Tuesday, October 7, 2008

Kelam Fanatisme

Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berkabilah dan bersuku-suku supaya kalian dapat saling mengenal... salah satu ayat Al-Qur’an yang berimplikasi menafikan primordialisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Pesan ini telah disampaikan oleh baginda Rasul beberapa abad silam, dan telah dihafal dan difahami oleh masyarakat Islam diseantero dunia. Sebuah pesan ilahy yang menghendaki adanya sinkronisasi dan kebersamaan dalam setiap lapisan masyarakat. Ayat tuhan yang mengajarkan kita tentang kemutlakan akan adanya perbedaan namun perbedaan itu tak harus menjadi racun yang mengoyak tatanan dan kekokohan sebuah masyarakat.

Islam tidak mengenal fanatisme. Apatah lagi fanatisme yang akan merongrong dan sebuah komunitas sosial. Sejak awal Islam telah menekan laju fanatisme dan berusaha untuk menghapuskan slogan ta’asshub. Sebab, jika fanatisme golongan jika dibiarkan subur akan membawa masyarakat keseuatu chaos yang tak bertepi.

Namun sejarah telah menorehkan, kelam fanatisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah, fanatisme telah menghancurkan sebuah quwwah imaniyah yang telah dibangun oleh baginda Rasul, fanatisme juga merupakan pemantik dari penafsiran-penafsiran liar tehadap nash syar’i, baik dari Al-Qur’an ataupun dari hadis. Ironisnya, perkataan yang tidak benar, bahkan sangat tidak layak intuk disandarkan kepada Rasulullah harus disandarkan kepada beliau, hadist-hadist palsu ini kita kenal dalam dunia akademis kita sebagi hadist maudhu’.

Syi’ah dalam term awalnya, baik itu dari golongan Ali ra. ataupun dari golongan Mu’awiyah adalah perintis dalam memalsukan hadist Rasulullah. Alotnya perdebatan diantara kedua golongan itu sehingga tidak menemukan titik kesamaan, memaksa kedua golongan ini memalsukan hadist-hadist dari Rasulullah Saw. demikian juga konflik yang terjadi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, disatu sisi klan Umayyah mengkalim bahwa dari merekalah lahir pemimpin Islam, mereka telah diciptakan dengan fitrah riyasah dalam diri mereka, mereka adalah pemimpin baik itu pra maupun paska kedatangan Islam. Mereka adalah qiyadul ‘Arab.

Demikian juga yang terjadi terhadap Abbasiyyun sebagai salah satu oposisi dari dinasti Umayyah telah terlena akan primordialisme klasik sehingga mereka juga tak mau kalah dengan fanatisme dinasti Umayyah. Sehingga untuk membangkitkan self-confidence dipalsukan sejumlah hadist yang disandarkan kepada Rasulullah.

Hal yang serupa juga akan kita dapati ketika membicarakan Syi’ah. Sebagian besar doktrinitas dalam firqah Syi’ah adalah cerminan kelam fanatisme. Isu yang mengatakan bahwa adanya tahrif dalam Al-Qur’an, disebabkan kebencian mereka terhadap Abu Bakar ra, dan Usman bin Affan ra. Mereka tak mau mengakui akan jasa keduanya dalam dunia Islam, disamping itu untuk melegitimasi kepercayaan mereka terhadap tanshish a`immah, Ayatullah Khomaini saja ketika memaparkan dalil terhadap penyebab tidak dilampirkannya ayat dalam Al-Qur’an akan kepemimpinan imam mereka yang dua belas menyebutkan kemungkinan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh musuh ahlu bayt.

Demikian juga penghinanaan terhadap tiga sahabat besar Rasulullah Saw. hatta menganggap mereka sebagi perampok kekuasaan yang merampok kekuasaan Ali adalah merupakan gelembung-gelembung ta’asshubiyah yang tak berdasar. Sayyidina Ali bari’un minhum. Ironis memang…

Dalam skala politik Islam internasional, kelam fanatisme tak kalah hebatnya jika dibandingkan bagaiman atsar fanatisme dalam skala religius. Pada mulanya sisitem perpolitikan Islam tak mengenal adanya waratsatul riyasah yang dapat mengunci kretifitas dan kebebasan berpikir, yang ujungnya nanti, akan menghambat lajunya ilmu pengetahuan. Akibat bisikan fanatisme corak politik Islam berganti ke monarchi absolut. Pemimpin tak lagi dipilih langsung oleh Ahlul Hilli wal Aqdi akan tetapi ditunjuk langsung oleh sang raja. Istilah ahlul hilli wal aqdy hanyalah merupakan term fuqaha yang tak mampu menemukan eksistesinya dalam dunia ril.

Disamping dikotomi yang terjadi dalam pemerintahan Islam akan sangat menonjolkan sebuah fanatisme golongan. Dinasti Abbasiyah dalam sejarah kepemimpinannya, mempunyai berapa corak pemimpin yang mencerminkan golongan dan ras sang khalifah. Baik itu dari Persia ataupun dari Turki. Perbedaan karakter pemimpin bukanlah sebuah masalah, akan tetapi masalah yang terbesar ketika kebijakan politik yang diambil lebih menguntungkan satu pihak sahaja atau berat sebelah. Dinasti Saljuk ketika dia menaiki takhta khilafah, untuk menekan laju separatisme yang bergolak dan untuk melanggengkan kekuasaanya, salah satu kebijakan politiknya adalah melarang mempelajari mazhab fiqhi dan akidah selain mazhab Imam Ahmad Ibnu hanbal, sehingga dengan keputusan ini serangan dan fitnah dan kebohongan senantiasa beredar dimasyarkat dan mendapat backing dari pemerintah, tak heranlah ketika itu Imam Syafi’i di hina, Imam Asy’ary pendiri Asya’irah dikatakn sesat dalam akidahnya. Kondisi ini juga yang memaksa Imam Juwayni untuk meninggalkan Khurasan dan menjalani hidup yan nomaden antara Mekah dan Madinah selama 17 tahun, sehingga dia digelar sebagai Imam haramain.

Begitu juga yang terjadi dibelahan bumi Islam dibagian Barat, Andalusia tepatnya. Kota yang sebelumnya jembatan peradaban Barat untuk memasuki era keemasan seperti sekarang ini. Kehancuran dianasti Umayyah di Spanyol yang sebelumnya telah membentakngkan sayapanya mulai dari Barcelona, Sevilla, Granada,Valencia dan beberapa kota lainnya yang berada di Spanyol harus luluh ketika fanatisme mewabah dalam masyarakat Andalusia. Megah kejayaan yang dihasilkan Abdurrahman Ad-Dakhil, Hakam bin Hisyam, dan berapa pemimpin dari dinasti Umayyah yang mengopayakan proyek penyatuan ummat, harus hangus sia-sia ditelan oleh kelam fanatisme yang kejam. Ini terjadi ketika orang Arab yang belum mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan, ketika belum mampu berasimiliasi dengan masyarakat lokal, ketika mereka belum sanggup melepas seragam keagungan dimasa jahiliyah. Sehingga Andalusia harus kelam dalam perpecahan, perang saudara, kerajaan-kerajaan kecil selam 70 tahun. Ibnu hazm adalah merupakan saksi betapa fanatisme telah menghitamkan negeri beliau. Beliau hidup dimana kerjaan Andalusi yang dulunya kokoh, kini kerdil dengan perpecahan yang yang terjadi.

Betapa kelam, konsekuensi dari fanatisme ini…. Semoga dibulan Ramdhan fanatisme dapat dikikis, dan menumbuhkan sikap ekslusivisme ber-Islam, Nahnu qaumun a’azzana Allahu bil Islam wa iza ibtaghaina gairal Islami diinan azallana Allah! Semoga…


0 comments:

Post a Comment