Tuesday, October 7, 2008

Sisi Transendental dalam Filsafat Parmenedes

Dia adalah salah satu filosof dari Velia, dia adalah termasuk orang yang sangat berpengaruh dalam pemikiran metafisika Plato. Dia adalah orang pertama yang membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan non-indrawi. Tak heran, ketika Plato sangat menghormatinya dan mengaguminya.Kadang Plato menyebut sebagai ‘Parmenedes yang agung’, ‘Parmenedes yang bijak’ dan ‘bapak kita Parmenedes'. Demikian ungkapan salut Plato kepada Parmenedes.

Yang signifikan dalam filsafat Parmenedes, adalah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenedes. Rahasia ini adalah keyword dalam memahami filsafat Parmenedes. Dia adalah salah satu yang berkeyakinan akan keberadaan ‘Wujud Mutlak, yang tetap dan abadi’.

Untuk merelungi nilai subtansial ‘Wujud’ diperlukan sebuah aktifitas khalwat yang ekslusif yang tak mampu diraih oleh orang rendahan. Karena, menurut Parmenedes untuk sampai ketaraf ma’rifat, diperlukukan sebuah meditasi yang tak dapat diselami oleh orang awam. Filsafat Parmenedes serupa dengan filsafat Ghazaly dalam Islam dan ‘intellectual sympathy’ dalam bahasa Henry Bergusson.

Parmenedes terpengaruh dengan mitos ajaran rahasia agama puritan di zaman Yunani. Serupa dengan mauqif Phytagoras yang enggan membeberkan rahasia religus yang berhasil mereka selami. Sebagaiman legenda ‘Hippasus de Metanpontun’, seorang pengikut Phytagoras yang dibuang kelaut karena menyebarkan rahasia akar pangkat dua untuk bilangan dua. Sehingga untuk begabung dalam kubu ini, Plato menyaratkan titel filosof yang terbubuh didepan namanya. Bahkan untuk seorang hamba sahaya tidak dijinkan untuk menggeluti profesi ini.

Parmenedes dalam menginterpretasikan ajarannya, dia menggunakan metode simbolis untuk mendeskripsikan ajarannya. Demikian juga, dia menggunakan syair untuk menelorkan gagasannya. Sehingga Parmendes merupakan filosof yang pertama menggunakan syair untuk menyerukan buah pikirannya.

Parmenedes dalam syairnya mengaku telah disambut oleh Dike (dewa keadilan) yang memegang kunci cahaya untuk dapat menguk air kebenaran. Dia mendapat jamuan hangat dari para dewa. "Selamat datang wahai anak muda, selamat datang di serambi cahaya, serambi para pembimbing yang abadi. Jalan yang membawamu kesini bukanlah jalan yang ditapaki oleh orang awam. Karena yang membimbing mereka adalah Moira yang jahat. Akan tetapi yang membimbingmu adalah Themis (ketetapan yang adil). Harus kau ketahui wahai anak muda, kau harus menggeluti segala jenis pengetuhuan, hatta pengetahuan manusia yang fana, pengetahuan mereka yang temporal. Supaya kau mampu mengetahui segala sesuatu". Begitulah sambutan para dewa kepada Parmenedes yang menziarahi serambi cahaya. Demikian yang tertera dalam prolog syair Parmenedes.

Jelas yang terpaparkan disini adalah pengalaman ritual dia alami, yang lebih dekat dengan pengalaman ritual yang dimiliki oleh para kaum sufi, baik itu dari kalangan Budhisme, Nasrani atau dari kalangan Islam. Haqiqat yang dibahas oleh Parmenedes tak lain merupakan sebuah ilham yang dia dapatkan dari para dewa. Yang mengantarnya berfantasi ke serambi kebenaran, yang tak dapat dikecup oleh manusia awam.

Pandangan Parmenedes diatas mungkin bagi sebagian orang adalah merupakan mitos tolol. Akan tetapi sedikit yang tebenak dalam benak saya, ketika membaca alasan Ghazali mengkafirkan para filosof Islam. Menurut Ghazali filosof Islam telah berani membeberkan rahasia ketuhanan, yang dianggap telah jauh melewati tapal batas kemanusiaan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Dalam paradigma Ghazali ifsya sirr rububiyah kufr. Demikian analisa DR. Sulaiman Dunya sorang pakar yang mendalami hasil karya Ghazali. Klaim Sulaiman Dunya bukannya tidak beralasan, dia menemukan beberapa kesamaan pendapat Ghazali dengan pendapat para filosof yang di kafirkannya (baca; Ibnu Sina). Seperti kebangkitan jasmani yang di inkari oleh Ibnu Sina dan beberapa pendapat yang dianggap oleh sebagian orang sebuah sikap plin-plan Ghazali dalam pemikirannya. Namun yang pasti ‘Ma’arijul Quds’ merupakan karya Ghazali.

Walaupun sebagian orang berusaha menafikannya, seperti yang terjadi oleh Ibnu Sholah.
Demikian juga, Ghazali berpendapat bahwa seorang alim harus mampu mengharmonisasikan dengan zuruf dimana dia berada. Ketika dia berhadapan dengan seorang awam yang tak mampu memahami hal mujarradat, maka sebagai seorang alim yang bijak tak boleh memaksa sami’nya untuk melampaui batas pengetahuannya. Demikian juga ketika berhadapan dengan kaum jadaly (baca; tholog) maka dia harus berusaha untuk memahamkan mereka tanpa harus melewati batas keilmuan yang mereka miliki.

Seolah bahasa merupakan penjara yang mengurung seorang ‘penemu kebenaran’ untuk mengeksplorasikan hasil obeservasi yang mereka cicipi dari ‘arak ilahi’. Ini merupakan problematika yang dihadapi baik itu dari Parmenedes ataupun dari Ghazali. Kembali ke kasus Parmenedes, pengalaman spiritual yang dia dapatkan, mungkin tak mampu dia eksperiskan kepada khalayak ramai. Ini disebabkan oleh, selain dari kungkungan bahasa, jeratan dari agama puritan dari bangsa Yunani merupakan faktor terpenting bungkamnya seorang filosof. Sebab orang yang mengabaikan kepercayaan terhadap ‘tuhan nasional’ bangsa Yunani akan berakhir tragis. Socrates merupakan sebuah argument yang paling kuat akibat tekanan ini.

Namun apakah Parmenedes telah mengenal tuhan dengan sebenarnya? Apakah dia telah mampu mengetahui keesaan tuhan sebagaimana yang kita pahami (baca; Islam)? Apakah observasi Pamenedes telah sejajar dengan kaum sufi? Saya terlalu lemah untuk menghakimi Parmenedes..!


0 comments:

Post a Comment