a. Prolog
Perseteruan antara wahyu dan akal, merupakan sebuah problematika klasik namun terus up to date. Problematika ini terus hangat, seolah api yang membakar tungku perseteruan, kayu bakarnya terus terisi dan tak pernah habis. Demikian juga penafsiran yang mengklaim bahwa mereka adalah perwakilan dari langit terus berdatangan, yang membuat hawa perseteruan ini semakin panas. Sejatinya akan memicu kepada usaha untuk penafsiran atas problematika yang ada. Apakah akal (baca:filsafat) dan wahyu merupakan musuh sejati? Keduanya tak dapat bersatu? Ketika wahyu telah ada, maka akal harus diam dan pasrah? Ataukah keduanya merupakan sahabat yang kompak? Akal menopang nilai absolusitas wahyu? Demikian juga wahyu memberikan ruang untuk akal, untuk mampu mendaki kepada sebuah Absolusitas Mutlak (baca:Tuhan)? Ataukah ada rival lain selain akal, yaitu instuisi-dzuq, wijdan- yang mampu sampai kepada Absolusitas Mutlak?
Pertanyaan itu akan terus ada disetiap agama samawy, baik itu Yahudi, Nasrany, dan Islam. Di kalangan Nasrani misalnya, disana ada Gostin dan Ithnagoras yang berusaha mendamaikan antara wahyu dan akal. Namun disana juga ada Taytan sebagai rival mereka, yang menganggap bahwa filsafat dan wahyu bagai minyak dan air, sehingga mereka tak mampu bersatu . Demikian juga terjadi di dunia Islam, ketika trend transliterasi literatur-lteratur Yunani begitu pesat di masa khilafah Abbasiyah. Maka sebuah keniscayaan akan terjadi reaksi dari beberapa golongan Islam untuk menjawab pertanyaan di atas. Pada abad ke empat, para fuqaha Hanabilah yang paling banter menolak filsafat dalam dunia Islam . Bahkan Qadhy Yusuf Hanafy mengatakan dengan lantang, “Barang siapa yang mencari agama dengan kalam maka dia adalah zindiq, dan siapa yang mencari uang dengan kimia maka dia akan rugi, dan siapa yang berkata dengan hadis gharib maka dia adalah pendusta” . Refleksi kontras dari mauqif ini, tentunya memincu para fans filsafat Yunani khususnya fans Aristoteles, untuk berusaha mensinergikan antara wahyu langit dan akal bumi. Ibnu Rusyd misalnya, mengatakan, “Jikalau sang faqih melakukan ini (qiyas) dalam hukum syariah, alih-alih yang melakukan ini adalah shahib burhan? Sang faqih hanya memiliki qiyas zhanny, sedangkan sang arif (filosof) memiliki qiyas yaqiny. Sudah dipastikan, setiap dalil burhan yang mengimplikasikan adanya pertentangan dengan literalis syariah maka diharuskan untuk menta`wilkannya, sesuai dengan metode ta`wil Arab. Ini adalah premis yang tak seorang muslim pun meragukannya.”. Dari sini, Ibnu Rusyd berusaha untuk mensinergikan antara filsafat dan wahyu, jikalau wahyu mampu dita`wilkan dengan qiyas, mengapa tidak untuk menta`wilkan wahyu dengan filsafat?
Terlalu sulit untuk menghakimi perseteruan diatas, namun yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, beberapa filosof Islam yang berusaha memadukan wahyu dan akal untuk membentuk sebuah komposisi yang menghantarkan kepada kebenaran absolut. Dalam upaya sinkronisasi ini tentunya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban dari luar. Salah satunya adalah dari Yunani, baik itu Yunani yang di bungkus oleh baju Helenistik, kebudayaan kota Charrae , golongan Nusturah dari Nasrani, ataukah metode ta`wil Phylon dari Yahudi. Namun yang paling mewarnai karakteristik para filosof muslim pada waktu itu adalah ruh Yunani pada umumnya dan Aristotelian pada khususnya, yang meliputi banyak pemikiran mereka. Seperti yang terjadi pada Al-Kindy, Farraby, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Di makalah yang sederhana ini kita akan mencoba melihat pengaruh filsafat Yunani dalam pembentukan karakteristik berpikir para filosof muslim. Kita akan mengkhususkannya kepada empat kelompok yaitu; kaum sophis, Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta membatasi pada beberapa dimensi filsafat mereka.
Tuesday, November 11, 2008
Islam dan Yunani, antara Bumi Wahyu dan Negara Akal
b. Kaum Sophis dan Pembumian Filsafat
Sebelumnya metode pemikiran filsofis sebelum kemunculan kaum sophis hanya berputar dan bergelut pada masalah asal-usul dari penciptaan materi, kepercayaan hylotheisme, dan trend occultisme, baik itu tercermin dari maraknya dedukunan dan sihir, ajaran-ajaran rahasia yang di usung oleh Pythagoras dan para pengikutnya, ataukah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenides. Sehingga membatasi masyarakat akar rumput untuk menikmati dan mengecap ajaran filsafat.
Disamping keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat Athena dalam melawan konfrontasi militer dari Persia. Membuat kestabilan politik masyarakat Athena semakin kokoh. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian disini, adalah golongan pedagang, nelayan, dan petani yang ikut membantu peperangan ketika melawan Persia, akhirnya mampu bersuara di parlemen Yunani. Akhirnya dari suara merekalah, sehingga sistem demokrasi terpilih menjadi corak politik Athena . Iklim politik seperti ini meniscayakan sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dulunya hanya di kalangan tertentu sahaja, dan dengan corak yang sangat ekslusif. Filsafat yang dulunya bersifat rahasia, akibat revolusi pengetahuan itu menjadi informasi yang dapat disantap oleh khalayak ramai.
Peranan kaum sophis dalam mengeluarkan filsafat dari kerangkeng ekslusifitas ke medan khalayak ramai tercermin pada pengajaran dan institusi yang mereka dirikan. Kaum tertinggal yang duduk di parlemen, berkat revolusi ini, dipaksa untuk menjadi kaum terdidik. Sehingga mereka harus belajar dengan pengetahuan yang marak waktu itu. Filsafat merupakan ciri keterpelajaran mereka, namun karena filsafat hanya dimiliki oleh golongan tertentu sahaja, dan tak mampu digeluti oleh orang awam. Hal ini sempat membuat nyali mereka ciut, namun kaum sophis mucul dan menepis persepsi itu. Mereka hadir dan mengusung slogan eksistensi manusia, mereka dengan lantang menyerukan akan peranan tiap individu dalam pembentukan sebuah ilmu pengetahuan. Setiap individulah penentu akan kebahagiaan dan kesengsaraan mereka. Kaum sophis adalah kaum yang menyerukan kemampuan manusia. Kaum sophis adalah golongan yang pertama mempertanyakan nilai dari pengetahuaan kemanusiaan. Kaum sophis adalah kalangan pengajar filsafat untuk disantap ke khalayak ramai. Kaum sophislah yang pertama menurunkan filsafat dari langit kebumi, sebagaimana yang dilakukan oleh Socrates. Kaum sophis adalah pencerahan terhadap metode filosofis yang cukup kelam di masa sebelumnya.
Namun karena penyimpangan historis yang dilakukan oleh para murid Socrates –baik itu Plato dan Aristoteles- sehingga membuat citra buruk kaum sophis, khususnya di kalangan muslimin. Kaum muslimin tak mengetahui apa yang dicapai oleh kaum sophis, dan dari penelitian sejarawan moderen. Sehingga yang mereka ketahui hanyalah sebuah keraguan terhadap nilai pengetahuan dan nilai aksiomatis. Mereka tahu hanyalah ajaran ajaran Protogoras, yang menilai kebenaran dari sudut pandang diri manusia sehingga mengantarkan kepada relativitas pengetahuan. Namun tak mampu menjangkau apa yang diingingkan oleh Protogoras, yaitu kemampuan manusia untuk menggali dan mempelajari pengetahuan. Kaum muslimin hanya mengetahui ajaran Georgoras dan Byron yang ragu-syak, scepticism- terhadap nilai. Secara global kaum muslimin meletakkan kaum sophis pada pembahasan penetapan nilai aksiomatik dan nilai absolusitas ilmu, dalam pembahasan kalam mereka.
Perlu mendapatkan penekanan disini, kaum sophis berubah menjadi liar ketika para pengajar melihat bahwa dengan mengajarkan filsafat dan retorika merupakan ladang mengais rezki. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menarik murid sebanyak-banyaknya agar bayaran mereka dan status mereka semakin tinggi. Disamping tak ada pembatasan yang dilakukan kaum sophis dalam pengajaran filsafat, banyaknya para filosof gadungan yang berusaha mengais materi untuk kepentingan perut, membuat hal semakin keruh. Sehingga siapa saja dapat berfilsafat, tanpa melihat kadar intelektual yang mereka miliki. Mungkin ini kembali kepada ajaran pertama Protogoras yang menggusung individu adalah ukuran dan tolok ukur sebuah kebenaran. Hal inilah yang mengeruhkan dan membuat kelam citra kaum sophis kala itu. Faktor ini jugalah yang membuat geram Socrates dan memaksanya untuk menyembuhkan virus relativitas segala sesuatu, dan keraguan terhadap kebenaran, yang ada di masanya.
Namun yang cukup menggelitik di sini adalah tudingan sebagian sarjanawan yang menganggap bahwa metode dilektika yang ada pada Mu’tazilah merupakan pengaruh dari metode dialektis kaum sophis. Sebuah tudingan yang lucu, dan menggelikan. Mungkin mereka menopang pendapat mereka, dari mauqif Mu’tazilah tentang hadis ahad, dan ijma’. Khususnya pada Ibrahim Nazzham, karena menurut historolog muslim, dia banyak bergelut dengan kaum Tsanawiyyah, kaum Samaniyah yang berpendapat bahwa tidak ada argumentasi yang pasti, dan dia juga bergaul dengan kaum atheis dari kalangan filosof. Salah satu pendapat yang cukup mengundang kontraversial di kalangan muslimin, adalah pengingkaran Nazzham terhadap ijma’, dan periwayatan dalam hadis mutawatir berkemungkinan untuk terjadi kesalahan pada para rawinya. Dari pengingkaran ini, baik itu dari ijma maupun dari hadis mutawatir diklaim sebagai pengingkaran terhadap sebuah nilai aksiomatis. Karena menurut para sarjanawan muslim, hadis mutawatir dan ijma setara dengan aksioma dalam pembentukan pengetahuan. Hal ini yang mungkin membuat para sarjanawan –yang menganggap semua yang ada dalam Islam adalah hasil ciplakan- untuk melegetimasi tuduhan mereka. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi di sini, Khayyath dalam Intisharnya telah membantah pendapat tersebut, bahkan dengan lantang mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaan dan kebohongan Ibnu Rawandy , sang atheis yang terkenal.
c. Socrates dan Akhlaq
Dalam historisasi bibliografi Socrates kita akan berhadapan dengan sebuah kontradiksi yang cukup membingungkan. Salah satunya, Aristophanus yang menganggap Socrates sebagai perpanjangan dari kaum sophis, yang terlalu berlebihan dalam seni dialektika, dan bermain-main dalam abtraksi pemikiran . Hal serupa juga terjadi pada Nietzche, dia tidak begitu mengidolakan Socrates, bahkan dia menganggap bahwa Socrates adalah penyebab kejumudan akal Eropa pada middle age. Namun pandangan lain terjadi pada Plato, dia menganggap bahwa Socrates merupakan sosok yang dia hormati, dan merupakan gurunya. Pastinya, Socrates merupakan sosok yang berpengaruh pada pemikiran filsafat manusia. Bahkan Socrates dijadikan pemisah oleh sejarawan dalam mengklasifikasikan karakteristik filsafat pemikiran Yunani.
Socrates adalah sosok yang berpengaruh dalam dunia filsafat manusia. Dia adalah sosok yang optimis dalam kehidupannya, walaupun Plato mensifati tampilan Socrates yang buruk rupa, namun ini tak membuat dia putus asa. Bahkan dia bersyukur dengan kemanusiaannya, dengan penciptaannya sebagai pria bukan sebagai wanita, dan sebagai bangsa Athena bukan bangsa Barbar. Socrates juga meyakini bahwa cinta adalah ibadah, namun dia mengingatkan kepada pemuda dimasanya agar tidak berlebihan dalam cinta, dan juga menasehati semasanya untuk menjaga kestabilan dan keharmonisan jiwanya . Demikian juga Socrates mengajak manusia kepada pengetahuan yang bermanfaat dan mampu tercermin di prilaku dan kehidupan sehari-hari. Kebodohan dimata Socrates adalah radzilah dan pengetahuan adalah fadhilah. Sehingga yang tercermin dari filsafatnya adalah pandangannya dalam akhlak dan pembangunan dan karakteristik di masanya. Socrates ingin meluruskan prilaku kaum sophis yang telah menyimpang dari maksud awalnya.
Filsafat yang paling signifikan dalam ajaran Socrates ajaran akhlak yang diusungnya. Dia begitu banter untuk mengajak manusia untuk mengenal dirinya demi sampai kepada pengatahuan yang bermanfaat demi kelangsungan hidup mereka. Dengan bertolak kepada pengetahuan individu terhadap dirinya akan menggiring kepada sebuah intropeksi dan kesucian prilaku. Dengan pengetahuan terhadap jiwa manusia menurut Socrates, akan membawa kepada realisasi nilai-nilai kebajikan dan kebaikan yang abadi. Karena dengan mengetahui jiwa tiap individu akan mengantarkan kepada apa yang pantas, dan tidak pantas dalam jiwanya, sehingga akan mengantarkannya kepada kebenaran yang mutlak . Slogan ‘ketahuilah dirimu’ selanjutnya begitu marak menghiasi literatur dalam dunia tashawwuf Islam. Diantaranya Ghazaly, yang menjadikan barometer pengetahuan manusia terhadap dirinya, adalah kadar pengetahuan individu itu terhadap Tuhannya. Dengan pengetahuan manusia terhadap dirinya, dimata Ghazali adalah kunci dari segala ilmu, pangkal dari makrifat, dan jalan menuju Allah.
Namun sebuah hal yang harus digaris bawahi disini, adalah slogan ‘ketahuilah dirimu’ tak mampu memberikan kita apa-apa untuk memahami filsafat Socrates, slogan itu hanyalah menyingkap kepada kita nilai akhlak yang terkandung di dalamnya.
d. Plato dan Negara Ideal
Plato merupakan filosof yang pertama menyusun dan mengklasifikasi masalah dan problematika filsafat. Dia membahas masalah qadhayah filsafat di berbagai dimensinya. Dia adalah pendiri institusi yang sangat popular waktu itu, yaitu Akademi. Akademi terambil dari nama seorang pejuang klasik Athena yang bernama Akadimus . Akademi ini semacam komunitas ilmiyah religius, di Akademi ini, dia mendirikan sinagog, dan proses pengajaran berlangsung di sana . Dari Akademi inilah lahir beberapa filosof besar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia. Di antaranya Aristoteles dan Thimawus.
Plato merupakan seorang petuhan yang pertama dan peletak dasar dan sendi ketuhanan dalam sebuah metodologi filosofis . Tuhan di mata Plato adalah zat abstarak yang berakal, penggerak dan pengatur, indah dan kebaikan, adil dan sempurna. Dia adalah basíith yang tak tersusun, satu tidak plural, tetap dan kekal tak berubah, tak berawal dan tak berakhir . Demikian gambaran singkat gambaran filsafat metafisika Plato, sebuah filsafat yang sangat dalam dan luas, perlu pembahasan lanjut untuk mengupas dan mengurai filsafatnya.Tapi yang akan menjadi pusat perhatian kita disini adalah mujtama’ mitsalynya yang mendapat tempat yang layak di mata filosof Muslim, dan Farraby pada khususnya.
Plato dalam menelorkan gagasan dan buah idenya, dia banyak terpengaruh oleh metode gurunya, Socrates, yaitu sistem dialog. Diantaranya, Fidon, dan Jumhuriyyah- Republic-. Dari yang terakhir inilah Plato menelorkan gagasannya. Dia memasukkan dalam dialognya ini syair dari Odessa untuk membantah atau menguatkan argumennya. Secara global kumpulan syair Odessa ini mencakup problematika alam, pemandangan kosmos, peperangan manusia dengan dewa laut, dan deskripsi para dewa yang menggelikan. Kumpulan puisi ini adalah sebagian besar merupakan mitos kuno masyarakat Yunani. Dari sini Plato ingin merubah kondisi sosial Athena waktu itu, dengan menekenkan pada aspek akhlak sosial demi menanamkan nilai keadilan pada masyarakat Athena. Sehingga filsafat idealisnya sangat terpangaruh pada aspek keadilan dan kebaikan.
Sebuah negara muncul dan berdiri, di mata Plato, dari kebutuhan manusia terhadap pertolongan dari yang lainnya. Negara lahir ketika kebutuhan manusia tak mampu mereka penuhi dengan mengandalkan diri mereka sendiri . Sorang pedagang, untuk melancarkan aktifitas dagangannya, memerlukan transportasi, alat untuk berproduksi, dan orang yang menjaga dan mensuplai dagangannya. Demikian juga seorang petani, dalam bertani, dia memerlukan alat untuk membajak ladangnya, dan tentunya harus beriteraksi dengan tukang besi, dan seterusnya. Ketika manusia tak mampu memenuhi kebutuhan mereka dengan mengandalkan diri mereka sendiri, maka meniscayakan adanya interaksi sosial antara mereka. Tentunya ketika terjadi interaksi sosial, di sana akan terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan distorsi hak dan kewajiban tiap manusia. Sehingga kebutuhan dan keniscayaan ini memerlukan wadah untuk menampung mereka semua, serta memenuhi hak mereka secara adil. Dari premis ini terbangunlah kebutuhan manusia terhadap negara.
Tujuan sebuah negara, adalah menerapkan nilai keadilan di tiap kelas masyarakat dengan cara yang komprehensif. Keadilan ini merupakan aspek asasi dalam dialog Republicnya. Keadilan yang dimaksud Plato di sini, adalah setiap individu, baik itu sahaya atau merdeka, pria atau wanita, pekerja atau pemerintah, untuk konsisten dengan pekerjaan dan profesi masing-masing. Dia sangat melarang kepada golongan-golongan tersebut memasuki atau ikut campur pada medan yang bukan profesinya, karena itu akan mengantarkan kepada sebuah dekontruksi dan dekadensi sosial dan negara.
Plato membagi lapisan sosial kepada tiga kelas yaitu:
• Penguasa, keistemawaan mereka adalah hikmah yang mereka miliki. Hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi, yaitu pengetahuan mengatur sebuah negara, dan mampu membimbing kepada kebajikan yang mutlak. Kelas ini merupakan kelas yang tertinggi. Kelas ini hanya mampu diisi oleh seorang filosof.
• Golongan militer, keutamaan yang mereka miliki, adalah jiwa kesatria yang terpatri dalam jiwa mereka. Mereka memiliki jiwa yang tegar, pengalaman yang luas, pandangan yang panjang, dan kekuatan fisik yang mendukung. Kalangan ini bertugas untuk melindungi negara dan membela serta melawan musuh yang merusak kestabilan sebuah negara.
• Kelas umum, tercermin pada golongan pedagang, petani, dan segala bentuk profesi lainnya. Mereka adalah yang menangani komuditi dan perekonomian sebuah negara, produksi dan ekspor negara. Jiwa mereka terpancar nilai kesucian dan keinginan material.
Plato meyakini bahwa tiap manusia memiliki mawahib dari ketiga golongan diatas. Tiap manusia telah dibekalkan dalam dirinya, dari Tuhan, salah satu dari tiga profesi diatas. Plato juga menyerukan untuk menyatukan misi dan visi dalam menghadapi kondisi krisis yang menimpa sebuah negara, dalam keadaan tertentu. Sehingga gambaran sebuah negara adalah seperti tubuh, jika salah satu bagiannya terkena sakit maka yang lain tentunya akan merasakan sakit yang sama. Bahkan Plato menganggap sebuah negara yang ideal adalah negara yang berkongsi pada wanita, anak-anak, tak ada yang memiliki harta pribadi, dan tempat tinggal pribadi.
Plato juga meyakini, bahwa kesengsaraan manusia tak pernah hilang dan terhapus, kecuali pemimpin yang mengatur negara itu adalah seorang filosof. Dengan kata lain, bahwa pemimpin harus memadukan antara kemampuan politik yang dimilikinya, serta kemampuan berfilsafat yang dia geluti. Seorang pemimpin dimata Plato harus memenuhi kriteria di bawah ini untuk mampu menjadi seorang politisi filosofis:
•Fitrah yang suci dan murni yang berpotensi kepada segala bentuk jenis pengetahuan.
•Kecintaan terhadap Eksistensi yang Absolut, yang tak terhapus oleh zaman, dan tak berubah di masa kritis.
•Kecintaan terhadap kebenaran dengan cinta yang sebenarnya, dan kebencian terhadap kebohongan dan penipuan dengan kebencian yang sesungguhnya.
•Menanggalkan ketamakan material.
•Kesucian dari kerakusan syahwat, dan kepentingan duniawi.
•Menghindari dari memandang remeh sesuatu, karena itu merupakan musuh besar dari orang yang menghiasi jiwanya dengan dimensi transendental.
•Zuhud dari kehidupan dunia, dan tak takut dalam menghadapi kematian, karena jiwa yang besar adalah dan pemikiran yang dipancari oleh sinar-sinar ketuhanan, tak melihat dalam kehidupan dunia ini sesuatu yang mampu menarik dan menawan hatinya.
•Kesuacian hati, interaksi yang lemah lembut, adalah merupakan tanda dari akhlak filsafat.
•Pikiran yang tanggap, kekuatan intelektual yang tinggi, pecinta keindahan, kesucian jiwa, adalah merupakan sifat yang signifikan dalam nilai substansi filsafat.
Inilah negara ideal Plato, selanjutnya akan sangat mempengaruhi Farraby dalam Madinah Fadhilahnya. Farraby merupakan sorang filosof muslim yang sangat menaruh perhatian pada masalah sosial. Sehingga Farraby dalam dunia Islam dikenal sebagai ‘shahib madinah fadilah’. Yang menjadi perhatian kita di sini adalah fikrah Farraby dalam menyikapi sang pemimpin negara idealnya. Dia berusaha menggabungkan antara wahyu langit dan bahasa akal. Sehingga dialah yang pertama menafsirkan problematika kenabian dengan metode filosofis . Selain menyebutkan syarat yang disebutkan Plato, sebagai kriteria pemimpin negara ideal. Farraby menambahkan sebuah syarat yang tak tepikirkan oleh Plato, yaitu seorang pemimpin negara ideal harus menggapai derajat penyatuan terhadap aql fa’al –intellect active - dari aql fa’al inilah cipratan wahyu dan ilham akan tercurah kepada pemimpin negara ideal itu. Aql fa’al ini merupakan salah satu dari akal yang sepuluh, yang mengatur komos ini. Kenabian dan kerasulan juga berasal dari penyatuan dirinya dengan aql fa’al ini. Seorang nabi mampu bersatu dengan aql fa’al karena mampu melepaskan jeratan-jeratan nafsu dan syahwat, dan dengan berfikir dan bertafakkur. Sehingga para nabi mampu menuju kederajat dengan aql mustafad –intellectual acquirs -, dan akhirnya mampu mendapatkan pancaran berupa wahyu ilahy dalam dirinya. Demikian juga seorang manusia, dapat bersatu, dan merasakan kelezatan spiritual dengan penyatuan dirinya dengan aql fa’al, dengan cara tafakkur, dan nazhar. Maka nantinya akan menggiring kepada fikrah ‘kasbiyyah nubuwwah’ atau kenabian dapat diperoleh dengan mujahadah nafsiyah, bukan dengan anugerah dari Allah. Apa yang dicapai oleh Farraby, merupakan pemikiran yang sangat berbahaya jika jatuh kepada golongan yang tak bertanggung jawab. Sebab dari pemikiran ini akan mengantarkan kita kepada sebuah konsikuensi yang liar, jika tak digunakan sebagaimana sang empu menginginkannya. Dari pemikiran ini, Syi’ah menopang slogan ‘qudasah a`immah’ dan membuka jalur langit yang sebelumnya telah tertutup. Tak heran, ketika golongan Syi’ah yang ekstrim ada yang berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan muncul Imam yang akan menghapus syariat Muhammad dan membawa syariat baru. Demikian juga golongan Bathiniyyah yang mengklaim, bahwa dengan mengetahi bathin dari sesuatu akan meruntuhkan kewajiban, dengan beralasan bahwa itu wahyu yang mereka dapatkan. Lebih ironis lagi, ketika pemikiran Farrabi ini jatuh di tangan orang atheis, yang sengaja ingin menghancurkan Islam, Ibnu Rawandy misalnya, akibat fikrah kasbiyyah nubuwwah maka dengan terang-terangan membantah kenabian. Pengingkaran terhadap kenabian merupakan aksi nyata terhadap penafian tuhan. Sebab atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan jelas menafikan kenabian, jangan tunggu sampai seseorang mengatakan ‘tuhan telah mati’, setelah itu kita mengatakan bahwa itu adalah sebuah ajaran atheis. Akan tetapi atheis tercipta ketika seseorang menafikan nubuwwah .
e. Aristoteles dan Mantiq Shury
Setiap dari kita pasti pernah mendengar nama Aristoteles, semua orang yang menggeluti dunia akademis, mungkin pernah berinteraksi dengan nama ini. Kemasyhuran dia miliki cukuplah menjadi argumentasi akan kedudukan dan tempat Aristoteles dalam filsafat manusia. Dialah orang yang paling berpengaruh dalam dunia metodologi manusia, baik yang menolak atau yang mengidolakannya, tak akan mempengaruhi ketenaran Aristoteles. Tentunya untuk menyelami dan menggeluti filsafatnya makalah yang sederhana ini tak akan mampu untuk membahasnya. Sehingga di sini kita akan menekankan pada ilmu logik yang dia kemukakan. Yaitu yang kita kenal sebagai mantiq shury, dan itu telah kita pelajari di Azhar di tingkat satu dan tingkat dua. Jadi saya tak perlu lagi mengupas lebih dalam lagi masalah itu. Namun di sini saya berusaha memaparkan gambaran singkat mantiq Aristo dalam dunia Islam, serta pengaruh yang ada dalam mantiqnya ini.
Organon merupakan karya Aristoteles yang di terjemahkan ke dunia Islam, Organon ini, ketika diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tak lepas dari ta’liq dan syarah dari pengagum Aristoteles, diantaranya Alexander Ifradousi, dan Pourpiyus. Penerjemah yang paling terkenal dalam dunia Islam adalah Hunain bin Ishaq, dan Bassyar bin Mathiyus, dan Yahya bin Ady. Mereka semua dari kalangan Nasrany . Selanjutnya penafsir dari mantiq Aristoteles pertama dari golongan Islam adalah Al-Kindy sehingga dia dikenal sebagai ‘mu’allim tsany'. Namun penafsir terbesar di middle age dan paling berpengaruh pada masa renaissance adalah Ibnu Rusyd.
Kaum muslimin dalam menerjemahkan dan menjelaskan mantiq Aristoteles, tak hanya mengikuti dan membebek begitu saja, akan tetapi dia menambahkan maddah-maddah baru yang tak ada dalam mantiq Aristoteles. Misalnya korelasi bahasa dan makna dalam pembentukan pemahaman, subtansi dari makna sebuah kata, metode penetuan illat, dan lebih jauh lagi kaum muslimin membahas tentang metode dari bentuk qiyas –analogi- Aristoteles . Demikian juga kaum muslimin mampu melancarkan serangan kepada mantiq Aristoteles. Bahkan kaum muslimin ketika menyerang dan membantah mantiq Aristoteles, tak hanya menggunakan satu metode saja. Mereka menggunakan beberapa metode dalam mengeritik mantiq Aristoteles, diantaranya metode isyraqy sebagaimana yang dilakukan oleh Sahruwardy , metode istiqra dan penelitian sebagai mana yang dilakukan oleh para Ushuliy, dan metode Ibnu Taimiyyah yang belum pernah ada . Namun yang perlu diperhatikan di sini, adalah perbedaan mendasar antara metodologi kaum muslimin dengan metode kaum Yunani, Aristoteles pada khususnya. Aristoteles begitu tepengaruh pada bentuk dan format segala sesuatu, sehingga menurutnya, bentuk dan format sesuatu lebih mendahului dari materi yang membentuknya. Sehingga penekanan dalam analoginya adalah bentuk –format- dari premis qiyas itu sendiri. Berbeda dengan metodologi kaum muslimin, dia lebih menekankan pada aspek dari sebuah materi. Sehingga untuk melahirkan sebuah hukum yang kully diperlukan sebuah peneletian yang mencakup semua elemen dari sebuah masalah. Demikian juga diperlukan sebuah metode induktif –istiqra`- terhadap setiap juz`i dari sesuatu. Agar nantinya dapat mengetahui illat dari sebuah hukum. Kaum muslimin dalam menganalisa sebuah kasus, harus memastikan kesamaan illat, barulah mereka memfatwakan sebuah hukum. Sehingga metode mereka lebih menekankan pada percobaan dan metode induktif, dan metode ini merupakan salah satu metode abad moderen. Imam Syafi’i merupakan orang pertama dalam dunia Islam yang menelorkan dan menciptakan ini. Tak heran ketika Samy Nassyar begitu menyanjungnya.
Demikian juga, kaum muslimin mendirikan dan membangun pemikirannya melalui Alquran dan Sunah Nabi, sehingga dasar dari kerangka berfikir mereka terbangun dari kedua dasar ini. Sehingga apa yang ditetapkan oleh Alquran dan Sunnah merupakan sebuah kebenenaran yang pasti dan tak dapat diganggu gugat, selama itu tidak multi tafsir. Ketika nash itu multi tafsir maka mereka mengalihkan kepada makna yang rajih, dengan melihat situasi dan kodisi yang ada. Sehingga dari sini akan lahir mashalih mursalah, istihsan, sadd zara’i, dan syar min qablina. Sehingga metode Islam sangat fleksibel, dan bersinergi dengan zaman yang ada. Inilah perbedaan yang sangat substansial dengan metode Aristoteles, yang terlalu terfokus pada bentuk dan format pada dari sebuah analogi. Namun perlu penggalian lebih dalam lagi untuk memahami metode muslimin dan korelasinya dengan mantiq Aristoteles.
tamat...
Sunday, November 9, 2008
Kesedihan Syi’ah, Ada Apa???
Abu Faraj Isfihany dalam muqaddimah kitabnya Maqatil Thalibin berkata: “Kami menyebutkan dalam buku ini, kisah pembunuhan anak-anak Abu Thalib. Mulai dari masa Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersekokongkol dalam pembunuhannya, baik itu dengan meracuni mereka sehingga mereka wafat. Atau mereka yang takut kepada pemerintah sehingga mengasingkan diri dan wafat dalam persembunyiannya. Atau mereka yang tertangkap oleh penguasa lalu dipenjarakan dan akhirnya meninggal dalam buih”.
Kisah Syi’ah pada mulanya tak lebih dari goncangan jiwa yang dirasakan oleh kaum muslimin. Sebuah keniscayaan yang terjadi ketika anak, cucu dan keturunan dari orang yang sangat kita cintai dibunuh dan dibantai di depan mata kepala kita. Hati siapa yang tidak sakit, yang mendengar Hasan mati diracuni? Padahal sebelumnya dia telah memberikan kekuasaan kepada Mu’awiyah dan berdamai kepadanya! Dia rela mengorbankan kekuasaannya, bahkan dengan jiwa yang dimilikinya. Demi menjaga dan membela darah kaum muslimin, agar tak tertumpah lagi. Hati siapa tak akan miris, melihat kepala Husain diarak menuju Syam, demi menjadi persembahan kepada Yazid bin Mu’awiyah? Bahkan anaknya yang masih kecil pun, Ali Zain Abidin hampir menjadi korban sabetan pedang panglima perang Yazid. Untungnya kala itu, para wanita alu bait memelas dan memohon dengan susah payah agar anak yang mungil ini dibebaskan! Hati siapa yang tak akan terbakar oleh api dendam, melihat jasad Zaid bin Ali -anak Ali Zainal Abidin- ditancapkan di tiang kota Kufah? Seolah dengan membunuhnya merupakan sebuah kebanggan terbesar yang dimilikinya!
Betapa memilukan ketika melihat keturunan Rasulullah diperlakukan dengan semena-mena oleh para penguasa. Ketika semua itu terjadi maka akan bermunculanlah ratapan, hija` dan ritsa yang dilantunkan oleh seluruh umat Islam, kecuali penduduk Syam, markaz dan ibu kota dinasti bani Umayyah. Akibat dari kejadian yang sangat memilukan ini, berupa keberanian untuk menghina dan mencela keturunan Rasulullah yang suci ini. Beberapa akidah liar bermunculan demi menjustifikasi perbuatan para penguasa. Ijbariyah merupakan konsekuensi dan senjata ampuh untuk melegitimasi kezaliman yang merajalela. Sebuah penafsiran yang semena-mena terhadap Alquran, di mata mereka kejahatan dan kezaliman yang mereka lakukan sudah menjadi ketetapan Tuhan di zaman azal. Mendengar hal ini Hasan Bashri sangat geram dengan perlakuan mereka, dan mengatakan bahwa, “mereka adalah musuh Allah yang mendustakan ayat-ayat-Nya”. Selanjutnya dari keberanian para penguasa dalam menyetir dan membelokkan ayat Alquran, maka menjadi salah satu pemantik dan pemicu ajaran-ajaran miring dalam dunia Islam. Bahkan golongan mulhid dalam Islam, salah satu pemicunya adalah keberanian penguasa sebelumnya menghina dan menjelekkan, baik itu Ali ra. ataukah keturunan Rasulullah. Ini satu sisi akibat perlakuan kasar penguasa terhadap kerabat Rasulullah saw. Ini adalah salah satu dimensi kelam akibat kejadian Karbala yang sangat memilukan dan mengobarkan api dendam. Di segi lain juga menimbulkan penyesalan yang berlarut-karut pada masyarakat Kufah.
Dari peristiwa Karbala disana ada beberapa mauqif ,dan akhirnya nanti akan menjadi ladang subur tumbuhnya benih-benih ghulat di tubuh Syi’ah. Mauqif yang pertama, berupa pembalasan dendam terhadap para pembunuh Husain. Pada mulanya ini hanya berjalan normal di tangan Mukhtar bin Abu Ubaid Tsaqafi,-anak sahabat Rasulullah, Abu Ubaid Tsaqafi, dia adalah panglima perang Umar bin Khatthab, dan syahid dalam peristiwa Jisr.- dan di bawah kontrol Muhammad bin Hanafiyah. Namun akibat pengaruh dari kepercayaan kaum Majusi dan beberapa kepercayaan yang masih tersisa di Kufah, menambah keruh keadaan ini. Sehingga bermunculanlah mitos-mitos yang tak pernah ada dalam Islam. Diantaranya Muhammad bin Hanafiyah adalah sang mahdy yang disembunyikan oleh Allah di bukit Radhwa, akibat keteledorannya mengunjungi khalifah Umayyah. Dikanannya ada harimau dan di kirinya ada serigala, dia mendapatkan makanan dari sumber madu dan mata air yang jernih. Dan jika saatnya tiba, dia akan keluar memerangi kejahatan dan memenuhi alam ini dengan keadilan. Selanjutnya kepercayaan ini bernama Kisaniyah. Dan Kisaniyah akan terus tumbuh subur dalam Islam, Abu Ja’far Manshur pendiri dinasti Abbasiyah,-kerajaan terbesar di ashr wushta-berhutang budi pada keyakinan Kisaniyah. Bukan cuman itu, Hamdan bin Asy’at,-pendiri Qaramithah-akhirnya membentuk gerakan separatis yang bertujuan menggulingkan dinasti Abbasiyah. Dan itu berhasil, bahkan Abu Tahir,-pemimpin Qaramithah yang paling disegani- berhasil memasuki masjid Haram dan membantai kaum muslimin yang sedang melakukan haji. Tatkala dia mengambil Hajar Aswad dan membawa ke markasnya. Dia sempat berkata, “sudah berapa lama kau disembah, namun kezaliman terhadap alu bait masih terjadi dan sang mahdy belum muncul juga”. Ironisnya lagi waktu itu, kaum muslimin berhaji selama 23 tahun tanpa mencium Hajar Aswad.
Mauqif yang kedua, akibat kesedihan yang berlarut-larut yang dialami oleh kaum muslimin. Khususnya masyarakat Kufah, yang berjanji membantu Husain ra. membantu beliau untuk menghadapi penguasa yang lalim. Namun mereka ternyata mengingkari janji mereka dan membiarkan Husain dibantai di Karbala. Rasa bersalah ini, membuat dada mereka semakin sesak dengan penyesalan. Akhirnya muncullah sebuah aktifitas yang tak pernah dikenal dalam Islam, yaitu gerakan Tawwwabun. Yang membunuh diri mereka sebagai balasan ketidaksetiaan mereka terhadap janji mereka kepada Husain. Di sisi lain akibat kepedihan yang diderita di Karabala, mulailah bermunculan akidah dan kepercayaan liar yang sebelumnya tak pernah ada. Pada awalnya, ini hanyalah aktifitas ratapan yang sangat sederhana yang dialami oleh masyarakat Kufah. Dan lebih lagi jika hal ini, terjadi di kalangan para wanita Kufah. Maka akan semakin memperkeruh keadaan dan akan menambah buruk citra dinasti Umayyah di kemudian hari. Di Kufah tepatnya ada dua tempat, yang menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih ekstrim dalam tubuh Syi’ah. Yang pertama di rumah Hindun binti Na’ithiyyah dan kedua di rumah Layla binti Qumamah. Kedua rumah ini adalah halaqah untuk membentuk kader dan simpatisan Syi’ah, demi merongrong kedaulatan dinasti Umayyah. Dari kedua halaqah ini, lahirlah Abdullah bin Nauf. Dia adalah orang yang pertama menyerukan fikrah bida` dalam Islam. Sehingga jelas bahwa halaqah dari Hindun dan Layla, adalah medan yang empuk untuk tumbuhnya penafsiran Alquran dengan metode Syi’ah dan tentunya ladang benih pemikiran Gnosis dalam Islam. Dan kemudian akan diperkeruh oleh para zindiq dan orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan Islam.
Selanjutnya setelah peristiwa Karbala yang memilukan itu, bermunculanlah aliran dan sekte yang mengatasnamakan Islam. Pada mulanya adalah keinginan untuk mengkudeta penguasa yang ada. Namun karena sebagian besar gerakan revolusi mereka gagal dan pemimpin mereka tewas di medan perang dengan sangat sadis,-salah satu kebiasaan bani Umayyah, ketika berhasil menghentikan perlawanan dari Sy’ah. Mereka mengarak kepala panglima perang Syi’ah dan di pertontonkan di khalayak ramai.- sehingga membuat mereka putus asa. Kesedihan yang berlarut, ditambah kegagalan yang tertuai di mana-mana, membuat mereka mencari tempat yang pas untuk menumpahkan rasa depresi mereka. Salah satunya fikrah ruj’ah, bahwa yang mati bukanlah pemimpin mereka. Yang mati hanyalah syetan yang diserupakan dengan pemimpin mereka! Jika Allah mampu menyelematkan Isa dari kejaran Yahudi, mengapa tidak Allah mampu menolong pemimpin mereka yang nota bene adalah penolong Rasulullah, kekasih-Nya yang Dia cintai? Dari rasa depresi yang mendalam ini juga, lahirlah fikrah imam muntazhar atau messianik, demi menampik rasa kegagalan yang mereka rasakan. Sehingga imam yang dua belas merupakan cerminan dari sikap ini. Demikian juga gerakan Ismailiyyah lahir dan medapatkan tempat yang pas, ditengah orang-orang yang merasa keterpurukan yang mendalam. Ironisnya, komunitas ibahy atau komunitas permisif yang sebelumnya tak ada dalam Islam. Komunitas yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh syari’at, menghalalkan khamr, komunitas yang menghalalkan berhubungan dengan wanita mana saja, yang membatalkan kewajibat salat, bahkan menghalalkan darah kaum muslimin, muncul ditengah itu semua. Semuanya dengan berdalih atas nama imam. Dengan mengetahui sang imam, maka taklif akan runtuh. Demikian juga hal yang sangat disayangkan, mengapa harus ada penghinaan terhadap para Sahabat, alih-alih Abu Bakar dan Umar. Jikalau kita mau obyektif, memang wajar mereka berbuat anarkis terhadap para penguasa-bani Umayyah-. Namun mengapa harus kepada Abu Bakar dan Umar? Apa salah mereka?
Sekali lagi, dalam menghakimi Syi’ah, satu hal yang perlu kita tekankan. Yaitu kita tidak akan mampu menghakimi mereka dengan pendekatan psikologis. Wallahu a’alam.
Atomisme dan Manifestasi Kekuasaan Tuhan
Abu Huzail ‘Allaf adalah filosof Mu’tazilah yang pertama dalam dunia keilmuan Islam yang menelorkan qadhayah ini. Bahkan Abu Huzaillah, filosof pertama yang berusaha mengadopsi problematika filsafat dan membungkusnya dengan cover Islam. Sehinggga tak heran ketika Samy Nassyar mengatakan bahwa, “dialah filosof Islam yang pertama”. Bukan tak beralasan, Abu Huzail mampu menunjukkan identitas muslimnya, ditengah pergolakan pemikiran yang terjadi di dunia Islam kala itu.
Sebelumnya, problematika metafisika begitu marak membahana di dunia Islam. Sehingga memancing Abu Huzail untuk turut menyelami samudra metafisik. Dia berusaha membentuk sebuah korelasi antara alam ‘ulya dan sufla. Salah satunya, relasi antara qudrah dan iradah Tuhan dengan alam ini. Alam dalam kacamata Abu Huzail adalah berubah dan tidak tetap. Sehingga terapi untuk problematika ketidaktetapan alam ini, ditawarkanlah sebuah solusi atomik. Selanjutnya di dunia Islam disebut juz`u la yatajazza` atau sering diistilahkan dengan jauhar fard.
Hal yang cukup menarik disini, disana tidak ada kontra dari musuh Abu Huzail tentang problematika jauhar fard. Khususnya dari kalangan Asya’irah, bahkan pemikir Asya’irah sendiri mengadopsi pemikiran ini. Dengan kata lain, musuh Abu Huzail telah rela dan ridho dengan pemikirannya. Walaupun yang nantinya membantah dan menolak pemikirannya ini, adalah Ibrahim Nazzham, -murid Abu Huzail sendiri- dan Ibnu Hazm.
Jauhar fard, didefinisikan oleh Abu Huzail sebagai, “partikel atomik yang terjauh, sehingga tak mempunyai sisi dan volume, serta tak dapat disatukan atau di pisahkan”. Demikian yang disebutkan oleh Asy’ari dalam Maqalatnya. Defenisi ini terus dimodifikasi oleh para teolog Asya’irah dan terkulminasi pada definesi yang berikan oleh Jurjani dalam Ta’rifatnya yaitu, “ parikel yang tak mampu lagi dipisahkan secara mutlak baik dari secara real (kharijy) maupun secara hipotesis (furudh)”. Menurut Abu Huzail, segala sesuatu terbentuk dari jauhar fard, segala sesuatu dapat terpecah menjadi partikel-partikel yang sederhana ini. Ketika partikel-partikel ini menyatu maka terciptalah sebuah materi, sama halnya ketika mereka terpisah yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran materi itu. Sehingga jelas, bahwa alam maupun makluk hidup tercipta dari penyatuan partikel ini. Begitu juga kehancurannya, terjadi akibat dari benturan dan ketidakberatuan dari partikel itu. Bahkan Abdurrahman Badawy menambahkan bahwa, “karekteriktis tiap meteri tersusun dan terbentuk dari susunan jauhar fard”.
Menilik interpretasi ‘Allaf tentang atomisme, sedikit terbetik adalah keserupaan pandangan ‘Allaf dengan para filosof Yunani. Baik itu pencetus pertama pemikiran ini yaitu Leucippus, yang kemudian diperhalus dengan sentuhan Democritus. Namun mereka bukanlah pemilik pemikiran ini, di kalangan pemeluk Hindu juga terdapat pemikiran seperti ini. Dari sinilah ‘Allaf menunjukkan identitasnya sebagai filosof muslim yang tak hanya membebek dengan apa yang datang sebelumnya. Baik itu dari peradaban Yunani, Helenistik, ataukah dari peradaban Hindu, yang semuanya sama mewarnai corak dunia Islam waktu itu. Bahkan tak jarang konfrontasi akal dan perdebatan terjadi di antara dua kubu, serupa dengan natural selection, yang benarlah yang menang. ‘Allaf mampu terlepas dari momok hylotheisme-paradigma yang menjadikan materi sebagai tuhan-, yang kelam menyelimuti Yunani di masa para filsosof mereka. Maka tak heran ketika Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya, belum mampu menerima paradigma creatio ex-nihilo atau khalqu min ‘adam. Sebagai mana yang dikatakan oleh Muhammad Bahiy. Dari keengganan menerima creatio ex-nihilo inilah, yang akan melahirkan pemikiran ‘alam qadim ataukah maddah azaliyah dalam pemikiran filosof Yunani dan selanjutnya dianut oleh Ibnu Sina, Farrabi, Ibnu Rusyd dan lainnya.
Pada awalnya atomisme ditangan Democritus, Leukippus dan di kalangan Epicureanis tak lebih dari sekadar paradigma mekanik yang liar. Alam dan seluruh isinya dalam pandangan mereka tercipta dari partikel-partikel atomik ini. Demikian juga, partikel-partikel ini bergerak secara otomatis, dari gerakan otomatis inilah semesta tercipta. Bahkan mereka menganggap partikel-partikel ini azali dan kekal. Akhirnya bermuara pada penafian Tuhan dalam penciptaan ini dan menumbuh-suburkan benih–benih hylotheisme, yang telah tumbuh dengan liar di kalangan masyarakat Yunani pada masa itu, dan ‘Allaf mampu terlepas dari itu semua.
Dalam kuliah yang disampaikan Oleh DR. Husaini Ghazali di universitas Al-Azhar menjelaskan bahwa, di sana ada tiga perbedaan mendasar atomisme yang dianut oleh muslimin dan ‘Allaf khususnya, yang sangat bersebrangan dengan para penganut mazhab dzurry Yunani dan Hindu. Pertama, atom dimata ‘Allaf adalah hadis-baharu-, berbeda dengan yang dianut oleh pendahulunya. Menurut mereka partikel-parikel ini azali dan qadim. Kedua, partikel atomik ini tak mempunyai kemampuan untuk bergerak, diam, ataukah menciptakan sesuatu dengan secara otomatis. Akan tetapi seluruh aktifitas dari partikel atomik ini diatur dan dibentuk oleh qudrah, iradah, dan ilmu Tuhan. Sedangkan yang dianut oleh pendahulunya yaitu kemampuan otomatik yang dimiliki oleh partikel atomik ini. Ujungnya nanti berakhir kepada penafian Tuhan dalam aktifitas penciptaan dan kreasi semesta ini. Ketiga, atom ‘Allaf tak kekal dan fana, yang nantinya penafian terhadap reinkarnasi dan kekekalan alam ini. Berbeda yang dipercayai oleh golongan Hindu yang adanya reikarnasi dari kehidupan ini. Hal ini di amini oleh Samy Nassyar dan Abdurrahman Badawy.
Berdasar dari asumsi ini, Abu Ridah membantah pendapat Benis, seorang orientalis yang menganggap pemikiran dzurry ‘Allaf hanyalah menjiplak pendapat Democritus sebelumnya. Bahkan dengan tegas Abu Ridah menganggap bahwa keserupaan di antara keduanya hanyalah sebatas nama saja. Disamping adanya perbedaan yang sangat substansial antara pemikiran ‘Allaf dengan pemikir penduhulunya baik itu Demucritos, Leukippus atau dari Hindu. Juga tidak ada nash yang pasti mengatakan bahwa ‘Allaf menjiplak pemikiran mereka. Lagi-lagi hal ini mengisyaratkan kepada kita, betapa luas dan betapa dalam wawasan ‘Allaf terhadap pemikiran yang beredar di dunia Islam waktu itu. Demkian juga menunjukkan bahwa filsafat Yunani tak mampu menghegemoni para pemikir dan filosof muslim.
Mungkin ada pertanyaan yang cukup mengganjal di benak kita. Apa tujuan ‘Allaf mengadopsi pemikiran seperti ini? Demikian juga, mengapa Asyairah mengambil dan mengikuti pendapat ‘Allaf? Apa kontribusi paradigma ini dalam menyikapi problematika metafisika yang mewarnai dunia Islam selanjutnya? Imam Asy’ary mamaparkan nash berikut dalam Maqalat Islamiyyinnya, yang mengisyaratkan tujuan diadopsinya pemikiran ini oleh ‘Allaf:
<...قال أبوالهزيل: إن الجسم يجوز أن يفرقه الله سبحانه و يبطل فيه من الإجتماع حتي يصير جزءا لا يتجزء...>
Nash ini menggiring kepada kita kepada sebuah natijah yang hendak dicapai oleh ‘Allaf. Yaitu penetapan akan qudrah, iradah dan ilmu Allah swt. Selanjutnya untuk membantah akan kekelan zaman atau waktu. Karena menurut para filosof klasik, bahwa zaman merupakan sebuah rangkaian yang tak terbatas, dan tak terhingga. Jikalau segala sesuatu dapat dipecah menjadi jauhar fard, maka akan mudah untuk sampai kepada singularitas waktu. Tentunya akan menggiring kepada teori penciptaan yang hadis dan baharu- baca creatio ex nihilo-. Demikian juga, kaum muslimin seluruhnya berkeyakinan bahwa kekuasaan Allah tak terbatas. Salah satu dari manifestasi penjabaran kekuasaanNya yaitu, Allah mampu memecahkan dan membelah sesuatu materi menjadi partikel atom yang paling terkecil. Sehingga tak ada lagi hipotesa yang mampu menjadikannya terbelah atau tebagi dua. Ini mungkin yang mungkin kurang dipahami oleh Ibnu Hazm ketika membantah ‘Allaf. Jauhar fard di mata ‘Allaf adalah atom yang yang tak dapat lagi dipecah maupun dibelah kesisi yang terjauh, walaupun itu menggunakan hipotesa akal. Sedangkan menurut Ibnu Hazm dan Nazzham, bahwa selama sesuatu itu mempunyai bentuk-shurah- maka hipotesa akal mampu memecahnya dan membelahnya.
Walaupun Ibnu Hazm dan Nazzham berselisih pendapat dengan ‘Allaf dan mutakallimin umumnya. Disana ada sebuah benang merah yang menyatukan mereka, yaitu kemampuan Tuhan yang tak terbatas. Ketika Ibnu Hazm dan Nazzham berpendapat bahwa sesuatu tak mampu dipecahkan menjadi partikel yang terkecil. Disana ada rahasia di balik ini. Yaitu qudrah-kemampuan- Allah yang tak terbatas. Mereka meyakini ketika para mutakallimin mengatakan bahwa Allah dengan qudrahNya mampu memecah dan membagi sesuatu menjadi yang paling terkecil. Maka, mereka membalik hipotesa ini. "Jikalau Allah mampu membaginya kesesuatu yang terkecil dengan qudrahNya. Mengapa tidak, Allah mampu memecahnya dan membaginya sampai kesesuatu yang tak terhingga dengan menggunakan qudrah yang sama???". Demikian bantahan Ibnu Hazm dalam Fishalnya.
Disisi lain, ketika ‘Allaf menelorkan paradigma atomiknya, maka di sana juga ada sebuah natijah yang ingin ditujunya. Dia ingin sampai kepada sebuah penetapan kompleksitas qudrah Allah yang sempurna. Selain itu, dia ingin mencapai kepada seuatu yang lebih jauh lagi. Yaitu ¬komperehensitas dan kesyumulan ilmu Allah. Karena ketika sesuatu terbatas, maka dengan mudah untuk menetapkan, bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Demikian juga dengan menggunakan metode atomik ini Allaf mampu menetapkan iradah Allah Yang Mutlak. Dengan pemecahan partikel keatom yang terkecil mengisyaratkan bahwa, segala sesuatu itu mudah bagi Allah. Selama Allah menginginkannya. Sehingga tak ada susah maupun mudah di sisi Allah, karena Dialah Yang Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari sini penulis melihat bahwa, ‘Allaf mengakui adanya tapal batas yang tak mampu dilampui oleh manusia. Walaupun itu hanyalah sebuah hipotesa dan furudh semata.
Dari sini, kita melihat bagaimana kebrilianan ‘Allaf mampu mensinergikan semua potensi yang ada, demi memebentuk corak dan karakterstik kaum muslimin. Demikian terlihat jelas bagaimana ‘Allaf memfilter setiap kebudayaan yang ada. Tanpa harus membuangnya ataukah menolaknya. Akan tetapi dengan memanfaatkannya dengan jalan yang bijak. Subhanaka laa ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka Antas Sami’ul ‘Aliim.
Tuesday, October 7, 2008
Ibnu Thufail Pendamai antara Agama dan Filsafat
Dia adalah seorang filosof Andalusy yang hidup setelah Ibnu Bajah dan Gazhali. Dia hadir ketika hawa panas perdebatan filsafat, masih membahana di dunia Islam waktu itu. Takfir yang dilakukan Al-Gazaly masih menjadi momok bagi para sarjanawan muslim untuk menyentuh dan bergelut dengan literatur filsafat. Hal ini terlihat jelas dengan warna dan corak yang ditinggalkan Ghazali terhadap karya-karya yang mendominasi waktu itu. Misalnya banyak terjadi di pemikir Asya’irah yang berusaha menyembunyikan ajaran filsafat dilembaran karya kalamiyah. Namun beberapa Ulama berusaha mengeluarkan filsafat dari kerangkeng dan jeratan Al-Gazaly dan berusaha mendamaikan kedua kubu ini, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail.
Kedua filosof agung ini yang nantinya akan melancarkan jalan Ibnu Rusyd untuk mebangun puing-puing filsafat yang telah diporak-porandakan oleh Ghazali. Namun sebuah poin khusus untuk Ibnu Thufayl adalah ketika merekontruksi bangunan filsafat, dia berusaha mendekati Ghazali dengan pendekatan pisikologis. Hal ini tercermin jelas dalam kisah fiktifnya yang terkenal yaitu; Hayyu bin Yaqazhan. Gazaly oleh sebagian orang adalah orang yang pengecut, dia adalah tokoh yang setelah menghujam filasafat hatta hampir membunuhnya, justru melarikan diri dari sengitnya perdebatan, melalui tejun keduni tasawwuf. Poin terakhir ini yang menjadi nilai minus buat sang Imam kita.
Ketika dunia fiilsafat Islam yang begitu kelam, muncullah sang filosof yang sangat mumtaz ini. Dia datang mencoba mendamaikan antara kubu Al-Gazaly yang disini mewakili rayah diniyah danIbnu Sina, Farraby dan Al-Kindy yang membawa rayah falsafiyah. Dia mencoba mempersandingkan mereka ditempat yang satu dengan yang lainnya sejajar. Satu tempat ketika agama memandang falsafat tak perlu dengan tatapan sinis. Begitu juga ketika filsafat dan agama berpapasan, sang filosof tak perlu ketakutan dengan ancaman takfirnya. Ibnu Tufayl mendamaikan mereka dibawah tangan Hayyu bin Yaqazhan. Sebuah kisah fiktif yang dibuat oleh Ibnu Thufail untuk mendamaikan mereka yang nota bene mendamaikan antara agama dan filsafat.
Hayyu bin Yaqazhan dikisahkan sebagai seorang yang terbuang disebuah pulau sejak dia masih bayi. Tak ada yang menemaninya disana dia menyusu dari seekor rusa, dia menjalani kehidupannya sendiri, dia belajar untuk masak, makan, minum, berpakaian serta menjadi seorang manusia yang sempurna dengan sendiri. Hayyu bin Yaqazhan berusaha menyingkap tabir kehidupan serta, alam setelah kematian, dengan sendiri. Dia berusaha memikirkan penciptaan langit dengan sendiri. Namun, dia sadar bahwa dia tidak mampu memikirkan keluasan dan ketakterhinggaan langit itu.
Ketika dia mengetahui keterbatasannya itu, dia mengetahui bahwa disana ada Tuhan yang menciptakan dirinya, serta semesta ini. Dia tahu bahwa Tuhan yang menciptkan ini harus disifati dengan sifat dengan sifat yang betul-betul berbeda dengan makhluknya. Serta Sang Pencipta harus betul maha segala-galanya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah alam ini telah senantiasa ada bersama Tuhan (qadim), ataukah alam ini baru (hadits). Sebab ketika dia meyakini akan kejadian alam yang senatiasa tunduk pada hukum kausalitas pada ujungnya nati dia akan berpendapat bahwa alam ini senantiasa qadim. Namun ketika dia menemukan bahwa kadang ada sebuah perkara yang selamanya tidak mesti tunduk kepada hukum kausalitas, maka dia berpendapat bahwa alam ini hadist. Dia pusing, dia tak dapat menjawabnya, sebagaimana dia tak mampu untuk memastikan bahwa dari mana alam ini diciptakan bahwa alam ini diciptakan dari kekosongan yang mutlak (creatio ex nihilo) atau ada sebuah madah yang senantiasa ada bersama Tuhan? Dia menyerahkan ini pada penciptanya.
Kini dia beranjak kepada dirinya sendiri, ketika dia merasa tak mampu untuk menjawab hal-hal yang melangit. Dia kembali kebumi. Kini dia berusaha menjawab pertanyaan apa yang terjadi ketika dirinya telah meninggal. Dia terilhami ketika rusa yang menyusuinya selama ini mati. Dia pun menyelidiki penyebab kematian rusanya itu. Dia tak mendapati apa-apa. Kini dia berpendapat bahwa rusa yang meninggal itu sama seperti kejadian alam yang lain. Seperti siklus kehidupan ada yang datang ada pula yang pergi. Saat itu dia mulai berpikir apakah ketika dia meninggal? Akankah berakhir kehidupan ini? Ataukah disana ada kehidupan yang lain yang akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan siksaan kepada orang yang berbuat jahat? Dia berkesimpulan bahwa disana ada kehidupan setelah kehidupan ini.!!
Dia berpikir dan merenung untuk berapa waktu ... Dia merasa bahwa dirinya telah matang untuk meninggalkan pulau itu serta dia bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran yang diperolehnya itu kepada orang lain. Agar yang lain dapat menikmati dan mencicipi sebuah kebenaran yang hadir dari fitrah manusia yang tulus dan ikhlas untuk mencari sebuah kebenaran. Dia bertekad untuk meninggalkan pulau itu.
Setelah lama menunggu kapal yang melintasi pulaunya akhirnya diapun menemukan sebuah kapal yang akan mengantarkan dirinya kepulau seberang. Dia tiba di pulau yang ingin ditujunya. Di pulau itu dia mendengar tentang ajaran seorang Nabi, dia mencari tahu tentang ajaran sang nabi itu. Dia berkenalan dengan dua orang teman barunya, yang kebetulan mereka memeluk ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi tadi. Mereka menyampaikan isi ajaran Nabi mereka kepada Hayyu bin Yaqazhan. Dia terkejut. Dia melihat bahwa ajaran Nabi itu serupa dengan apa yang selama ini didapatkannya. Dia lalu beriman dan meyakini ajaran Nabi tersebut.
Setelah ketiganya akrab. Hayyu bin Yaqazhan menceritakan pengalamannya selama ini. Salah satu dari kedua temannya, adalah seorang ahli syariat yang tekstual. Dia bernama Salaman, temannya yang satu ini pun marah kepadanya dan menganggap bahwa akal tak mampu menemukan hakikat pencipta kecuali dengan wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Salaman pun mengusirnya. Tapi dia masih memiliki seorang teman yang masih setia bersama dia, yang bernama Absal. Absal adalah seorang ahli sufi. Setelah lama berdiskusi dengan Absal, Hayyu bin Yaqazhan pun berniat kembali bersama Absal kepulaunya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Dia memang harmonis bersama dan cocok bersama Salman. Niat mereka untuk kembali kepulaunya telah bulat. Ketika hendak meninggalkan pulau itu dia pamitan dengan Absal, serta memohon maaf kepadanya beserta ulama yang ada di pulau itu. Dia akhirnya meninggalkan pulau itu bersama Salman, menuju pulau yang yang ditinggalinya selama ini. Dia bersama Salman hendak menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan.
Demikian sekelumit kisah Hayyu bin Yaqazhan yang lebih sebuah metode simbolis yang di gunakan oleh Ibnu Tufail, untuk menyatukan antara agama dan filsafat. Tentunya masih perlu sebuah interpretasi yang lebih mendalam, untuk menguraikan makna dan penjabaran lebih lanjut tentang metafora yang ada dalam kisah ini. Lain kali kita lanjut.
Kado Lebaran dari Refleksi Ramadan
Memoar indah yang kita ukir di bulan Ramadan, kini tak terasa harus tergeser oleh putaran roda sang waktu. Lantunan kalam Ilahy yang indah bergema ditelinga, tak terasa harus senyap ditelan oleh suara mesin. Damai dan gelak tawa yang riuh di Maidatur Rahman, kini harus berakhir dengan berakhirnya Ramadan.
Ramadan harus menepi, digeser fajar syawal yang telah terbit. Rasa rindu dan sesal ikut mengiringi kepergian Ramadan. Rindu akan selalu terngiang di hati para pendamba kelezatan spiritual. Sesal akan selalu mengahantui jiwa yang acuh terhadap kepergian Ramadan. Namun semuanya itu telah pergi, dan telah terekam dalam catatan para malaikat penjaga kita.
Akihirnya sebulan sudah, menempa diri di madrasah Ramadan. Menghambat jalan syetan dalam diri dengan menyempitkan pembuluh darah, melalui rasa lapar dan dahaga. Menghangatkan kembali nilai harmonis dengan Sang Pencipta, dengan menambah kualitas ibadah. Memintal rajutan silaturahim yang dulunya renggang, dengan berasimiliasi dengan kaum dhu’afa. Semuanya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup untuk sebelas bulan kedepan.
Ramadan telah pergi dan meninggalkan kado kepada kita semua. Baik itu berupa rasa rindu yang terpatri dalam jiwa, ataukah rasa sesal yang menyemat kalbu. Semuanya akan menjadi butiran refleksi dalam hati untuk memperbaiki kualitas keimanan yang tertancap dalam hati.
Kini fajar Syawal telah terbit, saatnya untuk mengimplementasikan kado dan hadiah yang dapat kita tuai di bulan Ramadan yang telah berlalu. Baik itu berupa konsistensi untuk tetap merapatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ataukah senantiasa untuk mengharmonisasikan link horizontal kita dengan sesama makhluk. Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya untuk menjalani liku hidup yang begitu terjal.
Sudah menjadi tradisi yang mengiringi kedatangan ‘idul fitri, tradisi saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau yang kita lakukan terhadap orang lain. Tradisi ini begitu familiar di telinga kita, yaitu halal bi halal. Seolah lebaran tak akan sempurna tanpa perayaan even ini dan itu telah menjadi darah daging dalam tradisi keagamaan kita. Walaupun sederhana tapi halal bi halal ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, dalam mengupayakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Jalinan persaudaraan yang dulunya renggang, dengan adanya lebaran dan halal bi halal sebuah rekonsiliasi akan kembali terlaksana. Kita akan kembali menggenggam tangan saudara kita yang dulunya sempat terlepas. Kita kembali dapat melemparkan senyum kepada musuh kita, yang dulunya sempat terbungkam. Sehingga kesucian dan keseimbangan jiwa akan kembali kita raih dengan datangnya ‘idul fitri, serta kestabilan sosial akan menjadi kado di lebaran nan ftri ini.
Di hari yang fitri ini, kita sama berharap semoga kedamaian, persahabatan dan keramahan akan menjadi atmosfer yang meliputi kehidupan Masisir dan kehidupan yang lebih universal. Kita juga berharap semoga hati kita menjadi seputih dan sebersih hati bayi baru dilahirkan. Semoga ini kado lebaran yang di hadiahkan Ramadan kepada kita. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi orang yang beruntung disisi Allah swt. Amin.
Dan… Langit pun Tersenyum
Ada yang lain dari malam itu. Rembulan seakan semakin cantik dengan bundarnya yang pipih. Para bintang bintang pun tak mau kalah, mereka meramaikan riasan langit dengan kerlipan cahayanya. Langit malam yang bermandi cahaya seolah bersolek untuk menyambut kalam Tuhan, yang diturunkan dari Lauh Mahfudz. Para malaikat besiap untuk mengkawal turunnya mu’jizat yang terbesar ini. Lantunan zikir yang dilantunkan oleh seluruh penduduk langit semakin mempesonakan gempita semesta.
Jauh di bumi sana. Muhammad berjalan melewati bebatuan terjal untuk mendaki ke gua Hira. Dia kembali melakukan aktivitas takhannuts yang baru dia geluti beberapa waktu lalu. Semua itu berawal ketika dia bermimpi, secercah cahaya yang mendatanginya seakan fajar Subuh terbit di sanubarinya. Takhannuts yang dia lakukan semakin menghauskan dahaga ketuhanannya. Dia semakin gerah dengan kebodohan umat di sekelilingnya, yang semakin hanyut dalam kubang kebodohan. Hatinya yang lembut, risih dengan prilaku orang di sekelilingnya. Jiwanya yang bening, terpanggil untuk membersihkan mutiara ketuhanan yang telah ternodai. Dia terpanggil untuk mengokokohkan kembali panji ketuhanan yang telah lapuk.
Dalam perjalanannya menuju gua Hira, dia heran dengan keadaan di sekelilingnya. Bebatuan yang dia pijak seakan lunak untuk memudahkan perjalanannya. Lambaian angin yang menghembus kepadanya, bertiup sepoi kepadanya. Pohon yang kokoh di sekelilingnya berayun seakan irama lantunan doa kepadanya. Batu, hewan, pohon dan gunung mengucapkan salam kepadanya. Ketika dia menoleh kanan-kiri dia tak menemukan siapa-siapa. Dia heran dengan penyambutan bumi yang hangat kepadanya. Pertanda apa yang akan terjadi kepadanya? Dia tak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.
Setelah sampai di gua Hira, dia kembali melakukan aktivitas takhannuts seperti biasanya. Namun rasa takut yang menghinggapinya membuat konsentrasinya agak sedikit buyar. Dia terbayang dengan keanehan yang dia lalui disekitarnya. Sehingga membuatnya untuk bekerja keras memusatkan pikirannya. Ketika itu sesosok menghampirinya. Dia berkata, “bacalah”. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat yang dahsyat saat itu. Dia tak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Dia merasa takut dengan sosok yang mendatanginya tadi. Beberapa lama sosok itu kembali menghapiri dirinya, bahkan dia merangkul tubuhnya yang gemetaran. “Bacalah,” kata sosok yang dilihatnya dengan mata kepalanya. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya lagi.
Dia tak sedang bermimpi, entah apa nama makhluk yang mendatanginya. Sebab baru pertama kali dia datangi dengan wujud yang belum pernah dilihatnya. Dia terus dipaksa untuk membaca, sehingga dia pun kelelahan.
Barulah ketika rangkulan sosok itu terlepas, dia merasa lega. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya”. Mendengar itu semua dia merasa ketakutan, dia merasa dirinya telah diganggu oleh jin. Sehingga dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang pucat pasi, dia masuk kerumahnya. “Selimuti aku,” katanya yang terbatah sembari menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Betapa tidak dia baru saja diberikan sebuah kalam, gunung pun akan luluh dan tertunduk jika itu diturunkan kepadanya. Betapa besar dan agung kalam yang diberikan kepadanya.
Muhammad tak tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia tak tahu jikalau langit tersenyum dengan turunnya kalam yang baru saja membuatnya ketakutan. Dia tak tahu ternyata bumi sangat mendambakan lantunan simponi ketuhanan dicurahkan kepadanya. Muhammad tak tahu betapa dahaganya para makhluk hidup dengan curahan ayat Yang Maha Indah. Dia tak tahu fajar kehidupan telah menyingsing, dan akan memulai sinarnya di pundaknya. Dia tak tahu itu. Karena dia tak pernah menduga jikalau kenabian akan diletakkan di bahunya. Dia tak pernah mengharapkan kenabian itu. Dia hanya ingin mengikuti ajaran Hanafiyah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim.
14 abad telah berlalu. Langit tetap tersenyum ketika memperingati malam itu dan Allah telah menghadiahkan malam yang indah itu kepada umat Muhammad. Malam itu akan menjadi saksi betapa megahnya Alquran dan betapa tersayangnya umat ini. Malam itu akan menjadi malam terindah dalam kehidupan seorang hamba ketika mendapatkannya. Dia lebih indah dari seribu bulan yang dihabiskan oleh manusia yang tak mendapatkannya. Malam itu, hamba akan mendapatkan jamuan yang istimewa dari Sang Penciptanya. Doanya akan dikabulkan, amalannya akan dilipatkan gandakan sebanyak-banyaknya, dosanya akan di leburkan. Malam itu semesta diliputi oleh rahmat Tuhan yang tak terbatas. Para malaikat turun ke bumi dengan membawa lantunan doa dan permohonan ampun, kepada hamba yang di berikan anugerah untuk merasakan belaian lembut dari Allah Yang Maha Lembut.
Sehingga kehidupan yang dulu kelam diselimuti dosa, pada malam itu akan berakhir dengan menyongsongnya fajar kehidupan. Fajar yang akan menerengi tiap relung kehidupan sang hamba. Fajar yang mengusir bingar dosa yang mengaung. Lembaran amalan yang dulunya tipis kini menjadi tebal dengan kepemurahan Allah yang tak bertepi.
Ingin rasanya ku kecap indahnya malam itu, dan itu ku awali dengan mendoakan saudaraku yang seiman agar lebih dulu merasakannya. Semoga.
Dimana Tuhanku..?
Seabad yang lau ketika Albert Enstein telah berhasil meggoncangkan dunia dengan teori relativitasnya. Dia dengan lantang menyerukan, “Keberadaan tuhan yang metafisik, sudah tak mendapatkan tempat lagi di kehidupan moderen saat ini”. Bahkan dengan terang-terangan sang ilmuwan yang melegenda ini menganggap bahwa, "tuhan merupakan hantu yang mengendarai jagad raya ini".
Kehidupan beragama saat ini memang telah sampai kepada taraf yang sangat memilukan. Tuhan telah dipinggirkan dalam kehidupan ini, tuhan telah kehilangan nilai sakral dihati orang yang mempercayainya. Dia tak lebih dari sekadar dongeng untuk menemani tidur para anak-anak. Dia tak boleh memasuki relung kehidupan para manusia yang berkebudayaan moderen. Tuhan yang dulunya maha pengasih kini dia tak lebih dari pembawa petaka terhadap kehidupan manusia. Solah tuhan telah melakukan sebuah karya gagal. Kini tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia… ta’alallahu ‘an qaulihim’ uluwwan kabiraa.
Paradigma diatas merupakan sedikit dari sekian banyak cemohan Barat terhadap tuhan. Patut diakui bahwa mereka telah berhasil menaklukkan alam, serta merajai peradaban dunia saat ini, dengan menyingkirkan tuhan dari kehidupan mereka. Mereka berhasil menjadi bangsa yang ‘berperadaban’ setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap gereja. Sekularisme menjadi kunci mereka untuk memasuki gerbang teknologi yang maha dahsyat.
Namun yang cukup disayangkan, ketika wabah ini menjangkit ke dalam tataran keislaman kita. Tuhan dalam tipologi pemikiran keislaman merupakan Zat Yang Agung, dia sangat dekat hamba-Nya. Dia ada ketika hamba-Nya ketika menengadahkan tangan memohon kepadanya. Dialah yang memberi jalan ketika hamba-Nya dirundung sepi yang tak berkesudahan. Dia ada. Dia mendengar. Dia mengabulkan permohonan hambanya.
Seolah dimensi kedekatan kita dengan-Nya telah dikikis oleh sekais materi yang tak berharga. Seakan kemahapemurahan Tuhan tak lagi kokoh dalam sanubari ini. Kita seolah lupa ditiap peluh yang mengalir, ditiap ritihan yang mendesah, ditiap tetes air mata yang tercurah, disana ada Dia yang melihat kita. Malam yang sunyi, merupakan saat yang tepat untuk ‘curhat’ dengan-Nya tak lagi kita pergunakan untuk bedialog dengan Dia. Raungan self confident yang menggema dalam hati, seakan membuat malu untuk meminta pertolongan terhadap-Nya.
Sedari awal, ketika Rasulullah memulai dakwahnya, Allah swt. telah mengajak manusia untuk membaca dan berkenalan dengan Dia. Ketika Nabi hendak beristirahat ketika usai melakukan tahannutsnya, beliau dipanggil oleh Allah untuk tak lelah bercengkrama dengan-Nya. “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk memperingatkan kaummu. Agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu”. Rasulullah pun diperintahkan untuk menghancurkan sendi-sendi persepsi ketuhanan agama samawi, yang telah banyak dirusak oleh para ahli kitab. Tuhan dalam persepsi kaum Yahudi merupakan tuhan yang senang merusak, bengis dan kejam terhadap golongan diluar kaum Israil. Seolah tuhan milik mereka sahaja. Demikian halnya tuhan versi Nasrani, tuhan yang dendam dengan dosa yang dilakukan oleh Adam. Kebaikan yang dilakukan oleh umat manusia takkan bernilai apa-apa disisinya. Pengorbanan sebesar apapun untuk meraih ridho tuhan mereka, tak akan berarti. Tuhan mereka diliputi kemarahan yang membara, akibat dosa bapak manusia. Marah tuhan mereka baru mereda ketika anak tunggal tuhan turun kebumi, menjadi tebusan terhadap dosa umat manusia. Sungguh zalim mereka terhadap Tuhan.
Nilai keislaman hadir untuk menepis persepsi zalim itu semua. Islam memanggil manusia yang dahaga terhadap keindahan dan kepemurahan Tuhan, untuk dapat merasakan sejuknya menengadahkan tangan kepada-Nya, untuk merasakan betapa segarnya melinangkan air mata dihadapan-Nya. Islam menyerukan betapa lezatnya membasahi lidah ini dengan simponi lantunan zikir kepada-Nya. Islam datang kepada para hamba yang telah berkecimpuh dalam kubangan dosa, untuk tak berputus terhadap pengampunan Tuhan. Allah tersenyum kepada mereka, ketika mereka mau datang mengetuk pintu ampunan-Nya. Sehingga kedamaian hati para pendamba Tuhan akan senantiasa subur dalam sanubari mereka.
Ramadan inilah merupakan momen yang tepat untuk kembali menghangatkan dimensi spiritual yang mulai membatu. Semoga hati dulunya usang akibat koyakan materialistik mampu tertata rapi kembali dengan sentuhan lembut dari kepemurahan Tuhan. Ya Rabb…
Tafakkur dan Aktifitas Filosofis
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang yang mempunyai hati. Yaitu orang mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, (mereka berkata) wahai Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari azab neraka. Qs:03:190-191.
“Ketika kita berusaha untuk membungkam suara akal, maka sebuah konsekuensi logis yang harus kita dapati adalah mengucapkan selamat tinggal kepada filsafat”. Demikian ungkapan yang dilantunkan oleh seorang pakar filsafat Mesir, DR. Athif Iraqy. Akal merupakan sebuah anatomi metafisik yang menyemburkan benih perdebatan dikalangan pemikir umat manusia. Akal dan aktifitasnya merupakan ladang subur untuk tumbuhnya benih perdebatan dalam kubu suatu masyarakat madani, dan Islam pada khususnya.
Kubu yang diwakili oleh golongan sufi, berusaha menafikan peran akal dalam upaya merelungi samudra hikmah Ilahi. Akal hanya mampu sampai kepada nilai formalitas sesuatu tapi tak mampu sampai kepada nilai substansialnya. Akal dalam paradigma kaum sufi hanya mampu sampai kepada tanda akan adanya sang Khaliq, namun untuk berusaha untuk mengenalnya, akal tak mampu menembus dinding ini. Ketika Sufyan Atsauri ditanyai tentang dalil keberadaan Tuhan, dia menjawab, “Allah”. Kemudian dia ditanya balik akan peranan akal, dia menjawab, “bahwa akal lemah, dan yang lemah tak mampu mengetahui kecuali yang lemah juga”. Dengan jelas bahwa Sufyan Atsauri berusaha mendistorsi peranan akal dalam upaya merelungi dimensi ilahiyah.
Berbeda dengan kaum rasionalis yang mengusung panji kebesaran akal. Mereka adalah golongan yang meyakini akan kemutlakan akal. Kubu ini diwakili oleh para kaum filosof dan para teolog. Dalam pandangan para filosof akal mampu menembus tapal yang tidak mampu ditembus oleh para kaum sufi. Mereka meyakini dengan akal mereka mampu sampai kepada sebuah kulminasi yang membawa kepada pelabuhan ma’rifatullah. “Akal merupakan bias dari cahaya ilahi.” demikian tutur Ghazali dalam kitab Misykat Anwarnya. “Ataukah akal merupakan wakil tuhan dalam jiwa manusia.” dalam paparan Al-Jahizh. Sehingga segala konspirasi yang ingin menafikan peran akal dalam upaya untuk menapaki relung-relung ketuhanan dianggap sebuah upaya pelumpuhan untuk menggapai hikmah ilahi. Mereka berpijak kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, “mereka mempunyai hati tapi tidak berpikir, mereka mempunyai mata tapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tapi tidak mendengar, mereka seperti hewan bahkan lebih sesat”. Dari premis inilah mereka beranggapan bahwa menghilangkan peran akal dalam kehidupan ini seperti menghilangkan nikmat penciptaan panca indera. Bahkan penafian fungsi akal dianggap sebuah dosa yang dicela dalam Al-Qur’an. Ketika para penghuni neraka menyesali kebebalan mereka, mereka berkata, “jikalau kami mendengar dan bepikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir”.
Dibalik alotnya perdebatan antara kubu kaum sufi dan kubu pengusung panji kemuliaan akal yang diwakili oleh oleh filosof dan teolog. Ada sebuah korelasi diantara keduanya, kaum sufi ketika berbicara tentang fungsi akal, mereka membatasi tapi tidak menafikan peranan akal itu. Mereka mengakui akan kemampuan akal yang mampu sampai kepada taraf pembacaan ayat-ayat kauniyah. Mereka tak sampai membuang akal dalam kehidupan ini. Disana ada hadits Nabi yang mengatakan akan pentingnya bertafakkur.
“Bertafakkur sesaat lebih mulia dibanding ibadah semalaman.” demikian ungkapan Nabi. Beliau menyadari dengan aktifitas tafakkur sebuah generasi yang menguasai peradaban akan lahir. Tafakkur mampu menghancurkan nilai egois dalam jiwa tiap individu. Dengan tafakkur seorang hamba mampu menghilangkan dimensi ananiyah dalam dirinya, dia mampu menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendirian dalam jagad raya ini. Dia hidup dibawah pengawasan Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga nantinya akan melahirkan sikap muraqabah. Disamping itu juga seorang hamba menyadari bahwa dirinya senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Penciptanya dan segala jeritan dan rintihan oleh masalah yang dialami pasti diketahui oleh Tuhannya. Dia tak sendiri dalam kehidupan ini.
Ayat diatas dengan kekuatan maknanya menceritakan akan kemuliaan tafakkur. Beranjak dari hikmah penciptaan langit dan bumi, Allah SWT memanggil para hambanya untuk merelungi dan memikirkan gejala dari alam ini baik yang makro dan mikro. Allah telah menaburkan mutiara-mutiara hikmah di tiap celah dari alam ini. Seorang hamba yang mampu memetik dan menuai mutiara hikmah itu tanpa tersadar akan terheran dan takjub akan kebesaran Allah. Dia dengan spontannya akan mengucapkan, “Maha Suci engkau ya Allah, tidak sia-sia engkau menciptakan alam ini”. Ketika dia menyadari akan kebesaran penciptanya, maka secara otoamatis dia akan berusaha memenuhi tiap panggilan dan seruan ilahi. Dia menyadari akan kekurangan dan kekerdilan dirinya ditengah megahnya jagad raya ini. Sehingga ini akan mengatarkan kepada ketergantungan dirinya dengan penciptanya. Dia butuh penciptanya untuk segala aktifitasnya, dia butuh penciptanya di tiap relung kehidupannya, dia butuh pertolongan penciptanya untuk sampai kepada kebahagiaan yang paripurna. Dia butuh itu semua. Dan lebih lagi dia sangat takut kepada siksaan yang akan menunggunya nanti ketika dia mengabaikan perintah Tuhannya. Dia sangat takut dengan hal itu tanpa tersadar lagi dia berucap, “maka hindarkanlah kami dari siksaan api neraka”.
Tafakkur memang mempunyai peranan yang sangat urgen di dalan Islam. Islam dari awal telah mencela budaya taklid buta kepada nenek moyang, serta mitos yang diterima dari pendahulu tanpa adanya budaya kritik terhadap kesahihan berita itu. Demikian juga Islam berupaya memerangi beberapa praktik perdukunan yang dianggap sebagai sebuah upaya yang menghilangkan peranan akal dalam kehidupan ini. Lihatlah ketika Ibrahim anak Nabi meninggal yang disertai dengan gerhana bulan, sehingga orang-orang waktu itu menilai bahwa gerhana terjadi disebabkan wafatnya anak Nabi, ketika mendengar hal ini Nabi langsung menyangkal dan dengan lantang berkata, “sesungguhnya bulan dan matahari merupakan dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana disebabkan oleh matinya seseorang”. Sehingga dengan jelas bahwa setiap akidah dan ajaran Islam tak ada yang bertentangan dengan hukum akal, walaupun ada sebagian yang tak mampu dicerna oleh akal tapi itu tak mengindikasikan akan kejumudan Islam, tapi itu lebih kepada upaya pemaksimalan penyerahan diri sang hamba kepada Tuhannya.
Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali menghangatkan semangat tafakkur kita yang telah membeku sekian lama. Dengan spirit yang terkandung dalam Ramadan ini semoga mampu mengoptimalkan semangat tafakkur dalam diri kita. Sehingga iman yang dulunya yang sedikit goyah, akarnya mampu menghujam kembali dalam hati kita dengan kokoh. Ghazali dalam Mi’raj Salikinnya mengatakan, ”wahai saudaraku ketahuilah ketika engkau hendak mengetahuai kebenaran dengan berpedoman dengan seseorang tanpa mengfungsikan akal dan hatimu maka telah sesat jalanmu. Karena sesungguhnya sorang ‘alim hanyalah laksana lampu yang memberikan sinar. Kemudian tangkaplah sinar itu dengan matamu, ketika engkau buta, maka tak ada gunanya lentera dan lampu bagimu. Barang siapa yang bersandar kepada taklid buta maka dia tela binasa…”.
Kelam Fanatisme
Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berkabilah dan bersuku-suku supaya kalian dapat saling mengenal... salah satu ayat Al-Qur’an yang berimplikasi menafikan primordialisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Pesan ini telah disampaikan oleh baginda Rasul beberapa abad silam, dan telah dihafal dan difahami oleh masyarakat Islam diseantero dunia. Sebuah pesan ilahy yang menghendaki adanya sinkronisasi dan kebersamaan dalam setiap lapisan masyarakat. Ayat tuhan yang mengajarkan kita tentang kemutlakan akan adanya perbedaan namun perbedaan itu tak harus menjadi racun yang mengoyak tatanan dan kekokohan sebuah masyarakat.
Islam tidak mengenal fanatisme. Apatah lagi fanatisme yang akan merongrong dan sebuah komunitas sosial. Sejak awal Islam telah menekan laju fanatisme dan berusaha untuk menghapuskan slogan ta’asshub. Sebab, jika fanatisme golongan jika dibiarkan subur akan membawa masyarakat keseuatu chaos yang tak bertepi.
Namun sejarah telah menorehkan, kelam fanatisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah, fanatisme telah menghancurkan sebuah quwwah imaniyah yang telah dibangun oleh baginda Rasul, fanatisme juga merupakan pemantik dari penafsiran-penafsiran liar tehadap nash syar’i, baik dari Al-Qur’an ataupun dari hadis. Ironisnya, perkataan yang tidak benar, bahkan sangat tidak layak intuk disandarkan kepada Rasulullah harus disandarkan kepada beliau, hadist-hadist palsu ini kita kenal dalam dunia akademis kita sebagi hadist maudhu’.
Syi’ah dalam term awalnya, baik itu dari golongan Ali ra. ataupun dari golongan Mu’awiyah adalah perintis dalam memalsukan hadist Rasulullah. Alotnya perdebatan diantara kedua golongan itu sehingga tidak menemukan titik kesamaan, memaksa kedua golongan ini memalsukan hadist-hadist dari Rasulullah Saw. demikian juga konflik yang terjadi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, disatu sisi klan Umayyah mengkalim bahwa dari merekalah lahir pemimpin Islam, mereka telah diciptakan dengan fitrah riyasah dalam diri mereka, mereka adalah pemimpin baik itu pra maupun paska kedatangan Islam. Mereka adalah qiyadul ‘Arab.
Demikian juga yang terjadi terhadap Abbasiyyun sebagai salah satu oposisi dari dinasti Umayyah telah terlena akan primordialisme klasik sehingga mereka juga tak mau kalah dengan fanatisme dinasti Umayyah. Sehingga untuk membangkitkan self-confidence dipalsukan sejumlah hadist yang disandarkan kepada Rasulullah.
Hal yang serupa juga akan kita dapati ketika membicarakan Syi’ah. Sebagian besar doktrinitas dalam firqah Syi’ah adalah cerminan kelam fanatisme. Isu yang mengatakan bahwa adanya tahrif dalam Al-Qur’an, disebabkan kebencian mereka terhadap Abu Bakar ra, dan Usman bin Affan ra. Mereka tak mau mengakui akan jasa keduanya dalam dunia Islam, disamping itu untuk melegitimasi kepercayaan mereka terhadap tanshish a`immah, Ayatullah Khomaini saja ketika memaparkan dalil terhadap penyebab tidak dilampirkannya ayat dalam Al-Qur’an akan kepemimpinan imam mereka yang dua belas menyebutkan kemungkinan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh musuh ahlu bayt.
Demikian juga penghinanaan terhadap tiga sahabat besar Rasulullah Saw. hatta menganggap mereka sebagi perampok kekuasaan yang merampok kekuasaan Ali adalah merupakan gelembung-gelembung ta’asshubiyah yang tak berdasar. Sayyidina Ali bari’un minhum. Ironis memang…
Dalam skala politik Islam internasional, kelam fanatisme tak kalah hebatnya jika dibandingkan bagaiman atsar fanatisme dalam skala religius. Pada mulanya sisitem perpolitikan Islam tak mengenal adanya waratsatul riyasah yang dapat mengunci kretifitas dan kebebasan berpikir, yang ujungnya nanti, akan menghambat lajunya ilmu pengetahuan. Akibat bisikan fanatisme corak politik Islam berganti ke monarchi absolut. Pemimpin tak lagi dipilih langsung oleh Ahlul Hilli wal Aqdi akan tetapi ditunjuk langsung oleh sang raja. Istilah ahlul hilli wal aqdy hanyalah merupakan term fuqaha yang tak mampu menemukan eksistesinya dalam dunia ril.
Disamping dikotomi yang terjadi dalam pemerintahan Islam akan sangat menonjolkan sebuah fanatisme golongan. Dinasti Abbasiyah dalam sejarah kepemimpinannya, mempunyai berapa corak pemimpin yang mencerminkan golongan dan ras sang khalifah. Baik itu dari Persia ataupun dari Turki. Perbedaan karakter pemimpin bukanlah sebuah masalah, akan tetapi masalah yang terbesar ketika kebijakan politik yang diambil lebih menguntungkan satu pihak sahaja atau berat sebelah. Dinasti Saljuk ketika dia menaiki takhta khilafah, untuk menekan laju separatisme yang bergolak dan untuk melanggengkan kekuasaanya, salah satu kebijakan politiknya adalah melarang mempelajari mazhab fiqhi dan akidah selain mazhab Imam Ahmad Ibnu hanbal, sehingga dengan keputusan ini serangan dan fitnah dan kebohongan senantiasa beredar dimasyarkat dan mendapat backing dari pemerintah, tak heranlah ketika itu Imam Syafi’i di hina, Imam Asy’ary pendiri Asya’irah dikatakn sesat dalam akidahnya. Kondisi ini juga yang memaksa Imam Juwayni untuk meninggalkan Khurasan dan menjalani hidup yan nomaden antara Mekah dan Madinah selama 17 tahun, sehingga dia digelar sebagai Imam haramain.
Begitu juga yang terjadi dibelahan bumi Islam dibagian Barat, Andalusia tepatnya. Kota yang sebelumnya jembatan peradaban Barat untuk memasuki era keemasan seperti sekarang ini. Kehancuran dianasti Umayyah di Spanyol yang sebelumnya telah membentakngkan sayapanya mulai dari Barcelona, Sevilla, Granada,Valencia dan beberapa kota lainnya yang berada di Spanyol harus luluh ketika fanatisme mewabah dalam masyarakat Andalusia. Megah kejayaan yang dihasilkan Abdurrahman Ad-Dakhil, Hakam bin Hisyam, dan berapa pemimpin dari dinasti Umayyah yang mengopayakan proyek penyatuan ummat, harus hangus sia-sia ditelan oleh kelam fanatisme yang kejam. Ini terjadi ketika orang Arab yang belum mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan, ketika belum mampu berasimiliasi dengan masyarakat lokal, ketika mereka belum sanggup melepas seragam keagungan dimasa jahiliyah. Sehingga Andalusia harus kelam dalam perpecahan, perang saudara, kerajaan-kerajaan kecil selam 70 tahun. Ibnu hazm adalah merupakan saksi betapa fanatisme telah menghitamkan negeri beliau. Beliau hidup dimana kerjaan Andalusi yang dulunya kokoh, kini kerdil dengan perpecahan yang yang terjadi.
Betapa kelam, konsekuensi dari fanatisme ini…. Semoga dibulan Ramdhan fanatisme dapat dikikis, dan menumbuhkan sikap ekslusivisme ber-Islam, Nahnu qaumun a’azzana Allahu bil Islam wa iza ibtaghaina gairal Islami diinan azallana Allah! Semoga…
Sisi Transendental dalam Filsafat Parmenedes
Dia adalah salah satu filosof dari Velia, dia adalah termasuk orang yang sangat berpengaruh dalam pemikiran metafisika Plato. Dia adalah orang pertama yang membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan non-indrawi. Tak heran, ketika Plato sangat menghormatinya dan mengaguminya.Kadang Plato menyebut sebagai ‘Parmenedes yang agung’, ‘Parmenedes yang bijak’ dan ‘bapak kita Parmenedes'. Demikian ungkapan salut Plato kepada Parmenedes.
Yang signifikan dalam filsafat Parmenedes, adalah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenedes. Rahasia ini adalah keyword dalam memahami filsafat Parmenedes. Dia adalah salah satu yang berkeyakinan akan keberadaan ‘Wujud Mutlak, yang tetap dan abadi’.
Untuk merelungi nilai subtansial ‘Wujud’ diperlukan sebuah aktifitas khalwat yang ekslusif yang tak mampu diraih oleh orang rendahan. Karena, menurut Parmenedes untuk sampai ketaraf ma’rifat, diperlukukan sebuah meditasi yang tak dapat diselami oleh orang awam. Filsafat Parmenedes serupa dengan filsafat Ghazaly dalam Islam dan ‘intellectual sympathy’ dalam bahasa Henry Bergusson.
Parmenedes terpengaruh dengan mitos ajaran rahasia agama puritan di zaman Yunani. Serupa dengan mauqif Phytagoras yang enggan membeberkan rahasia religus yang berhasil mereka selami. Sebagaiman legenda ‘Hippasus de Metanpontun’, seorang pengikut Phytagoras yang dibuang kelaut karena menyebarkan rahasia akar pangkat dua untuk bilangan dua. Sehingga untuk begabung dalam kubu ini, Plato menyaratkan titel filosof yang terbubuh didepan namanya. Bahkan untuk seorang hamba sahaya tidak dijinkan untuk menggeluti profesi ini.
Parmenedes dalam menginterpretasikan ajarannya, dia menggunakan metode simbolis untuk mendeskripsikan ajarannya. Demikian juga, dia menggunakan syair untuk menelorkan gagasannya. Sehingga Parmendes merupakan filosof yang pertama menggunakan syair untuk menyerukan buah pikirannya.
Parmenedes dalam syairnya mengaku telah disambut oleh Dike (dewa keadilan) yang memegang kunci cahaya untuk dapat menguk air kebenaran. Dia mendapat jamuan hangat dari para dewa. "Selamat datang wahai anak muda, selamat datang di serambi cahaya, serambi para pembimbing yang abadi. Jalan yang membawamu kesini bukanlah jalan yang ditapaki oleh orang awam. Karena yang membimbing mereka adalah Moira yang jahat. Akan tetapi yang membimbingmu adalah Themis (ketetapan yang adil). Harus kau ketahui wahai anak muda, kau harus menggeluti segala jenis pengetuhuan, hatta pengetahuan manusia yang fana, pengetahuan mereka yang temporal. Supaya kau mampu mengetahui segala sesuatu". Begitulah sambutan para dewa kepada Parmenedes yang menziarahi serambi cahaya. Demikian yang tertera dalam prolog syair Parmenedes.
Jelas yang terpaparkan disini adalah pengalaman ritual dia alami, yang lebih dekat dengan pengalaman ritual yang dimiliki oleh para kaum sufi, baik itu dari kalangan Budhisme, Nasrani atau dari kalangan Islam. Haqiqat yang dibahas oleh Parmenedes tak lain merupakan sebuah ilham yang dia dapatkan dari para dewa. Yang mengantarnya berfantasi ke serambi kebenaran, yang tak dapat dikecup oleh manusia awam.
Pandangan Parmenedes diatas mungkin bagi sebagian orang adalah merupakan mitos tolol. Akan tetapi sedikit yang tebenak dalam benak saya, ketika membaca alasan Ghazali mengkafirkan para filosof Islam. Menurut Ghazali filosof Islam telah berani membeberkan rahasia ketuhanan, yang dianggap telah jauh melewati tapal batas kemanusiaan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Dalam paradigma Ghazali ifsya sirr rububiyah kufr. Demikian analisa DR. Sulaiman Dunya sorang pakar yang mendalami hasil karya Ghazali. Klaim Sulaiman Dunya bukannya tidak beralasan, dia menemukan beberapa kesamaan pendapat Ghazali dengan pendapat para filosof yang di kafirkannya (baca; Ibnu Sina). Seperti kebangkitan jasmani yang di inkari oleh Ibnu Sina dan beberapa pendapat yang dianggap oleh sebagian orang sebuah sikap plin-plan Ghazali dalam pemikirannya. Namun yang pasti ‘Ma’arijul Quds’ merupakan karya Ghazali.
Walaupun sebagian orang berusaha menafikannya, seperti yang terjadi oleh Ibnu Sholah.
Demikian juga, Ghazali berpendapat bahwa seorang alim harus mampu mengharmonisasikan dengan zuruf dimana dia berada. Ketika dia berhadapan dengan seorang awam yang tak mampu memahami hal mujarradat, maka sebagai seorang alim yang bijak tak boleh memaksa sami’nya untuk melampaui batas pengetahuannya. Demikian juga ketika berhadapan dengan kaum jadaly (baca; tholog) maka dia harus berusaha untuk memahamkan mereka tanpa harus melewati batas keilmuan yang mereka miliki.
Seolah bahasa merupakan penjara yang mengurung seorang ‘penemu kebenaran’ untuk mengeksplorasikan hasil obeservasi yang mereka cicipi dari ‘arak ilahi’. Ini merupakan problematika yang dihadapi baik itu dari Parmenedes ataupun dari Ghazali. Kembali ke kasus Parmenedes, pengalaman spiritual yang dia dapatkan, mungkin tak mampu dia eksperiskan kepada khalayak ramai. Ini disebabkan oleh, selain dari kungkungan bahasa, jeratan dari agama puritan dari bangsa Yunani merupakan faktor terpenting bungkamnya seorang filosof. Sebab orang yang mengabaikan kepercayaan terhadap ‘tuhan nasional’ bangsa Yunani akan berakhir tragis. Socrates merupakan sebuah argument yang paling kuat akibat tekanan ini.
Namun apakah Parmenedes telah mengenal tuhan dengan sebenarnya? Apakah dia telah mampu mengetahui keesaan tuhan sebagaimana yang kita pahami (baca; Islam)? Apakah observasi Pamenedes telah sejajar dengan kaum sufi? Saya terlalu lemah untuk menghakimi Parmenedes..!
Sang Pejuang Kebebasan
Terlepas dari kekontraversialan tokoh ini, namun yang pasti Az-Zahaby dalam Mizaanul I’tidalnya mengatakan: “Dia adalah seorang tabi’in yang terpercaya (shaduq).” Ini adalah semacam lisensi (baca; ta’dil) yang diberikan Zahaby kepada beliau dalam periwayatan hadist. Dia adalah oang yang pertama yang menggusung freewill dalam Islam. Dialah Ma’bad al-Juhainy, dia hadir dimasa Umayyah yang gencar memprogandakan ijbariyah dalam Islam demi melanggengkan kekuasaan dinastinya. Dia meriwayatkan hadist dari Abu Dzar al-Gifari.
Sebagaimana beberapa tokoh yang besar dalam dunia Islam meriwayatkan hadis dari beliau. Seperti; Malik bin Dinar, Yazid bin Hamid dan Ibrahim bin Sa’ad. Sebagaimana yang disebutkan Al-Ka’bi dan qady Abdul Jabbar.
Dia tumbuh di bawah naungan semerbak wangi maqam rasulullah, dan dia belajar dari seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Dzar al-Gifari, seorang sahabat yang kritis terhadap kezaliman yang terjadi. Dia pun sempat mengikuti gurunya yang menghadap Muawiyah ke Syam untuk menginterogasi Muawiyah terhadap ketidakteraturan keuangan yang terjadi di bait mal. Ketika itu Muawiyah mebantah Abu Dzar yang menganggap bahwa bait mal merupakan harta kongsi masyarakat, dari sinilah Muawiyah memulai menghembuskan isu ijbariyah.
DR. Abdul Halim Mahmud memberikan sebuah deskripsi perjalanan karir politik Muawiyah ketika menduduki singgasana khilafah. Ketika itu Muawiyah hendak melegitimasi kebijakan politik yang diambilnya serta meredam amuk massa yang menggejolak. Dia berusaha mengkoarkan slogan politik ijbariyahnya. Segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah, sehingga dia mensinggasanahi khilafah Islam Allah jualah yang menghendakinya. Manusia hanya mengikuti apa ditetapkanNya. Abdul Halim mahmud berargumen terhadap sebuah hadis yang tertera dalam Shahih Bukhari hadist yang diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah yang bercerita tentang Muawiyah meminta hadist yang diriwayatkan Mughirah dari Nabi SAW, maka Mughirah menuliskan wirid yang berbunyi : “Allahumma laa maani’a lima ‘athaita wala mu’thiya lima mana’ta wala yanfa’ dzal jaddi minkal jadd”. Melihat wirid ini mampu mengejewantahkan produk politiknya maka Muawiyah menitahkan untuk menjadikan wirid ini sebagai wirid wajib. Demi menjadikan slogan ijbariyah sebagai alat justifikasi atas kezaliman yang berlaku. Masyarakat dipaksa untuk membebek terhadap kebijakan pemerintah yang ada.
Ketidakstabilan polotik yang ada dimasa itu memaksa Ma’bad untuk tampil memberantas virus yang mewabah dalam masyarakat Islam. Dia berjuang bersama gurunya yaitu Abu Dzar al-Gifary sebagaimana yang diberitakan Samy Nassyar. Demi meluruskan paradigma yang ada. Menurut syeikh Zahid al-Kautsary atsar dari ijbariyah membuat para pelaku kemaksiatan untuk menjustikasi perbuatan mereka. Ma’bad berusaha menepis ajaran yang tentunya melenceng dari maksud yang sebenarnya, sehingga pemikiran Ma’bad mendapat tempat di hati masyarakat Madinah. Bahkan Ma’bad bersama ‘Atha bin Yasar sempat mengunjungi Hasan Bashry yang bermukim di Baghdad kala itu. Mereka menanyakan kepada Hasan Bashri tentang prilaku pemerintah yang diluar batas serta pertumpahan darah yang terjadi dengan dalih bahwa itu semua kehendak tak ketetapan Tuhan. Tak heran ketika itu Hasan Basri melaknat prilaku yang amoral itu. Hal ini direkam oleh Thasy Kubra Zadah dan pengarang kitab Ma’arif. Nampak dari sini Ma’bad kembali berguru ke Hasan Bashri, ataukah minimal mereka pernah bertemu.
Jelaslah bahwa Ma’bad muncul untuk mengcover Islam dari paradigma yang keliru dari dinasti Umayyah yang telah melakukan penafsiran liar terhadap terminology qadha dan qadar sehingga mampu melakukan apapun atas nama ketetapan Tuhan tanpa mendaptkan krtik dari masyarakat waktu itu.
Namun bukan itu saja, Ma’bad juga beusaha membumikan tatanan amar mam’ruf nahi munkar sehingga mampu menemukan eksistensinya dalam taran aplikatif. Sehingga tak heranlah ketika dia ikut berperang bersama Muhammad bin Asy’at dalam revolusi terkenalnya beradu dengan pemerintah bani Umayyah. Namun revolusi ini gagal sehingga dia jatuh di tangan panglima pearang Muawiyah yang sadis yaitu Hajjaj bin Yusf. Ketika hendak dibunuh, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi sempat mengebiri Ma’bad dan menertawakan pendapat Ma’bad. Namun keteguhan hati Ma’bad untuk sabar dan ridha terhadap ketetapan Tuhan terhadap dirinya. Dia meninggal ditangan Hajjaj bin Yusuf. Dia wafat dengan keyakinan yang tegar bahwa keadilan Tuhan bukanlah sebuah kezaliman yang mewabah.
Walaupun bani Umayyah mampu mengamputasi Ma’bad dari tataran masyarakat Islam, namun mereka tak mampu membendung mobilasisi sosial yang ada. Ma’bad telah meninggalkan benih perjuangan, yang nanti diteruskan oleh Ghailan al-Dimasyqy, yang nantinya di adopsi oleh Mu’tazilah, komunitas yang mampu mengadaptasi segala bentuk kebudayaan asing yang masuk ke rangkulan Islam…
Gazhali dan Kafir (part 1)
“Ketika disebutkan sederetan nama ulama, maka persepsi yang akan terbetik adalah spesialisasi mereka dalam dunia akademis Islam. Tatkala nama Al-Farraby dan Ibnu Sina disebutkan maka imajinasi akan terbang kedunia filsafat, mereka adalah filosof yang besar dalam Islam. Ketika nama Ibnu Araby disebutkan maka pikiran akan melayang kepada pendapat-pendapatnya yang cukup kontraversial dalam dunia tashawwuf. Demikian juga ketika nama-nama Bukhari, Muslim dan Ahmad disebutkan maka kita kita dibawa kepada, kemampuan mereka dalam menghafal, kejujuran, kepercayaan kita terhadap mereka, ketelitian dan pengetahuan mereka tentang biblografi para perawi hadist. Namun berbeda ketika nama Gazhali diusung, kita mungkin akan sulit untuk mengindentifikasi kepribadian beliau. Dia adalah seorang ushuly yang cerdas, dia juga adalah faqih independen. Gazhali pun seorang teologis serta imam ahlussunnah. Gazhali juga seorang sejarawan yang mengetahui keadaan umat baik yang terselubung ataupun yang nampak. Gazhali sang filosof, ataukah yang mengembalikan rel filsafat kejalannya. Gazhali sang sufi, zahid dan murabby. Namun yang pasti Beliau adalah dairatul ulum pada masanya, seorang alim yang senantiasa dahaga akan kebenaran, ma’rifah dan segala jenis cabang pengetahuan”. Demikian penghormatan Syeikh Mustafa Maraghy terhadap Gazhali.
Gazhali adalah seorang pemikir yang independen dalam gagasannya, dia tidak melihat kuantitas dalam menghakimi sebuah kebenaran. Namun tak juga menganggap minoritas sebagai bukti sebuah kesalahan. Dia menghakimi seseorang dengan kebenaran, tapi tak menghukumi kebenaran dengan seseorang. Dia berusaha menjadi seorang ulama yang seobjektif mungkin sehingga dia pun tak segan-segan mengambil sebuah kebenaran dari mulut orang kafir. Kepribadian inilah yang mampu menjadikan dia sebagai seorang ulama yang disegani pada masanya. Dia meletakkan kembali seluruh firqah Islam kedalam mahkamah kebenaran. Dan menghukuminya seobjektif mungkin, sehingga tak heranlah ketika Gazhali menyingkap keganjalan yang pada golongan bathiniyah serta para filosof Islam. Fadhaih Bathiniyah dan Tahafat Falasifah adalah rekaman kritisisme Gazhali.
Dalam menghukumi sebuah kebenaran dan kesalahan, Gazhali tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Dalam sebuah risalahnya Fashl Tafriqah, yang dianggap oleh Ibnu Rusyd sebagai wujud rekonsiliasi antara dirinya dan Ghazali, seolah Ibnu Rusyd telah memberikan udzur kepada Gazhali -yang mengkafirkan para filosof- setelah mengarang risalahnya ini. Dia memberikan sebuah pencerahan yang cukup signifikan dalam menyikapi fenemona takfirisme, serta sebuah harmonisasi antar penganut mazhab. Sebagaimana fenomena yang terjadi di masanya, orang yang keluar sejengkal dari mazhab Asy’ary sudah dianggap sesat dimata mayoritas muslimin waktu itu.
Hal inilah yang mendorong Gazhali untuk meluruskan paradigma yang mewabah waktu itu. Gazhali sendiri dalam mendefinisikan kekufuran, dia mengakui bahwa dalam menjelaskan hal ini diperlukan sebuah penjelasan yang betul komprehensif serta untuk menyelami keghamidhannya diperlukan sebuah pisau analisa yang steril. Gazhali dalam mendefinisikan kufur beliau hanya menggeneralisasikan terminologi kekufuran itu.
Kufur di mata Gazhali adalah; “pendustaan terhadap Rasulullah SAW atas apa yang disampaikannya”. Yang tersirat dari defenisi ini adalah semua orang yang mengimani Rasulullah SAW adalah mukmin baik itu dari Mu’tazilah, Asyairah, Hanbaly ataukah itu dari golongan filosof yang ditakfirkannya.
Gazhali gerah dengan dengan wabah takfirisme yang mewabah dikalangan muslimin waktu itu. Asya’irah yang mengkafirkan Hanbaly dengan pendapat mereka yang mengindikasikan tasybih kepada Allah SWT. Demikian juga Asya’irah mengkafirkan Muktazilah yang mengingkari ru’yatullah. Sehingga memaksa Gazhali untuk meberikan solusi dalam mengobati virus ini. Dalam terapinya, Gazhali berusaha meluruskan paradigma tashdiq yaitu pembenaran dan pengakuan terhadap apa yang dikatakan oleh Rasullah SAW tentang keberadaannya (wujud). Namun wujud ini pun memiliki lima tingkatan yaitu :
• Dzati, yaitu wujud yang benar-benar ada yang disaksikan oleh panca indra dan akal, serta terealisasikan dalam dunia empirik. Seperti keberadaan langit dan bumi, hewan dan tumbuhan. Wujud dzati ini tidak lagi memerlukan ta’wil seperti apa yang di beritakan oleh Rasul tentang keberadaan Arasy, Kursi, dan langit yang tuhjuh. Hal ini tkak lagi memerlukan ta’wil lagi akan tetapi dia akan dikembalikan kezhahirnya.
• Hissi, yaitu wujud yang tergambar dalam pandangan mata kita namun hal itu tidak ada. Sehingga keberadaan sesuatu itu berada dalam pandangan mata. Seperti apa yang disaksikan oleh orang yang terbuai mimpi yang tak terwujudkan di dunia nyata. Demikian juga ketika setitik api yang diambil kemudian digerakkan dengan gerak vertikal maka akan muncul dimata kita sebuah garis vertikal namun, sebenarnya garis itu tak ada. Dalam tataran aplikasi ta’wilnya Gazhali memaparkan hadist Nabi yang berbunyi ; yu’ti bil maut yaumal qiyamah fi shurati kabsyin amlah fa yuzbah bain jannah wa nar. Orang yang mengetahui bahwa kematian adalah aradh atau bukan aradh maka mengetahui bahwa mengubah aradh ke jism adalah merupakan sesuatu yang mustahil. Sehingga Gazhali mengatakan bahwa para manusia yang menyaksikan hal itu dan meyakini bahwa yang disembelih itu adalah kematian karena hal itu disaksikan oleh pandangan mereka. Sehingga mereka yakin bahwa kematian tidak akan menjemput mereka lagi. Sehingga akan menambah siksaan bagi penduduk neraka, serta menambah kesenangan bagi penghuni surga.
• Khiyali, yaitu bentuk serta karaktersitik sesuatu yang diindra apabila telah lenyap dari panca indra itu. Seperti rumah kita, yang dapat dideskripsikan dimana pun dan kapan pun kita berada. Gazhali memberikan contoh hadist Nabi; kaanni anzhuru ila Yunus bin Mata alaihi ‘abaatani qathwaniyyatani yulabba wa tujibuhul jibal wa Allahu Ta'ala yaqulu lahu labbaika ya Yunus. Secara literalis hadist ini secara jelas mengatakn bahwa Nabi melihat Yunus dengan mata kepala beliau. Namun untuk memalingkan hadist ini dari pemahaman itu, kata kaanni tidak menggambarkan haqiqat melihat akan tetapi serupa dengan melihat. Tujuan dari hadist ini menurut Gazhali adalah untuk memahamkan, karena mustahil musyahadah dengan hal-hal yang fantatis.
• Aqli, yaitu subtansi dan haqiqat dari sesuatu itu. Karena menurut Gazhali- setiap sesuatu itu memiliki subtansi dan formalnya, dalam wujud aqlinya ini yang di tekankan adalah nilai subtansiaisnya bukan formalitasnya. Sebagai contoh Gazhali memaparkan kembali hadist Rasulullah; "inna Alah khammara thinah Adam biyadihi arbaina shabahan". Orang yang mampu memiliki burhan akan kemustahilan tangan Tuhan yang berbetuk jasmani, maka akan memalingkan makna dari tangan itu kepada makna yang lebih substansialis. Yaitu kepada makna kekuasaan dan pengatur. Allah lah yang mengatur serta memberikan bentuk kepada Adam dengan perantara malaikatNya.
• Syubhi, yaitu bukan sesuatu itu, baik format atau substansinya, sesuatu itu tidak real, tidak pula dalam panca indra atau bahkan dalam fantasi, dia juga tidak ada dalam akal. Akan tetapi yang ada itu adalah sesuatu yang lain yang menyerupainya dalam karakteristiknya, serta sifatnya. Seperti murka, rindu, senang, sabar dan lainnya yang disandarkan kepada Allah SWT karena –menurut Gazhali- marah, misalnya adalah sebuah keadaan dimana tekanan darah yang naik akibat hal yang menyakitkan. Ini tentu akan berlawan dengan sifat Allah Yang Agung, sehingga untuk menyeleraskan nash tersebut diperlukan ta’wil yaitu dengan memaknainya dengan keinginan untuk menghukum. Keinginan (menghukum) itu pun belum mampu untuk setara dengan kemarahan dalam nilai substansialnya. Akan tetapi hal itu dapat di komparsikan dengan karakteristik dari marah itu serta dampak yang ditimbulkan dari marah itu yaitu ilam (menyakiti).
Jelas, Gazhali membuat sebuah dikotomi ilmiyah dalam dunia akademis Islam. Karena tak dapat di pungkiri bahwa dalam tatanan sosial, tentunya akan ada golongan yang tekstualis dan logis. Serupa dengan yang dilakukan oleh Ibnu Rusd dalam dikotomi filosofisnya yaitu; awam, yang mewakili masyarakat mayoritas, jadaly yang tercermin pada para teolog, khawash yang ditujukan untuk para nabi dan para filosof.
Primordialisme ini merupakan sebuah gejala masyarakat yang mempunyai sebuah peradaban. Hal inilah yang diamini oleh DR.Bahy dalam Al-Janibul Ilahy min Tafkir Islamy. Sehingga tak perlu adalagi yang di namakan pengaruh Yahudi Aqliyyun, atau Neo-Platonisme dalam pembentukan karaktersitik Mu’tazilah dll. Ini semua refleksi murni dari gejala-gejala sosial yang ada.
Hal inilah yang dilupakan oleh tiap firaq Islam dalam pandangan Gazhali, sehingga ceroboh dalam mengkafiri sesama muslim. Gazhali pun menegaskan bahwa siapa yang mengimani tentang keberadan (wujud) yang lima bentuk ini dari apa yang dikabarkan oleh Rasulullah, maka bukanlah sebagai pendusta secara mutlak. Yang mendustai ajaran Rasulullah adalah yang menafikan segala jenis wujud yang diatas dengan dalih untuk kemaslahatan syariat, ataukah Rasullah berdusta dengan tujuan memberikan pehaman yang mampu dicerna oleh orang awam.
Namun sedikit yang terbetik dalam benak kita, apakah Gazhali sudah benar ketika mengkafirkan para filosof seperti Ibnu Sina yang mengatakan bahwa kebangkitan nanti hanyalah dengan menggunakan rohani saja tanpa jasmani dan apa yang dikatakan Rasulullah hanya merupakan analogi untuk orang awam supaya mereka lebih faham? Bagaimana Gazhali semisal Farraby yang mengatakan bahwa alam qadim? Serta filosof lainnya yang mempunyai pendapat yang cukup bersebrangan dengan Islam? Bukankah mereka juga adalah orang yang mengimani Rasulullah, sehingga mereka tetap mukmin? Nanti kita lanjutkan...
