaha untuk membungkam suara akal, maka sebuah konsekuensi logis yang harus kita dapati adalah mengucapkan selamat tinggal kepada filsafat”. Demikian ungkapan yang dilantunkan oleh seorang pakar filsafat Mesir, DR. Athif Iraqy. Akal merupakan sebuah anatomi metafisik yang menyemburkan benih perdebatan dikalangan pemikir umat manusia. Akal dan aktifitasnya merupakan ladang subur untuk tumbuhnya benih perdebatan dalam kubu suatu masyarakat madani, dan Islam pada khususnya.


Kubu yang diwakili oleh golongan sufi, berusaha menafikan peran akal dalam upaya merelungi samudra hikmah Ilahi. Akal hanya mampu sampai kepada nilai formalitas sesuatu tapi tak mampu sampai kepada nilai substansialnya. Akal dalam paradigma kaum sufi hanya mampu sampai kepada tanda akan adanya sang Khaliq, namun untuk berusaha untuk mengenalnya, akal tak mampu menembus dinding ini. Ketika Sufyan Atsauri ditanyai tentang dalil keberadaan Tuhan, dia menjawab, “Allah”. Kemudian dia ditanya balik akan peranan akal, dia menjawab, “bahwa akal lemah, dan yang lemah tak mampu mengetahui kecuali yang lemah juga”. Dengan jelas bahwa Sufyan Atsauri berusaha mendistorsi peranan akal dalam upaya merelungi dimensi ilahiyah.


Berbeda dengan kaum rasionalis yang mengusung panji kebesaran akal. Mereka adalah golongan yang meyakini akan kemutlakan akal. Kubu ini diwakili oleh para kaum filosof dan para teolog. Dalam pandangan para filosof akal mampu menembus tapal yang tidak mampu ditembus oleh para kaum sufi. Mereka meyakini dengan akal mereka mampu sampai kepada sebuah kulminasi yang membawa kepada pelabuhan ma’rifatullah. “Akal merupakan bias dari cahaya ilahi.” demikian tutur Ghazali dalam kitab Misykat Anwarnya. “Ataukah akal merupakan wakil tuhan dalam jiwa manusia.” dalam paparan Al-Jahizh. Sehingga segala konspirasi yang ingin menafikan peran akal dalam upaya untuk menapaki relung-relung ketuhanan dianggap sebuah upaya pelumpuhan untuk menggapai hikmah ilahi. Mereka berpijak kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, “mereka mempunyai hati tapi tidak berpikir, mereka mempunyai mata tapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tapi tidak mendengar, mereka seperti hewan bahkan lebih sesat”. Dari premis inilah mereka beranggapan bahwa menghilangkan peran akal dalam kehidupan ini seperti menghilangkan nikmat penciptaan panca indera. Bahkan penafian fungsi akal dianggap sebuah dosa yang dicela dalam Al-Qur’an. Ketika para penghuni neraka menyesali kebebalan mereka, mereka berkata, “jikalau kami mendengar dan bepikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir”.

Dibalik alotnya perdebatan antara kubu kaum sufi dan kubu pengusung panji kemuliaan akal yang diwakili oleh oleh filosof dan teolog. Ada sebuah korelasi diantara keduanya, kaum sufi ketika berbicara tentang fungsi akal, mereka membatasi tapi tidak menafikan peranan akal itu. Mereka mengakui akan kemampuan akal yang mampu sampai kepada taraf pembacaan ayat-ayat kauniyah. Mereka tak sampai membuang akal dalam kehidupan ini. Disana ada hadits Nabi yang mengatakan akan pentingnya bertafakkur.

“Bertafakkur sesaat lebih mulia dibanding ibadah semalaman.” demikian ungkapan Nabi. Beliau menyadari dengan aktifitas tafakkur sebuah generasi yang menguasai peradaban akan lahir. Tafakkur mampu menghancurkan nilai egois dalam jiwa tiap individu. Dengan tafakkur seorang hamba mampu menghilangkan dimensi ananiyah dalam dirinya, dia mampu menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendirian dalam jagad raya ini. Dia hidup dibawah pengawasan Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga nantinya akan melahirkan sikap muraqabah. Disamping itu juga seorang hamba menyadari bahwa dirinya senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Penciptanya dan segala jeritan dan rintihan oleh masalah yang dialami pasti diketahui oleh Tuhannya. Dia tak sendiri dalam kehidupan ini.

Ayat diatas dengan kekuatan maknanya menceritakan akan kemuliaan tafakkur. Beranjak dari hikmah penciptaan langit dan bumi, Allah SWT memanggil para hambanya untuk merelungi dan memikirkan gejala dari alam ini baik yang makro dan mikro. Allah telah menaburkan mutiara-mutiara hikmah di tiap celah dari alam ini. Seorang hamba yang mampu memetik dan menuai mutiara hikmah itu tanpa tersadar akan terheran dan takjub akan kebesaran Allah. Dia dengan spontannya akan mengucapkan, “Maha Suci engkau ya Allah, tidak sia-sia engkau menciptakan alam ini”. Ketika dia menyadari akan kebesaran penciptanya, maka secara otoamatis dia akan berusaha memenuhi tiap panggilan dan seruan ilahi. Dia menyadari akan kekurangan dan kekerdilan dirinya ditengah megahnya jagad raya ini. Sehingga ini akan mengatarkan kepada ketergantungan dirinya dengan penciptanya. Dia butuh penciptanya untuk segala aktifitasnya, dia butuh penciptanya di tiap relung kehidupannya, dia butuh pertolongan penciptanya untuk sampai kepada kebahagiaan yang paripurna. Dia butuh itu semua. Dan lebih lagi dia sangat takut kepada siksaan yang akan menunggunya nanti ketika dia mengabaikan perintah Tuhannya. Dia sangat takut dengan hal itu tanpa tersadar lagi dia berucap, “maka hindarkanlah kami dari siksaan api neraka”.

Tafakkur memang mempunyai peranan yang sangat urgen di dalan Islam. Islam dari awal telah mencela budaya taklid buta kepada nenek moyang, serta mitos yang diterima dari pendahulu tanpa adanya budaya kritik terhadap kesahihan berita itu. Demikian juga Islam berupaya memerangi beberapa praktik perdukunan yang dianggap sebagai sebuah upaya yang menghilangkan peranan akal dalam kehidupan ini. Lihatlah ketika Ibrahim anak Nabi meninggal yang disertai dengan gerhana bulan, sehingga orang-orang waktu itu menilai bahwa gerhana terjadi disebabkan wafatnya anak Nabi, ketika mendengar hal ini Nabi langsung menyangkal dan dengan lantang berkata, “sesungguhnya bulan dan matahari merupakan dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana disebabkan oleh matinya seseorang”. Sehingga dengan jelas bahwa setiap akidah dan ajaran Islam tak ada yang bertentangan dengan hukum akal, walaupun ada sebagian yang tak mampu dicerna oleh akal tapi itu tak mengindikasikan akan kejumudan Islam, tapi itu lebih kepada upaya pemaksimalan penyerahan diri sang hamba kepada Tuhannya.

Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali menghangatkan semangat tafakkur kita yang telah membeku sekian lama. Dengan spirit yang terkandung dalam Ramadan ini semoga mampu mengoptimalkan semangat tafakkur dalam diri kita. Sehingga iman yang dulunya yang sedikit goyah, akarnya mampu menghujam kembali dalam hati kita dengan kokoh. Ghazali dalam Mi’raj Salikinnya mengatakan, ”wahai saudaraku ketahuilah ketika engkau hendak mengetahuai kebenaran dengan berpedoman dengan seseorang tanpa mengfungsikan akal dan hatimu maka telah sesat jalanmu. Karena sesungguhnya sorang ‘alim hanyalah laksana lampu yang memberikan sinar. Kemudian tangkaplah sinar itu dengan matamu, ketika engkau buta, maka tak ada gunanya lentera dan lampu bagimu. Barang siapa yang bersandar kepada taklid buta maka dia tela binasa…”.


0 comments:

Post a Comment